<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Dampak Ekspor Pasir Laut yang Bikin Susi Pudjiastuti Nangis</title><description>Presiden Jokowi kembali membuka keran ekspor pasir laut yang selama 20 tahun ditutup.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/17/320/3063805/ini-dampak-ekspor-pasir-laut-yang-bikin-susi-pudjiastuti-nangis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/17/320/3063805/ini-dampak-ekspor-pasir-laut-yang-bikin-susi-pudjiastuti-nangis"/><item><title>Ini Dampak Ekspor Pasir Laut yang Bikin Susi Pudjiastuti Nangis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/17/320/3063805/ini-dampak-ekspor-pasir-laut-yang-bikin-susi-pudjiastuti-nangis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/17/320/3063805/ini-dampak-ekspor-pasir-laut-yang-bikin-susi-pudjiastuti-nangis</guid><pubDate>Selasa 17 September 2024 07:51 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/17/320/3063805/ini-dampak-ekspor-pasir-laut-yang-bikin-susi-pudjiastuti-nangis-ZclB4puvJh.png" expression="full" type="image/jpeg">Dampak buruk ekspor pasir laut (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/17/320/3063805/ini-dampak-ekspor-pasir-laut-yang-bikin-susi-pudjiastuti-nangis-ZclB4puvJh.png</image><title>Dampak buruk ekspor pasir laut (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Jokowi kembali membuka keran ekspor pasir laut yang selama 20 tahun ditutup. Kebijakan ini pun menuai kontra dari berbagai pihak salah satunya Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
Ekspor pasir laut ini dinilai akan memberi dampak buruk bagi  habitat organisme laut, abrasi di wilayah pesisir, hilangnya pulau-pulau kecil, hingga lenyapnya mata pencaharian nelayan.

BACA JUGA:
Jokowi Buka Keran Ekspor Pasir Laut, Ini Reaksi Susi Pudjiastuti

Salah satu keluarga nelayan di Jepara, Jawa Tengah, Tri Ismuyati sudah merasakan dampak pengerukan pasir laut mengaku hasil tangkapan nelayan berkurang drastis. Banyak keluarga nelayan akhirnya terjerat utang demi menyambung hidup.
Tri Ismuyati menceritakan nasib ratusan keluarga nelayan di Desa Bandungjarjo, Kecamatan Donorojo, Jepara, Jawa Tengah. Pasalnya saban malam melaut, beberapa nelayan termasuk suaminya kadang pulang dengan tangan kosong. Kalau pun ada yang mendapatkan hasil laut, jumlahnya cuma lima kilogram.

BACA JUGA:
Revisi Aturan Ekspor Pasir dan Hasil Sedimentasi Laut Diterbitkan, Ini Jenis yang Dilarang

&quot;Itu pun dapatnya lama sekali,&quot; ucap Tri Ismuyati dilansir dari BBC, Selasa (17/9/2024).
&quot;Dan dalam sebulan paling hanya dua atau tiga kali saja, selebihnya ya enggak dapat apa-apa,&quot; sambungnya.
Ibu tiga anak ini bercerita kondisi tersebut terjadi sejak kapal isap pasir laut beroperasi di wilayah pesisir pada Maret tahun lalu. Setiap malam selama sebulan, kapal itu mengambil pasir laut.Para nelayan yang curiga, kata Tri Ismuyati, sempat mendatangi kapal isap tersebut dan menanyakan keperluan mereka.
Awak kapal, menurut Tri, memaparkan bahwa mereka mengaku sedang  mengambil sampel tanpa menjelaskan untuk kebutuhan apa dan milik  perusahaan siapa.
Hasil tangkapan nelayan di Desa Bandungjarjo, Kecamatan Donorojo,  Jepara, Jawa Tengah turun drastis setelah kapal isap mengeruk pasir laut  di sana pada tahun lalu. SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Keterangan gambar,Hasil tangkapan nelayan di Desa Bandungjarjo,  Kecamatan Donorojo, Jepara, Jawa Tengah turun drastis setelah kapal isap  mengeruk pasir laut di sana pada tahun lalu.
Akibat operasional kapal isap, air laut berubah jadi keruh berwarna  kecoklatan. Sejak saat itu hingga sekarang, hasil tangkapan nelayan  turun drastis.
Kalau dulu nelayan bisa membawa pulang ikan hingga lima kuintal, kini dapat lima kilogram saja sudah susah payah.
&quot;Sekarang sebulan, kadang dapat hasil cuma dua atau tiga kali. Ikan  pun enggak mudah didapat padahal melaut sebulan tiap hari. Modal  Rp300.000 enggak bawa apa-apa, untuk lauk saja enggak ada.&quot;
&quot;Laut makin susah diprediksi, biasanya panen udang atau ikan, sekarang enggak ada. Panen ikan sudah seperti mimpi.&quot;
Gara-gara hasil tangkapan yang tak menentu, beberapa nelayan menyerah  dan mencari pekerjaan lain. Entah bekerja di pabrik, menjadi buruh  migran, atau mencari peruntungan ke kota lain.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Jokowi kembali membuka keran ekspor pasir laut yang selama 20 tahun ditutup. Kebijakan ini pun menuai kontra dari berbagai pihak salah satunya Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
Ekspor pasir laut ini dinilai akan memberi dampak buruk bagi  habitat organisme laut, abrasi di wilayah pesisir, hilangnya pulau-pulau kecil, hingga lenyapnya mata pencaharian nelayan.

BACA JUGA:
Jokowi Buka Keran Ekspor Pasir Laut, Ini Reaksi Susi Pudjiastuti

Salah satu keluarga nelayan di Jepara, Jawa Tengah, Tri Ismuyati sudah merasakan dampak pengerukan pasir laut mengaku hasil tangkapan nelayan berkurang drastis. Banyak keluarga nelayan akhirnya terjerat utang demi menyambung hidup.
Tri Ismuyati menceritakan nasib ratusan keluarga nelayan di Desa Bandungjarjo, Kecamatan Donorojo, Jepara, Jawa Tengah. Pasalnya saban malam melaut, beberapa nelayan termasuk suaminya kadang pulang dengan tangan kosong. Kalau pun ada yang mendapatkan hasil laut, jumlahnya cuma lima kilogram.

BACA JUGA:
Revisi Aturan Ekspor Pasir dan Hasil Sedimentasi Laut Diterbitkan, Ini Jenis yang Dilarang

&quot;Itu pun dapatnya lama sekali,&quot; ucap Tri Ismuyati dilansir dari BBC, Selasa (17/9/2024).
&quot;Dan dalam sebulan paling hanya dua atau tiga kali saja, selebihnya ya enggak dapat apa-apa,&quot; sambungnya.
Ibu tiga anak ini bercerita kondisi tersebut terjadi sejak kapal isap pasir laut beroperasi di wilayah pesisir pada Maret tahun lalu. Setiap malam selama sebulan, kapal itu mengambil pasir laut.Para nelayan yang curiga, kata Tri Ismuyati, sempat mendatangi kapal isap tersebut dan menanyakan keperluan mereka.
Awak kapal, menurut Tri, memaparkan bahwa mereka mengaku sedang  mengambil sampel tanpa menjelaskan untuk kebutuhan apa dan milik  perusahaan siapa.
Hasil tangkapan nelayan di Desa Bandungjarjo, Kecamatan Donorojo,  Jepara, Jawa Tengah turun drastis setelah kapal isap mengeruk pasir laut  di sana pada tahun lalu. SUMBER GAMBAR,GETTY IMAGES
Keterangan gambar,Hasil tangkapan nelayan di Desa Bandungjarjo,  Kecamatan Donorojo, Jepara, Jawa Tengah turun drastis setelah kapal isap  mengeruk pasir laut di sana pada tahun lalu.
Akibat operasional kapal isap, air laut berubah jadi keruh berwarna  kecoklatan. Sejak saat itu hingga sekarang, hasil tangkapan nelayan  turun drastis.
Kalau dulu nelayan bisa membawa pulang ikan hingga lima kuintal, kini dapat lima kilogram saja sudah susah payah.
&quot;Sekarang sebulan, kadang dapat hasil cuma dua atau tiga kali. Ikan  pun enggak mudah didapat padahal melaut sebulan tiap hari. Modal  Rp300.000 enggak bawa apa-apa, untuk lauk saja enggak ada.&quot;
&quot;Laut makin susah diprediksi, biasanya panen udang atau ikan, sekarang enggak ada. Panen ikan sudah seperti mimpi.&quot;
Gara-gara hasil tangkapan yang tak menentu, beberapa nelayan menyerah  dan mencari pekerjaan lain. Entah bekerja di pabrik, menjadi buruh  migran, atau mencari peruntungan ke kota lain.</content:encoded></item></channel></rss>
