<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menko Airlangga: Perubahan Iklim Butuh Tindakan Cepat Semua Negara</title><description>Krisis perubahan iklim menjadi tantangan global yang membutuhkan respons nyata dari seluruh negara.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052544/menko-airlangga-perubahan-iklim-butuh-tindakan-cepat-semua-negara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052544/menko-airlangga-perubahan-iklim-butuh-tindakan-cepat-semua-negara"/><item><title>Menko Airlangga: Perubahan Iklim Butuh Tindakan Cepat Semua Negara</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052544/menko-airlangga-perubahan-iklim-butuh-tindakan-cepat-semua-negara</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/21/320/3052544/menko-airlangga-perubahan-iklim-butuh-tindakan-cepat-semua-negara</guid><pubDate>Rabu 21 Agustus 2024 19:10 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/21/320/3052544/menko-airlangga-perubahan-iklim-butuh-tindakan-cepat-semua-negara-03N62IriOU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perubahan iklim butuh tindakan semua negara (Foto: Kemenko Perekonomian)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/21/320/3052544/menko-airlangga-perubahan-iklim-butuh-tindakan-cepat-semua-negara-03N62IriOU.jpg</image><title>Perubahan iklim butuh tindakan semua negara (Foto: Kemenko Perekonomian)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Krisis perubahan iklim menjadi tantangan global yang membutuhkan respons nyata dari seluruh negara. Sejalan dengan hal tersebut, kolaborasi antar negara perlu dikedepankan dalam mencari solusi.
Untuk menghadapi perubahan iklim, Asia Zero Emission Center yang merupakan hasil inisiatif bersama dari negara-negara mitra Asia Zero Emission Community (AZEC), telah diresmikan di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri Asia Zero Emission Community (AZEC) ke-2 di Jakarta.

BACA JUGA:
Stafsus Presiden Ingatkan Bahaya Perubahan Iklim, Dorong Inovasi Berbasis Lingkungan


Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan pendirian Asia Zero Emission Center berangkat dari semangat kolaborasi seluruh pihak dan juga merupakan tindak lanjut atas AZEC Leaders Joint Statement yang disepakati pada Desember 2023 lalu di Tokyo, Jepang.
&amp;rdquo;Pendirian Asia Zero Emission Center akan menandai tonggak sejarah yang signifikan karena kita secara kolektif berupaya untuk mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan. Kami menyadari bahwa perubahan iklim merupakan kenyataan yang mendesak, yang menuntut tindakan cepat dan tegas dari semua negara,&amp;rdquo; tutur Menko Airlangga, Rabu (21/8/2024).

BACA JUGA:
Prabowo Mau Bentuk Badan Karbon dan Perubahan Iklim, Buat Apa?


Lembaga ini nantinya akan berperan sebagai tempat bertukar informasi, pengkajian kebijakan dan proyek, serta membantu negara-negara AZEC dalam mengembangkan visi, peta jalan, serta kebijakan transisi energi. Dengan menggabungkan peran Pemerintah, pemimpin industri, dan para ahli, lembaga ini akan menjadi pusat pengetahuan dan inovasi dari berbagai pemangku kepentingan.
Menko Airlangga juga menambahkan bahwa lembaga ini juga akan  memainkan peranan penting terhadap perkembangan energi terbarukan,  efisiensi energi, hingga praktek-praktek keberlanjutan di berbagai  sektor ekonomi. Lebih jauh lagi, dengan berfokus pada pembangunan  berkelanjutan dan agenda zero-emission, diharapkan hasil studi dari  lembaga ini dapat berperan untuk mengakselerasi kerja sama dan inovasi  di Kawasan Asia.
Dalam penutupnya, Menko Airlangga menyampaikan apresiasi kepada  seluruh mitra dan pemangku kepentingan atas dedikasi dan kontribusi  dalam merealisasikan pembentukan Asia Zero Emission Center. Melalui  kerja sama seluruh pihak, masa depan Asia dan dunia yang berkelanjutan  dan berketahanan iklim akan dapat diraih.
Airlangga menjelaskan terkait rangkaian agenda pertemuan pada 2nd  Asia Zero Emission Community (AZEC) Ministerial Meeting and Related  Events. Menko Airlangga juga mengungkapkan bahwa Pemerintah akan  menunjukkan komitmennya dalam proyek transisi energi ini.
&amp;ldquo;Ini adalah AZEC Ministerial Meeting yang kedua. Dan kali ini ada  shortlist dari 78 proyek di negara Asia yang akan di-support oleh  financing dari Jepang, dari JVIC. Dan Indonesia mempunyai shortlist  terbesar, yaitu 34 proyek. Nah proyek yang masuk di dalam Asia Zero  Emission Community ini sebuah proyek yang dibidani oleh Indonesia dan  Jepang. Oleh karenanya, dalam Pertemuan Tingkat Menteri tadi, saya juga  menyampaikan hal-hal yang menjadi prinsip, yaitu tentu mendorong  transisi energi ini bisa berjalan, kemudian sustainability bisa juga  terjaga,&amp;rdquo; ujar Menko Airlangga.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Krisis perubahan iklim menjadi tantangan global yang membutuhkan respons nyata dari seluruh negara. Sejalan dengan hal tersebut, kolaborasi antar negara perlu dikedepankan dalam mencari solusi.
Untuk menghadapi perubahan iklim, Asia Zero Emission Center yang merupakan hasil inisiatif bersama dari negara-negara mitra Asia Zero Emission Community (AZEC), telah diresmikan di sela-sela Pertemuan Tingkat Menteri Asia Zero Emission Community (AZEC) ke-2 di Jakarta.

BACA JUGA:
Stafsus Presiden Ingatkan Bahaya Perubahan Iklim, Dorong Inovasi Berbasis Lingkungan


Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan pendirian Asia Zero Emission Center berangkat dari semangat kolaborasi seluruh pihak dan juga merupakan tindak lanjut atas AZEC Leaders Joint Statement yang disepakati pada Desember 2023 lalu di Tokyo, Jepang.
&amp;rdquo;Pendirian Asia Zero Emission Center akan menandai tonggak sejarah yang signifikan karena kita secara kolektif berupaya untuk mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan. Kami menyadari bahwa perubahan iklim merupakan kenyataan yang mendesak, yang menuntut tindakan cepat dan tegas dari semua negara,&amp;rdquo; tutur Menko Airlangga, Rabu (21/8/2024).

BACA JUGA:
Prabowo Mau Bentuk Badan Karbon dan Perubahan Iklim, Buat Apa?


Lembaga ini nantinya akan berperan sebagai tempat bertukar informasi, pengkajian kebijakan dan proyek, serta membantu negara-negara AZEC dalam mengembangkan visi, peta jalan, serta kebijakan transisi energi. Dengan menggabungkan peran Pemerintah, pemimpin industri, dan para ahli, lembaga ini akan menjadi pusat pengetahuan dan inovasi dari berbagai pemangku kepentingan.
Menko Airlangga juga menambahkan bahwa lembaga ini juga akan  memainkan peranan penting terhadap perkembangan energi terbarukan,  efisiensi energi, hingga praktek-praktek keberlanjutan di berbagai  sektor ekonomi. Lebih jauh lagi, dengan berfokus pada pembangunan  berkelanjutan dan agenda zero-emission, diharapkan hasil studi dari  lembaga ini dapat berperan untuk mengakselerasi kerja sama dan inovasi  di Kawasan Asia.
Dalam penutupnya, Menko Airlangga menyampaikan apresiasi kepada  seluruh mitra dan pemangku kepentingan atas dedikasi dan kontribusi  dalam merealisasikan pembentukan Asia Zero Emission Center. Melalui  kerja sama seluruh pihak, masa depan Asia dan dunia yang berkelanjutan  dan berketahanan iklim akan dapat diraih.
Airlangga menjelaskan terkait rangkaian agenda pertemuan pada 2nd  Asia Zero Emission Community (AZEC) Ministerial Meeting and Related  Events. Menko Airlangga juga mengungkapkan bahwa Pemerintah akan  menunjukkan komitmennya dalam proyek transisi energi ini.
&amp;ldquo;Ini adalah AZEC Ministerial Meeting yang kedua. Dan kali ini ada  shortlist dari 78 proyek di negara Asia yang akan di-support oleh  financing dari Jepang, dari JVIC. Dan Indonesia mempunyai shortlist  terbesar, yaitu 34 proyek. Nah proyek yang masuk di dalam Asia Zero  Emission Community ini sebuah proyek yang dibidani oleh Indonesia dan  Jepang. Oleh karenanya, dalam Pertemuan Tingkat Menteri tadi, saya juga  menyampaikan hal-hal yang menjadi prinsip, yaitu tentu mendorong  transisi energi ini bisa berjalan, kemudian sustainability bisa juga  terjaga,&amp;rdquo; ujar Menko Airlangga.</content:encoded></item></channel></rss>
