<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Untungkan RI, Perluasan Jaringan Gas Bisa Tekan Impor Energi</title><description>Rencana pemerintah memperluas jaringan gas bumi agar pemanfaatan gas bumi bakal menguntungkan Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/17/320/3075777/untungkan-ri-perluasan-jaringan-gas-bisa-tekan-impor-energi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/17/320/3075777/untungkan-ri-perluasan-jaringan-gas-bisa-tekan-impor-energi"/><item><title>Untungkan RI, Perluasan Jaringan Gas Bisa Tekan Impor Energi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/17/320/3075777/untungkan-ri-perluasan-jaringan-gas-bisa-tekan-impor-energi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/17/320/3075777/untungkan-ri-perluasan-jaringan-gas-bisa-tekan-impor-energi</guid><pubDate>Kamis 17 Oktober 2024 17:11 WIB</pubDate><dc:creator>Zahra Indah Safira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/17/320/3075777/untungkan-ri-perluasan-jaringan-gas-bisa-tekan-impor-energi-r6kC1IBoFJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Perluasan jaringan gas akan tekan impor energi (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/17/320/3075777/untungkan-ri-perluasan-jaringan-gas-bisa-tekan-impor-energi-r6kC1IBoFJ.jpg</image><title>Perluasan jaringan gas akan tekan impor energi (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Rencana pemerintah memperluas jaringan gas bumi agar pemanfaatan gas bumi bakal menguntungkan Indonesia. Besarnya penggunaan gas akan memangkas impor energi yang selama ini selalu membebani APBN.
Pengamat Energi Iwa Garniwa mengatakan, gas bumi merupakan jawaban atas persoalan impor migas yang saat ini masih terjadi. Ketersediaan serta potensi cadangan energi fosil paling bersih ini di Indonesia sangat besar sehingga akan mubazir jika tidak dioptimalkan penggunaannya.

BACA JUGA:
Jokowi Janji Tukin Pegawai ESDM Naik tapi Minta Lifting Migas Dinaikkan


&amp;rdquo;Pemerintah termasuk peran BUMN seperti Pertamina grup harus dimaksimalkan (untuk peningkatan infrastruktur dan jaringan gas bumi). Ditambah lagi jika blok-blok migas seperti Masela bisa segera diselesaikan. Ketika blok Masela sudah berproduksi, baik gas maupun kondensatnya yang tinggi bisa disalurkan untuk penuhi kebutuhan industri,&amp;rdquo; ungkapnya, Kamis (17/10/2024).
Selain industri, pembangunan jaringan gas untuk Rumah Tangga juga akan menjadi kunci pemerintahan baru untuk memangkas impor LPG yang selama ini banyak mengabiskan uang subsidi.

BACA JUGA:
Eksplorasi Migas: Pilar Utama untuk Menjawab Krisis Energi Nasional


Gas bumi, lanjut Iwa, akan berperan besar untuk mengurangi impor LPG yang sejauh ini masih mendominasi kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Karena itu peran pemerintah dalam membuat kebijakan yang pro pemakaian gas alam sangat dibutuhkan. Sehingga kita tidak over supply gas.
&quot;Harus dibangun transmisi gas sebagai backbone atau tulang punggung. Kedua, pemanfaatkan gas alam untuk gas kota. Jadi dua program itu yang harus dikerjakan oleh pemerintahan Probowo-Gibran,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8wMS8xLzE4MTMxMi81L3g4emc0cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Di sisi lain, Iwa menjelaskan, ketika infrastruktur ditingkatkan maka  akan semakin membuka jalan untuk optimalisasi gas bumi bagi kebutuhan  lainnya yaitu transportasi.
&amp;rdquo;Nah jalan keluar kedua adalah  mengonversi pemakaian BBM (Bahan Bakar Minyak) ke gas (BBG). Kalau kita  konversikan 250 ribu BPH (Barel per Hari) ke gas maka akan saling  menutupi. Jadi program pemerintahan ke depan yang paling penting terkait  energi adalah konversi BBM ke gas. Ada contoh negara yang berhasil  misalnya Korea Selatan,&amp;rdquo; Iwa memaparkan.
Sebab impor LPG dan impor BBM yang kebutuhannya terus meningkat akan  menjadi tantangan terbesar dalam upaya membangun kemandirian dan  ketahanan energi nasional. Sedangkan pada saat yang sama terdapat gas  bumi di dalam negeri yang bisa dioptimalkan.
&amp;rdquo;Jadi kita lihat dulu persoalan energi kita. Kalau BBM kita impornya  masih tinggi sampai 1 juta BPH, sedangkan produksi sendiri hanya 600  ribu BPH. Padahal kebutuhan BBM kita 1,6 juta BPH,&amp;rdquo; tegasnya.
Dalam konteks era transisi menuju Net Zero Emission, Iwa menjelaskan,  gas bumi juga berperan strategis dan optimalisasi energi fosil paling  bersih ini menjadi jalan terbaik. &amp;rdquo;Jika negara yang tidak punya energi  fosil pasti lebih banyak bicara energi baru terbarukan. Sedangkan  Indonesia yang kaya akan gas maka perlu dimanfaatkan secara optimal,  jadi perlu adanya keseimbangan. Memang kita tidak meninggalkan rencana  menuju energi baru terbarukan, tapi kita punya resources yang harus kita  optimalkan,&amp;rdquo; ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya  pengembangan jaringan gas bumi untuk rumah tangga atau Jargas. Menurut  Bahlil, upaya tersebut perlu dilakukan agar Indonesia tidak  ketergantungan impor.
&quot;Kita bikin Jargas. Jargas ini harus kita buat. Kalau tidak nanti  impor lagi, impor lagi, impor lagi, lama-lama mati dengan impor kita,&quot;  tegasnya.
Tantangan utama masih minimnya penggunaan gas bumi terutama untuk  rumah tangga, kata Bahlil karena infrastrukturnya belum dibangun. Negara  harus terlibat dalam upaya ini karena membutuhkan biaya investasi yang  tidak sedikit. &amp;rdquo;Karena pipanya nggak dibangun. Saya sudah minta kepada  Menteri Keuangan kemarin, pipa-pipa ini kita harus bangun sebagai jalan  tol (gas bumi),&amp;rdquo; ujarnya.
Terkait LPG, Bahlil menjelaskan, kebutuhannya saat ini mencapai 8  juta ton per tahun. Sementara produksi di dalam negeri hanya 1,7 ton per  tahun. Maka mayoritas LPG bersumber dari impor. Untuk itu optimalisasi  gas bumi perlu segera diwujudkan sebagai solusi.
Terlebih, peningkatan infrastruktur gas bumi ini sejalan dengan poin  kedua dari Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran yaitu swasembada energi  dan ekonomi hijau. Pada upaya swasembada energi, terdapat sejumlah poin  penting seperti pembangunan infrastruktur terminal penerima gas dan  jaringan transmisi/distribusi gas, serta memperluas konversi BBM kepada  gas dan listrik untuk kendaraan bermotor. Optimalisasi gas bumi ini juga  merupakan bagian dari langkah menuju Visi Emas Indonesia 2045.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Rencana pemerintah memperluas jaringan gas bumi agar pemanfaatan gas bumi bakal menguntungkan Indonesia. Besarnya penggunaan gas akan memangkas impor energi yang selama ini selalu membebani APBN.
Pengamat Energi Iwa Garniwa mengatakan, gas bumi merupakan jawaban atas persoalan impor migas yang saat ini masih terjadi. Ketersediaan serta potensi cadangan energi fosil paling bersih ini di Indonesia sangat besar sehingga akan mubazir jika tidak dioptimalkan penggunaannya.

BACA JUGA:
Jokowi Janji Tukin Pegawai ESDM Naik tapi Minta Lifting Migas Dinaikkan


&amp;rdquo;Pemerintah termasuk peran BUMN seperti Pertamina grup harus dimaksimalkan (untuk peningkatan infrastruktur dan jaringan gas bumi). Ditambah lagi jika blok-blok migas seperti Masela bisa segera diselesaikan. Ketika blok Masela sudah berproduksi, baik gas maupun kondensatnya yang tinggi bisa disalurkan untuk penuhi kebutuhan industri,&amp;rdquo; ungkapnya, Kamis (17/10/2024).
Selain industri, pembangunan jaringan gas untuk Rumah Tangga juga akan menjadi kunci pemerintahan baru untuk memangkas impor LPG yang selama ini banyak mengabiskan uang subsidi.

BACA JUGA:
Eksplorasi Migas: Pilar Utama untuk Menjawab Krisis Energi Nasional


Gas bumi, lanjut Iwa, akan berperan besar untuk mengurangi impor LPG yang sejauh ini masih mendominasi kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Karena itu peran pemerintah dalam membuat kebijakan yang pro pemakaian gas alam sangat dibutuhkan. Sehingga kita tidak over supply gas.
&quot;Harus dibangun transmisi gas sebagai backbone atau tulang punggung. Kedua, pemanfaatkan gas alam untuk gas kota. Jadi dua program itu yang harus dikerjakan oleh pemerintahan Probowo-Gibran,&amp;rdquo; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8wMS8xLzE4MTMxMi81L3g4emc0cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Di sisi lain, Iwa menjelaskan, ketika infrastruktur ditingkatkan maka  akan semakin membuka jalan untuk optimalisasi gas bumi bagi kebutuhan  lainnya yaitu transportasi.
&amp;rdquo;Nah jalan keluar kedua adalah  mengonversi pemakaian BBM (Bahan Bakar Minyak) ke gas (BBG). Kalau kita  konversikan 250 ribu BPH (Barel per Hari) ke gas maka akan saling  menutupi. Jadi program pemerintahan ke depan yang paling penting terkait  energi adalah konversi BBM ke gas. Ada contoh negara yang berhasil  misalnya Korea Selatan,&amp;rdquo; Iwa memaparkan.
Sebab impor LPG dan impor BBM yang kebutuhannya terus meningkat akan  menjadi tantangan terbesar dalam upaya membangun kemandirian dan  ketahanan energi nasional. Sedangkan pada saat yang sama terdapat gas  bumi di dalam negeri yang bisa dioptimalkan.
&amp;rdquo;Jadi kita lihat dulu persoalan energi kita. Kalau BBM kita impornya  masih tinggi sampai 1 juta BPH, sedangkan produksi sendiri hanya 600  ribu BPH. Padahal kebutuhan BBM kita 1,6 juta BPH,&amp;rdquo; tegasnya.
Dalam konteks era transisi menuju Net Zero Emission, Iwa menjelaskan,  gas bumi juga berperan strategis dan optimalisasi energi fosil paling  bersih ini menjadi jalan terbaik. &amp;rdquo;Jika negara yang tidak punya energi  fosil pasti lebih banyak bicara energi baru terbarukan. Sedangkan  Indonesia yang kaya akan gas maka perlu dimanfaatkan secara optimal,  jadi perlu adanya keseimbangan. Memang kita tidak meninggalkan rencana  menuju energi baru terbarukan, tapi kita punya resources yang harus kita  optimalkan,&amp;rdquo; ujarnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya  pengembangan jaringan gas bumi untuk rumah tangga atau Jargas. Menurut  Bahlil, upaya tersebut perlu dilakukan agar Indonesia tidak  ketergantungan impor.
&quot;Kita bikin Jargas. Jargas ini harus kita buat. Kalau tidak nanti  impor lagi, impor lagi, impor lagi, lama-lama mati dengan impor kita,&quot;  tegasnya.
Tantangan utama masih minimnya penggunaan gas bumi terutama untuk  rumah tangga, kata Bahlil karena infrastrukturnya belum dibangun. Negara  harus terlibat dalam upaya ini karena membutuhkan biaya investasi yang  tidak sedikit. &amp;rdquo;Karena pipanya nggak dibangun. Saya sudah minta kepada  Menteri Keuangan kemarin, pipa-pipa ini kita harus bangun sebagai jalan  tol (gas bumi),&amp;rdquo; ujarnya.
Terkait LPG, Bahlil menjelaskan, kebutuhannya saat ini mencapai 8  juta ton per tahun. Sementara produksi di dalam negeri hanya 1,7 ton per  tahun. Maka mayoritas LPG bersumber dari impor. Untuk itu optimalisasi  gas bumi perlu segera diwujudkan sebagai solusi.
Terlebih, peningkatan infrastruktur gas bumi ini sejalan dengan poin  kedua dari Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran yaitu swasembada energi  dan ekonomi hijau. Pada upaya swasembada energi, terdapat sejumlah poin  penting seperti pembangunan infrastruktur terminal penerima gas dan  jaringan transmisi/distribusi gas, serta memperluas konversi BBM kepada  gas dan listrik untuk kendaraan bermotor. Optimalisasi gas bumi ini juga  merupakan bagian dari langkah menuju Visi Emas Indonesia 2045.</content:encoded></item></channel></rss>
