<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Krisis Ekonomi, Negara Tetangga RI Kena Jebakan Utang China?</title><description>Laos menghadapi gelombang krisis ekonomi di tengah ancaman gagal bayar utang dan inflasi yang melambung.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039561/krisis-ekonomi-negara-tetangga-ri-kena-jebakan-utang-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039561/krisis-ekonomi-negara-tetangga-ri-kena-jebakan-utang-china"/><item><title>Krisis Ekonomi, Negara Tetangga RI Kena Jebakan Utang China?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039561/krisis-ekonomi-negara-tetangga-ri-kena-jebakan-utang-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/25/320/3039561/krisis-ekonomi-negara-tetangga-ri-kena-jebakan-utang-china</guid><pubDate>Kamis 25 Juli 2024 18:54 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/25/320/3039561/krisis-ekonomi-negara-tetangga-ri-kena-jebakan-utang-china-WXVShykOmm.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Laos krisis ekonomi dan terancam gagal bayar utang (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/25/320/3039561/krisis-ekonomi-negara-tetangga-ri-kena-jebakan-utang-china-WXVShykOmm.jpeg</image><title>Laos krisis ekonomi dan terancam gagal bayar utang (Foto: Shutterstock)</title></images><description>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yNC8xLzE4MjExMS81L3g5MHYzNzA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;mdash; Laos menghadapi gelombang krisis ekonomi di tengah ancaman gagal bayar utang dan inflasi yang melambung. Laos kini berjuang untuk menyeimbangkan kepentingan antara kekuatan besar, terutama China.
Meskipun memiliki mitra ekonomi lain seperti Jepang dan Vietnam, negara kecil ini harus menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kemandirian ekonomi dan diplomatiknya. Apakah Laos mampu mengatasi krisis ini tanpa kehilangan kendali atas masa depannya?

BACA JUGA:
Rupiah Melemah ke Rp16.445/USD, Ada Indikasi Krisis Ekonomi?


Laos kini terjebak dalam salah satu krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade, dengan inflasi yang melambung tinggi dan ancaman gagal bayar utang yang mengintai. Ekonomi negara ini berada di ambang kehancuran akibat krisis utang yang semakin memburuk, mengancam stabilitas keuangan dan mendekatkan Laos pada kemungkinan default.
Melansir kantor berita DW, Kamis (25/7/2024), Biro Statistik Laos melaporkan pada bulan Juni bahwa inflasi mencapai 23,6%, tertinggi dalam 22 tahun terakhir, yang menyebabkan kelangkaan barang-barang pokok dan menurunnya daya beli masyarakat. Menurut Bank Dunia, total utang luar negeri dan dalam negeri Laos kini telah melampaui USD14,5 miliar atau sekitar Rp235,9 triliun (kurs Rp16.274 per USD) Anushka Shah, Wakil Presiden Moody's Investors Service, menegaskan bahwa Laos berada di ambang gagal bayar.

BACA JUGA:
Pria di Zimbabwe Ini Punya Harta Rp29,1 Triliun meski Negaranya Krisis Ekonomi hingga Pangan


Cadangan devisa Laos sangat rendah, sehingga para ahli percaya bahwa tanpa bantuan eksternal, negara kecil yang terkurung daratan ini tidak akan mampu memenuhi kewajiban utangnya. Sekitar setengah dari utang luar negeri Laos adalah kepada China, yang memberikan pinjaman untuk proyek-proyek infrastruktur seperti pembangkit listrik tenaga air dan jalur kereta api.
Dengan kondisi yang semakin sulit, perhatian kini tertuju pada bagaimana Beijing akan merespons. Apakah China akan memberikan bantuan atau penghapusan utang? Krisis ini tidak hanya mengancam ekonomi Laos, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan diplomatiknya dengan negara-negara lain.
COVID-19 telah menghambat kemajuan negara tersebut. Angka inflasi  yang mengkhawatirkan di Laos menjadi tanda terbaru dari badai finansial  yang terus menerpa ekonomi negara yang terjerat utang ini. Meskipun  sebelumnya Laos menikmati pertumbuhan PDB tahunan sebesar 6-7% selama  sebagian besar dekade sebelum pandemi COVID-19, dampak virus tersebut  sangat menghancurkan bagi perekonomian negara kecil ini.
Seorang peneliti di Center for Strategic and International Studies  (CSIS) Erin Murphy menjelaskan bahwa ekonomi Laos yang kecil membuatnya  sangat rentan terhadap guncangan. Pandemi COVID-19 telah merusak upaya  pertumbuhan yang ada. Sebagai negara yang terkurung daratan dengan  populasi 7 juta jiwa, Laos sangat bergantung pada impor dan ekspor  dengan mitra dagang di Asia. Gangguan rantai pasokan dan lonjakan harga  makanan serta bahan bakar akibat pandemi telah memberikan tekanan  inflasi yang signifikan.
Sementara itu, Manajer Negara Bank Dunia untuk Laos Alex Kremer  mengungkapkan bahwa situasi ini semakin diperburuk oleh berbagai faktor,  termasuk perang di Ukraina. Banyak warga Laos yang terpaksa melewatkan  makan untuk menghadapi situasi yang di luar kendali mereka. Meskipun  masyarakat berusaha kembali ke kehidupan normal, mereka menghadapi  banyak kesulitan dan banyak yang membutuhkan bantuan.
Krisis ini menyoroti tantangan serius yang dihadapi Laos, di mana  inflasi yang terus meningkat mengancam kesejahteraan masyarakat dan  mempersulit pemulihan ekonomi pascapandemi.
Jerat utang China
Salah satu faktor yang semakin memperparah krisis di Laos adalah  keputusan negara ini untuk terjebak dalam utang besar demi membiayai  proyek infrastruktur berskala besar.
&quot;Laos kini berada di bawah pengaruh rencana ekonomi China, baik itu  terkait koneksi kereta api maupun pembangkit listrik tenaga air yang  bisa diproduksi Laos,&quot; ungkap Erin Murphy.
Dalam beberapa tahun terakhir, Laos telah menempatkan dirinya di  pusat integrasi perdagangan, ekonomi, dan infrastruktur yang berkembang  di subregion Mekong. Bendungan-bendungan di Laos menyuplai listrik untuk  negara-negara tetangga yang lebih padat penduduknya, sementara jaringan  jalan dan rel yang terus berkembang dapat menghubungkan ekonomi yang  sedang tumbuh di kawasan tersebut.
Dengan melakukan proyek-proyek senilai lebih dari USD16 miliar atau  sekitar Rp260.422.400.000.000 (kurs Rp16.274 per USD), China kini  menjadi salah satu investor asing terbesar di Laos. Proyek besar terbaru  adalah jalur kereta China-Laos senilai USD5,9 miliar atau sekitar  Rp96.031.940.000.000 (kurs Rp16.274 per USD) yang menghubungkan  Vientiane dengan perbatasan China, yang merupakan bagian penting dari  inisiatif infrastruktur besar-besaran Belt and Road yang dipimpin  Beijing.
Namun, para kritikus memperingatkan bahwa negara-negara miskin  seperti Laos berisiko terjebak dalam &quot;jerat utang&quot; China, di mana  investor China dapat menguasai aset-aset penting nasional jika negara  debitur tidak mampu membayar utangnya. Menurut AidData Lab, total utang  publik Laos kepada China mencapai sekitar USD12,2 miliar atau sekitar  Rp198.571.470.000.000 (kurs Rp16.274 per USD), jauh lebih tinggi  daripada perkiraan Bank Dunia.
Hingga saat ini, Beijing cenderung diam terkait masalah utang Laos.  Kedutaan China di Vientiane belum memberikan tanggapan atas permintaan  komentar mengenai situasi ini. Krisis utang yang melanda Laos  menunjukkan betapa rentannya negara ini terhadap pengaruh ekonomi asing  dan tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai kemandirian ekonomi.
Terlalu banyak yang dipertaruhkan bagi China.
&quot;Laos menghadapi kesulitan ekonomi dan finansial yang sangat besar  dan mengkhawatirkan, namun saya rasa China tidak akan membiarkan Laos  gagal bayar,&quot; ujar Profesor di Sekolah Pascasarjana Kebijakan Publik  Universitas Tokyo Toshiro Noshizawa.
Meskipun besarnya kewajiban utang tampak menunjukkan bahwa gagal  bayar tidak terhindarkan, faktor geoekonomi membuat prediksi sederhana  semacam itu tidak realistis, tambahnya. Sejak 2013, China telah  menginvestasikan lebih dari USD800 miliar atau sekitar  Rp13.010.400.000.000.000 (kurs Rp16.274 per USD) dalam inisiatif Belt  and Road, dengan Laos sebagai sekutu kunci untuk membangun hubungan  ekonomi yang lebih kuat di Asia Tenggara.
Dalam konteks ini, gagal bayar utang Laos dapat merusak reputasi  China sebagai mitra di dunia yang sedang berkembang, terutama di kawasan  ini. &quot;China memiliki banyak kepentingan, baik secara diplomatik maupun  ekonomi. Saya percaya mereka akan bersedia campur tangan karena dalam  skema yang lebih besar, meskipun Laos memiliki utang yang banyak,  jumlahnya tidak sebesar negara lain,&quot; tegas Murphy.
Krisis utang Laos ini menyoroti betapa rentannya negara ini terhadap  pengaruh luar dan tantangan yang dihadapi dalam upaya mencapai  kemandirian ekonomi. Dengan ketidakpastian yang melanda, perhatian kini  tertuju pada bagaimana Laos dapat mengelola utangnya dan bagaimana China  akan berperan dalam situasi ini.
Upaya Laos dalam menyeimbangkan kekuatan
Dengan cengkeraman Beijing yang semakin kuat dan inflasi yang kian  memburuk, Laos kini terjebak dalam dilema sulit antara kekuatan-kekuatan  besar. Meskipun China adalah mitra ekonomi utama, Laos memiliki rekam  jejak yang mengesankan dalam menyeimbangkan kepentingan berbagai mitra  diplomatik.
Jepang telah lama menjadi donor bantuan bilateral terbesar bagi Laos,  sementara Vietnam tetap dianggap sebagai mitra keamanan terpenting  negara ini. Meski menghadapi masalah ekonomi, Vientiane sejauh ini  menghindari pembicaraan dengan kreditor internasional mengenai  renegosiasi utang. Selama pandemi COVID-19, Laos memilih untuk meminjam  uang baru dari Beijing ketimbang mencari pinjaman dari lembaga  multilateral.
Erin Murphy menekankan bahwa Laos seharusnya &quot;dapat mendapatkan  manfaat dari semua pihak sambil mengatasi masalah utangnya.&quot; Namun,  dalam skenario terburuk, jika mitra diplomatik lainnya merasa posisinya  terancam oleh pengaruh China, krisis ekonomi Laos bisa berubah menjadi  isu geopolitik yang lebih besar.
Krisis ini menunjukkan betapa rumitnya posisi Laos di tengah  persaingan kekuatan besar, dan bagaimana negara kecil ini berusaha  bertahan di tengah tekanan yang terus meningkat.</description><content:encoded>&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8yNC8xLzE4MjExMS81L3g5MHYzNzA=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
JAKARTA &amp;mdash; Laos menghadapi gelombang krisis ekonomi di tengah ancaman gagal bayar utang dan inflasi yang melambung. Laos kini berjuang untuk menyeimbangkan kepentingan antara kekuatan besar, terutama China.
Meskipun memiliki mitra ekonomi lain seperti Jepang dan Vietnam, negara kecil ini harus menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kemandirian ekonomi dan diplomatiknya. Apakah Laos mampu mengatasi krisis ini tanpa kehilangan kendali atas masa depannya?

BACA JUGA:
Rupiah Melemah ke Rp16.445/USD, Ada Indikasi Krisis Ekonomi?


Laos kini terjebak dalam salah satu krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade, dengan inflasi yang melambung tinggi dan ancaman gagal bayar utang yang mengintai. Ekonomi negara ini berada di ambang kehancuran akibat krisis utang yang semakin memburuk, mengancam stabilitas keuangan dan mendekatkan Laos pada kemungkinan default.
Melansir kantor berita DW, Kamis (25/7/2024), Biro Statistik Laos melaporkan pada bulan Juni bahwa inflasi mencapai 23,6%, tertinggi dalam 22 tahun terakhir, yang menyebabkan kelangkaan barang-barang pokok dan menurunnya daya beli masyarakat. Menurut Bank Dunia, total utang luar negeri dan dalam negeri Laos kini telah melampaui USD14,5 miliar atau sekitar Rp235,9 triliun (kurs Rp16.274 per USD) Anushka Shah, Wakil Presiden Moody's Investors Service, menegaskan bahwa Laos berada di ambang gagal bayar.

BACA JUGA:
Pria di Zimbabwe Ini Punya Harta Rp29,1 Triliun meski Negaranya Krisis Ekonomi hingga Pangan


Cadangan devisa Laos sangat rendah, sehingga para ahli percaya bahwa tanpa bantuan eksternal, negara kecil yang terkurung daratan ini tidak akan mampu memenuhi kewajiban utangnya. Sekitar setengah dari utang luar negeri Laos adalah kepada China, yang memberikan pinjaman untuk proyek-proyek infrastruktur seperti pembangkit listrik tenaga air dan jalur kereta api.
Dengan kondisi yang semakin sulit, perhatian kini tertuju pada bagaimana Beijing akan merespons. Apakah China akan memberikan bantuan atau penghapusan utang? Krisis ini tidak hanya mengancam ekonomi Laos, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan diplomatiknya dengan negara-negara lain.
COVID-19 telah menghambat kemajuan negara tersebut. Angka inflasi  yang mengkhawatirkan di Laos menjadi tanda terbaru dari badai finansial  yang terus menerpa ekonomi negara yang terjerat utang ini. Meskipun  sebelumnya Laos menikmati pertumbuhan PDB tahunan sebesar 6-7% selama  sebagian besar dekade sebelum pandemi COVID-19, dampak virus tersebut  sangat menghancurkan bagi perekonomian negara kecil ini.
Seorang peneliti di Center for Strategic and International Studies  (CSIS) Erin Murphy menjelaskan bahwa ekonomi Laos yang kecil membuatnya  sangat rentan terhadap guncangan. Pandemi COVID-19 telah merusak upaya  pertumbuhan yang ada. Sebagai negara yang terkurung daratan dengan  populasi 7 juta jiwa, Laos sangat bergantung pada impor dan ekspor  dengan mitra dagang di Asia. Gangguan rantai pasokan dan lonjakan harga  makanan serta bahan bakar akibat pandemi telah memberikan tekanan  inflasi yang signifikan.
Sementara itu, Manajer Negara Bank Dunia untuk Laos Alex Kremer  mengungkapkan bahwa situasi ini semakin diperburuk oleh berbagai faktor,  termasuk perang di Ukraina. Banyak warga Laos yang terpaksa melewatkan  makan untuk menghadapi situasi yang di luar kendali mereka. Meskipun  masyarakat berusaha kembali ke kehidupan normal, mereka menghadapi  banyak kesulitan dan banyak yang membutuhkan bantuan.
Krisis ini menyoroti tantangan serius yang dihadapi Laos, di mana  inflasi yang terus meningkat mengancam kesejahteraan masyarakat dan  mempersulit pemulihan ekonomi pascapandemi.
Jerat utang China
Salah satu faktor yang semakin memperparah krisis di Laos adalah  keputusan negara ini untuk terjebak dalam utang besar demi membiayai  proyek infrastruktur berskala besar.
&quot;Laos kini berada di bawah pengaruh rencana ekonomi China, baik itu  terkait koneksi kereta api maupun pembangkit listrik tenaga air yang  bisa diproduksi Laos,&quot; ungkap Erin Murphy.
Dalam beberapa tahun terakhir, Laos telah menempatkan dirinya di  pusat integrasi perdagangan, ekonomi, dan infrastruktur yang berkembang  di subregion Mekong. Bendungan-bendungan di Laos menyuplai listrik untuk  negara-negara tetangga yang lebih padat penduduknya, sementara jaringan  jalan dan rel yang terus berkembang dapat menghubungkan ekonomi yang  sedang tumbuh di kawasan tersebut.
Dengan melakukan proyek-proyek senilai lebih dari USD16 miliar atau  sekitar Rp260.422.400.000.000 (kurs Rp16.274 per USD), China kini  menjadi salah satu investor asing terbesar di Laos. Proyek besar terbaru  adalah jalur kereta China-Laos senilai USD5,9 miliar atau sekitar  Rp96.031.940.000.000 (kurs Rp16.274 per USD) yang menghubungkan  Vientiane dengan perbatasan China, yang merupakan bagian penting dari  inisiatif infrastruktur besar-besaran Belt and Road yang dipimpin  Beijing.
Namun, para kritikus memperingatkan bahwa negara-negara miskin  seperti Laos berisiko terjebak dalam &quot;jerat utang&quot; China, di mana  investor China dapat menguasai aset-aset penting nasional jika negara  debitur tidak mampu membayar utangnya. Menurut AidData Lab, total utang  publik Laos kepada China mencapai sekitar USD12,2 miliar atau sekitar  Rp198.571.470.000.000 (kurs Rp16.274 per USD), jauh lebih tinggi  daripada perkiraan Bank Dunia.
Hingga saat ini, Beijing cenderung diam terkait masalah utang Laos.  Kedutaan China di Vientiane belum memberikan tanggapan atas permintaan  komentar mengenai situasi ini. Krisis utang yang melanda Laos  menunjukkan betapa rentannya negara ini terhadap pengaruh ekonomi asing  dan tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai kemandirian ekonomi.
Terlalu banyak yang dipertaruhkan bagi China.
&quot;Laos menghadapi kesulitan ekonomi dan finansial yang sangat besar  dan mengkhawatirkan, namun saya rasa China tidak akan membiarkan Laos  gagal bayar,&quot; ujar Profesor di Sekolah Pascasarjana Kebijakan Publik  Universitas Tokyo Toshiro Noshizawa.
Meskipun besarnya kewajiban utang tampak menunjukkan bahwa gagal  bayar tidak terhindarkan, faktor geoekonomi membuat prediksi sederhana  semacam itu tidak realistis, tambahnya. Sejak 2013, China telah  menginvestasikan lebih dari USD800 miliar atau sekitar  Rp13.010.400.000.000.000 (kurs Rp16.274 per USD) dalam inisiatif Belt  and Road, dengan Laos sebagai sekutu kunci untuk membangun hubungan  ekonomi yang lebih kuat di Asia Tenggara.
Dalam konteks ini, gagal bayar utang Laos dapat merusak reputasi  China sebagai mitra di dunia yang sedang berkembang, terutama di kawasan  ini. &quot;China memiliki banyak kepentingan, baik secara diplomatik maupun  ekonomi. Saya percaya mereka akan bersedia campur tangan karena dalam  skema yang lebih besar, meskipun Laos memiliki utang yang banyak,  jumlahnya tidak sebesar negara lain,&quot; tegas Murphy.
Krisis utang Laos ini menyoroti betapa rentannya negara ini terhadap  pengaruh luar dan tantangan yang dihadapi dalam upaya mencapai  kemandirian ekonomi. Dengan ketidakpastian yang melanda, perhatian kini  tertuju pada bagaimana Laos dapat mengelola utangnya dan bagaimana China  akan berperan dalam situasi ini.
Upaya Laos dalam menyeimbangkan kekuatan
Dengan cengkeraman Beijing yang semakin kuat dan inflasi yang kian  memburuk, Laos kini terjebak dalam dilema sulit antara kekuatan-kekuatan  besar. Meskipun China adalah mitra ekonomi utama, Laos memiliki rekam  jejak yang mengesankan dalam menyeimbangkan kepentingan berbagai mitra  diplomatik.
Jepang telah lama menjadi donor bantuan bilateral terbesar bagi Laos,  sementara Vietnam tetap dianggap sebagai mitra keamanan terpenting  negara ini. Meski menghadapi masalah ekonomi, Vientiane sejauh ini  menghindari pembicaraan dengan kreditor internasional mengenai  renegosiasi utang. Selama pandemi COVID-19, Laos memilih untuk meminjam  uang baru dari Beijing ketimbang mencari pinjaman dari lembaga  multilateral.
Erin Murphy menekankan bahwa Laos seharusnya &quot;dapat mendapatkan  manfaat dari semua pihak sambil mengatasi masalah utangnya.&quot; Namun,  dalam skenario terburuk, jika mitra diplomatik lainnya merasa posisinya  terancam oleh pengaruh China, krisis ekonomi Laos bisa berubah menjadi  isu geopolitik yang lebih besar.
Krisis ini menunjukkan betapa rumitnya posisi Laos di tengah  persaingan kekuatan besar, dan bagaimana negara kecil ini berusaha  bertahan di tengah tekanan yang terus meningkat.</content:encoded></item></channel></rss>
