<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Impor 7 Komoditas Bakal Dialihkan ke Indonesia Timur, Pengusaha: Ritel Terancam Tutup Toko</title><description>Pemerintah berencana memindahkan pintu masuk impor 7 komoditas ke Indonesia Timur.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059214/impor-7-komoditas-bakal-dialihkan-ke-indonesia-timur-pengusaha-ritel-terancam-tutup-toko</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059214/impor-7-komoditas-bakal-dialihkan-ke-indonesia-timur-pengusaha-ritel-terancam-tutup-toko"/><item><title>Impor 7 Komoditas Bakal Dialihkan ke Indonesia Timur, Pengusaha: Ritel Terancam Tutup Toko</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059214/impor-7-komoditas-bakal-dialihkan-ke-indonesia-timur-pengusaha-ritel-terancam-tutup-toko</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059214/impor-7-komoditas-bakal-dialihkan-ke-indonesia-timur-pengusaha-ritel-terancam-tutup-toko</guid><pubDate>Kamis 05 September 2024 20:40 WIB</pubDate><dc:creator>Yaser Rafi Pramudya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3059214/impor-7-komoditas-bakal-dialihkan-ke-indonesia-timur-pengusaha-ritel-terancam-tutup-toko-4hsIpgN7LH.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Kata Pengusaha soal rencana pemindahan pintu masuk impor 7 komoditas ke Indonesia Timur (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3059214/impor-7-komoditas-bakal-dialihkan-ke-indonesia-timur-pengusaha-ritel-terancam-tutup-toko-4hsIpgN7LH.jpeg</image><title>Kata Pengusaha soal rencana pemindahan pintu masuk impor 7 komoditas ke Indonesia Timur (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah berencana memindahkan pintu masuk impor 7 komoditas ke Indonesia Timur. Tujuh komoditas itu yakni tekstil dan produk tekstil, pakaian jadi dan aksesori pakaian jadi, keramik, elektronik, alas kaki, kosmetik, dan barang tekstil sudah jadi lainnya.
Menanggapi rencana tersebut, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai kebijakan ini belum tentu menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi permasalahan impor ilegal.

BACA JUGA:
Penjualan Rokok Dekat Sekolah Dilarang, Begini Respons Pengusaha Ritel 


Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah, menyatakan bahwa pemindahan lokasi impor ini justru berpotensi memperberat industri dan ritel nasional.
&quot;Infrastruktur di Indonesia Timur masih belum memadai jika dibandingkan dengan kawasan Indonesia Barat, terutama terkait transportasi dan logistik. Selain itu, biaya operasional yang tinggi, termasuk transportasi dan distribusi, akan berdampak pada kenaikan harga barang di pasar,&quot; jelasnya, Kamis (5/9/2024).

BACA JUGA:
Bikin Rugi, Pengusaha Ritel Minta Pemerintah Berantas Impor Ilegal dan Jastip


Kenaikan harga tersebut akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, yang pada akhirnya dapat menghambat program Belanja di Indonesia Aja (BINA), sebuah inisiatif bersama antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Hippindo. Program ini, yang saat ini tengah diupayakan oleh pemerintah dan sektor swasta, bertujuan untuk mendorong belanja di dalam negeri.
&quot;Jika harga barang terus meningkat akibat tingginya biaya logistik, daya beli masyarakat akan menurun, dan target belanja di dalam negeri melalui program BINA tidak akan tercapai,&quot; ujar Budihardjo.
Hippindo juga menekankan bahwa solusi yang lebih efektif untuk  menangani impor ilegal adalah dengan memperkuat pengawasan dan penegakan  hukum di seluruh pelabuhan Indonesia, serta meningkatkan kolaborasi  dengan pihak terkait untuk menertibkan pelaku impor ilegal. Selain itu,  Hippindo mendorong adanya inisiatif pemerintah untuk memperbanyak  produksi barang dalam negeri.
&quot;Selain memindahkan impor, kami melihat perlunya memperbanyak pasokan  dari pabrik di dalam negeri. Jika perlu, kerja sama dengan pihak luar  bisa dilakukan, namun dengan ketentuan bahwa barang yang diproduksi di  Indonesia wajib dijual untuk kebutuhan dalam negeri, bukan hanya untuk  ekspor,&quot; tambah Budihardjo.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah berencana memindahkan pintu masuk impor 7 komoditas ke Indonesia Timur. Tujuh komoditas itu yakni tekstil dan produk tekstil, pakaian jadi dan aksesori pakaian jadi, keramik, elektronik, alas kaki, kosmetik, dan barang tekstil sudah jadi lainnya.
Menanggapi rencana tersebut, Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai kebijakan ini belum tentu menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi permasalahan impor ilegal.

BACA JUGA:
Penjualan Rokok Dekat Sekolah Dilarang, Begini Respons Pengusaha Ritel 


Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah, menyatakan bahwa pemindahan lokasi impor ini justru berpotensi memperberat industri dan ritel nasional.
&quot;Infrastruktur di Indonesia Timur masih belum memadai jika dibandingkan dengan kawasan Indonesia Barat, terutama terkait transportasi dan logistik. Selain itu, biaya operasional yang tinggi, termasuk transportasi dan distribusi, akan berdampak pada kenaikan harga barang di pasar,&quot; jelasnya, Kamis (5/9/2024).

BACA JUGA:
Bikin Rugi, Pengusaha Ritel Minta Pemerintah Berantas Impor Ilegal dan Jastip


Kenaikan harga tersebut akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, yang pada akhirnya dapat menghambat program Belanja di Indonesia Aja (BINA), sebuah inisiatif bersama antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Hippindo. Program ini, yang saat ini tengah diupayakan oleh pemerintah dan sektor swasta, bertujuan untuk mendorong belanja di dalam negeri.
&quot;Jika harga barang terus meningkat akibat tingginya biaya logistik, daya beli masyarakat akan menurun, dan target belanja di dalam negeri melalui program BINA tidak akan tercapai,&quot; ujar Budihardjo.
Hippindo juga menekankan bahwa solusi yang lebih efektif untuk  menangani impor ilegal adalah dengan memperkuat pengawasan dan penegakan  hukum di seluruh pelabuhan Indonesia, serta meningkatkan kolaborasi  dengan pihak terkait untuk menertibkan pelaku impor ilegal. Selain itu,  Hippindo mendorong adanya inisiatif pemerintah untuk memperbanyak  produksi barang dalam negeri.
&quot;Selain memindahkan impor, kami melihat perlunya memperbanyak pasokan  dari pabrik di dalam negeri. Jika perlu, kerja sama dengan pihak luar  bisa dilakukan, namun dengan ketentuan bahwa barang yang diproduksi di  Indonesia wajib dijual untuk kebutuhan dalam negeri, bukan hanya untuk  ekspor,&quot; tambah Budihardjo.</content:encoded></item></channel></rss>
