<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Syarat agar Sawit RI Diakui Dunia</title><description>Pemerintah mendorong percepatan sertifikasi perkebunan kelapa sawit  berkelanjutan (ISPO) bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/22/320/3066102/ini-syarat-agar-sawit-ri-diakui-dunia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/09/22/320/3066102/ini-syarat-agar-sawit-ri-diakui-dunia"/><item><title>Ini Syarat agar Sawit RI Diakui Dunia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/09/22/320/3066102/ini-syarat-agar-sawit-ri-diakui-dunia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/09/22/320/3066102/ini-syarat-agar-sawit-ri-diakui-dunia</guid><pubDate>Minggu 22 September 2024 11:25 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/09/22/320/3066102/ini-syarat-agar-sawit-ri-diakui-dunia-aWIw3bZrzF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cara agar kelapa sawit RI diakui dunia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/09/22/320/3066102/ini-syarat-agar-sawit-ri-diakui-dunia-aWIw3bZrzF.jpg</image><title>Cara agar kelapa sawit RI diakui dunia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah mendorong percepatan sertifikasi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (ISPO) bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit. Hal ini dilakukan agar kelapa sawit Indonesia diakui dunia.
Di sisi lain, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan pemerintah telah memulai inisiasi pemanfaatan minyak sawit pada program biodiesel sejak 2019. Direktorat Jenderal Perkebunan yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pun terus mendorong percepatan ISPO bagi pelaku usaha pada Perkebunan Indonesia Expo (Bunex) 2024.

BACA JUGA:
Gantikan Batu Bara, Tandan Kosong Kelapa Sawit Diolah Jadi Energi PLTU


Sejalan dengan hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto mengatakan, industri kelapa sawit memberikan kontribusi yang sangat besar, sehingga hal tersebut menjadi tantangan bagi kita dalam pemenuhan standar ISPO yang menjadi perhatian dunia dalam aspek keberlanjutan yang tentu sangat mempengaruhi daya saing sawit Indonesia di dunia Internasional.
Salah satu langkah yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal perkebunan yaitu dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Percepatan Sertifikasi ISPO Bagi Para Pelaku Usaha Perkebunan Kelapa Sawit Melalui Pendekatan Yurisdiksi.

BACA JUGA:
Pencurian TBS Kelapa Sawit Kian Marak, Polisi Diminta Tindak Tegas


Percepatan sertifikasi ISPO bagi para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat melalui pendekatan yurisdiksi merupakan strategi penting untuk mencapai keberlanjutan dalam industri kelapa sawit Indonesia. Sertifikasi ISPO dirancang untuk memastikan bahwa industri kelapa sawit di Indonesia telah mengikuti praktik yang ramah lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Prayudi Syamsuri yang menjadi keynote speaker menjelaskan bahwa melakukan penyederhanaan komponen dari ISPO tanpa mengganggu keberlanjutan kelapa sawit menjadi salah satu solusi untuk mendorong para pelaku usaha untuk mengikuti sertifikasi ISPO.
&quot;Setelah dilaksanakan diskusi bersama Bapak Wakil Menteri Pertanian, sertifikasi ISPO dapat dilaksanakan dengan pendekatan yurisdiksi dengan menggunakan metode Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), dan teknik pengambilan datanya,&quot; imbuh Prayudi, Minggu (22/9/2024).
Talkshow kali ini, menghadirkan beberapa narasumber dari instansi dan  pelaku usaha bidang kelapa sawit. Analis Kebijakan Ahli Madya pada  Kedeputian Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Khadikin menjelaskan  perkebunan sawit yang telah mendapatkan sertifikasi ISPO lebih banyak  di perkebunan besar, dan sangat kecil di perkebunan rakyat.
Hal tersebut mendorong pihaknya untuk melakukan pendekatan kepada  petani kelapa sawit untuk mengikuti sertifikasi ISPO. Baginya,  pendekatan yurisdiksi, merupakan hal yang baik dan pihaknya sangat  mendukung percepatan sertifikasi ISPO ini dengan percepatan yurisdiksi.
Selanjutnya, Ketua Sekretariat Komisi ISPO, Herdrajat Natawidjaja  menjelaskan bahwa saat ini terdapat cukup banyak tantangan dalam proses  sertifikasi ISPO seperti pendanaan, sumber daya manusia, dan  diperlukannya bimbingan dan pelatihan. Selain itu, kebijakan dalam ISPO  harus diperhatikan karena sertifikasi ISPO menjadi fokus bersama.  Pendekatan yurisdiksi perlu dilakukan kajian seperti apa sistem yang  akan dilakukan agar dapat dipahami bersama.
Di sisi lain, Ketua Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit  Indonesia (GAPKI), R. Azis Hidayat mengungkapkan pada prinsipnya  seluruh anggota yang telah tergabung dalam GAPKI akan patuh pada  peraturan pemerintah RI. GAPKI terus mendorong seluruh anggota mengikuti  sertifikasi ISPO.
Aziz menambahkan pemerintah telah berkomitmen terhadap sertifikasi  ISPO dengan membuat regulasi yang memberi kemudahan khususnya bagi  pekebun kelapa sawit. Dengan adanya ISPO ini dapat memperkuat kelapa  sawit indonesia dan dapat diakui dunia. Saat ini sudah banyak perusahaan  yang bersertifikat ISPO, dan taat aturan. Selain itu, juga sangat  diperlukan peningkatan pelayanan publik untuk memotivasi pelaku usaha  mengikuti sertifikasi ISPO.
Lebih lanjut, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Nasional,  Sabarudin menjelaskan pelaku usaha sangat membutuhkan komitmen dari  pemerintah daerah dalam mendukung sertifikasi ISPO. Pihaknya juga  berharap adanya panduan dalam pelaksanaan mengikuti sertifikasi ISPO,  dengan menggunakan pendekatan yurisdiksi.
&amp;ldquo;Percepatan sertifikasi ISPO melalui pendekatan yurisdiksi, Indonesia  dapat memperkuat posisinya sebagai produsen minyak sawit yang  berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta memenuhi target pembangunan  hijau nasional dan internasional,&amp;rdquo; tutup Sabarudin.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pemerintah mendorong percepatan sertifikasi perkebunan kelapa sawit berkelanjutan (ISPO) bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit. Hal ini dilakukan agar kelapa sawit Indonesia diakui dunia.
Di sisi lain, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan pemerintah telah memulai inisiasi pemanfaatan minyak sawit pada program biodiesel sejak 2019. Direktorat Jenderal Perkebunan yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pun terus mendorong percepatan ISPO bagi pelaku usaha pada Perkebunan Indonesia Expo (Bunex) 2024.

BACA JUGA:
Gantikan Batu Bara, Tandan Kosong Kelapa Sawit Diolah Jadi Energi PLTU


Sejalan dengan hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto mengatakan, industri kelapa sawit memberikan kontribusi yang sangat besar, sehingga hal tersebut menjadi tantangan bagi kita dalam pemenuhan standar ISPO yang menjadi perhatian dunia dalam aspek keberlanjutan yang tentu sangat mempengaruhi daya saing sawit Indonesia di dunia Internasional.
Salah satu langkah yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal perkebunan yaitu dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Percepatan Sertifikasi ISPO Bagi Para Pelaku Usaha Perkebunan Kelapa Sawit Melalui Pendekatan Yurisdiksi.

BACA JUGA:
Pencurian TBS Kelapa Sawit Kian Marak, Polisi Diminta Tindak Tegas


Percepatan sertifikasi ISPO bagi para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat melalui pendekatan yurisdiksi merupakan strategi penting untuk mencapai keberlanjutan dalam industri kelapa sawit Indonesia. Sertifikasi ISPO dirancang untuk memastikan bahwa industri kelapa sawit di Indonesia telah mengikuti praktik yang ramah lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Prayudi Syamsuri yang menjadi keynote speaker menjelaskan bahwa melakukan penyederhanaan komponen dari ISPO tanpa mengganggu keberlanjutan kelapa sawit menjadi salah satu solusi untuk mendorong para pelaku usaha untuk mengikuti sertifikasi ISPO.
&quot;Setelah dilaksanakan diskusi bersama Bapak Wakil Menteri Pertanian, sertifikasi ISPO dapat dilaksanakan dengan pendekatan yurisdiksi dengan menggunakan metode Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), dan teknik pengambilan datanya,&quot; imbuh Prayudi, Minggu (22/9/2024).
Talkshow kali ini, menghadirkan beberapa narasumber dari instansi dan  pelaku usaha bidang kelapa sawit. Analis Kebijakan Ahli Madya pada  Kedeputian Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Khadikin menjelaskan  perkebunan sawit yang telah mendapatkan sertifikasi ISPO lebih banyak  di perkebunan besar, dan sangat kecil di perkebunan rakyat.
Hal tersebut mendorong pihaknya untuk melakukan pendekatan kepada  petani kelapa sawit untuk mengikuti sertifikasi ISPO. Baginya,  pendekatan yurisdiksi, merupakan hal yang baik dan pihaknya sangat  mendukung percepatan sertifikasi ISPO ini dengan percepatan yurisdiksi.
Selanjutnya, Ketua Sekretariat Komisi ISPO, Herdrajat Natawidjaja  menjelaskan bahwa saat ini terdapat cukup banyak tantangan dalam proses  sertifikasi ISPO seperti pendanaan, sumber daya manusia, dan  diperlukannya bimbingan dan pelatihan. Selain itu, kebijakan dalam ISPO  harus diperhatikan karena sertifikasi ISPO menjadi fokus bersama.  Pendekatan yurisdiksi perlu dilakukan kajian seperti apa sistem yang  akan dilakukan agar dapat dipahami bersama.
Di sisi lain, Ketua Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit  Indonesia (GAPKI), R. Azis Hidayat mengungkapkan pada prinsipnya  seluruh anggota yang telah tergabung dalam GAPKI akan patuh pada  peraturan pemerintah RI. GAPKI terus mendorong seluruh anggota mengikuti  sertifikasi ISPO.
Aziz menambahkan pemerintah telah berkomitmen terhadap sertifikasi  ISPO dengan membuat regulasi yang memberi kemudahan khususnya bagi  pekebun kelapa sawit. Dengan adanya ISPO ini dapat memperkuat kelapa  sawit indonesia dan dapat diakui dunia. Saat ini sudah banyak perusahaan  yang bersertifikat ISPO, dan taat aturan. Selain itu, juga sangat  diperlukan peningkatan pelayanan publik untuk memotivasi pelaku usaha  mengikuti sertifikasi ISPO.
Lebih lanjut, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Nasional,  Sabarudin menjelaskan pelaku usaha sangat membutuhkan komitmen dari  pemerintah daerah dalam mendukung sertifikasi ISPO. Pihaknya juga  berharap adanya panduan dalam pelaksanaan mengikuti sertifikasi ISPO,  dengan menggunakan pendekatan yurisdiksi.
&amp;ldquo;Percepatan sertifikasi ISPO melalui pendekatan yurisdiksi, Indonesia  dapat memperkuat posisinya sebagai produsen minyak sawit yang  berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta memenuhi target pembangunan  hijau nasional dan internasional,&amp;rdquo; tutup Sabarudin.</content:encoded></item></channel></rss>
