<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Dualisme Kadin Bisa Berdampak ke Investasi</title><description>Dualisme kepemimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dapat berdampak pada iklim investasi di dalam negeri.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/20/320/3065276/dualisme-kadin-bisa-berdampak-ke-investasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/20/320/3065276/dualisme-kadin-bisa-berdampak-ke-investasi"/><item><title>Dualisme Kadin Bisa Berdampak ke Investasi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/20/320/3065276/dualisme-kadin-bisa-berdampak-ke-investasi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/20/320/3065276/dualisme-kadin-bisa-berdampak-ke-investasi</guid><pubDate>Jum'at 20 September 2024 07:28 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/20/320/3065276/dualisme-kadin-bisa-berdampak-ke-investasi-pSEdDcObE7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dualisme kepemimpinan Kadin berdampak ke investasi (Foto: Kadin)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/20/320/3065276/dualisme-kadin-bisa-berdampak-ke-investasi-pSEdDcObE7.jpg</image><title>Dualisme kepemimpinan Kadin berdampak ke investasi (Foto: Kadin)</title></images><description>JAKARTA - Dualisme kepemimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dapat berdampak pada iklim investasi di dalam negeri. Investor asing bisa saja meninggalkan Indonesia dan beralih ke negara lain karena adanya konflik di Kadin. Sejumlah ekonom menyayangkan situasi ini dan berharap segera teratasi.
Perebutan kekuasaan antara Kadin terpilih yakni Arsjad Rasjid dan Kadin versi Munaslub Anindya Bakrie akan merugikan semua pihak. Terutama presiden mendatang Prabowo Subianto yang membutuhkan dukungan investor untuk membawa pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:
Kisruh Kadin, Bos Buruh Sebut Jokowi Tak Akan Terbitkan Keppres


Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar Himawan berpendapat, polemik kepemimpinan di internal Kadin akan berdampak langsung terhadap aktivitas investasi asing. Bagaimanapun mereka membutuhkan kepastian agar tidak salah melakukan deal bisnis.
Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah. Menurut dia dualisme ini tidak boleh berlangsung lama. Yang penting pemerintah cepat bertindak dan jangan berpihak. &amp;ldquo;Apapun keputusan pemerintah, Kadin pasti akan kembali solid. Sebab, pada umumnya pengusaha lebih memilih sikap pragmatis,&quot; ucap Piter, Jumat (20/9/2024).
Dijelaskan Piter, selama ini Kadin kerap dijadikan kendaraan politik oleh para pengusaha yang tergabung di dalamnya. Mereka, juga tergabung dalam asosiasi lain di luar Kadin. Polemik kepengurusan Kadin yang terjadi baru-baru ini tidak lepas dari kepentingan politik yang melibatkan organisasi pengusaha.

BACA JUGA:
 Presiden Jokowi Sentil Anindya Bakrie dan Arsjad Rasjid yang Rebutan Kursi Ketum Kadin


Kalangan investor selalu menilai posisi Kadin sebagai jendela sekaligus jembatan antara dunia usaha dan pebisnis dengan pemerintah. Maka itu, kemampuan pemerintah dalam mengatasi kekisruhan ini juga dipertaruhkan. Jika terendus sikap yang terlalu memihak ke salah satu kubu, maka akan menjadi catatan buruk sebagai bentuk intervensi negara terhadap pelaku bisnis.
Yang paling realistis adalah meminta semua pihak untuk menahan diri atau sama sama mundur selangkah. Artinya, di satu sisi Anin tidak memaksakan kepengurusan Kadin versi Munaslub sementara Arsjad tidak asal memecat pengurus yang beda pilihan dan hentikan proses hukum. &amp;ldquo;Nah, kedua pihak kemudian duduk bersama untuk merancang percepatan Munas atau bahasa lainnya mengulang Munaslub dengan melibatkan semua pihak. Mereka silakan bertarung untuk membuktikan apakah benar pengurus daerah menginginkan pergantian karena Arsjad dianggap melanggar AD/ART, atau jangan jangan itu klaim sepihak,&amp;rdquo; katanya.
Seperti diketahui, Kadin versi Munaslub mengklaim mendapatkan dukungan mayoritas pengurus Kadin Daerah dan anggota luar biasa. Sementara kubu Arsjad juga menyebutkan dukungan yang sama bahkan menghadirkan seluruh Kadin daerah dalam sejumlah konferensi pers. Untuk menguji klaim versi Munaslub, Kadin melakukan investigasi terhadap para pengurus daerah yang disebut telah memberikan dukungan kepada Anin.
Sementara proses ini berlangsung, Menara Kadin diduduki oleh puluhan  orang yang dipimpin Umar Kei. Kehadiran mereka bukan hanya mengganggu  juga mengintimidasi. Aksi sepihak ini memancing reaksi dan terjadilah  insiden. Staf Khusus Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid, Arif  Rahman melaporkan kasus dugaan pengeroyokan terhadap dirinya di Menara  Kadin ke Polda Metro Jaya pada Rabu (18/9).
Sementara itu Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic  and Law Studies (Celios) menjelaskan, Kadin berperan sebagai jembatan  yang mempertemukan calon investor dengan mitra lokal serta membantu  investor dalam perizinan usaha dan insentif melalui interaksi dengan  pemerintah.
Namun, dengan adanya dualisme ini, investor dan pengusaha mungkin  kebingungan dalam menentukan pihak mana yang harus dijadikan mitra. Hal  ini berpotensi memperlambat masuknya investasi, terutama investasi  asing, karena ketidakjelasan dalam mencari mitra lokal.
Selain itu, Bhima menyoroti bahwa dualisme tersebut terjadi pada masa  transisi pemerintahan dari Joko Widodo (Jokowi) ke Prabowo Subianto,  yang berpotensi menurunkan reputasi Kadin di mata investor.
Kadin yang seharusnya menyuarakan aspirasi pengusaha justru terlihat  lebih terlibat dalam kepentingan politik, mencerminkan iklim usaha di  Indonesia yang kurang baik dan membuat investor enggan menanamkan modal.</description><content:encoded>JAKARTA - Dualisme kepemimpinan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dapat berdampak pada iklim investasi di dalam negeri. Investor asing bisa saja meninggalkan Indonesia dan beralih ke negara lain karena adanya konflik di Kadin. Sejumlah ekonom menyayangkan situasi ini dan berharap segera teratasi.
Perebutan kekuasaan antara Kadin terpilih yakni Arsjad Rasjid dan Kadin versi Munaslub Anindya Bakrie akan merugikan semua pihak. Terutama presiden mendatang Prabowo Subianto yang membutuhkan dukungan investor untuk membawa pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:
Kisruh Kadin, Bos Buruh Sebut Jokowi Tak Akan Terbitkan Keppres


Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Fajar Himawan berpendapat, polemik kepemimpinan di internal Kadin akan berdampak langsung terhadap aktivitas investasi asing. Bagaimanapun mereka membutuhkan kepastian agar tidak salah melakukan deal bisnis.
Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah. Menurut dia dualisme ini tidak boleh berlangsung lama. Yang penting pemerintah cepat bertindak dan jangan berpihak. &amp;ldquo;Apapun keputusan pemerintah, Kadin pasti akan kembali solid. Sebab, pada umumnya pengusaha lebih memilih sikap pragmatis,&quot; ucap Piter, Jumat (20/9/2024).
Dijelaskan Piter, selama ini Kadin kerap dijadikan kendaraan politik oleh para pengusaha yang tergabung di dalamnya. Mereka, juga tergabung dalam asosiasi lain di luar Kadin. Polemik kepengurusan Kadin yang terjadi baru-baru ini tidak lepas dari kepentingan politik yang melibatkan organisasi pengusaha.

BACA JUGA:
 Presiden Jokowi Sentil Anindya Bakrie dan Arsjad Rasjid yang Rebutan Kursi Ketum Kadin


Kalangan investor selalu menilai posisi Kadin sebagai jendela sekaligus jembatan antara dunia usaha dan pebisnis dengan pemerintah. Maka itu, kemampuan pemerintah dalam mengatasi kekisruhan ini juga dipertaruhkan. Jika terendus sikap yang terlalu memihak ke salah satu kubu, maka akan menjadi catatan buruk sebagai bentuk intervensi negara terhadap pelaku bisnis.
Yang paling realistis adalah meminta semua pihak untuk menahan diri atau sama sama mundur selangkah. Artinya, di satu sisi Anin tidak memaksakan kepengurusan Kadin versi Munaslub sementara Arsjad tidak asal memecat pengurus yang beda pilihan dan hentikan proses hukum. &amp;ldquo;Nah, kedua pihak kemudian duduk bersama untuk merancang percepatan Munas atau bahasa lainnya mengulang Munaslub dengan melibatkan semua pihak. Mereka silakan bertarung untuk membuktikan apakah benar pengurus daerah menginginkan pergantian karena Arsjad dianggap melanggar AD/ART, atau jangan jangan itu klaim sepihak,&amp;rdquo; katanya.
Seperti diketahui, Kadin versi Munaslub mengklaim mendapatkan dukungan mayoritas pengurus Kadin Daerah dan anggota luar biasa. Sementara kubu Arsjad juga menyebutkan dukungan yang sama bahkan menghadirkan seluruh Kadin daerah dalam sejumlah konferensi pers. Untuk menguji klaim versi Munaslub, Kadin melakukan investigasi terhadap para pengurus daerah yang disebut telah memberikan dukungan kepada Anin.
Sementara proses ini berlangsung, Menara Kadin diduduki oleh puluhan  orang yang dipimpin Umar Kei. Kehadiran mereka bukan hanya mengganggu  juga mengintimidasi. Aksi sepihak ini memancing reaksi dan terjadilah  insiden. Staf Khusus Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid, Arif  Rahman melaporkan kasus dugaan pengeroyokan terhadap dirinya di Menara  Kadin ke Polda Metro Jaya pada Rabu (18/9).
Sementara itu Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic  and Law Studies (Celios) menjelaskan, Kadin berperan sebagai jembatan  yang mempertemukan calon investor dengan mitra lokal serta membantu  investor dalam perizinan usaha dan insentif melalui interaksi dengan  pemerintah.
Namun, dengan adanya dualisme ini, investor dan pengusaha mungkin  kebingungan dalam menentukan pihak mana yang harus dijadikan mitra. Hal  ini berpotensi memperlambat masuknya investasi, terutama investasi  asing, karena ketidakjelasan dalam mencari mitra lokal.
Selain itu, Bhima menyoroti bahwa dualisme tersebut terjadi pada masa  transisi pemerintahan dari Joko Widodo (Jokowi) ke Prabowo Subianto,  yang berpotensi menurunkan reputasi Kadin di mata investor.
Kadin yang seharusnya menyuarakan aspirasi pengusaha justru terlihat  lebih terlibat dalam kepentingan politik, mencerminkan iklim usaha di  Indonesia yang kurang baik dan membuat investor enggan menanamkan modal.</content:encoded></item></channel></rss>
