<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PMI Manufaktur Indonesia Merosot, Menperin: Kami Tak Kaget</title><description>Data PMI Manufaktur Indonesia kembali merosot pada Agustus 2024.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/02/320/3057763/pmi-manufaktur-indonesia-merosot-menperin-kami-tak-kaget</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/02/320/3057763/pmi-manufaktur-indonesia-merosot-menperin-kami-tak-kaget"/><item><title>PMI Manufaktur Indonesia Merosot, Menperin: Kami Tak Kaget</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/02/320/3057763/pmi-manufaktur-indonesia-merosot-menperin-kami-tak-kaget</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/02/320/3057763/pmi-manufaktur-indonesia-merosot-menperin-kami-tak-kaget</guid><pubDate>Senin 02 September 2024 19:11 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/02/320/3057763/pmi-manufaktur-indonesia-merosot-menperin-kami-tak-kaget-8GOsPurbcD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Data PMI Manufaktur Indonesia merosot pada Agustus 2024 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/02/320/3057763/pmi-manufaktur-indonesia-merosot-menperin-kami-tak-kaget-8GOsPurbcD.jpg</image><title>Data PMI Manufaktur Indonesia merosot pada Agustus 2024 (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Data PMI Manufaktur Indonesia kembali merosot pada Agustus 2024.  Laporan S&amp;amp;P Global menyebut Purchasing Manager&amp;rsquo;s Index (PMI) manufaktur Indonesia di posisi 48,9 atau turun 0,4 poin dari Juli 2024 yang sebesar 49,3.
Dikatakan, kontraksi PMI manufaktur Indonesia pada Agustus 2024 dipengaruhi oleh penurunan pada output dan dan permintaan baru yang paling tajam sejak Agustus 2021. Permintaan asing juga turun semakin cepat hingga paling tajam sejak bulan Januari 2023.

BACA JUGA:
Data Manufaktur Jadi Sentimen IHSG Pekan Depan


Menanggapi laporan tersebut, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutnya sebagai hal wajar. Ia menilai, fenomena ini akan terus terjadi jika Kementerian dan lembaga lain tak juga menerbitkan kebijakan yang efektif.
&amp;ldquo;Sekali lagi kami tidak kaget dengan kontraksi lebih dalam industri manufaktur Indonesia. Penurunan nilai PMI manufaktur bulan Agustus 2024 terjadi akibat belum ada kebijakan signifikan dari Kementerian/Lembaga lain yang mampu meningkatkan kinerja industri manufaktur,&amp;rdquo; katanya, Senin (2/9/2024).

BACA JUGA:
Rupiah Menguat ke Rp15.400 per USD, Gubernur BI: Dukung Industri Tekstil-Manufaktur


S&amp;amp;P Global juga menyebutkan adanya pelemahan penjualan yang menyebabkan peningkatan stok barang jadi selama dua bulan berjalan. Menperin mengatakan bahwa melemahnya penjualan dipengaruhi oleh masuknya barang impor murah dalam jumlah besar ke pasar dalam negeri terutama sejak bulan Mei 2024.
&amp;ldquo;Adanya barang impor murah membuat masyarakat lebih memilih produk-produk tersebut dengan alasan ekonomis. Hal ini dapat menyebabkan industri di dalam negeri semakin menurun penjualan produknya serta utilisasi mesin produksinya,&amp;rdquo; ujarnya.
Menambahkan pernyataan Menteri, Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri  Antoni Arif menyebut para pelaku industri mengamati perkembangan  penerapan aturan oleh pemerintah. Hal ini dapat berpengaruh pada  perlambatan ekspansi pada subsektor industri.
&amp;ldquo;Misalnya, pada industri makanan dan minuman, para pelaku usaha  nampak menahan diri dengan adanya rencana pemberlakuan cukai untuk  minuman berpemanis dalam kemasan,&amp;rdquo; katanya.
Begitu juga dengan ketidakjelasan isi data 26.415 kontainer dari  Kemenkeu yang sampai saat ini belum menemukan titik terang. Menurutnya,  Kemenperin saat ini belum bisa menyusun kebijakan atau langkah-langkah  mengantisipasi banjirnya pasar domestik oleh produk jadi impor tersebut.
&quot;Kemenko Perekonomian memang telah memfasilitasi pertemuan antar  Kementerian/Lembaga terkait, namun realisasi datanya masih belum ada,&quot;  imbuhnya.
Di sisi lain, importir juga semakin mempercepat proses impor barang  jadi untuk mengantisipasi pemberlakuan kebijakan pembatasan impor ke  depan, seperti pemberlakuan BMAD, Lartas, atau pengalihan pintu masuk  barang impor untuk tujuh komoditas ke tiga pelabuhan Indonesia Timur,  yaitu Pelabuhan Sorong, Bitung, dan Kupang.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Data PMI Manufaktur Indonesia kembali merosot pada Agustus 2024.  Laporan S&amp;amp;P Global menyebut Purchasing Manager&amp;rsquo;s Index (PMI) manufaktur Indonesia di posisi 48,9 atau turun 0,4 poin dari Juli 2024 yang sebesar 49,3.
Dikatakan, kontraksi PMI manufaktur Indonesia pada Agustus 2024 dipengaruhi oleh penurunan pada output dan dan permintaan baru yang paling tajam sejak Agustus 2021. Permintaan asing juga turun semakin cepat hingga paling tajam sejak bulan Januari 2023.

BACA JUGA:
Data Manufaktur Jadi Sentimen IHSG Pekan Depan


Menanggapi laporan tersebut, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutnya sebagai hal wajar. Ia menilai, fenomena ini akan terus terjadi jika Kementerian dan lembaga lain tak juga menerbitkan kebijakan yang efektif.
&amp;ldquo;Sekali lagi kami tidak kaget dengan kontraksi lebih dalam industri manufaktur Indonesia. Penurunan nilai PMI manufaktur bulan Agustus 2024 terjadi akibat belum ada kebijakan signifikan dari Kementerian/Lembaga lain yang mampu meningkatkan kinerja industri manufaktur,&amp;rdquo; katanya, Senin (2/9/2024).

BACA JUGA:
Rupiah Menguat ke Rp15.400 per USD, Gubernur BI: Dukung Industri Tekstil-Manufaktur


S&amp;amp;P Global juga menyebutkan adanya pelemahan penjualan yang menyebabkan peningkatan stok barang jadi selama dua bulan berjalan. Menperin mengatakan bahwa melemahnya penjualan dipengaruhi oleh masuknya barang impor murah dalam jumlah besar ke pasar dalam negeri terutama sejak bulan Mei 2024.
&amp;ldquo;Adanya barang impor murah membuat masyarakat lebih memilih produk-produk tersebut dengan alasan ekonomis. Hal ini dapat menyebabkan industri di dalam negeri semakin menurun penjualan produknya serta utilisasi mesin produksinya,&amp;rdquo; ujarnya.
Menambahkan pernyataan Menteri, Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri  Antoni Arif menyebut para pelaku industri mengamati perkembangan  penerapan aturan oleh pemerintah. Hal ini dapat berpengaruh pada  perlambatan ekspansi pada subsektor industri.
&amp;ldquo;Misalnya, pada industri makanan dan minuman, para pelaku usaha  nampak menahan diri dengan adanya rencana pemberlakuan cukai untuk  minuman berpemanis dalam kemasan,&amp;rdquo; katanya.
Begitu juga dengan ketidakjelasan isi data 26.415 kontainer dari  Kemenkeu yang sampai saat ini belum menemukan titik terang. Menurutnya,  Kemenperin saat ini belum bisa menyusun kebijakan atau langkah-langkah  mengantisipasi banjirnya pasar domestik oleh produk jadi impor tersebut.
&quot;Kemenko Perekonomian memang telah memfasilitasi pertemuan antar  Kementerian/Lembaga terkait, namun realisasi datanya masih belum ada,&quot;  imbuhnya.
Di sisi lain, importir juga semakin mempercepat proses impor barang  jadi untuk mengantisipasi pemberlakuan kebijakan pembatasan impor ke  depan, seperti pemberlakuan BMAD, Lartas, atau pengalihan pintu masuk  barang impor untuk tujuh komoditas ke tiga pelabuhan Indonesia Timur,  yaitu Pelabuhan Sorong, Bitung, dan Kupang.</content:encoded></item></channel></rss>
