<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gabung BRICS, Kadin: Indonesia Aktif di Mana-Mana</title><description>Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie merespons wacana Indonesia yang bergabung ke BRICS.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/02/320/3081383/gabung-brics-kadin-indonesia-aktif-di-mana-mana</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/11/02/320/3081383/gabung-brics-kadin-indonesia-aktif-di-mana-mana"/><item><title>Gabung BRICS, Kadin: Indonesia Aktif di Mana-Mana</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/02/320/3081383/gabung-brics-kadin-indonesia-aktif-di-mana-mana</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/11/02/320/3081383/gabung-brics-kadin-indonesia-aktif-di-mana-mana</guid><pubDate>Sabtu 02 November 2024 08:20 WIB</pubDate><dc:creator> Muhammad Farhan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/11/02/320/3081383/gabung-brics-kadin-indonesia-aktif-di-mana-mana-Lu4Xtt61Yx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Respons Anindya Bakrie soal RI gabung BRICS (Foto: MPI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/11/02/320/3081383/gabung-brics-kadin-indonesia-aktif-di-mana-mana-Lu4Xtt61Yx.jpg</image><title>Respons Anindya Bakrie soal RI gabung BRICS (Foto: MPI)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie merespons wacana Indonesia yang bergabung ke BRICS. Anindya mengatakan secara konstitusi, kebijakan luar negeri Indonesia berbasis bebas aktif.
Dia menjelaskan Indonesia tidak menghendaki memiliki hubungan aliansi khusus tertentu terhadap kelompok-kelompok negara. Ia menyebutkan meski wacana BRICS itu hadir, Indonesia juga tetap aktif dalam keanggotaan di APEC, G20, IPAF (Indo-Pacific Economic Framework) dan OECD.

BACA JUGA:
Riwayat Pendidikan Menlu Sugiono, Anak Ideologis Prabowo yang Tampil di KTT BRICS


&quot;Nah, Indonesia ini kan aktif di mana-mana. Tadi kita bicara bagiannya dari APEC, bagiannya dari G20, dan juga IPAF, juga ada BRICS adalah salah satunya lagi. Belum lagi juga di OECD kita juga lagi mau accession atau aksesi kepada membership di sana,&quot; terang Anindya di Jakarta, Jumat Malam (1/11/2024).
Bagi Anindya, peran Indonesia yang aktif dalam beberapa organisasi multilateral sebagai upaya untuk memperoleh investasi dan potensi perdagangan internasional yang luas.

BACA JUGA:
Kewajiban Indonesia Jika Bergabung sebagai Mitra Utama BRICS


&quot;Saya rasa kita lihat yang paling penting adalah begini ya, Indonesia ini untuk berkembang membutuhkan satu, investasi, dan kedua, pasar yang luas itu perdagangan,&quot; katanya.
&quot;Nah, dua hal ini sangat dibutuhkan dan kita melihat bisa dihadirkan dengan upaya-upaya membangun aliansi dengan negara-negara lain, tapi secara multilateral,&quot; sambung Anindya.
Sekadar informasi, Kadin Indonesia menghelat reception dinner di Hotel Indonesia Kempinski, pada Jumat malam (1/11/2024). Dalam gelaran acara yang bertemakan Strengtening Indonesia's Diplomacy through Global Partnership and Collaboration, Kadin Indonesia mengundang sejumlah menteri beserta 80 Duta besar dan representasi negara-negara sahabat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMC8yNi8xLzE4NjM2MC8zL2FVZUEteldiMy1r&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Anindya Bakrie mengatakan acara Reception Dinner ini menjadi agenda  pertama sejak pemerintahan Presiden Prabowo. Anindya menyebut gelaran  acara tersebut menjadi penting khususnya dalam memperkuat hubungan  diplomasi Indonesia dengan negara lain.
&quot;Jadi saya lihat hal-hal seperti ini pentingnya apa buat Indonesia?  Satu, tentunya bisa membawa mudah-mudahan investasi ke Indonesia yang  sangat dibutuhkan atau FDI (Foreign Direct Investment) bisa disebut,&quot;  tegas dia.
Anindya melanjutkan, perhelatan pertemuan dengan duta besar dan  negara sahabat itu, juga berpotensi membuka pasar melalui pencarian  mitra dagang yang lebih intens dan harmonis. Selain itu, dia mengatakan  pertemuan tersebut dapat membuka peluang industrialisasi Indonesia  terutama dari sisi ekspor.
&quot;Saya rasa penting juga untuk sama-sama mengedepankan industrialisasi  yang berbasis ekspor tadi tapi juga di industri yang penuh dengan  transformasi. Jadi semua itu dimulai dengan hubungan baik dengan  negara-negara tersebut dan ini dimulai dengan acara-acara seperti ini,&quot;  tutur Anindya.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie merespons wacana Indonesia yang bergabung ke BRICS. Anindya mengatakan secara konstitusi, kebijakan luar negeri Indonesia berbasis bebas aktif.
Dia menjelaskan Indonesia tidak menghendaki memiliki hubungan aliansi khusus tertentu terhadap kelompok-kelompok negara. Ia menyebutkan meski wacana BRICS itu hadir, Indonesia juga tetap aktif dalam keanggotaan di APEC, G20, IPAF (Indo-Pacific Economic Framework) dan OECD.

BACA JUGA:
Riwayat Pendidikan Menlu Sugiono, Anak Ideologis Prabowo yang Tampil di KTT BRICS


&quot;Nah, Indonesia ini kan aktif di mana-mana. Tadi kita bicara bagiannya dari APEC, bagiannya dari G20, dan juga IPAF, juga ada BRICS adalah salah satunya lagi. Belum lagi juga di OECD kita juga lagi mau accession atau aksesi kepada membership di sana,&quot; terang Anindya di Jakarta, Jumat Malam (1/11/2024).
Bagi Anindya, peran Indonesia yang aktif dalam beberapa organisasi multilateral sebagai upaya untuk memperoleh investasi dan potensi perdagangan internasional yang luas.

BACA JUGA:
Kewajiban Indonesia Jika Bergabung sebagai Mitra Utama BRICS


&quot;Saya rasa kita lihat yang paling penting adalah begini ya, Indonesia ini untuk berkembang membutuhkan satu, investasi, dan kedua, pasar yang luas itu perdagangan,&quot; katanya.
&quot;Nah, dua hal ini sangat dibutuhkan dan kita melihat bisa dihadirkan dengan upaya-upaya membangun aliansi dengan negara-negara lain, tapi secara multilateral,&quot; sambung Anindya.
Sekadar informasi, Kadin Indonesia menghelat reception dinner di Hotel Indonesia Kempinski, pada Jumat malam (1/11/2024). Dalam gelaran acara yang bertemakan Strengtening Indonesia's Diplomacy through Global Partnership and Collaboration, Kadin Indonesia mengundang sejumlah menteri beserta 80 Duta besar dan representasi negara-negara sahabat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMC8yNi8xLzE4NjM2MC8zL2FVZUEteldiMy1r&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Anindya Bakrie mengatakan acara Reception Dinner ini menjadi agenda  pertama sejak pemerintahan Presiden Prabowo. Anindya menyebut gelaran  acara tersebut menjadi penting khususnya dalam memperkuat hubungan  diplomasi Indonesia dengan negara lain.
&quot;Jadi saya lihat hal-hal seperti ini pentingnya apa buat Indonesia?  Satu, tentunya bisa membawa mudah-mudahan investasi ke Indonesia yang  sangat dibutuhkan atau FDI (Foreign Direct Investment) bisa disebut,&quot;  tegas dia.
Anindya melanjutkan, perhelatan pertemuan dengan duta besar dan  negara sahabat itu, juga berpotensi membuka pasar melalui pencarian  mitra dagang yang lebih intens dan harmonis. Selain itu, dia mengatakan  pertemuan tersebut dapat membuka peluang industrialisasi Indonesia  terutama dari sisi ekspor.
&quot;Saya rasa penting juga untuk sama-sama mengedepankan industrialisasi  yang berbasis ekspor tadi tapi juga di industri yang penuh dengan  transformasi. Jadi semua itu dimulai dengan hubungan baik dengan  negara-negara tersebut dan ini dimulai dengan acara-acara seperti ini,&quot;  tutur Anindya.</content:encoded></item></channel></rss>
