<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Prabowo Mau Swasembada Energi, Ini Syaratnya</title><description>Sejumlah upaya harus dilakukan Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk mencapai swasembada energi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/320/3078756/prabowo-mau-swasembada-energi-ini-syaratnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/320/3078756/prabowo-mau-swasembada-energi-ini-syaratnya"/><item><title>Prabowo Mau Swasembada Energi, Ini Syaratnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/320/3078756/prabowo-mau-swasembada-energi-ini-syaratnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/320/3078756/prabowo-mau-swasembada-energi-ini-syaratnya</guid><pubDate>Jum'at 25 Oktober 2024 14:17 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/25/320/3078756/prabowo-mau-swasembada-energi-ini-syaratnya-65vZF0Rihh.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Syarat Indonesia bisa swasembada energi (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/25/320/3078756/prabowo-mau-swasembada-energi-ini-syaratnya-65vZF0Rihh.jpg</image><title>Syarat Indonesia bisa swasembada energi (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sejumlah upaya harus dilakukan Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk mencapai swasembada energi. Pemerintah wajib mendorong pembangunan infrastruktur gas bumi untuk mencapai target Swasembada Energi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita poin kedua.
Upaya ini sekaligus untuk menghindari ancaman terjadinya ironi seperti dalam hasil studi Asean Center for Energy (ACE) yang menyebut Indonesia akan menjadi net importer gas alam pada 2030 dan 2040.

BACA JUGA:
Jokowi Janji Tukin Pegawai ESDM Naik tapi Minta Lifting Migas Dinaikkan


&amp;rdquo;Mau tidak mau memang pemerintah harus semakin gencar membangun infrastruktur gas bumi. Jika pemerintah gagal mengoptimalkan gas bumi dalam negeri meskipun ada cadangan gas besar, risikonya adalah kita akan impor,&amp;rdquo; ungkap Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal, Jumat (25/10/2024).
Moshe menegaskan bahwa kunci dari optimalisasi gas bumi di dalam negeri adalah, pertama, membangun infrastruktur penyalurannya. Sebab kehadiran infrastruktur yang lebih luas akan menciptakan peningkatan demand karena penggunaannya di masyarakat baik untuk konsumen industri, masyarakat, maupun transportasi akan lebih masif.

BACA JUGA:
Ada 24 Sumur, Pencarian Harta Karun Migas di Kaltim Digeber


Ketika hal itu terwujud maka proses eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumber baru gas bumi akan semakin bergairah. Apalagi sifat dari produksi gas bumi didorong oleh permintaan atau dikenal dengan istilah demand driven.
&amp;rdquo;Kenapa tidak cari investor saja? Tidak mudah karena keekonomiannya kecil. Banyak investor yang tidak mau,&amp;rdquo; terangnya.
Sebagai contoh, Moshe menceritakan, proyek infrastruktur pipa Cirebon&amp;ndash;Semarang (Cisem) sempat mangkrak selama 18 tahun sebelum akhirnya kini berjalan menggunakan dana APBN.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8wMS8xLzE4MTMxMi81L3g4emc0cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Maka Moshe berharap pemerintah harus sigap untuk mengambil peran.  &amp;rdquo;Apapun yang tidak menarik bagi investor (padahal bersifat urgent) harus  diserap oleh APBN untuk dibangun. Ini penting untuk menyelesaikan  masalah secara permanen, bukan hanya jangka pendek melalui subsidi,&amp;rdquo;  terusnya.
Kedua, lanjut Moshe, penting bagi pemerintah untuk meningkatkan daya  tarik investasi terhadap industri dan ekosistem serta mata rantai gas  bumi. Supaya terwujud praktik yang berkelanjutan dan jangka panjang.
Adapun tantangan terbesar dalam menciptakan daya tarik ini adalah  terkait skema subsidi terutama pada program gas murah yang dikenal Harga  Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebagai salah satu faktor besar yang membuat  nilai keekonomiannya semakin kecil. Situasi ini membuat investasi di  hulu dan infrastruktur gas bumi menjadi semakin tidak menarik.
Program HGBT mematok harga jual gas bumi sebesar USD6 per MMBTU atau  jauh di bawah harga rata-rata pasar. Negara menanggung selisih melalui  subsidi dengan cara mengurangi jatah keuntungan pemerintah.
Akibatnya, seperti data yang dirilis Kementerian ESDM, tercatat  kerugian negara dari program HGBT adalah sebesar Rp57,65 Triliun sampai  semester 1 2023, terhitung sejak awal program ini dijalankan yaitu tahun  2020.
Moshe menilai bahwa akan lebih fundamental jika dana subsidinya  digunakan untuk membangun infrastruktur gas bumi. &amp;rdquo;Memang harus bertahap  sedikit demi sedikit, subsidi dikurangi, biar dana tersebut  dialokasikan untuk membangun infrastruktur,&amp;rdquo; tegasnya.
Sebab Pemerintah harus berpikir jangka panjang agar harga logistik  dan penyaluran gas bisa lebih murah. &amp;rdquo;Dan subsidi tidak permanen.  Pemerintah harus menyediakan energi agar industri dapat tumbuh besar dan  cepat secara jangka panjang. Bukan hanya memberikan subsidi yang  bersifat jangka pendek,&amp;rdquo; imbuhnya.
Senada dengan Moshe, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede,  secara terpisah mengatakan optimalisasi gas bumi di dalam negeri adalah  langkah strategis di tengah risiko geopolitik dan dinamika keuangan  global. Supaya terhindar dari ketergantungan terhadap sumber energi  impor.
Hal ini penting dijalankan supaya aktivitas ekonomi tidak rentan  gangguan eksternal. &amp;rdquo;Tanpa adanya kemandirian energi maka aktivitas  ekonomi rentan terganggu, sejalan dengan volatilitas dari berbagai harga  energi ke depan dan transmisi dampaknya ke perekonomian,&amp;rdquo; ungkapnya,  kepada wartawan.
Jika dilihat dari potensi pasarnya, kata Josua, investasi di  ekosistem gas bumi pada dasarnya bisa sangat menarik. Kuncinya ada pada  pembangunan infrastruktur yang akan membuka potensi demand dari energi  fosil paling bersih ini.
&amp;rdquo;Dengan besarnya pemintaan gas bumi dari industri manufaktur dan  besarnya potensi permintaan gas pipa untuk penggunaan rumah tangga tentu  menciptakan pasar yang menarik bagi swasta. Kami menilai pemerintah  dapat memberikan berbagai insentif untuk dapat meningkatkan  infrastruktur jaringan distribusi gas bumi,&amp;rdquo; ungkapnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sejumlah upaya harus dilakukan Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk mencapai swasembada energi. Pemerintah wajib mendorong pembangunan infrastruktur gas bumi untuk mencapai target Swasembada Energi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita poin kedua.
Upaya ini sekaligus untuk menghindari ancaman terjadinya ironi seperti dalam hasil studi Asean Center for Energy (ACE) yang menyebut Indonesia akan menjadi net importer gas alam pada 2030 dan 2040.

BACA JUGA:
Jokowi Janji Tukin Pegawai ESDM Naik tapi Minta Lifting Migas Dinaikkan


&amp;rdquo;Mau tidak mau memang pemerintah harus semakin gencar membangun infrastruktur gas bumi. Jika pemerintah gagal mengoptimalkan gas bumi dalam negeri meskipun ada cadangan gas besar, risikonya adalah kita akan impor,&amp;rdquo; ungkap Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal, Jumat (25/10/2024).
Moshe menegaskan bahwa kunci dari optimalisasi gas bumi di dalam negeri adalah, pertama, membangun infrastruktur penyalurannya. Sebab kehadiran infrastruktur yang lebih luas akan menciptakan peningkatan demand karena penggunaannya di masyarakat baik untuk konsumen industri, masyarakat, maupun transportasi akan lebih masif.

BACA JUGA:
Ada 24 Sumur, Pencarian Harta Karun Migas di Kaltim Digeber


Ketika hal itu terwujud maka proses eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumber baru gas bumi akan semakin bergairah. Apalagi sifat dari produksi gas bumi didorong oleh permintaan atau dikenal dengan istilah demand driven.
&amp;rdquo;Kenapa tidak cari investor saja? Tidak mudah karena keekonomiannya kecil. Banyak investor yang tidak mau,&amp;rdquo; terangnya.
Sebagai contoh, Moshe menceritakan, proyek infrastruktur pipa Cirebon&amp;ndash;Semarang (Cisem) sempat mangkrak selama 18 tahun sebelum akhirnya kini berjalan menggunakan dana APBN.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNi8wMS8xLzE4MTMxMi81L3g4emc0cGM=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Maka Moshe berharap pemerintah harus sigap untuk mengambil peran.  &amp;rdquo;Apapun yang tidak menarik bagi investor (padahal bersifat urgent) harus  diserap oleh APBN untuk dibangun. Ini penting untuk menyelesaikan  masalah secara permanen, bukan hanya jangka pendek melalui subsidi,&amp;rdquo;  terusnya.
Kedua, lanjut Moshe, penting bagi pemerintah untuk meningkatkan daya  tarik investasi terhadap industri dan ekosistem serta mata rantai gas  bumi. Supaya terwujud praktik yang berkelanjutan dan jangka panjang.
Adapun tantangan terbesar dalam menciptakan daya tarik ini adalah  terkait skema subsidi terutama pada program gas murah yang dikenal Harga  Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebagai salah satu faktor besar yang membuat  nilai keekonomiannya semakin kecil. Situasi ini membuat investasi di  hulu dan infrastruktur gas bumi menjadi semakin tidak menarik.
Program HGBT mematok harga jual gas bumi sebesar USD6 per MMBTU atau  jauh di bawah harga rata-rata pasar. Negara menanggung selisih melalui  subsidi dengan cara mengurangi jatah keuntungan pemerintah.
Akibatnya, seperti data yang dirilis Kementerian ESDM, tercatat  kerugian negara dari program HGBT adalah sebesar Rp57,65 Triliun sampai  semester 1 2023, terhitung sejak awal program ini dijalankan yaitu tahun  2020.
Moshe menilai bahwa akan lebih fundamental jika dana subsidinya  digunakan untuk membangun infrastruktur gas bumi. &amp;rdquo;Memang harus bertahap  sedikit demi sedikit, subsidi dikurangi, biar dana tersebut  dialokasikan untuk membangun infrastruktur,&amp;rdquo; tegasnya.
Sebab Pemerintah harus berpikir jangka panjang agar harga logistik  dan penyaluran gas bisa lebih murah. &amp;rdquo;Dan subsidi tidak permanen.  Pemerintah harus menyediakan energi agar industri dapat tumbuh besar dan  cepat secara jangka panjang. Bukan hanya memberikan subsidi yang  bersifat jangka pendek,&amp;rdquo; imbuhnya.
Senada dengan Moshe, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede,  secara terpisah mengatakan optimalisasi gas bumi di dalam negeri adalah  langkah strategis di tengah risiko geopolitik dan dinamika keuangan  global. Supaya terhindar dari ketergantungan terhadap sumber energi  impor.
Hal ini penting dijalankan supaya aktivitas ekonomi tidak rentan  gangguan eksternal. &amp;rdquo;Tanpa adanya kemandirian energi maka aktivitas  ekonomi rentan terganggu, sejalan dengan volatilitas dari berbagai harga  energi ke depan dan transmisi dampaknya ke perekonomian,&amp;rdquo; ungkapnya,  kepada wartawan.
Jika dilihat dari potensi pasarnya, kata Josua, investasi di  ekosistem gas bumi pada dasarnya bisa sangat menarik. Kuncinya ada pada  pembangunan infrastruktur yang akan membuka potensi demand dari energi  fosil paling bersih ini.
&amp;rdquo;Dengan besarnya pemintaan gas bumi dari industri manufaktur dan  besarnya potensi permintaan gas pipa untuk penggunaan rumah tangga tentu  menciptakan pasar yang menarik bagi swasta. Kami menilai pemerintah  dapat memberikan berbagai insentif untuk dapat meningkatkan  infrastruktur jaringan distribusi gas bumi,&amp;rdquo; ungkapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
