<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>108 Negara Berpotensi Gagal Jadi Negara Maju, Indonesia Termasuk?</title><description>Sebanyak 108 negara di dunia berpotensi gagal menjadi negara maju.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/03/320/3070424/108-negara-berpotensi-gagal-jadi-negara-maju-indonesia-termasuk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/03/320/3070424/108-negara-berpotensi-gagal-jadi-negara-maju-indonesia-termasuk"/><item><title>108 Negara Berpotensi Gagal Jadi Negara Maju, Indonesia Termasuk?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/03/320/3070424/108-negara-berpotensi-gagal-jadi-negara-maju-indonesia-termasuk</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/03/320/3070424/108-negara-berpotensi-gagal-jadi-negara-maju-indonesia-termasuk</guid><pubDate>Kamis 03 Oktober 2024 12:16 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/03/320/3070424/108-negara-berpotensi-gagal-jadi-negara-maju-indonesia-termasuk-HMDo9jU9Ol.jpg" expression="full" type="image/jpeg">108 negara batal jadi negara maju (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/03/320/3070424/108-negara-berpotensi-gagal-jadi-negara-maju-indonesia-termasuk-HMDo9jU9Ol.jpg</image><title>108 negara batal jadi negara maju (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sebanyak 108 negara di dunia berpotensi gagal menjadi negara maju. Hal ini disebabkan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.
Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono mengatakan, perlambatan ekonomi global menjadi ancaman bagi negara-negara berkembang, lantaran mereka terus terjebak dalam middle income trap.

BACA JUGA:
Bertemu Anindya Bakrie, Menko Airlangga Singgung Ekonomi dan Kemiskinan

Hal ini menggambarkan kondisi ketika negara berkembang berhasil mencapai pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.
Dia mencatat, laporan terbaru bahwa ada 108 negara berkembang berpotensi gagal menjadi negara dengan berpendapatan tinggi, jika mereka tidak mampu menghasilkan strategi yang mentransformasikan makro perekonomian negara mereka.

BACA JUGA:
 Anindya Bakrie: Kadin Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Prabowo-Gibran


Selain itu, ketidakmampuan meningkatkan produktivitas mereka, sebelum populasi negara setempat semakin menua.
&amp;ldquo;Dengan perlambatan global ini ada ancaman bahwa negara-negara berkembang akan terjebak di middle income trap,&amp;rdquo; ujar Thomas dalam gelaran Islamic Public Finance Role and Optimization, Kamis (3/10/2024).
&amp;ldquo;Laporan terbaru menyampaikan 108 negara secara potensial menjadi negara yang berpendapatan tinggi kalau mereka tidak mampu menghasilkan strategi untuk menghasilkan transformasi mereka dan meningkatkan produktivitas mereka sebelum populasi mereka menua,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/8hW8qjSoOpQ?si=ffGJse87S_GBjOzu&quot; title=&quot;YouTube video player&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share&quot; referrerpolicy=&quot;strict-origin-when-cross-origin&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Thomas juga mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi global periode  2024-2025 tetap tidak pasti dan menentu, dengan perkembangan yang  lambat. Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tetap di level 2,6% di  2024, sebelum kemudian mencapai 2,7% di 2025-2026
&amp;ldquo;Di sisi lain ekonomi-ekonomi yang tumbuh diperkirakan tumbuh per  pesan dari 2024 sampai 2025 yang juga merupakan pertumbuhan yang cukup  melambat dibandingkan dengan tahun 2023,&amp;rdquo; beber dia.
Selain dari ketidakpastian situasi global dunia, saat ini juga  terjadi dalamnya fragmentasi ekonomi dengan banyak konsekuensi negatif  yang berdampak pada stabilisasi rantai pasok dan juga perdagangan  ekonomi global.
&amp;ldquo;Lebih itu, multilateralisme dan juga menjadi sangat lemah, sebagai  akibat kita akan melihat banyaknya konflik global dan kekerasan, dan  juga ketegangan-ketegangan ekonomi antara negara-negara di dunia,&amp;rdquo;  ucapnya.
&amp;ldquo;Ketidakseimbangan kemiskinan juga menjadi masalah dunia dan. Negara  negara dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah juga akan membuat  situasi ketidakseimbangan secara global antara negara-negara tersebut,&amp;rdquo;  jelas Thomas.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sebanyak 108 negara di dunia berpotensi gagal menjadi negara maju. Hal ini disebabkan ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.
Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono mengatakan, perlambatan ekonomi global menjadi ancaman bagi negara-negara berkembang, lantaran mereka terus terjebak dalam middle income trap.

BACA JUGA:
Bertemu Anindya Bakrie, Menko Airlangga Singgung Ekonomi dan Kemiskinan

Hal ini menggambarkan kondisi ketika negara berkembang berhasil mencapai pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.
Dia mencatat, laporan terbaru bahwa ada 108 negara berkembang berpotensi gagal menjadi negara dengan berpendapatan tinggi, jika mereka tidak mampu menghasilkan strategi yang mentransformasikan makro perekonomian negara mereka.

BACA JUGA:
 Anindya Bakrie: Kadin Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 8% Prabowo-Gibran


Selain itu, ketidakmampuan meningkatkan produktivitas mereka, sebelum populasi negara setempat semakin menua.
&amp;ldquo;Dengan perlambatan global ini ada ancaman bahwa negara-negara berkembang akan terjebak di middle income trap,&amp;rdquo; ujar Thomas dalam gelaran Islamic Public Finance Role and Optimization, Kamis (3/10/2024).
&amp;ldquo;Laporan terbaru menyampaikan 108 negara secara potensial menjadi negara yang berpendapatan tinggi kalau mereka tidak mampu menghasilkan strategi untuk menghasilkan transformasi mereka dan meningkatkan produktivitas mereka sebelum populasi mereka menua,&amp;rdquo; paparnya.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/8hW8qjSoOpQ?si=ffGJse87S_GBjOzu&quot; title=&quot;YouTube video player&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share&quot; referrerpolicy=&quot;strict-origin-when-cross-origin&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;
Thomas juga mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi global periode  2024-2025 tetap tidak pasti dan menentu, dengan perkembangan yang  lambat. Diproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tetap di level 2,6% di  2024, sebelum kemudian mencapai 2,7% di 2025-2026
&amp;ldquo;Di sisi lain ekonomi-ekonomi yang tumbuh diperkirakan tumbuh per  pesan dari 2024 sampai 2025 yang juga merupakan pertumbuhan yang cukup  melambat dibandingkan dengan tahun 2023,&amp;rdquo; beber dia.
Selain dari ketidakpastian situasi global dunia, saat ini juga  terjadi dalamnya fragmentasi ekonomi dengan banyak konsekuensi negatif  yang berdampak pada stabilisasi rantai pasok dan juga perdagangan  ekonomi global.
&amp;ldquo;Lebih itu, multilateralisme dan juga menjadi sangat lemah, sebagai  akibat kita akan melihat banyaknya konflik global dan kekerasan, dan  juga ketegangan-ketegangan ekonomi antara negara-negara di dunia,&amp;rdquo;  ucapnya.
&amp;ldquo;Ketidakseimbangan kemiskinan juga menjadi masalah dunia dan. Negara  negara dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah juga akan membuat  situasi ketidakseimbangan secara global antara negara-negara tersebut,&amp;rdquo;  jelas Thomas.</content:encoded></item></channel></rss>
