<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Upaya RI Penuhi Kebutuhan Beras 30,9 Juta Ton</title><description>Target Indonesia bisa swasembada pangan tentu tidak bisa hanya dari peran satu institusi</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/10/320/3073217/upaya-ri-penuhi-kebutuhan-beras-30-9-juta-ton</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/10/320/3073217/upaya-ri-penuhi-kebutuhan-beras-30-9-juta-ton"/><item><title>Upaya RI Penuhi Kebutuhan Beras 30,9 Juta Ton</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/10/320/3073217/upaya-ri-penuhi-kebutuhan-beras-30-9-juta-ton</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/10/320/3073217/upaya-ri-penuhi-kebutuhan-beras-30-9-juta-ton</guid><pubDate>Kamis 10 Oktober 2024 20:04 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/10/320/3073217/upaya-ri-penuhi-kebutuhan-beras-30-9-juta-ton-Lorwa8oVVE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kebutuhan Beras RI Capai 30,9 Juta Ton. (Foto: Okezone.com/Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/10/320/3073217/upaya-ri-penuhi-kebutuhan-beras-30-9-juta-ton-Lorwa8oVVE.jpg</image><title>Kebutuhan Beras RI Capai 30,9 Juta Ton. (Foto: Okezone.com/Setpres)</title></images><description>JAKARTA - Target Indonesia bisa swasembada pangan tentu tidak bisa hanya dari peran satu institusi. Setiap kementerian dan lembaga terkait harus bekerja sama demi mewujudkan hal tersebut.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ini saatnya gotong royong untuk mencapai swasembada pangan, tidak bisa satu pihak berdiri sendiri, semua harus bertemu,&amp;rdquo; ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi, Kamis (10/10/2024).
Pupuk Indonesia pun komitmennya untuk ikut mewujudkan ketahanan pangan nasional tersebut. Terlebih, kehadiran pupuk menjadi penting dalam mendukung produksi, serta mendorong produktivitas tanaman pangan nasional.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Beras Termahal di Dunia,  Harganya Rp1,8 Juta Per Kilogram!&amp;nbsp;

Rahmad menyampaikan, isu swasembada pangan menjadi penting menyusul proyeksi kenaikan konsumsi beras serta pertambahan jumlah penduduk.&amp;nbsp;
Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2045 diproyeksikan kebutuhan beras mencapai 37,9 juta ton dengan jumlah penduduk 324 juta orang. Saat ini, jumlah penduduk Indonesia sebesar 282 juta dengan kebutuhan beras sekitar 30,9 juta ton.&amp;nbsp;
Di samping itu, lanjut Rahmad, swasembada pangan turut menjadi prioritas bagi pemerintahan mendatang.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Menurut dia, perusahaan dalam lima tahun ke depan membidik kenaikan produksi pupuk sebesar 2 juta ton. Pada saat yang bersamaan, Pupuk Indonesia menerapkan sejumlah strategi untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk untuk petani.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Jokowi Bisiki Prabowo Lanjutkan Bansos Beras

Dalam memastikan soal ketersediaan, misalnya, Pupuk Indonesia telah menerapkan digitalisasi secara end-to-end untuk&amp;nbsp; pelaksanaan distribusi Pupuk. Melalui strategi Integrated Distribution and Outbound Logistic (INDIGO), perusahaan memonitor pergerakan dan posisi stok pupuk mulai dari pabrik sampai kios.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Jadi ini transparan dan menjadi inovasi dari Pupuk Indonesia untuk memastikan ketersediaan Pupuk,&amp;rdquo; kata Rahmad.
Sementara mengenai masalah keterjangkauan, lanjut Rahmad, tingginya harga pupuk bakal berdampak negatif ke produksi padi. Berdasarkan kalkulasinya, setiap kenaikan harga pupuk sebesar Rp1.000/kg mengakibatkan penurunan konsumsi urea sebesar 13 persen dan 14 persen pupuk NPK.&amp;nbsp;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMC8wNS80LzE4NTgxNi8zL3FjbGRMMDBudWRN&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selanjutnya, penurunan konsumsi pupuk tersebut bakal berdampak ke penurunan produktivitas tanaman pangan hingga 0,5 ton per hektar, serta penurunan pendapatan petani sekitar Rp3,1 juta per hektar.
&amp;ldquo;Nah, affordability ini datangnya dari mana? Tentu satu, kita selalu menantang diri kita sendiri, apakah Pupuk Indonesia bisa memproduksi pupuk dengan lebih efisien, dengan lebih kompetitif,&amp;rdquo; ujar Rahmad.
Untuk menambah produksi, perusahaan menempuh strategi pembangunan pabrik pupuk baru maupun revitalisasi pabrik lama. Selain itu, perusahaan meningkatkan daya saing pupuk, serta meminimalisir regulatory cost.
Rahmad menambahkan keterjangkauan harga pupuk tergantung pula pada harga bahan baku terutama gas. Dalam hal ini, dia memberikan apresiasi terhadap pemerintah  yang telah menerapkan harga gas murah USD6 per MMBTU.</description><content:encoded>JAKARTA - Target Indonesia bisa swasembada pangan tentu tidak bisa hanya dari peran satu institusi. Setiap kementerian dan lembaga terkait harus bekerja sama demi mewujudkan hal tersebut.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Ini saatnya gotong royong untuk mencapai swasembada pangan, tidak bisa satu pihak berdiri sendiri, semua harus bertemu,&amp;rdquo; ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi, Kamis (10/10/2024).
Pupuk Indonesia pun komitmennya untuk ikut mewujudkan ketahanan pangan nasional tersebut. Terlebih, kehadiran pupuk menjadi penting dalam mendukung produksi, serta mendorong produktivitas tanaman pangan nasional.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Beras Termahal di Dunia,  Harganya Rp1,8 Juta Per Kilogram!&amp;nbsp;

Rahmad menyampaikan, isu swasembada pangan menjadi penting menyusul proyeksi kenaikan konsumsi beras serta pertambahan jumlah penduduk.&amp;nbsp;
Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2045 diproyeksikan kebutuhan beras mencapai 37,9 juta ton dengan jumlah penduduk 324 juta orang. Saat ini, jumlah penduduk Indonesia sebesar 282 juta dengan kebutuhan beras sekitar 30,9 juta ton.&amp;nbsp;
Di samping itu, lanjut Rahmad, swasembada pangan turut menjadi prioritas bagi pemerintahan mendatang.&amp;nbsp;&amp;nbsp;
Menurut dia, perusahaan dalam lima tahun ke depan membidik kenaikan produksi pupuk sebesar 2 juta ton. Pada saat yang bersamaan, Pupuk Indonesia menerapkan sejumlah strategi untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk untuk petani.&amp;nbsp;

BACA JUGA:
Jokowi Bisiki Prabowo Lanjutkan Bansos Beras

Dalam memastikan soal ketersediaan, misalnya, Pupuk Indonesia telah menerapkan digitalisasi secara end-to-end untuk&amp;nbsp; pelaksanaan distribusi Pupuk. Melalui strategi Integrated Distribution and Outbound Logistic (INDIGO), perusahaan memonitor pergerakan dan posisi stok pupuk mulai dari pabrik sampai kios.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Jadi ini transparan dan menjadi inovasi dari Pupuk Indonesia untuk memastikan ketersediaan Pupuk,&amp;rdquo; kata Rahmad.
Sementara mengenai masalah keterjangkauan, lanjut Rahmad, tingginya harga pupuk bakal berdampak negatif ke produksi padi. Berdasarkan kalkulasinya, setiap kenaikan harga pupuk sebesar Rp1.000/kg mengakibatkan penurunan konsumsi urea sebesar 13 persen dan 14 persen pupuk NPK.&amp;nbsp;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMC8wNS80LzE4NTgxNi8zL3FjbGRMMDBudWRN&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Selanjutnya, penurunan konsumsi pupuk tersebut bakal berdampak ke penurunan produktivitas tanaman pangan hingga 0,5 ton per hektar, serta penurunan pendapatan petani sekitar Rp3,1 juta per hektar.
&amp;ldquo;Nah, affordability ini datangnya dari mana? Tentu satu, kita selalu menantang diri kita sendiri, apakah Pupuk Indonesia bisa memproduksi pupuk dengan lebih efisien, dengan lebih kompetitif,&amp;rdquo; ujar Rahmad.
Untuk menambah produksi, perusahaan menempuh strategi pembangunan pabrik pupuk baru maupun revitalisasi pabrik lama. Selain itu, perusahaan meningkatkan daya saing pupuk, serta meminimalisir regulatory cost.
Rahmad menambahkan keterjangkauan harga pupuk tergantung pula pada harga bahan baku terutama gas. Dalam hal ini, dia memberikan apresiasi terhadap pemerintah  yang telah menerapkan harga gas murah USD6 per MMBTU.</content:encoded></item></channel></rss>
