<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengusaha Hotel Masih Ragu Bangun Hotel di IKN, Kenapa?</title><description>PHRI) masih menimbang-nimbang untuk membangun hotel di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/13/470/3048178/pengusaha-hotel-masih-ragu-bangun-hotel-di-ikn-kenapa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/13/470/3048178/pengusaha-hotel-masih-ragu-bangun-hotel-di-ikn-kenapa"/><item><title>Pengusaha Hotel Masih Ragu Bangun Hotel di IKN, Kenapa?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/13/470/3048178/pengusaha-hotel-masih-ragu-bangun-hotel-di-ikn-kenapa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/13/470/3048178/pengusaha-hotel-masih-ragu-bangun-hotel-di-ikn-kenapa</guid><pubDate>Selasa 13 Agustus 2024 08:03 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/13/470/3048178/pengusaha-hotel-masih-ragu-bangun-hotel-di-ikn-kenapa-LxVPIMNsPs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Istana di IKN Nusantara (Foto: Antara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/13/470/3048178/pengusaha-hotel-masih-ragu-bangun-hotel-di-ikn-kenapa-LxVPIMNsPs.jpg</image><title>Istana di IKN Nusantara (Foto: Antara)</title></images><description>JAKARTA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)  masih menimbang-nimbang untuk membangun hotel di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim). Hal ini dikarenakan belum diketahui berapa persentase jumlah penduduk dan kunjungan di IKN.
Ketua Umum BPP PHRI, Hariyadi BS Sukamdani menyatakan ketertarikan timbul jika ada prospek investasi yang menjanjikan. Artinya, investasi di sektor perhotelan harus didasarkan pada permintaan pasar atau banyaknya jumlah orang yang memesan kamar hotel.

BACA JUGA:
Tarif Hotel di Kawasan IKN Melonjak 20% Jelang HUT RI, Okupansi Penuh 100%

Karena itu, PHRI masih melihat perkembangan di IKN depannya, termasuk jumlah kunjungan di kawasan ibu kota baru. Dia memastikan, bila kunjungan naik signifikan, maka PHRI akan menggelontorkan investasi untuk proyek hotel di IKN.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wOC8xMy8xLzE4Mzg3Ny81L3g5M3h2OWc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Anggota PHRI tentu akan mengikuti perkembangan dari kunjungan yang ada di sana, jadi selama kunjungan itu nantinya meningkat tentu pastinya ada kebutuhan kamar hotel, pada saat itulah kami akan melakukan eksekusi pelaksanaan investasi di sana,&amp;rdquo; ujar Hariyadi saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan dikutip Selasa (13/8/2024).

BACA JUGA:
Jokowi Cek Pengelolaan Rusun PNS di IKN

Masih terlalu dini bagi PHRI membangun proyek perhotelan di IKN saat ini. Kendati analisa atas prospek permintaan tetap dilakukan organisasi yang memayungi perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, restoran, jasa boga serta lembaga pendidikan pariwisata tersebut.&amp;ldquo;Jadi, polanya seperti itu, dan kalau sekarang masih terlalu dini untuk kita lihat karena memang belum terlihat berapa sih sebetulnya orang yang akan tinggal disana, kunjungannya seperti apa kita belum tahu,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;ldquo;Maka itu memang kita mengikuti perkembangan disana, kita gak bisa mendahului, seperti misalnya di sektor listrik, itukan listriknya ada dulu baru konsumennya baru ada, nah ini beda, kalau hotel di belakangnya, kalau listrik harus di depannya, maksud di belakang pertumbuhannya, pertumbuhan dari demand tadi,&amp;rdquo; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)  masih menimbang-nimbang untuk membangun hotel di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim). Hal ini dikarenakan belum diketahui berapa persentase jumlah penduduk dan kunjungan di IKN.
Ketua Umum BPP PHRI, Hariyadi BS Sukamdani menyatakan ketertarikan timbul jika ada prospek investasi yang menjanjikan. Artinya, investasi di sektor perhotelan harus didasarkan pada permintaan pasar atau banyaknya jumlah orang yang memesan kamar hotel.

BACA JUGA:
Tarif Hotel di Kawasan IKN Melonjak 20% Jelang HUT RI, Okupansi Penuh 100%

Karena itu, PHRI masih melihat perkembangan di IKN depannya, termasuk jumlah kunjungan di kawasan ibu kota baru. Dia memastikan, bila kunjungan naik signifikan, maka PHRI akan menggelontorkan investasi untuk proyek hotel di IKN.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wOC8xMy8xLzE4Mzg3Ny81L3g5M3h2OWc=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&amp;ldquo;Anggota PHRI tentu akan mengikuti perkembangan dari kunjungan yang ada di sana, jadi selama kunjungan itu nantinya meningkat tentu pastinya ada kebutuhan kamar hotel, pada saat itulah kami akan melakukan eksekusi pelaksanaan investasi di sana,&amp;rdquo; ujar Hariyadi saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan dikutip Selasa (13/8/2024).

BACA JUGA:
Jokowi Cek Pengelolaan Rusun PNS di IKN

Masih terlalu dini bagi PHRI membangun proyek perhotelan di IKN saat ini. Kendati analisa atas prospek permintaan tetap dilakukan organisasi yang memayungi perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, restoran, jasa boga serta lembaga pendidikan pariwisata tersebut.&amp;ldquo;Jadi, polanya seperti itu, dan kalau sekarang masih terlalu dini untuk kita lihat karena memang belum terlihat berapa sih sebetulnya orang yang akan tinggal disana, kunjungannya seperti apa kita belum tahu,&amp;rdquo; tuturnya.
&amp;ldquo;Maka itu memang kita mengikuti perkembangan disana, kita gak bisa mendahului, seperti misalnya di sektor listrik, itukan listriknya ada dulu baru konsumennya baru ada, nah ini beda, kalau hotel di belakangnya, kalau listrik harus di depannya, maksud di belakang pertumbuhannya, pertumbuhan dari demand tadi,&amp;rdquo; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
