<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Siapkan Bioetanol Jadi BBN</title><description>Pemerintah melalui kebijakan komprehensif dinilai mampu mendorong bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071262/ri-siapkan-bioetanol-jadi-bbn</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071262/ri-siapkan-bioetanol-jadi-bbn"/><item><title>RI Siapkan Bioetanol Jadi BBN</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071262/ri-siapkan-bioetanol-jadi-bbn</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/05/320/3071262/ri-siapkan-bioetanol-jadi-bbn</guid><pubDate>Sabtu 05 Oktober 2024 21:01 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/05/320/3071262/ri-siapkan-bioetanol-jadi-bbn-rJVhEjpwQI.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">RI siapkan bioetanol jadi BBN (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/05/320/3071262/ri-siapkan-bioetanol-jadi-bbn-rJVhEjpwQI.jpeg</image><title>RI siapkan bioetanol jadi BBN (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah melalui kebijakan komprehensif dinilai mampu mendorong bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN) untuk mengejar target net zero emission (NZE) pada 2060.
&quot;Saya yakin dengan kebijakan komprehensif dan terobosan baru, pemerintah bisa menuntaskan berbagai hambatan untuk mendorong bioethanol sebagai BBN,&quot; kata Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) 2020-2024 Satya Widya Yudha di Jakarta, Sabtu (5/10/2024).

BACA JUGA:
Luhut: Bioetanol Siap Gantikan Bensin 3 Tahun Lagi


Menurutnya, hal terpenting yakni mengurai terlebih dahulu hambatan yang ada, sehingga kemudian bioetanol bisa diproduksi massal.
Sejumlah hambatan tersebut, katanya lagi, seperti keterbatasan sumber daya alam dan variasi bahan baku yang mana sebagian besar masih berasal dari tanaman pangan sehingga masih terjadi tarik-menarik antara bioetanol untuk energi atau untuk pangan.
Dia menambahkan tidak adanya mekanisme insentif untuk menutupi perbedaan antara harga bioetanol dan bensin.

BACA JUGA:
Pertalite Dihapus dan Digantikan Bioetanol, Ini Kata Pertamina


Kemudian belum ada kebijakan yang mengintegrasikan sektor hulu hingga hilir, yang menyebabkan bahan baku sulit diperoleh dengan harga wajar sementara luas lahan berkurang dengan tingkat produktivitas yang stagnan.
Dia melanjutkan adanya peraturan lintas kementerian dan lembaga yang mengatur peran dan kewajiban pemangku kepentingan dalam pelaksanaan mandatori bioetanol.
Apalagi, katanya lagi, Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Indonesia memasang target produksi bioetanol sebesar 13,7 juta kiloliter mulai tahun depan, sehingga semua hambatannya harus segera diselesaikan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wOC80LzE1NjQ4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Yang penting harus mengurai hambatan-hambatannya. Tetapi saya yakin,  dengan terobosan baru dari pemerintahan baru hambatan itu akan bisa  dituntaskan,&amp;rdquo; ujar Satya.
Menurut dia, setelah mengurai dan menemukan solusi dari  hambatan-hambatan tersebut, barulah membahas kemampuan produksi  bioetanol.
Saat ini produksi maksimal bioetanol nasional baru sekitar 63.000  kiloliter atau rata-rata produksi bioethanol sekitar 40.000 kiloliter  per tahun.
&quot;Keterbatasan produksi memang jadi tantangan saat ini karena masih  mengandalkan bahan baku berupa molase. Maka, diversifikasi bahan baku  seperti batang kelapa sawit tua, sorgum manis atau mikroalga perlu  digalakkan agar tidak kekurangan bahan baku jika bioethanol sudah  diproduksi massal,&amp;rdquo; katanya.
Bahkan, untuk bioetanol dengan bauran 2 persen, menurut dia, tidak  akan mampu memenuhi kebutuhan BBM masyarakat, sebab dengan bauran  sebesar itu dibutuhkan 750.000 kiloliter bioethanol per tahun untuk  memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, Satya mendorong pemerintah segera menyusun kebijakan  yang komprehensif dan memastikan bahwa program bioethanol itu berjalan  dengan baik.
Di antaranya, katanya lagi, pemberian insentif, penyusunan peta  jalan, dan rencana aksi, termasuk target kebijakan penyediaan lahan,  diversifikasi bahan baku dari kementerian/lembaga terkait.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah melalui kebijakan komprehensif dinilai mampu mendorong bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN) untuk mengejar target net zero emission (NZE) pada 2060.
&quot;Saya yakin dengan kebijakan komprehensif dan terobosan baru, pemerintah bisa menuntaskan berbagai hambatan untuk mendorong bioethanol sebagai BBN,&quot; kata Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) 2020-2024 Satya Widya Yudha di Jakarta, Sabtu (5/10/2024).

BACA JUGA:
Luhut: Bioetanol Siap Gantikan Bensin 3 Tahun Lagi


Menurutnya, hal terpenting yakni mengurai terlebih dahulu hambatan yang ada, sehingga kemudian bioetanol bisa diproduksi massal.
Sejumlah hambatan tersebut, katanya lagi, seperti keterbatasan sumber daya alam dan variasi bahan baku yang mana sebagian besar masih berasal dari tanaman pangan sehingga masih terjadi tarik-menarik antara bioetanol untuk energi atau untuk pangan.
Dia menambahkan tidak adanya mekanisme insentif untuk menutupi perbedaan antara harga bioetanol dan bensin.

BACA JUGA:
Pertalite Dihapus dan Digantikan Bioetanol, Ini Kata Pertamina


Kemudian belum ada kebijakan yang mengintegrasikan sektor hulu hingga hilir, yang menyebabkan bahan baku sulit diperoleh dengan harga wajar sementara luas lahan berkurang dengan tingkat produktivitas yang stagnan.
Dia melanjutkan adanya peraturan lintas kementerian dan lembaga yang mengatur peran dan kewajiban pemangku kepentingan dalam pelaksanaan mandatori bioetanol.
Apalagi, katanya lagi, Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Indonesia memasang target produksi bioetanol sebesar 13,7 juta kiloliter mulai tahun depan, sehingga semua hambatannya harus segera diselesaikan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMi8xMS8wOC80LzE1NjQ4NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
&quot;Yang penting harus mengurai hambatan-hambatannya. Tetapi saya yakin,  dengan terobosan baru dari pemerintahan baru hambatan itu akan bisa  dituntaskan,&amp;rdquo; ujar Satya.
Menurut dia, setelah mengurai dan menemukan solusi dari  hambatan-hambatan tersebut, barulah membahas kemampuan produksi  bioetanol.
Saat ini produksi maksimal bioetanol nasional baru sekitar 63.000  kiloliter atau rata-rata produksi bioethanol sekitar 40.000 kiloliter  per tahun.
&quot;Keterbatasan produksi memang jadi tantangan saat ini karena masih  mengandalkan bahan baku berupa molase. Maka, diversifikasi bahan baku  seperti batang kelapa sawit tua, sorgum manis atau mikroalga perlu  digalakkan agar tidak kekurangan bahan baku jika bioethanol sudah  diproduksi massal,&amp;rdquo; katanya.
Bahkan, untuk bioetanol dengan bauran 2 persen, menurut dia, tidak  akan mampu memenuhi kebutuhan BBM masyarakat, sebab dengan bauran  sebesar itu dibutuhkan 750.000 kiloliter bioethanol per tahun untuk  memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.
Oleh karena itu, Satya mendorong pemerintah segera menyusun kebijakan  yang komprehensif dan memastikan bahwa program bioethanol itu berjalan  dengan baik.
Di antaranya, katanya lagi, pemberian insentif, penyusunan peta  jalan, dan rencana aksi, termasuk target kebijakan penyediaan lahan,  diversifikasi bahan baku dari kementerian/lembaga terkait.</content:encoded></item></channel></rss>
