<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sindir Negara Maju, Jokowi: Tidak Berani Investasi karena Perubahan Iklim</title><description>Jokowi) mengakui ancaman perubahan iklim memang sangat berbahaya. Maka itu transisi energi dan isu keberlanjutan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3058951/sindir-negara-maju-jokowi-tidak-berani-investasi-karena-perubahan-iklim</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3058951/sindir-negara-maju-jokowi-tidak-berani-investasi-karena-perubahan-iklim"/><item><title>Sindir Negara Maju, Jokowi: Tidak Berani Investasi karena Perubahan Iklim</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3058951/sindir-negara-maju-jokowi-tidak-berani-investasi-karena-perubahan-iklim</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3058951/sindir-negara-maju-jokowi-tidak-berani-investasi-karena-perubahan-iklim</guid><pubDate>Kamis 05 September 2024 11:42 WIB</pubDate><dc:creator>Atikah Umiyani</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3058951/sindir-negara-maju-jokowi-tidak-berani-investasi-karena-perubahan-iklim-3AHIIgF8eB.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi soal Perubahan Iklim (Foto: YouTube/Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3058951/sindir-negara-maju-jokowi-tidak-berani-investasi-karena-perubahan-iklim-3AHIIgF8eB.jpg</image><title>Presiden Jokowi soal Perubahan Iklim (Foto: YouTube/Setpres)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui ancaman perubahan iklim memang sangat berbahaya.  Maka itu transisi energi dan isu keberlanjutan menjadi hal mendesak yang tidak bisa dihindari demi mengatasi perubahan iklim tersebut.
Namun Jokowi menekankan, perubahan iklim itu tidak akan pernah bisa terselesaikan selama dunia menggunakan pendekatan ekonomi.

BACA JUGA:
Jokowi Pamer RI Punya Harta Karun Energi Hijau Capai 3.600 GW

&quot;Selama dunia hanya menghitung keuntungannya sendiri, dan selama dunia hanya mementingkan ego sentrisnya sendiri-sendiri,&quot; tegas Jokowi dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di JCC, Jakarta, Kamis (5/9/2024).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wOS8wMy8xLzE4NDcyOS81L3g5NTM4d20=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurutnya, untuk menyelesaikannya permasalahan ini dibutuhkan pendekatan yang kolaboratif, pendekatan yang berperikemanusiaan dan kolaborasi antara negara maju dan negara berkembang.

BACA JUGA:
Deretan Kritik Faisal Basri ke Jokowi

&quot;Dan kemanusiaan, agar prosesnya tidak mengorbankan rakyat kecil. Karena ekonomi hijau bukan hanya tentang perlindungan lingkungan, bukan hanya itu tapi juga tentang  bagaimana menciptakan kesejahteraan, kesejahteraan yang berkelanjutan bagi rakyat,&quot; lanjutnya.Jokowi menegaskan jangan pernah meragukan komitmen Indonesia untuk mencapai target net zero emission (NZE) dan berkontribusi bagi dunia yang lebih baik. Apalagi Indonesia memiliki potensi Energi Hijau yang melimpah, bahkan mencapai 3.600 Giga Watt (GW).
Namun menurut Jokowi, semua itu tidak akan memberikan dampak signifikan bagi percepatan penanganan dampak perubahan iklim selama negara maju tidak berani berinvestasi.
&quot;Tapi semua itu tidak akan memberi dampak signifikan bagi percepatan penanganan dampak perubahan iklim selama negara maju tidak berani berinvestasi. Selama riset dan teknologi tidak dibuka luas, dan selama pendanaan tidak diberikan dalam skema yang meringankan negara berkembang,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui ancaman perubahan iklim memang sangat berbahaya.  Maka itu transisi energi dan isu keberlanjutan menjadi hal mendesak yang tidak bisa dihindari demi mengatasi perubahan iklim tersebut.
Namun Jokowi menekankan, perubahan iklim itu tidak akan pernah bisa terselesaikan selama dunia menggunakan pendekatan ekonomi.

BACA JUGA:
Jokowi Pamer RI Punya Harta Karun Energi Hijau Capai 3.600 GW

&quot;Selama dunia hanya menghitung keuntungannya sendiri, dan selama dunia hanya mementingkan ego sentrisnya sendiri-sendiri,&quot; tegas Jokowi dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di JCC, Jakarta, Kamis (5/9/2024).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wOS8wMy8xLzE4NDcyOS81L3g5NTM4d20=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurutnya, untuk menyelesaikannya permasalahan ini dibutuhkan pendekatan yang kolaboratif, pendekatan yang berperikemanusiaan dan kolaborasi antara negara maju dan negara berkembang.

BACA JUGA:
Deretan Kritik Faisal Basri ke Jokowi

&quot;Dan kemanusiaan, agar prosesnya tidak mengorbankan rakyat kecil. Karena ekonomi hijau bukan hanya tentang perlindungan lingkungan, bukan hanya itu tapi juga tentang  bagaimana menciptakan kesejahteraan, kesejahteraan yang berkelanjutan bagi rakyat,&quot; lanjutnya.Jokowi menegaskan jangan pernah meragukan komitmen Indonesia untuk mencapai target net zero emission (NZE) dan berkontribusi bagi dunia yang lebih baik. Apalagi Indonesia memiliki potensi Energi Hijau yang melimpah, bahkan mencapai 3.600 Giga Watt (GW).
Namun menurut Jokowi, semua itu tidak akan memberikan dampak signifikan bagi percepatan penanganan dampak perubahan iklim selama negara maju tidak berani berinvestasi.
&quot;Tapi semua itu tidak akan memberi dampak signifikan bagi percepatan penanganan dampak perubahan iklim selama negara maju tidak berani berinvestasi. Selama riset dan teknologi tidak dibuka luas, dan selama pendanaan tidak diberikan dalam skema yang meringankan negara berkembang,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
