<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masyarakat Diminta Hemat Pangan, Impor Beras Bisa Ditekan?</title><description>Skandal impor beras membuat opsi Bapanas stop pemborosan pangan sangat sulit diwujudkan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/30/320/3041794/masyarakat-diminta-hemat-pangan-impor-beras-bisa-ditekan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/07/30/320/3041794/masyarakat-diminta-hemat-pangan-impor-beras-bisa-ditekan"/><item><title>Masyarakat Diminta Hemat Pangan, Impor Beras Bisa Ditekan?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/07/30/320/3041794/masyarakat-diminta-hemat-pangan-impor-beras-bisa-ditekan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/07/30/320/3041794/masyarakat-diminta-hemat-pangan-impor-beras-bisa-ditekan</guid><pubDate>Selasa 30 Juli 2024 18:16 WIB</pubDate><dc:creator>Suchika Julian Putri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/07/30/320/3041794/stop-boros-pangan-bisa-bikin-ri-tak-lagi-impor-beras-aS84ajNxgj.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Skandal impor beras terungkap (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/07/30/320/3041794/stop-boros-pangan-bisa-bikin-ri-tak-lagi-impor-beras-aS84ajNxgj.jpg</image><title>Skandal impor beras terungkap (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Skandal impor beras membuat opsi Bapanas stop pemborosan pangan sangat sulit diwujudkan. Terlebih opsi tersebut digaungkan di tengah terkuaknya skandal demurrage atau denda impor beras sebesar Rp294, 5 miliar.
Ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Akhmadi menyoroti pernyataan Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy yang mendorong masyarakat menghemat pangan demi membuat pemerintah tidak lagi melakukan impor beras. Opsi itu digaungkan Bapanas merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut 30% total pangan terbuang.

BACA JUGA:
Mafia Impor Beras Diduga Jadi Aktor di Balik Skandal Demurrage

&amp;ldquo;Kalau benar (opsi) itu prihatin juga ya. Solusinya masyarakat harus diberikan edukasi yang baik agar tidak berprilaku boros pangan,&amp;rdquo; kata dia, Selasa,(30/7/2024).



Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Bapanas pimpinan Arief Prasetyo Adi  dapat mengurangi impor beras dengan memberikan edukasi tentang pangan alternatif kepada masyarakat. Dia menilai, Bapanas bisa memperkenalkan produk pangan alternatif seperti olahan jagung hingga sagu.
&amp;ldquo;Harusnya secara masif lebih dikembangkan. Mindset ini harus dimulai dari para pengambil kebijakan di pemerintah baru masyarakat,&amp;rdquo; ungkap Ahmadi.

BACA JUGA:
Bapanas-Bulog Diminta Stop Impor Beras di Tengah Isu Skandal Mark Up

Akhmadi mengakui, ketergantungan akan impor beras belum bisa ditekan selama pangan alternatif belum dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Terlebih, lanjut Akhmadi,ketergantungan masyarakat akan beras masih sangat dominan.
&amp;ldquo;Untuk impor beras, selama ketergantungan masyarakat terhadap beras sangat dominan atau pangan alternatif belum menjadi daya tarik di masyarakat. Menekan impor beras, saya kira masih terkendala ya untuk dilakukan,&amp;rdquo; tandasnya.Sebelumnya, Bapanas membeberkan solusi untuk mengurangi jumlah impor  beras. Salah satunya caranya dengan menggalakkan program setop boros  pangan.
Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy, mengatakan program itu diusung  karena angka pemborosan pangan terhitung sangat besar. Menurut data BPS  ada 30% total pangan yang terbuang.
Sarwo Edhy mengatakan pihaknya kini terus mendorong masyarakat untuk  menghemat pangan. Sebab, program setop boros pangan bisa membuat  pemerintah tidak lagi mengimpor beras.
&quot;Artinya kalau kita bisa hemat setop boros pangan, ini insyaallah kita tidak impor. (Ini) yang kita harus pahami,&quot; kata dia.
Di sisi lain opsi Bapanas ini menjadi anomali di tengah beredarnya  dokumen hasil riviu sementara Tim Riviu Kegiatan Pengadaan Beras Luar  Negeri disebutkan bahwa ada masalah dalam dokumen impor yang tidak  proper dan komplit sehingga menyebabkan biaya demurrage atau denda beras  impor Bapanas-Bulog yang terjadi di wilayah pabean/pelabuhan Sumut, DKI  Jakarta, Banten dan Jatim.
Akibat tidak proper dan komplitnya dokumen impor dan masalah lainya  telah menyebabkan biaya demurrage atau denda beras impor Bulog-Bapanas  senilai Rp294,5 miliar. Dengan rincian wilayah Sumut sebesar Rp22  miliar, DKI Jakarta Rp94 miliar, dan Jawa Timur Rp177 miliar.
Studi Demokrasi Rakyat (SDR) melaporkan Kepala Badan Pangan Nasional  (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dan Direktur Utama Perum Bulog Bayu  Krisnamurthi terkait dugaan mark up (selisih harga) impor 2,2 juta ton  beras senilai Rp2,7 triliun dan kerugian negara akibat demurrage impor  beras senilai Rp294,5 miliar ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.</description><content:encoded>JAKARTA - Skandal impor beras membuat opsi Bapanas stop pemborosan pangan sangat sulit diwujudkan. Terlebih opsi tersebut digaungkan di tengah terkuaknya skandal demurrage atau denda impor beras sebesar Rp294, 5 miliar.
Ekonom Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Akhmadi menyoroti pernyataan Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy yang mendorong masyarakat menghemat pangan demi membuat pemerintah tidak lagi melakukan impor beras. Opsi itu digaungkan Bapanas merespons data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebut 30% total pangan terbuang.

BACA JUGA:
Mafia Impor Beras Diduga Jadi Aktor di Balik Skandal Demurrage

&amp;ldquo;Kalau benar (opsi) itu prihatin juga ya. Solusinya masyarakat harus diberikan edukasi yang baik agar tidak berprilaku boros pangan,&amp;rdquo; kata dia, Selasa,(30/7/2024).



Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Bapanas pimpinan Arief Prasetyo Adi  dapat mengurangi impor beras dengan memberikan edukasi tentang pangan alternatif kepada masyarakat. Dia menilai, Bapanas bisa memperkenalkan produk pangan alternatif seperti olahan jagung hingga sagu.
&amp;ldquo;Harusnya secara masif lebih dikembangkan. Mindset ini harus dimulai dari para pengambil kebijakan di pemerintah baru masyarakat,&amp;rdquo; ungkap Ahmadi.

BACA JUGA:
Bapanas-Bulog Diminta Stop Impor Beras di Tengah Isu Skandal Mark Up

Akhmadi mengakui, ketergantungan akan impor beras belum bisa ditekan selama pangan alternatif belum dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Terlebih, lanjut Akhmadi,ketergantungan masyarakat akan beras masih sangat dominan.
&amp;ldquo;Untuk impor beras, selama ketergantungan masyarakat terhadap beras sangat dominan atau pangan alternatif belum menjadi daya tarik di masyarakat. Menekan impor beras, saya kira masih terkendala ya untuk dilakukan,&amp;rdquo; tandasnya.Sebelumnya, Bapanas membeberkan solusi untuk mengurangi jumlah impor  beras. Salah satunya caranya dengan menggalakkan program setop boros  pangan.
Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy, mengatakan program itu diusung  karena angka pemborosan pangan terhitung sangat besar. Menurut data BPS  ada 30% total pangan yang terbuang.
Sarwo Edhy mengatakan pihaknya kini terus mendorong masyarakat untuk  menghemat pangan. Sebab, program setop boros pangan bisa membuat  pemerintah tidak lagi mengimpor beras.
&quot;Artinya kalau kita bisa hemat setop boros pangan, ini insyaallah kita tidak impor. (Ini) yang kita harus pahami,&quot; kata dia.
Di sisi lain opsi Bapanas ini menjadi anomali di tengah beredarnya  dokumen hasil riviu sementara Tim Riviu Kegiatan Pengadaan Beras Luar  Negeri disebutkan bahwa ada masalah dalam dokumen impor yang tidak  proper dan komplit sehingga menyebabkan biaya demurrage atau denda beras  impor Bapanas-Bulog yang terjadi di wilayah pabean/pelabuhan Sumut, DKI  Jakarta, Banten dan Jatim.
Akibat tidak proper dan komplitnya dokumen impor dan masalah lainya  telah menyebabkan biaya demurrage atau denda beras impor Bulog-Bapanas  senilai Rp294,5 miliar. Dengan rincian wilayah Sumut sebesar Rp22  miliar, DKI Jakarta Rp94 miliar, dan Jawa Timur Rp177 miliar.
Studi Demokrasi Rakyat (SDR) melaporkan Kepala Badan Pangan Nasional  (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dan Direktur Utama Perum Bulog Bayu  Krisnamurthi terkait dugaan mark up (selisih harga) impor 2,2 juta ton  beras senilai Rp2,7 triliun dan kerugian negara akibat demurrage impor  beras senilai Rp294,5 miliar ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.</content:encoded></item></channel></rss>
