<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menteri ESDM Akui Teknologi Penangkapan Karbon Mahal</title><description>Menteri ESDM Arifin Tasrif mengakui teknologi penangkapan karbon mahal.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044780/menteri-esdm-akui-teknologi-penangkapan-karbon-mahal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044780/menteri-esdm-akui-teknologi-penangkapan-karbon-mahal"/><item><title>Menteri ESDM Akui Teknologi Penangkapan Karbon Mahal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044780/menteri-esdm-akui-teknologi-penangkapan-karbon-mahal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044780/menteri-esdm-akui-teknologi-penangkapan-karbon-mahal</guid><pubDate>Selasa 06 Agustus 2024 08:10 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/06/320/3044780/menteri-esdm-akui-teknologi-penangkapan-karbon-mahal-E37ojUoMxW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri ESDM akui teknologi penangkapan emisi mahal (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/06/320/3044780/menteri-esdm-akui-teknologi-penangkapan-karbon-mahal-E37ojUoMxW.jpg</image><title>Menteri ESDM akui teknologi penangkapan emisi mahal (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Menteri ESDM Arifin Tasrif mengakui teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage) mahal. Hal ini menjadi tatangan bagi pemerintah untuk mengimplementasikan CCS/CCUS.
CCS/CCUS merupakan salah satu cara pemerintah dalam mencapai target emisi nol bersih (net zero emission). Teknologi ini diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam menekan jejak karbon negara yang dikenal sebagai salah satu penghasil emisi terbesar di dunia.

BACA JUGA:
RI Pemain Besar Sektor Migas, Sumbang Banyak Emisi Karbon


Diungkapkan Arifin, dengan memanfaatkan CCS dan CCUS, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sektor industri dan energi, sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih. Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memenuhi komitmen dalam Perjanjian Paris dan memitigasi dampak perubahan iklim secara lebih efektif.
Namun demikian, lanjut Arifin, meskipun CCS/CCUS menawarkan potensi besar dalam mengurangi emisi karbon, biaya tinggi yang terkait dengan implementasinya menjadi tantangan utama bagi Indonesia.

BACA JUGA:
Turunkan Emisi Karbon, Kemenkeu: Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah


&quot;Rencana implementasi CCS/CCUS sekarang masih mahal, tapi memang harus kita coba. sesuatu kalau baru dicoba kan memang mahal,&quot; ujarnya, ditulis Selasa (6/8/2024).
Arifin pun menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 15 proyek CCS/CCUS yang masih dalam tahap studi/persiapan yang tersebar dari barat hingga timur Indonesia, yaitu terdiri dari proyek Tangguh EGR/CCUS, Abadi CCS, Sukowati CCUS/EOR, Gundih CCUS/EGR, Pilot Test CO2 Huff and Puff Jatibarang, Ramba CCUS/EOR, CO2 Huff and Puff Gemah, Sakakemang CCS, Arun CCS, Central Sumatera Basin CCS/CCUS Hubs, Kutai Basin CCS Hub, Asri Basin CCS/CCUS Hubs, CCU to Methanol RU V Balikpapan, East Kalimantan CCS/CCUS Study, dan Blue Ammonia + CCS Donggi Matindok.
Dalam paparannya, biaya untuk menginjeksikan per ton CO2 pada proyek  penyimpanan CO2 akan memakan biaya yang tidak sedikit, diantaranya  adalah sebagai berikut, pertama Pemurnian Gas Alam, Gundih Jawa Timur  dengan biaya USD43-53/ton CO2, dengan total 0,3 juta ton CO2 per tahun,  investasi injeksi USD105 juta.
Selanjutnya Produksi LNG Bintuni, Papua Barat, USD33/ton CO2. Total  2,5-3,3 juta ton CO2 per tahun, Investasi injeksi sebesar USD948 juta.  Kemudian Produksi LNG di Masela, NTT, USD26/ton CO2, total 3,5 juta ton  CO2 per tahun, investasi injeksi sebesar USD1,4 miliar. Terakhir ialah  Gasifikasi batubara menjadi DME, Tanjung Enim Sumatera Selatan,  USD50-55/ton CO2, total 3 juta ton CO2 per tahun dan investasi injeksi  mencapai USD1,6 miliar.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri ESDM Arifin Tasrif mengakui teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization, and Storage) mahal. Hal ini menjadi tatangan bagi pemerintah untuk mengimplementasikan CCS/CCUS.
CCS/CCUS merupakan salah satu cara pemerintah dalam mencapai target emisi nol bersih (net zero emission). Teknologi ini diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam menekan jejak karbon negara yang dikenal sebagai salah satu penghasil emisi terbesar di dunia.

BACA JUGA:
RI Pemain Besar Sektor Migas, Sumbang Banyak Emisi Karbon


Diungkapkan Arifin, dengan memanfaatkan CCS dan CCUS, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari sektor industri dan energi, sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih. Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memenuhi komitmen dalam Perjanjian Paris dan memitigasi dampak perubahan iklim secara lebih efektif.
Namun demikian, lanjut Arifin, meskipun CCS/CCUS menawarkan potensi besar dalam mengurangi emisi karbon, biaya tinggi yang terkait dengan implementasinya menjadi tantangan utama bagi Indonesia.

BACA JUGA:
Turunkan Emisi Karbon, Kemenkeu: Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah


&quot;Rencana implementasi CCS/CCUS sekarang masih mahal, tapi memang harus kita coba. sesuatu kalau baru dicoba kan memang mahal,&quot; ujarnya, ditulis Selasa (6/8/2024).
Arifin pun menjelaskan bahwa Indonesia memiliki 15 proyek CCS/CCUS yang masih dalam tahap studi/persiapan yang tersebar dari barat hingga timur Indonesia, yaitu terdiri dari proyek Tangguh EGR/CCUS, Abadi CCS, Sukowati CCUS/EOR, Gundih CCUS/EGR, Pilot Test CO2 Huff and Puff Jatibarang, Ramba CCUS/EOR, CO2 Huff and Puff Gemah, Sakakemang CCS, Arun CCS, Central Sumatera Basin CCS/CCUS Hubs, Kutai Basin CCS Hub, Asri Basin CCS/CCUS Hubs, CCU to Methanol RU V Balikpapan, East Kalimantan CCS/CCUS Study, dan Blue Ammonia + CCS Donggi Matindok.
Dalam paparannya, biaya untuk menginjeksikan per ton CO2 pada proyek  penyimpanan CO2 akan memakan biaya yang tidak sedikit, diantaranya  adalah sebagai berikut, pertama Pemurnian Gas Alam, Gundih Jawa Timur  dengan biaya USD43-53/ton CO2, dengan total 0,3 juta ton CO2 per tahun,  investasi injeksi USD105 juta.
Selanjutnya Produksi LNG Bintuni, Papua Barat, USD33/ton CO2. Total  2,5-3,3 juta ton CO2 per tahun, Investasi injeksi sebesar USD948 juta.  Kemudian Produksi LNG di Masela, NTT, USD26/ton CO2, total 3,5 juta ton  CO2 per tahun, investasi injeksi sebesar USD1,4 miliar. Terakhir ialah  Gasifikasi batubara menjadi DME, Tanjung Enim Sumatera Selatan,  USD50-55/ton CO2, total 3 juta ton CO2 per tahun dan investasi injeksi  mencapai USD1,6 miliar.</content:encoded></item></channel></rss>
