<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Peluang RI Tingkatkan Akses Energi Bersih Pakai Tenaga Surya</title><description>Indonesia bisa meningkatkan akses tenaga bersih menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/08/320/3045854/peluang-ri-tingkatkan-akses-energi-bersih-pakai-tenaga-surya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/08/320/3045854/peluang-ri-tingkatkan-akses-energi-bersih-pakai-tenaga-surya"/><item><title>Peluang RI Tingkatkan Akses Energi Bersih Pakai Tenaga Surya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/08/320/3045854/peluang-ri-tingkatkan-akses-energi-bersih-pakai-tenaga-surya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/08/320/3045854/peluang-ri-tingkatkan-akses-energi-bersih-pakai-tenaga-surya</guid><pubDate>Kamis 08 Agustus 2024 07:46 WIB</pubDate><dc:creator>Ghanny Rachmansyah S</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/08/320/3045854/peluang-ri-tingkatkan-akses-energi-bersih-pakai-tenaga-surya-kVo3Cr2k9x.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Akses energi bersih dengan PLTS (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/08/320/3045854/peluang-ri-tingkatkan-akses-energi-bersih-pakai-tenaga-surya-kVo3Cr2k9x.jpg</image><title>Akses energi bersih dengan PLTS (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia bisa meningkatkan akses tenaga bersih menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dengan akses energi berkualitas yang mampu menyediakan listrik selama 24 jam dengan tegangan stabil,  aktivitas ekonomi dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pada tahun 2023, lebih dari 99,78% wilayah di Indonesia telah teraliri listrik. Angka capaian ini perlu dicermati lebih lanjut untuk memastikan akses energi yang diterima masyarakat dapat memenuhi layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan serta menggerakkan aktivitas ekonomi.

BACA JUGA:
Transisi Energi, Ini Bukti RI Mulai Tinggalkan PLTU


Situasi geografis Indonesia yang banyak terpisah oleh bentang alam seperti area pegunungan, pesisir, ataupun kepulauan menjadi tantangan dalam penyediaan energi. Sistem energi Indonesia saat ini masih mengandalkan model penyediaan energi yang terpusat untuk kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi.
Model penyediaan energi seperti ini memiliki risiko terganggunya seluruh sistem apabila terdapat gangguan pada salah satu bagian transmisi, seperti terjadi pada Juni 2024 di Sumatera.

BACA JUGA:
ESDM Tetapkan Kuota PLTS Atap, PLN Diminta Lakukan Ini 


Situasi Indonesia ini membutuhkan pendekatan pembangkit energi terdesentralisasi dengan memanfaatkan potensi sumber energi lokal. Pembangkit berbasis energi terbarukan seperti energi surya menjadi pilihan potensial untuk memperkuat akses energi di Indonesia karena potensinya yang mencapai 3.000-20.000 GWp.
YLKI menilai penggunaan energi terbarukan (EBT) merupakan salah satu bentuk tanggung jawab konsumen untuk mewujudkan pola konsumsi yang berkelanjutan (sustainable consumption).
&amp;ldquo;Salah satu sumber EBT yang tersedia dan mudah diakses konsumen adalah energi surya,&amp;rdquo; jelas Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi pada Diskusi Kelompok Terpumpun (Focused Group Discussion) PLTS, Kamis (8/8/2024).
Selain membangun ekosistem pendukung tumbuhnya energi terbarukan,  salah satunya energi surya, dan membuka akses informasi kepada  masyarakat untuk bisa memanfaatkan energi terbarukan secara mandiri,  aksi dukungan pada kebijakan energi tetap harus digalakkan. Manajer  Program Akses Energi Berkelanjutan IESR Marlistya Citraningrum  menyebutkan bahwa energi surya merupakan sumber energi yang demokratis.
&quot;Dari beragam contoh pengembangan energi surya di Indonesia, terdapat  empat catatan penting untuk memastikan dampaknya berkelanjutan,&amp;rdquo;  ucapnya.
Dia merinci yang pertama berorientasi pada pengguna dan dampaknya,  kedua identifikasi sistem yang sesuai dengan konteks lokal, ketiga  pendampingan berkelanjutan bagi komunitas dan masyarakat, serta keempat  pengelolaan yang profesional.
Dalam kesempatan yang sama, Vice President Penjualan PT PLN (Persero)  Rahmi Handayani menjelaskan kenaikan pelanggan PLTS atap menjadi  cerminan minat masyarakat menggunakan energi surya.
Dari 2018&amp;mdash;2024 jumlah pelanggan PLTS atap naik 15 kali, dari 609  menjadi 9.324 pelanggan. Secara kapasitas juga naik dari 2 MWp pada 2018  menjadi 197 MWp pada tahun 2024, atau naik sebanyak 98 kali.
&quot;Minat masyarakat pada PLTS atap tinggi juga. Terlihat dari kuota  PLTS atap pada Juli 2024 yang terjual sebanyak 88% atau 901 MWp,&quot; kata  Rahmi.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia bisa meningkatkan akses tenaga bersih menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Dengan akses energi berkualitas yang mampu menyediakan listrik selama 24 jam dengan tegangan stabil,  aktivitas ekonomi dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa pada tahun 2023, lebih dari 99,78% wilayah di Indonesia telah teraliri listrik. Angka capaian ini perlu dicermati lebih lanjut untuk memastikan akses energi yang diterima masyarakat dapat memenuhi layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan serta menggerakkan aktivitas ekonomi.

BACA JUGA:
Transisi Energi, Ini Bukti RI Mulai Tinggalkan PLTU


Situasi geografis Indonesia yang banyak terpisah oleh bentang alam seperti area pegunungan, pesisir, ataupun kepulauan menjadi tantangan dalam penyediaan energi. Sistem energi Indonesia saat ini masih mengandalkan model penyediaan energi yang terpusat untuk kemudian disalurkan melalui jaringan transmisi.
Model penyediaan energi seperti ini memiliki risiko terganggunya seluruh sistem apabila terdapat gangguan pada salah satu bagian transmisi, seperti terjadi pada Juni 2024 di Sumatera.

BACA JUGA:
ESDM Tetapkan Kuota PLTS Atap, PLN Diminta Lakukan Ini 


Situasi Indonesia ini membutuhkan pendekatan pembangkit energi terdesentralisasi dengan memanfaatkan potensi sumber energi lokal. Pembangkit berbasis energi terbarukan seperti energi surya menjadi pilihan potensial untuk memperkuat akses energi di Indonesia karena potensinya yang mencapai 3.000-20.000 GWp.
YLKI menilai penggunaan energi terbarukan (EBT) merupakan salah satu bentuk tanggung jawab konsumen untuk mewujudkan pola konsumsi yang berkelanjutan (sustainable consumption).
&amp;ldquo;Salah satu sumber EBT yang tersedia dan mudah diakses konsumen adalah energi surya,&amp;rdquo; jelas Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi pada Diskusi Kelompok Terpumpun (Focused Group Discussion) PLTS, Kamis (8/8/2024).
Selain membangun ekosistem pendukung tumbuhnya energi terbarukan,  salah satunya energi surya, dan membuka akses informasi kepada  masyarakat untuk bisa memanfaatkan energi terbarukan secara mandiri,  aksi dukungan pada kebijakan energi tetap harus digalakkan. Manajer  Program Akses Energi Berkelanjutan IESR Marlistya Citraningrum  menyebutkan bahwa energi surya merupakan sumber energi yang demokratis.
&quot;Dari beragam contoh pengembangan energi surya di Indonesia, terdapat  empat catatan penting untuk memastikan dampaknya berkelanjutan,&amp;rdquo;  ucapnya.
Dia merinci yang pertama berorientasi pada pengguna dan dampaknya,  kedua identifikasi sistem yang sesuai dengan konteks lokal, ketiga  pendampingan berkelanjutan bagi komunitas dan masyarakat, serta keempat  pengelolaan yang profesional.
Dalam kesempatan yang sama, Vice President Penjualan PT PLN (Persero)  Rahmi Handayani menjelaskan kenaikan pelanggan PLTS atap menjadi  cerminan minat masyarakat menggunakan energi surya.
Dari 2018&amp;mdash;2024 jumlah pelanggan PLTS atap naik 15 kali, dari 609  menjadi 9.324 pelanggan. Secara kapasitas juga naik dari 2 MWp pada 2018  menjadi 197 MWp pada tahun 2024, atau naik sebanyak 98 kali.
&quot;Minat masyarakat pada PLTS atap tinggi juga. Terlihat dari kuota  PLTS atap pada Juli 2024 yang terjual sebanyak 88% atau 901 MWp,&quot; kata  Rahmi.</content:encoded></item></channel></rss>
