<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Angkasa Pura Keluhkan Jumlah Pesawat di RI Masih Kurang</title><description>Angkasa Pura mengeluhkan minimnya jumlah pesawat di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052288/angkasa-pura-keluhkan-jumlah-pesawat-di-ri-masih-kurang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052288/angkasa-pura-keluhkan-jumlah-pesawat-di-ri-masih-kurang"/><item><title>Angkasa Pura Keluhkan Jumlah Pesawat di RI Masih Kurang</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052288/angkasa-pura-keluhkan-jumlah-pesawat-di-ri-masih-kurang</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052288/angkasa-pura-keluhkan-jumlah-pesawat-di-ri-masih-kurang</guid><pubDate>Rabu 21 Agustus 2024 11:54 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/21/320/3052288/angkasa-pura-keluhkan-jumlah-pesawat-di-ri-masih-kurang-Q7OOVqWJuT.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Angkasa Pura keluhkan jumlah penumpang pesawat di RI (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/21/320/3052288/angkasa-pura-keluhkan-jumlah-pesawat-di-ri-masih-kurang-Q7OOVqWJuT.JPG</image><title>Angkasa Pura keluhkan jumlah penumpang pesawat di RI (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Angkasa Pura mengeluhkan minimnya jumlah pesawat di Indonesia. Jumlah operasional pesawat terbang di Indonesia yang terbatas menjadi isu utama di industri aviasi Tanah Air
Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Faik Fahmi mengatakan, jumlah pesawat yang melayani penerbangan domestik baru menyentuh 420 armada, jauh di bawah angka efektif, yakni 740 armada pesawat. Angka efektif mengacu pada jumlah pesawat yang beroperasi sebelum pandemi Covid-19 atau periode 2019.

BACA JUGA:
Ratusan Penerbangan di Bandara Jepang Dibatalkan dan Ditunda Gara-Gara Gunting yang Hilang


&amp;ldquo;Memang yang sekarang menjadi isu di aviasi industri kan jumlah pesawat yang dioperasikan masih terbatas ya. Kalau kita lihat dulu sebelum pandemi Covid kan ada 740 pesawat untuk melayani domestik, tapi sekarang kan cuman ada 420,&amp;rdquo; ujar Faik saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, ditulis Rabu (21/8/2024).
Tidak seimbangnya permintaan penumpang dan suplai pesawat menjadi masalah bagi industri penerbangan dalam negeri. Faik menyebut, perkara ini memicu kenaikan harga tiket pesawat.

BACA JUGA:
Kursi Ditendangi Anak Kecil Selama Penerbangan, Wanita Ini Malah Ngeluh di Medsos


&amp;ldquo;Jadi antara demand dan suplai itu gak balance, ini juga memicu harga tiket menjadi lebih tinggi dan lain sebagainya. Tapi penumpang seluruhnya sudah siap terbang, masalahnya yang di situ aja,&amp;rdquo; paparnya.
Terbatasnya jumlah pesawat mencuri perhatian banyak pihak sejak awal 2023 lalu. Kala itu, Faik mencatat banyak pesawat belum dioperasikan, setelah maskapai penerbangan mengembalikan armada ke pihak lessor, lantaran dampak pandemi Covid-19.
&quot;Justru isu saat ini adalah keterbatasan jumlah pesawat yang dioperasikan untuk rute domestik oleh Airline karena dampak Covid, banyak Airline yang mengurangi jumlah pesawatnya, dan penumpang sudah siap mau terbang, ternyata kapasitasnya kurang,&quot; beber Faik saat ditemui beberapa waktu lalu.
Pada 2023 lalu, PT Angkasa Pura I (Persero) memberikan fleksibilitas  jam operasi pesawat, langkah strategi operator bandara mengatasi jumlah  pesawat yang minim.
Di mana, ada izin maskapai penerbangan melakukan extra flight atau  penerbangan tambahan. Faik menilai extra flight bertujuan mengakomodir  penerbangan penumpang ke tempat tujuan mereka.
&quot;Kita mengantisipasi itu dengan memberikan fleksibilitas kepada  Airline. Jadi kalau kita lihat di periode Nataru kita memberikan  fleksibilitas kepada Airline untuk mengoptimalkan armada yang mereka  operasikan dengan memberikan fleksibilitas jam operasi,&quot; ungkapnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Angkasa Pura mengeluhkan minimnya jumlah pesawat di Indonesia. Jumlah operasional pesawat terbang di Indonesia yang terbatas menjadi isu utama di industri aviasi Tanah Air
Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) Faik Fahmi mengatakan, jumlah pesawat yang melayani penerbangan domestik baru menyentuh 420 armada, jauh di bawah angka efektif, yakni 740 armada pesawat. Angka efektif mengacu pada jumlah pesawat yang beroperasi sebelum pandemi Covid-19 atau periode 2019.

BACA JUGA:
Ratusan Penerbangan di Bandara Jepang Dibatalkan dan Ditunda Gara-Gara Gunting yang Hilang


&amp;ldquo;Memang yang sekarang menjadi isu di aviasi industri kan jumlah pesawat yang dioperasikan masih terbatas ya. Kalau kita lihat dulu sebelum pandemi Covid kan ada 740 pesawat untuk melayani domestik, tapi sekarang kan cuman ada 420,&amp;rdquo; ujar Faik saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, ditulis Rabu (21/8/2024).
Tidak seimbangnya permintaan penumpang dan suplai pesawat menjadi masalah bagi industri penerbangan dalam negeri. Faik menyebut, perkara ini memicu kenaikan harga tiket pesawat.

BACA JUGA:
Kursi Ditendangi Anak Kecil Selama Penerbangan, Wanita Ini Malah Ngeluh di Medsos


&amp;ldquo;Jadi antara demand dan suplai itu gak balance, ini juga memicu harga tiket menjadi lebih tinggi dan lain sebagainya. Tapi penumpang seluruhnya sudah siap terbang, masalahnya yang di situ aja,&amp;rdquo; paparnya.
Terbatasnya jumlah pesawat mencuri perhatian banyak pihak sejak awal 2023 lalu. Kala itu, Faik mencatat banyak pesawat belum dioperasikan, setelah maskapai penerbangan mengembalikan armada ke pihak lessor, lantaran dampak pandemi Covid-19.
&quot;Justru isu saat ini adalah keterbatasan jumlah pesawat yang dioperasikan untuk rute domestik oleh Airline karena dampak Covid, banyak Airline yang mengurangi jumlah pesawatnya, dan penumpang sudah siap mau terbang, ternyata kapasitasnya kurang,&quot; beber Faik saat ditemui beberapa waktu lalu.
Pada 2023 lalu, PT Angkasa Pura I (Persero) memberikan fleksibilitas  jam operasi pesawat, langkah strategi operator bandara mengatasi jumlah  pesawat yang minim.
Di mana, ada izin maskapai penerbangan melakukan extra flight atau  penerbangan tambahan. Faik menilai extra flight bertujuan mengakomodir  penerbangan penumpang ke tempat tujuan mereka.
&quot;Kita mengantisipasi itu dengan memberikan fleksibilitas kepada  Airline. Jadi kalau kita lihat di periode Nataru kita memberikan  fleksibilitas kepada Airline untuk mengoptimalkan armada yang mereka  operasikan dengan memberikan fleksibilitas jam operasi,&quot; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
