<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Subsidi Solar Dipatok Rp1.000 per Liter di Era Prabowo</title><description>Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM menyepakati besaran subsidi solar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/27/320/3055174/subsidi-solar-dipatok-rp1-000-per-liter-di-era-prabowo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/08/27/320/3055174/subsidi-solar-dipatok-rp1-000-per-liter-di-era-prabowo"/><item><title>Subsidi Solar Dipatok Rp1.000 per Liter di Era Prabowo</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/08/27/320/3055174/subsidi-solar-dipatok-rp1-000-per-liter-di-era-prabowo</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/08/27/320/3055174/subsidi-solar-dipatok-rp1-000-per-liter-di-era-prabowo</guid><pubDate>Selasa 27 Agustus 2024 20:49 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/08/27/320/3055174/subsidi-solar-dipatok-rp1-000-per-liter-di-era-prabowo-qaouZ8DDc6.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Subsidi Solar Dipatok Rp1.000 pada 2025. (Foto: Okezone.com/Pertamina)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/08/27/320/3055174/subsidi-solar-dipatok-rp1-000-per-liter-di-era-prabowo-qaouZ8DDc6.jfif</image><title>Subsidi Solar Dipatok Rp1.000 pada 2025. (Foto: Okezone.com/Pertamina)</title></images><description>JAKARTA - Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM menyepakati besaran subsidi solar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2025.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, untuk subsidi solar telah disepakati Rp1.000 per liter atau sama dengan tahun sebelumnya atau tidak ada perubahan.

BACA JUGA:
Subsidi Listrik Disepakati Rp90,2 Triliun pada 2025

&quot;Sementara, volume LPG bersubsidi untuk tahun anggaran 2025 disepakati 8,17 juta metrik ton atau naik dari target 2024 yang sebesar 8,07 juta metrik ton,&quot; pungkas Bahlil, dalam Rapat Keja (Raker) bersama Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (27/8/2024).
Selain itu, Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM menyepakati besaran subsidi listrik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2025.

BACA JUGA:
Bahlil Larang Mobil Mewah Beli Pertalite dan Solar Subsidi

&quot;Subsidi listrik tahun 2025 disepakati mencapai Rp90,22 triliun, sudah termasuk kurang bayar 2023 sebesaar Rp2,02 triliun, (atau) naik dari target 2024 sebesar Rp73,24 triliun,&quot; jelasnya.
Dikatakan Bahlil, kenaikan anggaran subsidi listrik ini didorong oleh perkiraan kenaikan jumlah penerima subsidi listrik dari 40,89 juta pelanggan di 2024 menjadi 42,08 juta pelanggan di 2025.&quot;Jadi naiknya kurang lebih sekitar 1 juta juta lebih pelanggan. Jadi itu berdampak pada kenaikan,&quot; imbuhnya.
Tak hanya subsidi listrik, keduanya juga menyepakati volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dengan rincian minyak tanah dan solar yang disepakati turun menjadi 19,41 juta kiloliter pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025.
&quot;Volume BBM bersubsidi, yaitu minyak tanah dan solar disepakati 19,41 juta kiloliter, turun dibandingkan target 2024 sebesar 19,58 juta kiloliter,&quot; urainya.</description><content:encoded>JAKARTA - Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM menyepakati besaran subsidi solar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2025.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, untuk subsidi solar telah disepakati Rp1.000 per liter atau sama dengan tahun sebelumnya atau tidak ada perubahan.

BACA JUGA:
Subsidi Listrik Disepakati Rp90,2 Triliun pada 2025

&quot;Sementara, volume LPG bersubsidi untuk tahun anggaran 2025 disepakati 8,17 juta metrik ton atau naik dari target 2024 yang sebesar 8,07 juta metrik ton,&quot; pungkas Bahlil, dalam Rapat Keja (Raker) bersama Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (27/8/2024).
Selain itu, Komisi VII DPR bersama Kementerian ESDM menyepakati besaran subsidi listrik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran (TA) 2025.

BACA JUGA:
Bahlil Larang Mobil Mewah Beli Pertalite dan Solar Subsidi

&quot;Subsidi listrik tahun 2025 disepakati mencapai Rp90,22 triliun, sudah termasuk kurang bayar 2023 sebesaar Rp2,02 triliun, (atau) naik dari target 2024 sebesar Rp73,24 triliun,&quot; jelasnya.
Dikatakan Bahlil, kenaikan anggaran subsidi listrik ini didorong oleh perkiraan kenaikan jumlah penerima subsidi listrik dari 40,89 juta pelanggan di 2024 menjadi 42,08 juta pelanggan di 2025.&quot;Jadi naiknya kurang lebih sekitar 1 juta juta lebih pelanggan. Jadi itu berdampak pada kenaikan,&quot; imbuhnya.
Tak hanya subsidi listrik, keduanya juga menyepakati volume bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, dengan rincian minyak tanah dan solar yang disepakati turun menjadi 19,41 juta kiloliter pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025.
&quot;Volume BBM bersubsidi, yaitu minyak tanah dan solar disepakati 19,41 juta kiloliter, turun dibandingkan target 2024 sebesar 19,58 juta kiloliter,&quot; urainya.</content:encoded></item></channel></rss>
