<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Siapa Pemilik Sritex? Ternyata Orang Terkaya Solo</title><description>PT Sri Rejeki Isman Tbk atau lebih dikenal sebagai Sritex adalah salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/455/3078725/siapa-pemilik-sritex-ternyata-orang-terkaya-solo</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/455/3078725/siapa-pemilik-sritex-ternyata-orang-terkaya-solo"/><item><title>Siapa Pemilik Sritex? Ternyata Orang Terkaya Solo</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/455/3078725/siapa-pemilik-sritex-ternyata-orang-terkaya-solo</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/10/25/455/3078725/siapa-pemilik-sritex-ternyata-orang-terkaya-solo</guid><pubDate>Jum'at 25 Oktober 2024 13:13 WIB</pubDate><dc:creator>Zahra Indah Safira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/10/25/455/3078725/siapa-pemilik-sritex-ternyata-orang-terkaya-solo-NmKNR3QDsu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemilik Sritex ternyata orang terakya di Solo (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/10/25/455/3078725/siapa-pemilik-sritex-ternyata-orang-terkaya-solo-NmKNR3QDsu.jpg</image><title>Pemilik Sritex ternyata orang terakya di Solo (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - PT Sri Rejeki Isman Tbk atau lebih dikenal sebagai Sritex adalah salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh H.M. Lukminto, seorang pengusaha yang memulai kariernya dari titik nol.
Lahir di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, pada 1 Juni 1946, Lukminto berasal dari keluarga Tionghoa yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Kondisi ini mengharuskan Lukminto untuk meninggalkan pendidikan formalnya saat duduk di kelas 2 SMA Chong Hua Choung Hui.

BACA JUGA:
Ini Produk Andalan Ekspor Sritex yang Kini Dinyatakan Bangkrut karena Utang


Meski pendidikannya terhenti, ia tetap bertekad untuk mengubah nasibnya melalui dunia bisnis. Dengan bermodalkan uang Rp100 ribu dari orang tuanya, Lukminto mulai berdagang kain blacu yang ia peroleh dari Semarang dan Bandung.
Kain-kain tersebut ia jual di Pasar Klewer, Pasar Kliwon yang ditawarkan kepada para pengusaha batik rumahan. Lukminto memanfaatkan peluang yang ada untuk terus mengembangkan usahanya.

BACA JUGA:
Kenapa Sritex Merugi hingga Pailit? Ini 3 Alasannya


Seiring berkembangnya usaha kecil tersebut, Lukminto melihat peluang lebih besar di industri tekstil. Dan membuka pabrik cetak kain pertamanya di Solo pada tahun 1968. Pabrik yang awalnya hanya memproduksi kain putih dan berwarna, terus berkembang dan menjadi salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wMi8xLzE4MjQxOC81L3g5ODA1YWU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pada tahun 1978, Sritex resmi terdaftar sebagai perseroan terbatas di  Kementerian Perdagangan. Lukminto mendirikan pabrik tenun pertama pada  tahun 1982, yang menjadi bagian dari pengembangan lini produksi yang  mencakup pemintalan, penenunan, hingga produksi busana jadi.
Setelah wafatnya H.M. Lukminto pada tahun 2014, kepemimpinan Sritex diteruskan oleh putranya, Iwan Setiawan Lukminto.</description><content:encoded>JAKARTA - PT Sri Rejeki Isman Tbk atau lebih dikenal sebagai Sritex adalah salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh H.M. Lukminto, seorang pengusaha yang memulai kariernya dari titik nol.
Lahir di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, pada 1 Juni 1946, Lukminto berasal dari keluarga Tionghoa yang hidup dalam kesulitan ekonomi. Kondisi ini mengharuskan Lukminto untuk meninggalkan pendidikan formalnya saat duduk di kelas 2 SMA Chong Hua Choung Hui.

BACA JUGA:
Ini Produk Andalan Ekspor Sritex yang Kini Dinyatakan Bangkrut karena Utang


Meski pendidikannya terhenti, ia tetap bertekad untuk mengubah nasibnya melalui dunia bisnis. Dengan bermodalkan uang Rp100 ribu dari orang tuanya, Lukminto mulai berdagang kain blacu yang ia peroleh dari Semarang dan Bandung.
Kain-kain tersebut ia jual di Pasar Klewer, Pasar Kliwon yang ditawarkan kepada para pengusaha batik rumahan. Lukminto memanfaatkan peluang yang ada untuk terus mengembangkan usahanya.

BACA JUGA:
Kenapa Sritex Merugi hingga Pailit? Ini 3 Alasannya


Seiring berkembangnya usaha kecil tersebut, Lukminto melihat peluang lebih besar di industri tekstil. Dan membuka pabrik cetak kain pertamanya di Solo pada tahun 1968. Pabrik yang awalnya hanya memproduksi kain putih dan berwarna, terus berkembang dan menjadi salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8wNy8wMi8xLzE4MjQxOC81L3g5ODA1YWU=&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Pada tahun 1978, Sritex resmi terdaftar sebagai perseroan terbatas di  Kementerian Perdagangan. Lukminto mendirikan pabrik tenun pertama pada  tahun 1982, yang menjadi bagian dari pengembangan lini produksi yang  mencakup pemintalan, penenunan, hingga produksi busana jadi.
Setelah wafatnya H.M. Lukminto pada tahun 2014, kepemimpinan Sritex diteruskan oleh putranya, Iwan Setiawan Lukminto.</content:encoded></item></channel></rss>
