<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siapkan B50, Produksi Minyak Sawit RI Sudah Aman?</title><description>Pemerintah bakal memproduksi secara massal bahan bakar B50 atau program bauran biodiesel 50% mulai tahun 2025.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059232/siapkan-b50-produksi-minyak-sawit-ri-sudah-aman</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059232/siapkan-b50-produksi-minyak-sawit-ri-sudah-aman"/><item><title>Siapkan B50, Produksi Minyak Sawit RI Sudah Aman?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059232/siapkan-b50-produksi-minyak-sawit-ri-sudah-aman</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/05/320/3059232/siapkan-b50-produksi-minyak-sawit-ri-sudah-aman</guid><pubDate>Kamis 05 September 2024 21:07 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3059232/siapkan-b50-produksi-minyak-sawit-ri-sudah-aman-hABlETbvRF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI bakal produksi Biodiesel B50 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/05/320/3059232/siapkan-b50-produksi-minyak-sawit-ri-sudah-aman-hABlETbvRF.jpg</image><title>RI bakal produksi Biodiesel B50 (Foto: Okezone)</title></images><description> 
JAKARTA - Pemerintah bakal memproduksi secara massal bahan bakar B50 atau program bauran biodiesel 50% mulai tahun 2025. Hal ini tentu membutuhkan produksi minyak sawit yang lebih banyak dibandingkan dengan sebelumnya.
Wakil Ketua Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) Sofyan Djalil menilai akan ada konsekuensi dari sisi ekonomi jika Pemerintah mau menerapkan B50, seperti meningkatkan kapasitas produksi, mengurangi jatah ekspor CPO, atau mengurangi jatah minyak sawit untuk kebutuhan konsumsi.

BACA JUGA:
Adik Kandung Prabowo: Indonesia Bisa Kantongi Rp300 Triliun dari Pengusaha Perkebunan Sawit Ilegal

&quot;Biodiesel kita harus dorong. Tapi kalau misalnya dengan produktivitas tidak meningkat, sekitar 50 juta ton, Kemudian penggunaan biodiesel berarti bisa berkurangnya komponen untuk ekspor,&quot; ujar Sofyan Djalil, Kamis (5/9/2024).
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, pada tahun 2023 lalu produksi kelapa sawit di Indonesia sebesar 46,9 juta ton dari total luasan lahan 16,8 juta ton.

BACA JUGA:
Kontribusi Sawit untuk APBN Tembus Rp88,7 Triliun di 2023

&quot;Begitu ekspor kita kurang, uangnya tidak cukup untuk membiayai program biodiesel. Tidak cukup membiayai program PSR. Ini lingkaran setannya seperti itu,&quot; tambahnya.
Di satu sisi, dikatakan Sofyan Djalil salah satu tantangan dari peningkatan produksi minyak sawit adalah menyangkut keterbatasan lahan. Sebab pembukaan lahan baru akan langsung berkaitan dengan isu deforestasi, sehingga salah satu jalannya untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan program peremajaan sawit rakyat.
&quot;Kalau produksi meningkat maka B40, B50, B60 bisa dicapai. Jadi sangat tergantung, karena penggunaan itu meningkat, berarti produksi juga harus meningkat. Tapi kalau produksi tetap, maka harus kita korbankan yang lain, yang bisa kita korbankan adalah ekspor,&quot; kata Sofyan Djalil.Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama GAPKI (Gabungan Pengusaha  Kelapa Sawit Indonesia) Eddy Martono menambahkan dengan meningkatkan  kapasitas produksi sebesar 5 ton per hektar per tahun, maka total  produksi sawit di Indonesia bisa meningkat hingga 81,5 juta ton per  tahun.
&quot;Sedangkan kalau mau mencapai 100 juta ton pada tahun 2045, kita  hanya cukup membuka areal yang terdegradasi itu sekitar 3 juta hektar.  Menurut kami banyak areal yang terdegradasi,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Pemerintah bakal memproduksi secara massal bahan bakar B50 atau program bauran biodiesel 50% mulai tahun 2025. Hal ini tentu membutuhkan produksi minyak sawit yang lebih banyak dibandingkan dengan sebelumnya.
Wakil Ketua Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) Sofyan Djalil menilai akan ada konsekuensi dari sisi ekonomi jika Pemerintah mau menerapkan B50, seperti meningkatkan kapasitas produksi, mengurangi jatah ekspor CPO, atau mengurangi jatah minyak sawit untuk kebutuhan konsumsi.

BACA JUGA:
Adik Kandung Prabowo: Indonesia Bisa Kantongi Rp300 Triliun dari Pengusaha Perkebunan Sawit Ilegal

&quot;Biodiesel kita harus dorong. Tapi kalau misalnya dengan produktivitas tidak meningkat, sekitar 50 juta ton, Kemudian penggunaan biodiesel berarti bisa berkurangnya komponen untuk ekspor,&quot; ujar Sofyan Djalil, Kamis (5/9/2024).
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, pada tahun 2023 lalu produksi kelapa sawit di Indonesia sebesar 46,9 juta ton dari total luasan lahan 16,8 juta ton.

BACA JUGA:
Kontribusi Sawit untuk APBN Tembus Rp88,7 Triliun di 2023

&quot;Begitu ekspor kita kurang, uangnya tidak cukup untuk membiayai program biodiesel. Tidak cukup membiayai program PSR. Ini lingkaran setannya seperti itu,&quot; tambahnya.
Di satu sisi, dikatakan Sofyan Djalil salah satu tantangan dari peningkatan produksi minyak sawit adalah menyangkut keterbatasan lahan. Sebab pembukaan lahan baru akan langsung berkaitan dengan isu deforestasi, sehingga salah satu jalannya untuk meningkatkan kapasitas produksi dengan program peremajaan sawit rakyat.
&quot;Kalau produksi meningkat maka B40, B50, B60 bisa dicapai. Jadi sangat tergantung, karena penggunaan itu meningkat, berarti produksi juga harus meningkat. Tapi kalau produksi tetap, maka harus kita korbankan yang lain, yang bisa kita korbankan adalah ekspor,&quot; kata Sofyan Djalil.Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama GAPKI (Gabungan Pengusaha  Kelapa Sawit Indonesia) Eddy Martono menambahkan dengan meningkatkan  kapasitas produksi sebesar 5 ton per hektar per tahun, maka total  produksi sawit di Indonesia bisa meningkat hingga 81,5 juta ton per  tahun.
&quot;Sedangkan kalau mau mencapai 100 juta ton pada tahun 2045, kita  hanya cukup membuka areal yang terdegradasi itu sekitar 3 juta hektar.  Menurut kami banyak areal yang terdegradasi,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
