<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kunci Sukses Dirut Bank Jago di Tengah Deflasi 5 Bulan Beruntun hingga Penurunan Daya Beli</title><description>Dirut Bank Jago Arief Harris Tandjung menjawab  fenomena deflasi 5 bulan beruntun yang dialami Indonesia hingga  pengaruhnya ke daya beli.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071188/kunci-sukses-dirut-bank-jago-di-tengah-deflasi-5-bulan-beruntun-hingga-penurunan-daya-beli</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071188/kunci-sukses-dirut-bank-jago-di-tengah-deflasi-5-bulan-beruntun-hingga-penurunan-daya-beli"/><item><title>Kunci Sukses Dirut Bank Jago di Tengah Deflasi 5 Bulan Beruntun hingga Penurunan Daya Beli</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071188/kunci-sukses-dirut-bank-jago-di-tengah-deflasi-5-bulan-beruntun-hingga-penurunan-daya-beli</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071188/kunci-sukses-dirut-bank-jago-di-tengah-deflasi-5-bulan-beruntun-hingga-penurunan-daya-beli</guid><pubDate>Sabtu 05 Oktober 2024 10:33 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/05/320/3071188/kunci-sukses-dirut-bank-jago-di-tengah-deflasi-5-bulan-beruntun-hingga-penurunan-daya-beli-DobPoIvSK5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dirut Bank Jago bicara soal fenomena deflasi (Foto: Bank Jago)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/05/320/3071188/kunci-sukses-dirut-bank-jago-di-tengah-deflasi-5-bulan-beruntun-hingga-penurunan-daya-beli-DobPoIvSK5.jpg</image><title>Dirut Bank Jago bicara soal fenomena deflasi (Foto: Bank Jago)</title></images><description>YOGYAKARTA - Direktur Utama PT Bank Jago Tbk (ARTO) Arief Harris Tandjung menjawab fenomena deflasi 5 bulan beruntun yang dialami Indonesia hingga pengaruhnya ke daya beli mayarakat. Dalam kondisi saat ini yang harus disiapkan adalah strategi jitu, salah satunya melalui kolaborasi.
&quot;Saya rasa mungkin number one dalam bisnis, kita harus selalu agile menghadapi challenges, kita juga harus berduduk. Jadi kalau buat Bank Jago sendiri, kami itu selalu prudently looking to the market dan selalu harus&amp;nbsp; agile untuk menyikapi tantangan-tantangan itu, termasuk termasuk what ever happened yang terjadi belakangan ini (deflasi),&quot; ujar Arief saat Focus Group Discussion di Yogyakarta.

BACA JUGA:
Deflasi 5 Bulan Beruntun, Mendag: Itu karena Perubahan Iklim


Kolaborasi yang sudah dilakukan dan menghasilkan dampak positif ke kinerja yakni Bank Jago dengan GoTo Financial, lini usaha PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Tidak hanya itu, Bank Jago juga sudah berkolaborasi dengan Bibit.id. Tercatat, saat ini jumlah nasabah Bank Jago telah mencapai lebih dari 13 juta. Jumlah ini tidak bisa dikatakan sedikit, karena bank digital tersebut hanya memiliki 5 kantor cabang di Indonesia.
&quot;Kolaborasi dengan Goto, ekosistem Bibit dalam hal ini termasuk Stockbit membuat pertumbuhan Bank Jago lebih cepat. Bahkan boleh dibilang kalau kami tidak kolaborasi mungkin pertumbuhan kami tidak secepat sekarang ini,&quot;&amp;nbsp;ujarnya.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Sebut Deflasi Beruntun Bukan Sinyal Negatif


Arief menjelaskan, jika dilihat dari indikator ekonomi, suku bunga acuan Bank Indonesia mulai turun dan laju inflasi juga relatif terkendali. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga stabil dan defisit APBN dijaga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
&quot;Tapi kita juga melihat ada faktor-faktor yang kita harus perhatikan. Indikasi seperti misalnya penurunan daya beli dari segmen menengah ke bawah, istilah makan tabungan dan sebagainya. Apakah dampaknya sekarang dirasakan seluruh Indonesia saat ini? Jawabannya mungkin belum. Tapi di partner kita mungkin ada yang sudah mulai merasakan,&quot; ujarnya.
Untuk itu, Bank Jago secara berkala akan mereview bersama-sama dengan  para partner dan bagaimana bisa melihat tren ini hingga cara  mengatasinya secepat mungkin. &quot;Dan is there anything yang kita bisa  bantu partner-nya kita supaya juga bisa memitigasi atau soften impact  dari hal-hal tersebut,&quot; ujar Arief.
Arief menegaskan, bagi pihaknya, kemitraan bukan hanya sekadar  menyediakan pendanaan atau produk, namun juga dapat bertumbuh bersama.
&quot;Buat kita, partnership adalah bagaimana kita bisa berjuang  bersama-sama dengan partner kita, termasuk di kala partner kita  mengalami kesulitan-kesulitan dan sebagainya. Ini yang menjadi  sebenarnya DNA-nya kita dalam berpartner dengan teman-teman partner  kita. Jadi mungkin itu cara kita meng-address hal-hal-hal yang kita  hadapi saat ini,&quot; kata Arief.
Kolaborasi Bisnis Bank Jago
Sejak awal Bank Jago berkomitmen untuk konsisten berkolaborasi dengan  mitra strategis, seperti ekosistem GoTo yang terdiri dari Gojek, GoPay,  dan Tokopedia-TikTok serta ekosistem keuangan digital Bibit dan  Stockbit. Bank Jago mengembangkan Aplikasi Jago (Jago App) yang  dirancang untuk tertanam di berbagai ekosistem digital tersebut sehingga  dapat disesuaikan (customized) dan dipersonalisasi (personalized) agar  kompatibel dengan teknologi pelaku ekosistem dan kebutuhan masing-masing  nasabah pengguna.
Model bisnis kolaborasi dengan ekosistem digital membuat Bank Jago  berhasil memiliki nasabah&amp;nbsp;funding&amp;nbsp;melalui Aplikasi Jago sebanyak lebih  dari 10 juta per Juli 2024 lalu. Dari jumlah tersebut sebanyak 66%  berasal dari mitra ekosistem. Jika memperhitungkan nasabah&amp;nbsp;lending,  total nasabah Bank Jago mencapai 12,5 juta.
Pertumbuhan pengguna Aplikasi Jago sejalan dengan penghimpunan DPK  yang mencapai Rp14,8 triliun sampai dengan akhir kuartal II-2024 atau  tumbuh 47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,1  triliun. Sebanyak 61% dari jumlah DPK atau sebesar Rp9,1 triliun  merupakan&amp;nbsp;current account and savings account&amp;nbsp;(CASA), sedangkan sisanya  39% atau Rp5,7 triliun merupakan&amp;nbsp;term deposit&amp;nbsp;(TD).
Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra (partner), seperti ekosistem  dan platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan  lainnya, Bank Jago berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp15,7 triliun  per akhir kuartal II-2024 atau tumbuh 40% dari periode yang sama tahun  lalu sebesar Rp11,2 triliun.
Penyaluran kredit dilakukan secara berkualitas dan mengutamakan  prinsip kehati-hatian. Ini tercermin dari rendahnya rasio kredit  bermasalah atau&amp;nbsp;non-performing loan&amp;nbsp;(NPL)&amp;nbsp;gross&amp;nbsp;yang sebesar 0,4%.
Pertumbuhan kredit yang berkualitas mendorong aset Bank Jago menjadi  Rp24,2 triliun per semester I-2024 atau tumbuh 29% dari periode yang  sama tahun lalu sebesar Rp18,9 triliun. Rasio kecukupan modal atau  capital adequacy ratio (CAR) mencapai 50%, menunjukkan kuatnya tingkat  permodalan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Ke depan, Bank Jago akan melakukan beberapa diversifikasi untuk  mengembangkan bisnis. Tidak hanya mengandalkan partner bisnis tapi juga  akan membuat direct lending.
Direktur Bank Jago Sonny Christian Joseph mengatakan, pada bulan ini Bank Jago telah meluncurkan produk bernama Jago Dana Cepat.
&quot;Produk ini adalah produk pembiayaan langsung ke&amp;nbsp;costumer&amp;nbsp;aktif dan  memiliki kualitas yang baik dilihat dari profil mereka,&quot; ujarnya.
Data BPS soal Deflasi
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan pada September  2024 terjadi deflasi sebesar 0,12%. Secara tahunan, masih terjadi  inflasi sebesar 1,84%.
&amp;ldquo;Deflasi pada September 2024 terlihat lebih dalam dibandingkan  Agustus 2024, dan ini merupakan deflasi kelima pada tahun 2024 secara  bulanan,&amp;rdquo; ungkap Amalia di Jakarta, Selasa (1/10).
Tren deflasi telah berlangsung sejak Mei 2024, dengan rincian deflasi  0,03% pada Mei, 0,08% pada Juni, 0,18% pada Juli, 0,03% pada Agustus  dan 0,12% pada September.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto  mengatakan, deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut  merupakan hasil kerja keras pemerintah untuk menekan inflasi.
&quot;Jadi, kalau kita bilang inflasinya turun, (jadi) deflasi, ya ini  karena ada&amp;nbsp;extra effort&amp;nbsp;oleh pemerintah menurunkan&amp;nbsp;volatile food. Salah  satu misalnya, untuk beras kan pemerintah juga melakukan importasi beras  untuk menjaga stok,&quot; ujar Airlangga di Jakarta, Rabu.
Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini deflasi  yang telah terjadi selama lima bulan beruntun ini bukan sinyal negatif  bagi perekonomian.
Hal itu karena deflasi disebabkan oleh komponen harga bergejolak  (volatile food)&amp;nbsp;yang berkaitan dengan komoditas pangan. Dengan deflasi  pangan, maka harga bahan makanan di pasar dalam kondisi stabil atau  bahkan menurun.
&quot;Deflasi lima bulan terakhir terutama dikontribusikan penurunan harga  pangan. Menurut saya, ini suatu perkembangan positif, terutama terhadap  daya beli masyarakat,&quot; kata Sri Mulyani di kantor Kementerian Keuangan,  Jakarta, Jumat.</description><content:encoded>YOGYAKARTA - Direktur Utama PT Bank Jago Tbk (ARTO) Arief Harris Tandjung menjawab fenomena deflasi 5 bulan beruntun yang dialami Indonesia hingga pengaruhnya ke daya beli mayarakat. Dalam kondisi saat ini yang harus disiapkan adalah strategi jitu, salah satunya melalui kolaborasi.
&quot;Saya rasa mungkin number one dalam bisnis, kita harus selalu agile menghadapi challenges, kita juga harus berduduk. Jadi kalau buat Bank Jago sendiri, kami itu selalu prudently looking to the market dan selalu harus&amp;nbsp; agile untuk menyikapi tantangan-tantangan itu, termasuk termasuk what ever happened yang terjadi belakangan ini (deflasi),&quot; ujar Arief saat Focus Group Discussion di Yogyakarta.

BACA JUGA:
Deflasi 5 Bulan Beruntun, Mendag: Itu karena Perubahan Iklim


Kolaborasi yang sudah dilakukan dan menghasilkan dampak positif ke kinerja yakni Bank Jago dengan GoTo Financial, lini usaha PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Tidak hanya itu, Bank Jago juga sudah berkolaborasi dengan Bibit.id. Tercatat, saat ini jumlah nasabah Bank Jago telah mencapai lebih dari 13 juta. Jumlah ini tidak bisa dikatakan sedikit, karena bank digital tersebut hanya memiliki 5 kantor cabang di Indonesia.
&quot;Kolaborasi dengan Goto, ekosistem Bibit dalam hal ini termasuk Stockbit membuat pertumbuhan Bank Jago lebih cepat. Bahkan boleh dibilang kalau kami tidak kolaborasi mungkin pertumbuhan kami tidak secepat sekarang ini,&quot;&amp;nbsp;ujarnya.

BACA JUGA:
Sri Mulyani Sebut Deflasi Beruntun Bukan Sinyal Negatif


Arief menjelaskan, jika dilihat dari indikator ekonomi, suku bunga acuan Bank Indonesia mulai turun dan laju inflasi juga relatif terkendali. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga stabil dan defisit APBN dijaga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
&quot;Tapi kita juga melihat ada faktor-faktor yang kita harus perhatikan. Indikasi seperti misalnya penurunan daya beli dari segmen menengah ke bawah, istilah makan tabungan dan sebagainya. Apakah dampaknya sekarang dirasakan seluruh Indonesia saat ini? Jawabannya mungkin belum. Tapi di partner kita mungkin ada yang sudah mulai merasakan,&quot; ujarnya.
Untuk itu, Bank Jago secara berkala akan mereview bersama-sama dengan  para partner dan bagaimana bisa melihat tren ini hingga cara  mengatasinya secepat mungkin. &quot;Dan is there anything yang kita bisa  bantu partner-nya kita supaya juga bisa memitigasi atau soften impact  dari hal-hal tersebut,&quot; ujar Arief.
Arief menegaskan, bagi pihaknya, kemitraan bukan hanya sekadar  menyediakan pendanaan atau produk, namun juga dapat bertumbuh bersama.
&quot;Buat kita, partnership adalah bagaimana kita bisa berjuang  bersama-sama dengan partner kita, termasuk di kala partner kita  mengalami kesulitan-kesulitan dan sebagainya. Ini yang menjadi  sebenarnya DNA-nya kita dalam berpartner dengan teman-teman partner  kita. Jadi mungkin itu cara kita meng-address hal-hal-hal yang kita  hadapi saat ini,&quot; kata Arief.
Kolaborasi Bisnis Bank Jago
Sejak awal Bank Jago berkomitmen untuk konsisten berkolaborasi dengan  mitra strategis, seperti ekosistem GoTo yang terdiri dari Gojek, GoPay,  dan Tokopedia-TikTok serta ekosistem keuangan digital Bibit dan  Stockbit. Bank Jago mengembangkan Aplikasi Jago (Jago App) yang  dirancang untuk tertanam di berbagai ekosistem digital tersebut sehingga  dapat disesuaikan (customized) dan dipersonalisasi (personalized) agar  kompatibel dengan teknologi pelaku ekosistem dan kebutuhan masing-masing  nasabah pengguna.
Model bisnis kolaborasi dengan ekosistem digital membuat Bank Jago  berhasil memiliki nasabah&amp;nbsp;funding&amp;nbsp;melalui Aplikasi Jago sebanyak lebih  dari 10 juta per Juli 2024 lalu. Dari jumlah tersebut sebanyak 66%  berasal dari mitra ekosistem. Jika memperhitungkan nasabah&amp;nbsp;lending,  total nasabah Bank Jago mencapai 12,5 juta.
Pertumbuhan pengguna Aplikasi Jago sejalan dengan penghimpunan DPK  yang mencapai Rp14,8 triliun sampai dengan akhir kuartal II-2024 atau  tumbuh 47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,1  triliun. Sebanyak 61% dari jumlah DPK atau sebesar Rp9,1 triliun  merupakan&amp;nbsp;current account and savings account&amp;nbsp;(CASA), sedangkan sisanya  39% atau Rp5,7 triliun merupakan&amp;nbsp;term deposit&amp;nbsp;(TD).
Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra (partner), seperti ekosistem  dan platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan  lainnya, Bank Jago berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp15,7 triliun  per akhir kuartal II-2024 atau tumbuh 40% dari periode yang sama tahun  lalu sebesar Rp11,2 triliun.
Penyaluran kredit dilakukan secara berkualitas dan mengutamakan  prinsip kehati-hatian. Ini tercermin dari rendahnya rasio kredit  bermasalah atau&amp;nbsp;non-performing loan&amp;nbsp;(NPL)&amp;nbsp;gross&amp;nbsp;yang sebesar 0,4%.
Pertumbuhan kredit yang berkualitas mendorong aset Bank Jago menjadi  Rp24,2 triliun per semester I-2024 atau tumbuh 29% dari periode yang  sama tahun lalu sebesar Rp18,9 triliun. Rasio kecukupan modal atau  capital adequacy ratio (CAR) mencapai 50%, menunjukkan kuatnya tingkat  permodalan untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Ke depan, Bank Jago akan melakukan beberapa diversifikasi untuk  mengembangkan bisnis. Tidak hanya mengandalkan partner bisnis tapi juga  akan membuat direct lending.
Direktur Bank Jago Sonny Christian Joseph mengatakan, pada bulan ini Bank Jago telah meluncurkan produk bernama Jago Dana Cepat.
&quot;Produk ini adalah produk pembiayaan langsung ke&amp;nbsp;costumer&amp;nbsp;aktif dan  memiliki kualitas yang baik dilihat dari profil mereka,&quot; ujarnya.
Data BPS soal Deflasi
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan pada September  2024 terjadi deflasi sebesar 0,12%. Secara tahunan, masih terjadi  inflasi sebesar 1,84%.
&amp;ldquo;Deflasi pada September 2024 terlihat lebih dalam dibandingkan  Agustus 2024, dan ini merupakan deflasi kelima pada tahun 2024 secara  bulanan,&amp;rdquo; ungkap Amalia di Jakarta, Selasa (1/10).
Tren deflasi telah berlangsung sejak Mei 2024, dengan rincian deflasi  0,03% pada Mei, 0,08% pada Juni, 0,18% pada Juli, 0,03% pada Agustus  dan 0,12% pada September.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto  mengatakan, deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut  merupakan hasil kerja keras pemerintah untuk menekan inflasi.
&quot;Jadi, kalau kita bilang inflasinya turun, (jadi) deflasi, ya ini  karena ada&amp;nbsp;extra effort&amp;nbsp;oleh pemerintah menurunkan&amp;nbsp;volatile food. Salah  satu misalnya, untuk beras kan pemerintah juga melakukan importasi beras  untuk menjaga stok,&quot; ujar Airlangga di Jakarta, Rabu.
Sementara, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meyakini deflasi  yang telah terjadi selama lima bulan beruntun ini bukan sinyal negatif  bagi perekonomian.
Hal itu karena deflasi disebabkan oleh komponen harga bergejolak  (volatile food)&amp;nbsp;yang berkaitan dengan komoditas pangan. Dengan deflasi  pangan, maka harga bahan makanan di pasar dalam kondisi stabil atau  bahkan menurun.
&quot;Deflasi lima bulan terakhir terutama dikontribusikan penurunan harga  pangan. Menurut saya, ini suatu perkembangan positif, terutama terhadap  daya beli masyarakat,&quot; kata Sri Mulyani di kantor Kementerian Keuangan,  Jakarta, Jumat.</content:encoded></item></channel></rss>
