<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Terungkap! Kelangkaan Minyakita akibat Penimbunan Distributor sejak Mei 2024</title><description>Kelangkaan minyakita yang terjadi saat ini karena ada penimbunan distributor sejak Mei 2024.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059167/terungkap-kelangkaan-minyakita-akibat-penimbunan-distributor-sejak-mei-2024</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059167/terungkap-kelangkaan-minyakita-akibat-penimbunan-distributor-sejak-mei-2024"/><item><title>Terungkap! Kelangkaan Minyakita akibat Penimbunan Distributor sejak Mei 2024</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059167/terungkap-kelangkaan-minyakita-akibat-penimbunan-distributor-sejak-mei-2024</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059167/terungkap-kelangkaan-minyakita-akibat-penimbunan-distributor-sejak-mei-2024</guid><pubDate>Kamis 05 September 2024 18:18 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3059167/terungkap-kelangkaan-minyakita-akibat-penimbunan-distributor-sejak-mei-2024-1N5QUbH269.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minyakita langka karena ada penimbunan distributor (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3059167/terungkap-kelangkaan-minyakita-akibat-penimbunan-distributor-sejak-mei-2024-1N5QUbH269.jpg</image><title>Minyakita langka karena ada penimbunan distributor (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kelangkaan minyakita yang terjadi saat ini karena ada penimbunan distributor sejak Mei 2024. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengungkapkan kelangkaan MinyaKita di pasar akibat ulah distributor.
Sahat menjelaskan kelangkaan MinyaKita di pasar ini disebabkan akibat rencana pemerintah yang akan menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sejak bulan Mei 2024 lalu. Informasi yang beredar bahwa HET migor akan naik ini yang membuat distributor menimbun minyak untuk dijual dengan harga baru setelah ketetapan pemerintah menaikkan minyak goreng.

BACA JUGA:
Harga Minyakita Naik Jadi Rp15.700 per Liter, Pedagang: Sekarang Susah Didapat

&quot;Diumumkan dan diberitahukan pada bulan Mei (rencana kenaikan HET), Juni - Juli belum ditetapkan, baru Agustus naik, waktu itu orang (distributor) sudah mulai menimbun, karena harga bakal naik,&quot; ujarnya saat ditemui usai acara Peluncuran Buku 'Sawit, Anugerah yang Perlu Diperjuangkan' di Jakarta, Kamis (5/9/2024).
Lebih lanjut, Sahat menjelaskan penimbunan itu dilakukan oleh para oknum di tingkat distributor. Sebab menurutnya, suplai dari produsen tergolong stabil untuk memproduksi MinyaKita, sedangkan minyak tersebut tidak kunjung sampai di ritel.

BACA JUGA:
Alasan Harga Minyakita Naik Jadi Rp15.700 per Liter

&quot;Produsen tetap suplai, itu (penimbunan) dari distributor 2 ke retail, permainannya disitu, sudah mulai timbun dari Mei,&quot; tambahnya.
Sahat menilai kejadian penimbunan minyak goreng ini merupakan suatu mekanisme pasar. Oleh sebab itu menurutnya untuk jenis produk yang harganya ditetapkan pemerintah, semestinya tidak menunjuk sektor swasta untuk menjadi operator atau penyelenggara.Karena menurutnya, sektor swasta sudah barang tentu akan mencari  keuntungan tertentu dari peluang pasar yang ada. Seperti meraup  keuntungan dengan menjual produk dengan harga baru, meski belanja  stoknya menggunakan harga lama.
&quot;Kita selalu usul ke Pemerintah (penyaluran MinyaKita) jangan  diberikan ke swasta, swasta itu kalau tidak ada cuannya mana mau  mereka,&quot; tambahnya.
Sahat mengusulkan, Pemerintah bisa menunjuk BUMN pangan saat ini ada,  seperti Bulog atau IDFood untuk menyalurkan MinyaKita. Barulah  Pemerintah bisa menetapkan Harga Eceran yang ditetapkan.
&quot;Jadi misal yang ada HET semua melalui bulog dan ID Food, gitu kan  jelas, cuman saya sarankan kepada pemerintah, tolong dibantu memberikan  dukungan berupa modal kerja kepada bulog dan IDFood, kan mereka tidak  ada penugasan itu,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kelangkaan minyakita yang terjadi saat ini karena ada penimbunan distributor sejak Mei 2024. Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengungkapkan kelangkaan MinyaKita di pasar akibat ulah distributor.
Sahat menjelaskan kelangkaan MinyaKita di pasar ini disebabkan akibat rencana pemerintah yang akan menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sejak bulan Mei 2024 lalu. Informasi yang beredar bahwa HET migor akan naik ini yang membuat distributor menimbun minyak untuk dijual dengan harga baru setelah ketetapan pemerintah menaikkan minyak goreng.

BACA JUGA:
Harga Minyakita Naik Jadi Rp15.700 per Liter, Pedagang: Sekarang Susah Didapat

&quot;Diumumkan dan diberitahukan pada bulan Mei (rencana kenaikan HET), Juni - Juli belum ditetapkan, baru Agustus naik, waktu itu orang (distributor) sudah mulai menimbun, karena harga bakal naik,&quot; ujarnya saat ditemui usai acara Peluncuran Buku 'Sawit, Anugerah yang Perlu Diperjuangkan' di Jakarta, Kamis (5/9/2024).
Lebih lanjut, Sahat menjelaskan penimbunan itu dilakukan oleh para oknum di tingkat distributor. Sebab menurutnya, suplai dari produsen tergolong stabil untuk memproduksi MinyaKita, sedangkan minyak tersebut tidak kunjung sampai di ritel.

BACA JUGA:
Alasan Harga Minyakita Naik Jadi Rp15.700 per Liter

&quot;Produsen tetap suplai, itu (penimbunan) dari distributor 2 ke retail, permainannya disitu, sudah mulai timbun dari Mei,&quot; tambahnya.
Sahat menilai kejadian penimbunan minyak goreng ini merupakan suatu mekanisme pasar. Oleh sebab itu menurutnya untuk jenis produk yang harganya ditetapkan pemerintah, semestinya tidak menunjuk sektor swasta untuk menjadi operator atau penyelenggara.Karena menurutnya, sektor swasta sudah barang tentu akan mencari  keuntungan tertentu dari peluang pasar yang ada. Seperti meraup  keuntungan dengan menjual produk dengan harga baru, meski belanja  stoknya menggunakan harga lama.
&quot;Kita selalu usul ke Pemerintah (penyaluran MinyaKita) jangan  diberikan ke swasta, swasta itu kalau tidak ada cuannya mana mau  mereka,&quot; tambahnya.
Sahat mengusulkan, Pemerintah bisa menunjuk BUMN pangan saat ini ada,  seperti Bulog atau IDFood untuk menyalurkan MinyaKita. Barulah  Pemerintah bisa menetapkan Harga Eceran yang ditetapkan.
&quot;Jadi misal yang ada HET semua melalui bulog dan ID Food, gitu kan  jelas, cuman saya sarankan kepada pemerintah, tolong dibantu memberikan  dukungan berupa modal kerja kepada bulog dan IDFood, kan mereka tidak  ada penugasan itu,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
