<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Target IPO 2024 Sulit Tercapai, Ini Alasannya</title><description>Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sulit mencapai target penambahan emiten baru atau IPO pada tahun ini.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/19/278/3064856/target-ipo-2024-sulit-tercapai-ini-alasannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/19/278/3064856/target-ipo-2024-sulit-tercapai-ini-alasannya"/><item><title>Target IPO 2024 Sulit Tercapai, Ini Alasannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/19/278/3064856/target-ipo-2024-sulit-tercapai-ini-alasannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/19/278/3064856/target-ipo-2024-sulit-tercapai-ini-alasannya</guid><pubDate>Kamis 19 September 2024 11:17 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/19/278/3064856/target-ipo-2024-sulit-tercapai-ini-alasannya-huNcIHPgoG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Target IPO 2024 sulit tercapai (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/19/278/3064856/target-ipo-2024-sulit-tercapai-ini-alasannya-huNcIHPgoG.jpg</image><title>Target IPO 2024 sulit tercapai (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sulit mencapai target penambahan emiten baru atau IPO pada tahun ini. Tahun ini BEI mematok emiten baru yang listing sebanyak 75 perusahaan.
&amp;ldquo;Dari target penambahan sekitar 75 emiten baru pada tahun ini, diperkirakan baru terpenuhi separuhnya. Padahal sisa waktu tahun ini hanya 3 bulan lagi,&amp;ldquo; kata Pengamat Pasar Modal Ali Yusni Sahri, Kamis (19/9/2024).

BACA JUGA:
MR DIY Bakal IPO di BEI, Incar Dana Rp4,60 Triliun 


Dia menambahkan seharusnya bursa lebih peka dengan kondisi perubahan geopolitik dan kebutuhan pemerintahan baru.
&amp;ldquo;Kita akan memasuki era uncertain situation yang pasti memiliki dampak atas perekonomian nasional dan pemerintahan baru nanti tentu akan membutuhkan pertumbuhan ekonomi dan penambahan pajak sebagai sumber pemasukan negara. Padahal pasar saham sejatinya menjadi salah satu solusi menjawab tantangan tersebut,&amp;rdquo; ujar Ali.

BACA JUGA:
Soal IPO, InJourney Airports: Masih Akan Dibahas


Dia mengatakan pasar saham merupakan sarana alternatif pendanaan bagi perusahaan untuk scale up bisnisnya. Dan hal ini akan membuat operasional perusahaan yang melantai mencapai skala yang lebih luas.
&amp;ldquo;Dan akhirnya pendapatan perusahaan akan meningkat dan secara otomatis meningkatkan pembayaran pajak dan turut berkontribusi pada kemakmuran masyarakat,&amp;rdquo; bebernya.
Lebih lanjut ia mengatakan dirinya mendukung perbaikan yang dilakukan pihak Bursa Efek Indonesia terkait temuan gratifikasi. &amp;ldquo;Namun jangan sampai hal ini membuat target IPO yang sudah masuk pipeline menjadi terhambat.&amp;rdquo;
Ali Yusni Sahri menduga terhambatnya penambahan calon emiten baru  disebabkan faktor internal Bursa Efek. Menurut data yang dia miliki, ada  15 calon emiten yang gagal melantai karena hambatan untuk memperoleh  izin prinsip dari Bursa Efek Indonesia.
Sejumlah informasi menyebutkan sejak awal kasus gratifikasi menyeruak  pada akhir Agustus hingga hari ini, tercatat hanya 2 emiten yang  berhasil untuk dapat melantai. Sementara yang lainnya masih kesulitan  mendapatkan izin prinsip dari BEI.
&amp;ldquo;BEI sudah melakukan langkah-langkah berdasarkan prosedur dalam  menangani masalah gratifikasi itu. Tapi calon emiten lainnya jangan  dihukum dengan membuat proses IPO terhambat. Meski OJK telah menyebutkan  tidak ada moratorium, namun proses internal BEI seakan melakukannya  dengan hambatan memperoleh izin prinsip,&amp;ldquo; ucapnya.
Ali berharap agar pihak Bursa Efek Indonesia go profesional dalam  menangani calon emiten yang ingin IPO. &amp;ldquo;Jangan melakukan generalisasi  dan BEI mesti peka terhadap kebutuhan pemerintahan baru. Saya berharap  agar Bursa kembali bersikap profesional,&amp;rdquo; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sulit mencapai target penambahan emiten baru atau IPO pada tahun ini. Tahun ini BEI mematok emiten baru yang listing sebanyak 75 perusahaan.
&amp;ldquo;Dari target penambahan sekitar 75 emiten baru pada tahun ini, diperkirakan baru terpenuhi separuhnya. Padahal sisa waktu tahun ini hanya 3 bulan lagi,&amp;ldquo; kata Pengamat Pasar Modal Ali Yusni Sahri, Kamis (19/9/2024).

BACA JUGA:
MR DIY Bakal IPO di BEI, Incar Dana Rp4,60 Triliun 


Dia menambahkan seharusnya bursa lebih peka dengan kondisi perubahan geopolitik dan kebutuhan pemerintahan baru.
&amp;ldquo;Kita akan memasuki era uncertain situation yang pasti memiliki dampak atas perekonomian nasional dan pemerintahan baru nanti tentu akan membutuhkan pertumbuhan ekonomi dan penambahan pajak sebagai sumber pemasukan negara. Padahal pasar saham sejatinya menjadi salah satu solusi menjawab tantangan tersebut,&amp;rdquo; ujar Ali.

BACA JUGA:
Soal IPO, InJourney Airports: Masih Akan Dibahas


Dia mengatakan pasar saham merupakan sarana alternatif pendanaan bagi perusahaan untuk scale up bisnisnya. Dan hal ini akan membuat operasional perusahaan yang melantai mencapai skala yang lebih luas.
&amp;ldquo;Dan akhirnya pendapatan perusahaan akan meningkat dan secara otomatis meningkatkan pembayaran pajak dan turut berkontribusi pada kemakmuran masyarakat,&amp;rdquo; bebernya.
Lebih lanjut ia mengatakan dirinya mendukung perbaikan yang dilakukan pihak Bursa Efek Indonesia terkait temuan gratifikasi. &amp;ldquo;Namun jangan sampai hal ini membuat target IPO yang sudah masuk pipeline menjadi terhambat.&amp;rdquo;
Ali Yusni Sahri menduga terhambatnya penambahan calon emiten baru  disebabkan faktor internal Bursa Efek. Menurut data yang dia miliki, ada  15 calon emiten yang gagal melantai karena hambatan untuk memperoleh  izin prinsip dari Bursa Efek Indonesia.
Sejumlah informasi menyebutkan sejak awal kasus gratifikasi menyeruak  pada akhir Agustus hingga hari ini, tercatat hanya 2 emiten yang  berhasil untuk dapat melantai. Sementara yang lainnya masih kesulitan  mendapatkan izin prinsip dari BEI.
&amp;ldquo;BEI sudah melakukan langkah-langkah berdasarkan prosedur dalam  menangani masalah gratifikasi itu. Tapi calon emiten lainnya jangan  dihukum dengan membuat proses IPO terhambat. Meski OJK telah menyebutkan  tidak ada moratorium, namun proses internal BEI seakan melakukannya  dengan hambatan memperoleh izin prinsip,&amp;ldquo; ucapnya.
Ali berharap agar pihak Bursa Efek Indonesia go profesional dalam  menangani calon emiten yang ingin IPO. &amp;ldquo;Jangan melakukan generalisasi  dan BEI mesti peka terhadap kebutuhan pemerintahan baru. Saya berharap  agar Bursa kembali bersikap profesional,&amp;rdquo; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
