<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investasi Rp324 Miliar, Vietnam Lirik Bisnis Budidaya Lobster RI</title><description>Indonesia dan Vietnam bekerjasama dalam mengembangkan budidaya lobster di dalam negeri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044954/investasi-rp324-miliar-vietnam-lirik-bisnis-budidaya-lobster-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044954/investasi-rp324-miliar-vietnam-lirik-bisnis-budidaya-lobster-ri"/><item><title>Investasi Rp324 Miliar, Vietnam Lirik Bisnis Budidaya Lobster RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044954/investasi-rp324-miliar-vietnam-lirik-bisnis-budidaya-lobster-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/06/320/3044954/investasi-rp324-miliar-vietnam-lirik-bisnis-budidaya-lobster-ri</guid><pubDate>Selasa 06 Agustus 2024 13:53 WIB</pubDate><dc:creator>Ghanny Rachmansyah S</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/06/320/3044954/investasi-rp324-miliar-vietnam-lirik-bisnis-budidaya-lobster-ri-mz1KNQ0NRc.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia-Vietnam kolaborasi budidaya lobster dalam negeri (Foto: Aquaculture)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/06/320/3044954/investasi-rp324-miliar-vietnam-lirik-bisnis-budidaya-lobster-ri-mz1KNQ0NRc.jpg</image><title>Indonesia-Vietnam kolaborasi budidaya lobster dalam negeri (Foto: Aquaculture)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia dan Vietnam bekerjasama dalam mengembangkan budidaya lobster di dalam negeri. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimistis sinergi Indonesia-Vietnam akan menghasilkan transformasi budidaya lobster secara menyeluruh.
&amp;ldquo;Beberapa kemajuan dapat dilihat di antaranya transfer teknologi manajemen budidaya lobster sesuai pengembangan SOP yang diterapkan di Vietnam. Mulai dari teknis kegiatan serta penerapan etos kerja pada kegiatan budidaya,&amp;rdquo; beber Menteri Trenggono usai bertemu Wakil Menteri Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Vietnam Phung Duc Tien di Denpasar, Bali, Selasa (6/8/2024).

BACA JUGA:
Penyelundupan Benih Bening Lobster seperti Narkoba Hidup


Sistem budidaya lobster di Jembrana mengadopsi teknik yang diterapkan di Vietnam berupa penggunaaan kerangkeng dan pemeliharaan di bawah laut. Benih bening lobster (BBL) juga mendapat treatment khusus, seperti penyegaran, seleksi, dan kontrol benih di instalasi karantina, sebelum dilepaskan ke keramba budidaya.
Metode budidaya yang diadopsi dari Vietnam diyakini dapat mengurangi nilai risiko kematian dan meningkatkan kelangsungan hidup benih bening lobster di keramba-keramba budidaya.

BACA JUGA:
Keran Ekspor Benih Lobster Bakal Dibuka, Syaratnya Importir Budidaya di RI


Menurut Trenggono, cara budidaya lobster di Jembrana dapat ditiru oleh pembudidaya lain di Indonesia sehingga transformasi budidaya lobster nasional bisa segera terwujud. &amp;ldquo;Sistem budidaya ini menjadi contoh, termasuk penerapan etos kerja pada pembudidaya lobster,&amp;rdquo; ungkap Menteri Trenggono.
Wakil Menteri Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Vietnam, Phung Dec Tien, mengapresiasi cepatnya proses adaptasi perusahaan joint venture dalam menerapkan standardisasi budidaya lobster seperti di Vietnam. Hanya dalam beberapa bulan kegiatan budidaya sudah dapat dilakukan di Indonesia.
Tien yakin kerja sama ini akan mengangkat sektor budidaya lobster,  serta mendorong berkembangnya industri di Indonesia. Selain meningkatkan  perekonomian, hubungan diplomatik dua negara juga semakin erat  khususnya dalam upaya memerangi praktik perdagangan benih bening lobster  ilegal.  &quot;Kami yakin sejak awal bahwa Indonesia adalah mitra strategis  untuk membangun ekosistem rantai pasok global lobster,&quot; ujar Tien.
Sementara itu, Juru Bicara PT Idovin Aquaculture International,  Adinda Cresheilla, menyatakan bahwa perusahaannya berkomitmen untuk  menanamkan investasi sebesar USD4 juta per tahun, dengan total mencapai  USD20 juta (setara Rp324 miliar dengan kurs Rp16.200 per USD) selama  lima tahun.
Investasi ini akan digunakan untuk mengembangkan Keramba Jaring Apung  (KJA) dalam budidaya lobster dengan metode ala Vietnam. Dalam metode  ini, wadah budidaya atau kerangkeng diletakkan di kolom air pada  kedalaman 3-7 meter dari permukaan.
Adinda menjelaskan beberapa alasan penting di balik penggunaan metode  budidaya KJA ala Vietnam. Pertama, lobster sangat sensitif terhadap  perubahan salinitas. Dengan kerangkeng yang ditenggelamkan, lobster akan  terlindungi dari pengaruh air tawar yang masuk ke permukaan saat hujan.  Selain itu, kerangkeng yang berada di bawah permukaan air akan lebih  aman dari gangguan angin kencang atau angin barat.
&quot;Transfer pengetahuan dan keahlian dalam budidaya lobster yang  diberikan oleh para ahli dari Vietnam diharapkan dapat memberi nilai  tambah bagi pembudidaya lokal, nelayan, hingga masyarakat setempat,&amp;rdquo;  ujar Adinda.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia dan Vietnam bekerjasama dalam mengembangkan budidaya lobster di dalam negeri. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimistis sinergi Indonesia-Vietnam akan menghasilkan transformasi budidaya lobster secara menyeluruh.
&amp;ldquo;Beberapa kemajuan dapat dilihat di antaranya transfer teknologi manajemen budidaya lobster sesuai pengembangan SOP yang diterapkan di Vietnam. Mulai dari teknis kegiatan serta penerapan etos kerja pada kegiatan budidaya,&amp;rdquo; beber Menteri Trenggono usai bertemu Wakil Menteri Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Vietnam Phung Duc Tien di Denpasar, Bali, Selasa (6/8/2024).

BACA JUGA:
Penyelundupan Benih Bening Lobster seperti Narkoba Hidup


Sistem budidaya lobster di Jembrana mengadopsi teknik yang diterapkan di Vietnam berupa penggunaaan kerangkeng dan pemeliharaan di bawah laut. Benih bening lobster (BBL) juga mendapat treatment khusus, seperti penyegaran, seleksi, dan kontrol benih di instalasi karantina, sebelum dilepaskan ke keramba budidaya.
Metode budidaya yang diadopsi dari Vietnam diyakini dapat mengurangi nilai risiko kematian dan meningkatkan kelangsungan hidup benih bening lobster di keramba-keramba budidaya.

BACA JUGA:
Keran Ekspor Benih Lobster Bakal Dibuka, Syaratnya Importir Budidaya di RI


Menurut Trenggono, cara budidaya lobster di Jembrana dapat ditiru oleh pembudidaya lain di Indonesia sehingga transformasi budidaya lobster nasional bisa segera terwujud. &amp;ldquo;Sistem budidaya ini menjadi contoh, termasuk penerapan etos kerja pada pembudidaya lobster,&amp;rdquo; ungkap Menteri Trenggono.
Wakil Menteri Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Vietnam, Phung Dec Tien, mengapresiasi cepatnya proses adaptasi perusahaan joint venture dalam menerapkan standardisasi budidaya lobster seperti di Vietnam. Hanya dalam beberapa bulan kegiatan budidaya sudah dapat dilakukan di Indonesia.
Tien yakin kerja sama ini akan mengangkat sektor budidaya lobster,  serta mendorong berkembangnya industri di Indonesia. Selain meningkatkan  perekonomian, hubungan diplomatik dua negara juga semakin erat  khususnya dalam upaya memerangi praktik perdagangan benih bening lobster  ilegal.  &quot;Kami yakin sejak awal bahwa Indonesia adalah mitra strategis  untuk membangun ekosistem rantai pasok global lobster,&quot; ujar Tien.
Sementara itu, Juru Bicara PT Idovin Aquaculture International,  Adinda Cresheilla, menyatakan bahwa perusahaannya berkomitmen untuk  menanamkan investasi sebesar USD4 juta per tahun, dengan total mencapai  USD20 juta (setara Rp324 miliar dengan kurs Rp16.200 per USD) selama  lima tahun.
Investasi ini akan digunakan untuk mengembangkan Keramba Jaring Apung  (KJA) dalam budidaya lobster dengan metode ala Vietnam. Dalam metode  ini, wadah budidaya atau kerangkeng diletakkan di kolom air pada  kedalaman 3-7 meter dari permukaan.
Adinda menjelaskan beberapa alasan penting di balik penggunaan metode  budidaya KJA ala Vietnam. Pertama, lobster sangat sensitif terhadap  perubahan salinitas. Dengan kerangkeng yang ditenggelamkan, lobster akan  terlindungi dari pengaruh air tawar yang masuk ke permukaan saat hujan.  Selain itu, kerangkeng yang berada di bawah permukaan air akan lebih  aman dari gangguan angin kencang atau angin barat.
&quot;Transfer pengetahuan dan keahlian dalam budidaya lobster yang  diberikan oleh para ahli dari Vietnam diharapkan dapat memberi nilai  tambah bagi pembudidaya lokal, nelayan, hingga masyarakat setempat,&amp;rdquo;  ujar Adinda.</content:encoded></item></channel></rss>
