<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Nahas Teuku Markam, Pengusaha Sukses yang Sumbang 28 Kg Emas Monas</title><description>Kisah nahas pengusaha sukses Teuku Markam yang menyumbang 28 kg emas untuk Monumen Nasional (monas).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/04/320/3043819/kisah-nahas-teuku-markam-pengusaha-sukses-yang-sumbang-28-kg-emas-monas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/04/320/3043819/kisah-nahas-teuku-markam-pengusaha-sukses-yang-sumbang-28-kg-emas-monas"/><item><title>Kisah Nahas Teuku Markam, Pengusaha Sukses yang Sumbang 28 Kg Emas Monas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/04/320/3043819/kisah-nahas-teuku-markam-pengusaha-sukses-yang-sumbang-28-kg-emas-monas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/04/320/3043819/kisah-nahas-teuku-markam-pengusaha-sukses-yang-sumbang-28-kg-emas-monas</guid><pubDate>Minggu 04 Agustus 2024 08:02 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/03/320/3043819/kisah-nahas-teuku-markam-pengusaha-sukses-yang-sumbang-28-kg-emas-monas-mJiDpXtids.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kisah nahas pengusaha kaya yang sumbangkan emas untuk monas (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/03/320/3043819/kisah-nahas-teuku-markam-pengusaha-sukses-yang-sumbang-28-kg-emas-monas-mJiDpXtids.jpg</image><title>Kisah nahas pengusaha kaya yang sumbangkan emas untuk monas (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kisah nahas pengusaha sukses Teuku Markam yang menyumbang 28 kg emas untuk Monumen Nasional (Monas). Monas terkenal dengan bentuknya yang menyerupai api berkobar berlapis emas di puncaknya.
Dilansir dari laman Badan Sertifikasi Kadin DKI Jakarta, Minggu (4/8/2024), Monas mulai dibangun sejak Agustus 1959. Pembangunan monas dilakukan untuk mengenang semangat juang bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

BACA JUGA:
Kabar Baik, Monas Bakal Buka Sampai Malam di Akhir Pekan


Monas terkenal luas dengan lidah apinya yang menyala di puncaknya. Lidah api itu dibuat dari perunggu dengan total berat mencapai 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan diameter 6 meter. Lidah api Tersebut dibagi menjadi 77 bagian yang disatukan.
Keseluruhan bagiannya berlapiskan emas seberat 38 kg, dan asal emas itu dari seorang filantropi Aceh bernama Teuku Markam.

BACA JUGA:
Peristiwa 12 Juli: Monas Dibuka untuk Umum


Teuku Markam diketahui adalah seorang Pengusaha kaya dan menjadi salah satu orang terkaya Indonesia pada zamannya.
Teuku Markam diasumsikan lahir pada tahun 1925 dan memiliki garis keturunan bangsawan (uleeebalang) di Aceh. Di usia remaja, Teuku Markam mulai menjalani pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh) dan tamat sebagai Letnan Satu. Setelah itu, Teuku Markam menjadi anggota Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ambil bagian dalam pertempuran Medan Area di Tembung, Sumatera Utara.
Selanjutnya Teuku Markam pun ditugaskan ke Bandung sebagai ajudan Jenderal Gatot Subroto. Teuku Markam dikenalkan pada Soekarno. Pada saat itu soekarno sedang mencari pengusaha pribumi yang dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi Indonesia.
Pada tahun 1957, Teuku Markam pulang ke kampung halamannya Aceh pada  saat ia memiliki pangkat  kapten, dia mendirikan perusahaan PT Karkam.
Teuku Markam pernah ditahan karena berselisih dengan Teuku Hamzah,  Panglima Kodam Iskandar Muda. Namun, ia dibebaskan pada 1958 dan segera  kembali ke Jakarta sambil membawa PT Karkam.
Perusahaan itu diberi kepercayaan oleh pemerintah Orde Lama untuk  mengurus rampasan perang. Pembayaran yang secara paksa dituntut oleh  negara pemenang perang kepada negara yang kalah perang sebagai  kompensasi atas kerugian material.
Teuku Markam memiliki aset berupa kapal dan sejumlah galangan kapal  di beberapa wilayah, Seperti Palembang, Medan, Jakarta, Makasar, dan  Surabaya. Bisnisnya meluas, ia terjun dalam bisnis import &amp;ndash; export  dengan beberapa negara. Seperti import mobil Toyota Hardtop dari Jepang,  plat baja, besi beton dan senjata dengan persetujuan dari Departemen  Pertahanan dan Keamanan serta Presiden Soekarno.
Di lain sisi menjadi salah satu sumber APBN tertinggi. Hasil bisnis  pria asal Aceh itu berhasil mengumpulkan emas seberat 28 kg untuk  ditempatkan di puncak Monas.tak hanya itu, kontribusi lainnya berupa  membebaskan lahan bagi proyek di Istora Senayan, membantu pembangunan  infrastruktur Aceh dan Jawa Barat. Rekonstruksi jalan di pesisir timur  Aceh dan seterusnya.
Teuku markam telah menjadi seorang Konglomerat Indonesia yang dikenal  dekat kepada Pemerintahan orde lama dan beberapa pejabat.  Pada zaman  pemerintahan Sukarno, nama Teuku Markam sangat luar biasa terkenal,  bahkan disebut sebagai 'Kabinet Bayangan' Orde Lama.
Sayangnya, kedekatannya dengan seorang Soekarno telah membuat  nasibnya berubah drastis di era Presiden Soeharto. Markam ditahan dan  dijebloskan ke dalam sel penjara karena diduga terlibat dengan Partai  Komunis Indonesia (PKI).
Tidak hanya mendekam di penjara, penderitaan Markam juga meliputi  pengambilalihan perusahaan miliknya oleh pemerintah, yang kemudian  menjadi cikal bakal BUMN PT Berdikari (Persero). Tragisnya, tidak ada  harta yang ditinggalkan untuk keluarga dan anak-anaknya.
Dia awalnya ditahan di Budi Utomo, kemudian dipindahkan ke Guntur,  dan dipindahkan lagi ke penjara Salemba di Jl. Percetakan Negara.  Selanjutnya, ia dipindahkan ke Cipinang, dan terakhir ke Nirbaya,  penjara untuk politikus di Pondok Gede, Jakarta Timur. Di  tahun 1972,  Teuku Markam mengalami sakit dan harus dirawat di RSPAD Gatot Subroto  selama kurangd dari dua tahun. Setelah masa tahanannya berakhir,  hidupnya tidak kunjung membaik, dan ia sering dihina karena dicap  sebagai antek PKI.</description><content:encoded>JAKARTA - Kisah nahas pengusaha sukses Teuku Markam yang menyumbang 28 kg emas untuk Monumen Nasional (Monas). Monas terkenal dengan bentuknya yang menyerupai api berkobar berlapis emas di puncaknya.
Dilansir dari laman Badan Sertifikasi Kadin DKI Jakarta, Minggu (4/8/2024), Monas mulai dibangun sejak Agustus 1959. Pembangunan monas dilakukan untuk mengenang semangat juang bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.

BACA JUGA:
Kabar Baik, Monas Bakal Buka Sampai Malam di Akhir Pekan


Monas terkenal luas dengan lidah apinya yang menyala di puncaknya. Lidah api itu dibuat dari perunggu dengan total berat mencapai 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan diameter 6 meter. Lidah api Tersebut dibagi menjadi 77 bagian yang disatukan.
Keseluruhan bagiannya berlapiskan emas seberat 38 kg, dan asal emas itu dari seorang filantropi Aceh bernama Teuku Markam.

BACA JUGA:
Peristiwa 12 Juli: Monas Dibuka untuk Umum


Teuku Markam diketahui adalah seorang Pengusaha kaya dan menjadi salah satu orang terkaya Indonesia pada zamannya.
Teuku Markam diasumsikan lahir pada tahun 1925 dan memiliki garis keturunan bangsawan (uleeebalang) di Aceh. Di usia remaja, Teuku Markam mulai menjalani pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh) dan tamat sebagai Letnan Satu. Setelah itu, Teuku Markam menjadi anggota Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ambil bagian dalam pertempuran Medan Area di Tembung, Sumatera Utara.
Selanjutnya Teuku Markam pun ditugaskan ke Bandung sebagai ajudan Jenderal Gatot Subroto. Teuku Markam dikenalkan pada Soekarno. Pada saat itu soekarno sedang mencari pengusaha pribumi yang dapat menyelesaikan permasalahan ekonomi Indonesia.
Pada tahun 1957, Teuku Markam pulang ke kampung halamannya Aceh pada  saat ia memiliki pangkat  kapten, dia mendirikan perusahaan PT Karkam.
Teuku Markam pernah ditahan karena berselisih dengan Teuku Hamzah,  Panglima Kodam Iskandar Muda. Namun, ia dibebaskan pada 1958 dan segera  kembali ke Jakarta sambil membawa PT Karkam.
Perusahaan itu diberi kepercayaan oleh pemerintah Orde Lama untuk  mengurus rampasan perang. Pembayaran yang secara paksa dituntut oleh  negara pemenang perang kepada negara yang kalah perang sebagai  kompensasi atas kerugian material.
Teuku Markam memiliki aset berupa kapal dan sejumlah galangan kapal  di beberapa wilayah, Seperti Palembang, Medan, Jakarta, Makasar, dan  Surabaya. Bisnisnya meluas, ia terjun dalam bisnis import &amp;ndash; export  dengan beberapa negara. Seperti import mobil Toyota Hardtop dari Jepang,  plat baja, besi beton dan senjata dengan persetujuan dari Departemen  Pertahanan dan Keamanan serta Presiden Soekarno.
Di lain sisi menjadi salah satu sumber APBN tertinggi. Hasil bisnis  pria asal Aceh itu berhasil mengumpulkan emas seberat 28 kg untuk  ditempatkan di puncak Monas.tak hanya itu, kontribusi lainnya berupa  membebaskan lahan bagi proyek di Istora Senayan, membantu pembangunan  infrastruktur Aceh dan Jawa Barat. Rekonstruksi jalan di pesisir timur  Aceh dan seterusnya.
Teuku markam telah menjadi seorang Konglomerat Indonesia yang dikenal  dekat kepada Pemerintahan orde lama dan beberapa pejabat.  Pada zaman  pemerintahan Sukarno, nama Teuku Markam sangat luar biasa terkenal,  bahkan disebut sebagai 'Kabinet Bayangan' Orde Lama.
Sayangnya, kedekatannya dengan seorang Soekarno telah membuat  nasibnya berubah drastis di era Presiden Soeharto. Markam ditahan dan  dijebloskan ke dalam sel penjara karena diduga terlibat dengan Partai  Komunis Indonesia (PKI).
Tidak hanya mendekam di penjara, penderitaan Markam juga meliputi  pengambilalihan perusahaan miliknya oleh pemerintah, yang kemudian  menjadi cikal bakal BUMN PT Berdikari (Persero). Tragisnya, tidak ada  harta yang ditinggalkan untuk keluarga dan anak-anaknya.
Dia awalnya ditahan di Budi Utomo, kemudian dipindahkan ke Guntur,  dan dipindahkan lagi ke penjara Salemba di Jl. Percetakan Negara.  Selanjutnya, ia dipindahkan ke Cipinang, dan terakhir ke Nirbaya,  penjara untuk politikus di Pondok Gede, Jakarta Timur. Di  tahun 1972,  Teuku Markam mengalami sakit dan harus dirawat di RSPAD Gatot Subroto  selama kurangd dari dua tahun. Setelah masa tahanannya berakhir,  hidupnya tidak kunjung membaik, dan ia sering dihina karena dicap  sebagai antek PKI.</content:encoded></item></channel></rss>
