<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Kelebihan Pasokan Listrik? Ini Faktanya</title><description>Indonesia disebut kelebihan pasokan listrik. Padahal faktanya, Indonesia masih perlu memproduksi listrik lebih besar.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071161/ri-kelebihan-pasokan-listrik-ini-faktanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071161/ri-kelebihan-pasokan-listrik-ini-faktanya"/><item><title>RI Kelebihan Pasokan Listrik? Ini Faktanya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071161/ri-kelebihan-pasokan-listrik-ini-faktanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071161/ri-kelebihan-pasokan-listrik-ini-faktanya</guid><pubDate>Sabtu 05 Oktober 2024 08:11 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/05/320/3071161/ri-kelebihan-pasokan-listrik-ini-faktanya-cr5dA2Qtzk.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Fakta Indonesia masih harus meningkatkan produksi listrik (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/05/320/3071161/ri-kelebihan-pasokan-listrik-ini-faktanya-cr5dA2Qtzk.jpg</image><title>Fakta Indonesia masih harus meningkatkan produksi listrik (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia disebut kelebihan pasokan listrik. Padahal faktanya, Indonesia masih perlu memproduksi listrik lebih besar untuk memasok sektor-sektor industri.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menjelaskan bahwa situasi demand dan supply listrik ini tidak bersifat statis melainkan dinamis. Dengan pertumbuhan ekonomi digital dan tren mobil listrik sebagai pendorong utama.
&quot;Perkembangan ekonomi digital yang sangat pesat, ditambah dengan tren mobil listrik, akan menjadi faktor yang meningkatkan permintaan terhadap listrik secara signifikan, jadi istilah oversupply tidak benar,&amp;rdquo; ungkap Telisa, Sabtu (5/10/2024).

BACA JUGA:
Daftar Proyek Pembangkit Listrik Energi Terbarukan yang Siap Beroperasi


Dia menekankan bahwa saat ini masyarakat mengalami peningkatan konsumsi listrik yang sejalan dengan pemulihan ekonomi. Telisa juga mengingatkan bahwa seiring dengan kenaikan permintaan, perlu ada langkah konkret untuk membuat Pembangkit Listrik.
Dirjen Ketenagalistrikan Jisman P Hutajulu juga menyebutkan senada. Dia menyebut kebutuhan listrik terus meningkat. Dia terang menyebut kondisi kelistrikan kini tidaklah pas jika disebut oversupply. &quot;growth cukup tinggi ya,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Thailand Lirik Transformasi Digital Sistem Pembangkit Listrik RI


Bahkan, dengan sasaran pertumbuhan ekonomi 8%, tentu pasokan listriknya juga didorong lebih besar lagi sehingga makin besar.  RUPTL 2024 harus mengakomodir kebutuhan ini.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah bakal menggenjot konsumsi listrik per kapita hingga 6.500 kilowatt per hour (kWh).
Dalam Opening Ceremony The 10th Indonesia International Geothermal Convention &amp;amp; Exhibition (IIGCE) 2024 beberapa waktu lalu, Bahlil menerangkan target itu dipatok untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% per tahun pada era Presiden Terpilih Prabowo Subianto.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8zMC80LzE1NzkwMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Saat ini, target konsumsi listrik per kapita hanya di kisaran 4.000  kWh-5.000 kWh. Angka tersebut dinilai hanya mampu mendorong pertumbuhan  ekonomi sebesar 5%.
&quot;Jadi kami target konsumsi listrik per kapita kemarin di angka 4.000  sampai 5.0000 (kWh). Tapi itu kita lihat pertumbuhan ekonominya hanya  sampai dengan 5%,&quot; kata Bahlil.
Dewan Energi Nasional (DEN) sendiri telah menghitung jika konsumsi  listrik per kapita hanya ditargetkan sebesar 5.500 kWh, maka pertumbuhan  ekonomi hanya bisa tercapai sebesar 6% per tahun.
&quot;Saya sebagai Ketua Harian DEN sudah memutuskan kalau di angka 5.500  kWh itu hanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 6%,&quot; tambahnya.
Karena itu, pemerintah memutuskan untuk mendorong konsumsi listrik  per kapita setidaknya di angka 6.000 kWh hingga 6.500 kWh untuk  mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang dicanangkan  Prabowo Subianto.
&quot;Ini sejalan dengan arah kebijakan Pak Presiden Prabowo dan Wakil  Presiden Mas Gibran. Jadi nanti kita breakdown dia di RUPTL, seterusnya  ini nanti Dirut PLN, kita akan bicarakan,&quot; jelas Menteri Bahlil.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia disebut kelebihan pasokan listrik. Padahal faktanya, Indonesia masih perlu memproduksi listrik lebih besar untuk memasok sektor-sektor industri.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menjelaskan bahwa situasi demand dan supply listrik ini tidak bersifat statis melainkan dinamis. Dengan pertumbuhan ekonomi digital dan tren mobil listrik sebagai pendorong utama.
&quot;Perkembangan ekonomi digital yang sangat pesat, ditambah dengan tren mobil listrik, akan menjadi faktor yang meningkatkan permintaan terhadap listrik secara signifikan, jadi istilah oversupply tidak benar,&amp;rdquo; ungkap Telisa, Sabtu (5/10/2024).

BACA JUGA:
Daftar Proyek Pembangkit Listrik Energi Terbarukan yang Siap Beroperasi


Dia menekankan bahwa saat ini masyarakat mengalami peningkatan konsumsi listrik yang sejalan dengan pemulihan ekonomi. Telisa juga mengingatkan bahwa seiring dengan kenaikan permintaan, perlu ada langkah konkret untuk membuat Pembangkit Listrik.
Dirjen Ketenagalistrikan Jisman P Hutajulu juga menyebutkan senada. Dia menyebut kebutuhan listrik terus meningkat. Dia terang menyebut kondisi kelistrikan kini tidaklah pas jika disebut oversupply. &quot;growth cukup tinggi ya,&quot; katanya.

BACA JUGA:
Thailand Lirik Transformasi Digital Sistem Pembangkit Listrik RI


Bahkan, dengan sasaran pertumbuhan ekonomi 8%, tentu pasokan listriknya juga didorong lebih besar lagi sehingga makin besar.  RUPTL 2024 harus mengakomodir kebutuhan ini.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah bakal menggenjot konsumsi listrik per kapita hingga 6.500 kilowatt per hour (kWh).
Dalam Opening Ceremony The 10th Indonesia International Geothermal Convention &amp;amp; Exhibition (IIGCE) 2024 beberapa waktu lalu, Bahlil menerangkan target itu dipatok untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% per tahun pada era Presiden Terpilih Prabowo Subianto.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8zMC80LzE1NzkwMy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Saat ini, target konsumsi listrik per kapita hanya di kisaran 4.000  kWh-5.000 kWh. Angka tersebut dinilai hanya mampu mendorong pertumbuhan  ekonomi sebesar 5%.
&quot;Jadi kami target konsumsi listrik per kapita kemarin di angka 4.000  sampai 5.0000 (kWh). Tapi itu kita lihat pertumbuhan ekonominya hanya  sampai dengan 5%,&quot; kata Bahlil.
Dewan Energi Nasional (DEN) sendiri telah menghitung jika konsumsi  listrik per kapita hanya ditargetkan sebesar 5.500 kWh, maka pertumbuhan  ekonomi hanya bisa tercapai sebesar 6% per tahun.
&quot;Saya sebagai Ketua Harian DEN sudah memutuskan kalau di angka 5.500  kWh itu hanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 6%,&quot; tambahnya.
Karena itu, pemerintah memutuskan untuk mendorong konsumsi listrik  per kapita setidaknya di angka 6.000 kWh hingga 6.500 kWh untuk  mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang dicanangkan  Prabowo Subianto.
&quot;Ini sejalan dengan arah kebijakan Pak Presiden Prabowo dan Wakil  Presiden Mas Gibran. Jadi nanti kita breakdown dia di RUPTL, seterusnya  ini nanti Dirut PLN, kita akan bicarakan,&quot; jelas Menteri Bahlil.</content:encoded></item></channel></rss>
