<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sri Mulyani Tarik Utang Baru Rp438,1 Triliun, Ini Rinciannya</title><description>Menteri Keuangan Sri Mulyani mencatat pembiayaan utang atau penarikan  utang baru mencapai Rp438,1 triliun hingga akhir Oktober 2024.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/08/320/3083752/sri-mulyani-tarik-utang-baru-rp438-1-triliun-ini-rinciannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/11/08/320/3083752/sri-mulyani-tarik-utang-baru-rp438-1-triliun-ini-rinciannya"/><item><title>Sri Mulyani Tarik Utang Baru Rp438,1 Triliun, Ini Rinciannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/08/320/3083752/sri-mulyani-tarik-utang-baru-rp438-1-triliun-ini-rinciannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/11/08/320/3083752/sri-mulyani-tarik-utang-baru-rp438-1-triliun-ini-rinciannya</guid><pubDate>Jum'at 08 November 2024 19:15 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/11/08/320/3083752/sri-mulyani-tarik-utang-baru-rp438-1-triliun-ini-rinciannya-RwCNYNSRM8.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Sri Mulyani tarik utang baru Rp438,1 triliun (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/11/08/320/3083752/sri-mulyani-tarik-utang-baru-rp438-1-triliun-ini-rinciannya-RwCNYNSRM8.jpeg</image><title>Sri Mulyani tarik utang baru Rp438,1 triliun (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mencatat pembiayaan utang atau penarikan utang baru mencapai Rp438,1 triliun hingga akhir Oktober 2024.
Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono mengatakan, realisasi ini setara 67,6% dari target penarikan utang tahun ini yang sebesar Rp648,1 triliun.

BACA JUGA:
APBN Defisit Rp309 Triliun per Oktober 2024, Sri Mulyani: Ini Masih Kecil


&quot;Kinerja pembiayaan ini tetap on track dan dikelola secara efisien dengan menjaga risiko tetap dalam batas terkendali,&quot; ujar Thomas dalam konferensi pers APBN KiTA, Jumat (8/11/2024).
Secara rinci, dari total tersebut, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp394,9 triliun. Ini mencapai 59,3% terhadap APBN atau tumbuh tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp185,42 triliun.

BACA JUGA:
Maruarar Sirait Ingin Sri Mulyani Bebaskan Pajak Rumah


Sementara itu, realisasi utang yang berasal dari pinjaman (neto) mencapai Rp 43,2 triliun atau 235,3% terhadap APBN. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp16,90 triliun.
&quot;Ini masih tetap on track dengan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas anggaran,&quot; kata Thomas.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMS8wMS8xLzE4NjQ4NC8zL25MTFFFVWJHT3Zj&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Thomas juga memastikan pembiayaan anggaran dilakukan secara prudent  dengan mempertimbangkan defisit APBN 2024 dan kondisi likuiditas  pemerintah.
&quot;Secara keseluruhan langkah-langkah pembiayaan ini telah dilakukan  untuk mendukung arah dan target APBN, di mana pembiayaan 2024 dikelola  secara terukur dan antisipatif mempertimbangkan outlook defisit APBN dan  likuiditas pemerintah, serta mencermati dinamika pasar keuangan,&quot;  jelasnya.
Perlu diketahui, kenaikan pembiayaan utang pemerintah ini selaras  dengan defisit APBN yang semakin melebar. Tercatat, defisit APBN hingga  Oktober 2024 sebesar Rp309,2 triliun atau setara 1,37% terhadap Produk  Domestik Bruto (PDB).</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani mencatat pembiayaan utang atau penarikan utang baru mencapai Rp438,1 triliun hingga akhir Oktober 2024.
Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono mengatakan, realisasi ini setara 67,6% dari target penarikan utang tahun ini yang sebesar Rp648,1 triliun.

BACA JUGA:
APBN Defisit Rp309 Triliun per Oktober 2024, Sri Mulyani: Ini Masih Kecil


&quot;Kinerja pembiayaan ini tetap on track dan dikelola secara efisien dengan menjaga risiko tetap dalam batas terkendali,&quot; ujar Thomas dalam konferensi pers APBN KiTA, Jumat (8/11/2024).
Secara rinci, dari total tersebut, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp394,9 triliun. Ini mencapai 59,3% terhadap APBN atau tumbuh tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp185,42 triliun.

BACA JUGA:
Maruarar Sirait Ingin Sri Mulyani Bebaskan Pajak Rumah


Sementara itu, realisasi utang yang berasal dari pinjaman (neto) mencapai Rp 43,2 triliun atau 235,3% terhadap APBN. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp16,90 triliun.
&quot;Ini masih tetap on track dengan tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas anggaran,&quot; kata Thomas.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMS8wMS8xLzE4NjQ4NC8zL25MTFFFVWJHT3Zj&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Thomas juga memastikan pembiayaan anggaran dilakukan secara prudent  dengan mempertimbangkan defisit APBN 2024 dan kondisi likuiditas  pemerintah.
&quot;Secara keseluruhan langkah-langkah pembiayaan ini telah dilakukan  untuk mendukung arah dan target APBN, di mana pembiayaan 2024 dikelola  secara terukur dan antisipatif mempertimbangkan outlook defisit APBN dan  likuiditas pemerintah, serta mencermati dinamika pasar keuangan,&quot;  jelasnya.
Perlu diketahui, kenaikan pembiayaan utang pemerintah ini selaras  dengan defisit APBN yang semakin melebar. Tercatat, defisit APBN hingga  Oktober 2024 sebesar Rp309,2 triliun atau setara 1,37% terhadap Produk  Domestik Bruto (PDB).</content:encoded></item></channel></rss>
