<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>SPECIAL REPORT: Fenomena Kelas Menengah RI Turun Kelas</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan 9,48 juta warga kelas menengah Indonesia turun kelas menjadi kelas menengah bawah.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/15/320/3063172/special-report-fenomena-kelas-menengah-ri-turun-kelas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/15/320/3063172/special-report-fenomena-kelas-menengah-ri-turun-kelas"/><item><title>SPECIAL REPORT: Fenomena Kelas Menengah RI Turun Kelas</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/15/320/3063172/special-report-fenomena-kelas-menengah-ri-turun-kelas</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/15/320/3063172/special-report-fenomena-kelas-menengah-ri-turun-kelas</guid><pubDate>Minggu 15 September 2024 07:41 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/15/320/3063172/special-report-fenomena-kelas-menengah-ri-turun-kelas-rygkEU8qGi.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Special Report: Fenomena kelas menengah RI turun kelas (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/15/320/3063172/special-report-fenomena-kelas-menengah-ri-turun-kelas-rygkEU8qGi.jpg</image><title>Special Report: Fenomena kelas menengah RI turun kelas (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan 9,48 juta warga kelas menengah Indonesia turun kelas menjadi kelas menengah bawah atau aspiring middle class (AMC) dalam lima tahun terakhir.
BPS mencatat pada 2019 masyarakat kelas menengah di Indonesia mencapai 57,33 juta, jumlah tersebut menurun dalam lima tahun terakhir hingga mencapai 47,85 juta orang pada 2024 atau berkurang 9,48 juta orang.
Jumlah warga kelas menengah menjadi 47,85 juta orang, kira-kira setara 17,13% dari total populasi. Padahal, proporsi kelas menengah diharapkan mencapai sekitar 70% dari total populasi pada 2045 demi menopang Indonesia Emas yaitu menjadi negara maju.

BACA JUGA:
Tarif KRL Pakai NIK, Kelas Menengah Kian Terjepit


Targetnya, pada 2045 pendapatan per kapita Indonesia mencapai USD23.000 atau Rp354,5 juta per tahun. Saat ini tingkat pendapatan per kapita Indonesia masih jauh dari level tersebut, yaitu di kisaran USD5.500 atau Rp84,78 juta per tahun.

Sementara, saat ini rata-rata pengeluaran masyarakat per kapita per bulan dibagi dalam lima kelas. Mulai dari kelas miskin yang mencapai kurang lebih Rp582 ribu, rentan miskin mencapai Rp582 ribu-Rp874 ribu, calon kelas menengah Rp874 ribu-Rp2 juta, kelas menengah Rp2 juta-Rp9,9 juta dan kelas atas lebih dari Rp9,9 juta.
Calon kelas menengah adalah kelompok sosial ekonomi terbesar di Indonesia. Pada periode 2019-2024, jumlahnya bertambah 8,65 juta hingga menyentuh 137,5 juta orang atau setara 49,2% dari total populasi.

BACA JUGA:
Masyarakat Kelas Menengah Ditakut-takuti hingga Jadi Irit dan Hemat 


Kelompok terbesar kedua adalah kelompok rentan miskin, dengan pengeluaran Rp582.932 hingga Rp874.398 per bulan. Selama lima tahun terakhir, jumlah warga rentan miskin bertambah 12,72 juta orang. Per 2024, angkanya mencapai 67,69 juta, atau 24,23% dari total populasi.
Di saat jumlah warga calon kelas menengah dan rentan miskin terus bertambah, penduduk kelas menengah justru kian menyusut.
Sepanjang 2019-2024, warga kelas menengah berkurang 9,48 juta orang menjadi hanya 47,85 juta. Kini, proporsinya hanya 17,13% dari total populasi, turun dari 21,45% pada lima tahun silam.
Sementara warga miskin mencapai 25,22 juta orang dan kelas atas mencapai 1,07 juta orang.
Penyebab Kelas Menengah Turun Kelas
Dari hasil riset LPEM UI, tren penurunan jumlah kelas menengah telah  terjadi sejak 2018 sebelum pandemi Covid-19 merebak dan  memorak-porandakan ekonomi Indonesia. Ada berbagai faktor pemicu, salah  satunya deindustrialisasi prematur.
Ini merujuk penurunan sektor pengolahan atau manufaktur di satu  negara sebelum ia bisa menjadi negara maju.Penurun jumlah masyarakat  kelas ekonomi menengah itu terjadi lantaran penurunan kinerja sektor  manufaktur di tanah air.
Sementara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies  (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, lemahnya industri manufaktur  menjadi faktor utama. Hampir sebagian besar kinerja manufaktur pada  kuartal ke II/2024 mengalami tekanan, terutama padat karya.

BACA JUGA:
Terungkap Fakta, Pandemi Covid-19 Bukan Penyebab Masyarakat Kelas Menengah Jatuh Miskin


Anjloknya kinerja industri manufaktur di dalam negeri membuat banyak  perusahaan di bidang ini melakukan efisiensi dengan pemutusan hubungan  kerja (PHK).
&amp;ldquo;Deindustrialisasi prematur atau menurunnya porsi industri terhadap  PDB juga berimbas ke PHK massal,&amp;rdquo; ujar Bhima kepada MNC Portal  Indonesia.
Kedua, tingginya suku bunga perbankan yang mempengaruhi cicilan  rumah, kendaraan bermotor, dan kredit konsumsi lainnya. Saat ini, Bank  Indonesia (BI) masih mempertahankan BI Rate sebesar 6,25%. Ketiga,  booming harga komoditas sudah lewat sehingga pekerja di sektor sawit,  nikel dan batu bara tidak mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan  dibanding tahun 2021.
Keempat, kebijakan pajak pemerintah, khususnya penerapan tarif pajak  pertambahan nilai (PPN) 11% dinilai ikut berkontribusi terhadap naiknya  harga barang di tingkat ritel.  Tren ini menunjukkan berkurangnya  disposable income per kapita karena berbagai pungutan dan iuran,  termasuk pajak yang agresif menyasar kelas menengah.
Kelima, belanja infrastruktur dan investasi kurang berkualitas  sehingga serapan kerjanya kecil dibanding nominal uang yang dikeluarkan.  Menurutnya, sejauh ini antara beban kenaikan biaya pangan, perumahan,  pendidikan, suku bunga dan kesempatan kerja belum sebanding dengan  insentif yang diberikan pemerintah ke kelas menengah.
&amp;ldquo;Bansos (bantuan sosial) yang naik tinggi saat pemilu kemarin juga  hanya menyasar kelompok di bawah garis kemiskinan. Sementara insentif  pajak yang diberikan saat pandemi kan sudah dicabut seperti PPH 21  karyawan DTP,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;ldquo;Kelas menengah bahkan harus menanggung kenaikan tarif PPN 11% yang membuat harga barang ritel naik,&amp;rdquo; lanjutnya.
Presiden Jokowi Buka Suara
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa penurunan jumlah  populasi kelas ekonomi menengah di Indonesia yang terjadi dalam rentang  waktu 2019 hingga 2024 juga melanda banyak negara di seluruh dunia.
&quot;Itu problem yang terjadi hampir di semua negara, karena ekonomi  global turun semuanya,&quot; kata Presiden Jokowi usai meresmikan Gedung  Respirasi Kesehatan RS Persahabatan Jakarta Timur, Jumat 30 Agustus  2024.
Jokowi menyatakan bahwa fenomena tersebut adalah tantangan di banyak  negara yang dipengaruhi oleh penurunan ekonomi global dan dampak pandemi  Covid-19 yang berlangsung selama 2-3 tahun terakhir.
Dia menambahkan bahwa krisis tersebut telah menciptakan berbagai  kesulitan ekonomi di banyak negara. &quot;Semua negara saat ini berada pada  kesulitan yang sama,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Penduduk Kelas Menengah Bawa Indonesia Jadi Negara Maju Pupus, Kini Jadi Miskin


Kebijakan Pemerintah
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memandang peranan dan potensi  kelas menengah untuk mendorong visi Indonesia Emas 2045 sangat besar.  Oleh karena itu perlu perhatian khusus bagi kelas menengah agar lebih  sejahtera.
&quot;Kelas menengah punya peran strategis untuk mendorong perekonomian,  oleh karena itu Pemerintah telah memberikan beberapa program untuk  meningkatkan kesejahteraan kelompok kelas menengah,&quot; kata Sri Mulyani,  Jumat 30 Agustus 2024.
Menurut Sri Mulyani telah ada berbagai program dari pemerintah untuk  meningkatkan kesejahteraan kelas menengah pertama melalui program  perlinsos, pemberian subsidi dan kompensasi, insentif perpajakan seperti  insentif PPN DTP untuk pembelian rumah. Kemudian Pemberian Bantuan  luran kesehatan, Program Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga jaring  pengaman seperti kartu prakerja sebagai jaminan kehilangan pekerjaan.
Sri Mulyani berharap insentif tersebut bisa membantu meningkat  kesejahteraan kelas menengah. &quot;Semoga berbagai program ini tak hanya  membantu meningkatkan kesejahteraan kelompok menengah, tetapi juga  meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan,&quot;  katanya.
Dilansir dari keterangan pers Kementerian Koordinator Pembangunan  Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), pemerintah Indonesia berkomitmen  untuk mengatasi permasalahan kesejahteraan dengan berbagai kebijakan  strategis.
Upaya tersebut meliputi penguatan sektor UMKM, peningkatan investasi  dalam pendidikan dan kesehatan, serta reformasi ekonomi untuk  menciptakan peluang yang lebih luas bagi masyarakat.
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap dapat merangsang pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dampak Kelas Menengah Turun Kelas
Merosotnya jumlah kelas menengah di dalam negeri berisiko tinggi  terhadap perlambatan konsumsi rumah tangga. Kondisi itu akan mengganggu  pertumbuhan makro ekonomi nasional.
Saat ini, kelas menengah di Indonesia turun level menjadi kelas  menengah bawah. Padahal, kelompok dalam hierarki sosial ekonomi itu  punya peran besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Di saat biaya hidup terus meningkat, mereka kerap terpaksa makan  tabungan atau menarik pinjaman online. Setiap kali gajian, Khansa merasa  ia justru kian stres.
&amp;ldquo;Aduh, ini kok cuma segini,&amp;rdquo; begitu ia biasa membatin.
Khansa, 26 tahun, adalah penulis konten yang berdomisili di  Yogyakarta. Gaji bulanannya di sebuah perusahaan media &amp;ldquo;ngepas&amp;rdquo; dengan  upah minimum di Kota Yogyakarta sebesar Rp2,49 juta. Karena ada sejumlah  potongan, termasuk untuk jaminan sosial, gaji bersihnya hanya Rp2,39  juta.
Setiap bulan, ibunya yang bekerja di Hong Kong sebagai pengasuh anak dan lansia juga mengirimkan Rp3,5 juta.
Maka, Khansa total menerima Rp5,89 juta per bulan, yang mesti ia  kelola untuk kebutuhan hidup ayah, adik, dan dirinya sendiri di  Yogyakarta. Ayahnya kini berusia 60 tahun dan tidak lagi bekerja,  sementara adiknya masih berkuliah.
Sebagai perbandingan, rata-rata nilai konsumsi satu rumah tangga di  Kota Yogyakarta menyentuh Rp7,02 juta per bulan, merujuk hasil Survei  Biaya Hidup 2022 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Pengeluaran bulanan keluarga Khansa ada di bawah rata-rata. Namun  tetap saja, ia ngos-ngosan berusaha mencukupi segala keperluan.
Setidaknya Rp1,3 juta habis setiap bulannya untuk kebutuhan makan Khansa beserta adik dan ayahnya.
Sekitar Rp1,25 juta dikeluarkan untuk biaya bensin dan servis sepeda  motor, pulsa dan paket internet ponsel, iuran BPJS Kesehatan keluarga,  tagihan listrik, dan, tidak lupa, makanan tiga kucing Khansa.
Khansa pun menyisihkan Rp350.000 untuk uang saku adiknya serta Rp1,5  juta untuk uang kuliah tunggal (UKT) sang adik yang mesti dibayar tiap  semester.
Di luar itu semua, Khansa menabung Rp1 juta untuk biaya pernikahannya serta Rp200.000 untuk dana darurat dan tabungan pensiun.
Ada pula pos jajan tiap bulan sebesar Rp300.000, yang digunakan  misalnya untuk membeli produk kecantikan atau sesekali makan di  restoran.
Setelah ditotal, kebutuhan rutin keluarga Khansa mencapai sekitar  Rp5,9 juta per bulan, pas dengan jumlah gaji Khansa plus uang kiriman  dari ibunya.
Karena itu, bila ada pengeluaran dadakan, misalnya saat ponsel  bapaknya atau sepeda motornya rusak, Khansa terpaksa makan tabungan.
&amp;ldquo;Jadi memang bukannya bertambah, kadang (tabungan) malah makin  berkurang karena ada kebutuhan-kebutuhan yang mendadak,&amp;rdquo; kata Khansa  dilansir BBC Indonesia.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan 9,48 juta warga kelas menengah Indonesia turun kelas menjadi kelas menengah bawah atau aspiring middle class (AMC) dalam lima tahun terakhir.
BPS mencatat pada 2019 masyarakat kelas menengah di Indonesia mencapai 57,33 juta, jumlah tersebut menurun dalam lima tahun terakhir hingga mencapai 47,85 juta orang pada 2024 atau berkurang 9,48 juta orang.
Jumlah warga kelas menengah menjadi 47,85 juta orang, kira-kira setara 17,13% dari total populasi. Padahal, proporsi kelas menengah diharapkan mencapai sekitar 70% dari total populasi pada 2045 demi menopang Indonesia Emas yaitu menjadi negara maju.

BACA JUGA:
Tarif KRL Pakai NIK, Kelas Menengah Kian Terjepit


Targetnya, pada 2045 pendapatan per kapita Indonesia mencapai USD23.000 atau Rp354,5 juta per tahun. Saat ini tingkat pendapatan per kapita Indonesia masih jauh dari level tersebut, yaitu di kisaran USD5.500 atau Rp84,78 juta per tahun.

Sementara, saat ini rata-rata pengeluaran masyarakat per kapita per bulan dibagi dalam lima kelas. Mulai dari kelas miskin yang mencapai kurang lebih Rp582 ribu, rentan miskin mencapai Rp582 ribu-Rp874 ribu, calon kelas menengah Rp874 ribu-Rp2 juta, kelas menengah Rp2 juta-Rp9,9 juta dan kelas atas lebih dari Rp9,9 juta.
Calon kelas menengah adalah kelompok sosial ekonomi terbesar di Indonesia. Pada periode 2019-2024, jumlahnya bertambah 8,65 juta hingga menyentuh 137,5 juta orang atau setara 49,2% dari total populasi.

BACA JUGA:
Masyarakat Kelas Menengah Ditakut-takuti hingga Jadi Irit dan Hemat 


Kelompok terbesar kedua adalah kelompok rentan miskin, dengan pengeluaran Rp582.932 hingga Rp874.398 per bulan. Selama lima tahun terakhir, jumlah warga rentan miskin bertambah 12,72 juta orang. Per 2024, angkanya mencapai 67,69 juta, atau 24,23% dari total populasi.
Di saat jumlah warga calon kelas menengah dan rentan miskin terus bertambah, penduduk kelas menengah justru kian menyusut.
Sepanjang 2019-2024, warga kelas menengah berkurang 9,48 juta orang menjadi hanya 47,85 juta. Kini, proporsinya hanya 17,13% dari total populasi, turun dari 21,45% pada lima tahun silam.
Sementara warga miskin mencapai 25,22 juta orang dan kelas atas mencapai 1,07 juta orang.
Penyebab Kelas Menengah Turun Kelas
Dari hasil riset LPEM UI, tren penurunan jumlah kelas menengah telah  terjadi sejak 2018 sebelum pandemi Covid-19 merebak dan  memorak-porandakan ekonomi Indonesia. Ada berbagai faktor pemicu, salah  satunya deindustrialisasi prematur.
Ini merujuk penurunan sektor pengolahan atau manufaktur di satu  negara sebelum ia bisa menjadi negara maju.Penurun jumlah masyarakat  kelas ekonomi menengah itu terjadi lantaran penurunan kinerja sektor  manufaktur di tanah air.
Sementara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies  (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, lemahnya industri manufaktur  menjadi faktor utama. Hampir sebagian besar kinerja manufaktur pada  kuartal ke II/2024 mengalami tekanan, terutama padat karya.

BACA JUGA:
Terungkap Fakta, Pandemi Covid-19 Bukan Penyebab Masyarakat Kelas Menengah Jatuh Miskin


Anjloknya kinerja industri manufaktur di dalam negeri membuat banyak  perusahaan di bidang ini melakukan efisiensi dengan pemutusan hubungan  kerja (PHK).
&amp;ldquo;Deindustrialisasi prematur atau menurunnya porsi industri terhadap  PDB juga berimbas ke PHK massal,&amp;rdquo; ujar Bhima kepada MNC Portal  Indonesia.
Kedua, tingginya suku bunga perbankan yang mempengaruhi cicilan  rumah, kendaraan bermotor, dan kredit konsumsi lainnya. Saat ini, Bank  Indonesia (BI) masih mempertahankan BI Rate sebesar 6,25%. Ketiga,  booming harga komoditas sudah lewat sehingga pekerja di sektor sawit,  nikel dan batu bara tidak mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan  dibanding tahun 2021.
Keempat, kebijakan pajak pemerintah, khususnya penerapan tarif pajak  pertambahan nilai (PPN) 11% dinilai ikut berkontribusi terhadap naiknya  harga barang di tingkat ritel.  Tren ini menunjukkan berkurangnya  disposable income per kapita karena berbagai pungutan dan iuran,  termasuk pajak yang agresif menyasar kelas menengah.
Kelima, belanja infrastruktur dan investasi kurang berkualitas  sehingga serapan kerjanya kecil dibanding nominal uang yang dikeluarkan.  Menurutnya, sejauh ini antara beban kenaikan biaya pangan, perumahan,  pendidikan, suku bunga dan kesempatan kerja belum sebanding dengan  insentif yang diberikan pemerintah ke kelas menengah.
&amp;ldquo;Bansos (bantuan sosial) yang naik tinggi saat pemilu kemarin juga  hanya menyasar kelompok di bawah garis kemiskinan. Sementara insentif  pajak yang diberikan saat pandemi kan sudah dicabut seperti PPH 21  karyawan DTP,&amp;rdquo; ujarnya.
&amp;ldquo;Kelas menengah bahkan harus menanggung kenaikan tarif PPN 11% yang membuat harga barang ritel naik,&amp;rdquo; lanjutnya.
Presiden Jokowi Buka Suara
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa penurunan jumlah  populasi kelas ekonomi menengah di Indonesia yang terjadi dalam rentang  waktu 2019 hingga 2024 juga melanda banyak negara di seluruh dunia.
&quot;Itu problem yang terjadi hampir di semua negara, karena ekonomi  global turun semuanya,&quot; kata Presiden Jokowi usai meresmikan Gedung  Respirasi Kesehatan RS Persahabatan Jakarta Timur, Jumat 30 Agustus  2024.
Jokowi menyatakan bahwa fenomena tersebut adalah tantangan di banyak  negara yang dipengaruhi oleh penurunan ekonomi global dan dampak pandemi  Covid-19 yang berlangsung selama 2-3 tahun terakhir.
Dia menambahkan bahwa krisis tersebut telah menciptakan berbagai  kesulitan ekonomi di banyak negara. &quot;Semua negara saat ini berada pada  kesulitan yang sama,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Penduduk Kelas Menengah Bawa Indonesia Jadi Negara Maju Pupus, Kini Jadi Miskin


Kebijakan Pemerintah
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memandang peranan dan potensi  kelas menengah untuk mendorong visi Indonesia Emas 2045 sangat besar.  Oleh karena itu perlu perhatian khusus bagi kelas menengah agar lebih  sejahtera.
&quot;Kelas menengah punya peran strategis untuk mendorong perekonomian,  oleh karena itu Pemerintah telah memberikan beberapa program untuk  meningkatkan kesejahteraan kelompok kelas menengah,&quot; kata Sri Mulyani,  Jumat 30 Agustus 2024.
Menurut Sri Mulyani telah ada berbagai program dari pemerintah untuk  meningkatkan kesejahteraan kelas menengah pertama melalui program  perlinsos, pemberian subsidi dan kompensasi, insentif perpajakan seperti  insentif PPN DTP untuk pembelian rumah. Kemudian Pemberian Bantuan  luran kesehatan, Program Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga jaring  pengaman seperti kartu prakerja sebagai jaminan kehilangan pekerjaan.
Sri Mulyani berharap insentif tersebut bisa membantu meningkat  kesejahteraan kelas menengah. &quot;Semoga berbagai program ini tak hanya  membantu meningkatkan kesejahteraan kelompok menengah, tetapi juga  meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara keseluruhan,&quot;  katanya.
Dilansir dari keterangan pers Kementerian Koordinator Pembangunan  Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), pemerintah Indonesia berkomitmen  untuk mengatasi permasalahan kesejahteraan dengan berbagai kebijakan  strategis.
Upaya tersebut meliputi penguatan sektor UMKM, peningkatan investasi  dalam pendidikan dan kesehatan, serta reformasi ekonomi untuk  menciptakan peluang yang lebih luas bagi masyarakat.
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap dapat merangsang pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dampak Kelas Menengah Turun Kelas
Merosotnya jumlah kelas menengah di dalam negeri berisiko tinggi  terhadap perlambatan konsumsi rumah tangga. Kondisi itu akan mengganggu  pertumbuhan makro ekonomi nasional.
Saat ini, kelas menengah di Indonesia turun level menjadi kelas  menengah bawah. Padahal, kelompok dalam hierarki sosial ekonomi itu  punya peran besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Di saat biaya hidup terus meningkat, mereka kerap terpaksa makan  tabungan atau menarik pinjaman online. Setiap kali gajian, Khansa merasa  ia justru kian stres.
&amp;ldquo;Aduh, ini kok cuma segini,&amp;rdquo; begitu ia biasa membatin.
Khansa, 26 tahun, adalah penulis konten yang berdomisili di  Yogyakarta. Gaji bulanannya di sebuah perusahaan media &amp;ldquo;ngepas&amp;rdquo; dengan  upah minimum di Kota Yogyakarta sebesar Rp2,49 juta. Karena ada sejumlah  potongan, termasuk untuk jaminan sosial, gaji bersihnya hanya Rp2,39  juta.
Setiap bulan, ibunya yang bekerja di Hong Kong sebagai pengasuh anak dan lansia juga mengirimkan Rp3,5 juta.
Maka, Khansa total menerima Rp5,89 juta per bulan, yang mesti ia  kelola untuk kebutuhan hidup ayah, adik, dan dirinya sendiri di  Yogyakarta. Ayahnya kini berusia 60 tahun dan tidak lagi bekerja,  sementara adiknya masih berkuliah.
Sebagai perbandingan, rata-rata nilai konsumsi satu rumah tangga di  Kota Yogyakarta menyentuh Rp7,02 juta per bulan, merujuk hasil Survei  Biaya Hidup 2022 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Pengeluaran bulanan keluarga Khansa ada di bawah rata-rata. Namun  tetap saja, ia ngos-ngosan berusaha mencukupi segala keperluan.
Setidaknya Rp1,3 juta habis setiap bulannya untuk kebutuhan makan Khansa beserta adik dan ayahnya.
Sekitar Rp1,25 juta dikeluarkan untuk biaya bensin dan servis sepeda  motor, pulsa dan paket internet ponsel, iuran BPJS Kesehatan keluarga,  tagihan listrik, dan, tidak lupa, makanan tiga kucing Khansa.
Khansa pun menyisihkan Rp350.000 untuk uang saku adiknya serta Rp1,5  juta untuk uang kuliah tunggal (UKT) sang adik yang mesti dibayar tiap  semester.
Di luar itu semua, Khansa menabung Rp1 juta untuk biaya pernikahannya serta Rp200.000 untuk dana darurat dan tabungan pensiun.
Ada pula pos jajan tiap bulan sebesar Rp300.000, yang digunakan  misalnya untuk membeli produk kecantikan atau sesekali makan di  restoran.
Setelah ditotal, kebutuhan rutin keluarga Khansa mencapai sekitar  Rp5,9 juta per bulan, pas dengan jumlah gaji Khansa plus uang kiriman  dari ibunya.
Karena itu, bila ada pengeluaran dadakan, misalnya saat ponsel  bapaknya atau sepeda motornya rusak, Khansa terpaksa makan tabungan.
&amp;ldquo;Jadi memang bukannya bertambah, kadang (tabungan) malah makin  berkurang karena ada kebutuhan-kebutuhan yang mendadak,&amp;rdquo; kata Khansa  dilansir BBC Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
