<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Masih Impor Beras, Bagaimana Nasib Petani?</title><description>Indonesia masih rutin melakukan impor beras</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/13/278/3062625/ri-masih-impor-beras-bagaimana-nasib-petani</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/13/278/3062625/ri-masih-impor-beras-bagaimana-nasib-petani"/><item><title>RI Masih Impor Beras, Bagaimana Nasib Petani?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/13/278/3062625/ri-masih-impor-beras-bagaimana-nasib-petani</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/13/278/3062625/ri-masih-impor-beras-bagaimana-nasib-petani</guid><pubDate>Jum'at 13 September 2024 15:24 WIB</pubDate><dc:creator>Tangguh Yudha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/13/278/3062625/ri-masih-impor-beras-bagaimana-nasib-petani-t3hWEDCOQH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI Masih Impor Beras. (foto: Okezone.com/MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/13/278/3062625/ri-masih-impor-beras-bagaimana-nasib-petani-t3hWEDCOQH.jpg</image><title>RI Masih Impor Beras. (foto: Okezone.com/MPI)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia masih rutin melakukan impor beras. Diyakini kebijakan tersebut tidak berdampak negatif kepada para petani.
Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, impor terpaksa dilakukan demi memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Arief mengungkap, perubahan iklim telah membuat produktivitas pertanian dunia, termasuk Indonesia menurun. Hal ini pun membuat pasokan beras negara mengalami keterbatasan sehingga harus dilakukan impor.

BACA JUGA:
RI Masih Impor Beras 900 Ribu Ton hingga Akhir 2024

&quot;Setelah kami hitung ketersediaan dikaitkan dengan produksi yang ada, namun karena climate change dan lainnya, hanya ada lebih sekitar 500 ribu ton. Dari itu terpaksa diperlukan tambahan pengadaan,&amp;rdquo; jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Kamis (12/9/2024).
Arief melanjutkan, kebijakan pengadaan luar negeri yang selama ini telah diimplementasikan tidak memberi dampak negatif kepada petani tanaman pangan dalam negeri. Ini salah satunya dapat dipantau dari pergerakan Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP).

BACA JUGA:
KPK Koordinasi dengan Pelapor Kasus Skandal Demurrage Impor Beras Rp294,5 Miliar

Selama ini, pemerintah secara konsisten mampu menjaga NTPP selalu melebihi dari 100 poin sejak Oktober 2022. Di samping itu, indeks harga yang diterima petani padi terhadap indeks harga yang dibayar petani pun terus diupayakan mengalami surplus.Arief memaparkan bahwa secara tahunan, pada 2023, indeks harga yang diterima petani padi tercatat 127,26, yang mana angka ini disebutnya lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani di 117,31.
Terbaru, indeks harga yang diterima petani padi di Agustus 2024 berada di 136,42. Sementara indeks harga yang dibayar petani di 121,09. Adapun harga yang dibayar petani sendiri diklaim Arief merupakan rerata harga eceran barang/jasa.
&quot;Adapun harga yang dibayar petani sendiri merupakan rerata harga eceran barang/jasa yang dikonsumsi atau dibeli petani baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun untuk keperluan biaya produksi pertanian,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia masih rutin melakukan impor beras. Diyakini kebijakan tersebut tidak berdampak negatif kepada para petani.
Menurut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, impor terpaksa dilakukan demi memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Arief mengungkap, perubahan iklim telah membuat produktivitas pertanian dunia, termasuk Indonesia menurun. Hal ini pun membuat pasokan beras negara mengalami keterbatasan sehingga harus dilakukan impor.

BACA JUGA:
RI Masih Impor Beras 900 Ribu Ton hingga Akhir 2024

&quot;Setelah kami hitung ketersediaan dikaitkan dengan produksi yang ada, namun karena climate change dan lainnya, hanya ada lebih sekitar 500 ribu ton. Dari itu terpaksa diperlukan tambahan pengadaan,&amp;rdquo; jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Kamis (12/9/2024).
Arief melanjutkan, kebijakan pengadaan luar negeri yang selama ini telah diimplementasikan tidak memberi dampak negatif kepada petani tanaman pangan dalam negeri. Ini salah satunya dapat dipantau dari pergerakan Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP).

BACA JUGA:
KPK Koordinasi dengan Pelapor Kasus Skandal Demurrage Impor Beras Rp294,5 Miliar

Selama ini, pemerintah secara konsisten mampu menjaga NTPP selalu melebihi dari 100 poin sejak Oktober 2022. Di samping itu, indeks harga yang diterima petani padi terhadap indeks harga yang dibayar petani pun terus diupayakan mengalami surplus.Arief memaparkan bahwa secara tahunan, pada 2023, indeks harga yang diterima petani padi tercatat 127,26, yang mana angka ini disebutnya lebih tinggi dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani di 117,31.
Terbaru, indeks harga yang diterima petani padi di Agustus 2024 berada di 136,42. Sementara indeks harga yang dibayar petani di 121,09. Adapun harga yang dibayar petani sendiri diklaim Arief merupakan rerata harga eceran barang/jasa.
&quot;Adapun harga yang dibayar petani sendiri merupakan rerata harga eceran barang/jasa yang dikonsumsi atau dibeli petani baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun untuk keperluan biaya produksi pertanian,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
