<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>3 Tantangan Industri Pelayaran dari Perang Ukraina, Timur Tengah hingga Perang Tarif China-AS</title><description>Industri pelayaran menghadapi tiga tantangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/16/320/3086453/3-tantangan-industri-pelayaran-dari-perang-ukraina-timur-tengah-hingga-perang-tarif-china-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/11/16/320/3086453/3-tantangan-industri-pelayaran-dari-perang-ukraina-timur-tengah-hingga-perang-tarif-china-as"/><item><title>3 Tantangan Industri Pelayaran dari Perang Ukraina, Timur Tengah hingga Perang Tarif China-AS</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/16/320/3086453/3-tantangan-industri-pelayaran-dari-perang-ukraina-timur-tengah-hingga-perang-tarif-china-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/11/16/320/3086453/3-tantangan-industri-pelayaran-dari-perang-ukraina-timur-tengah-hingga-perang-tarif-china-as</guid><pubDate>Sabtu 16 November 2024 15:33 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/11/16/320/3086453/3-tantangan-industri-pelayaran-dari-perang-ukraina-timur-tengah-hingga-perang-tarif-china-as-kYpCWcpaIO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Industri pelayaran dunia hadapi tiga tantangan (Foto: PIS)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/11/16/320/3086453/3-tantangan-industri-pelayaran-dari-perang-ukraina-timur-tengah-hingga-perang-tarif-china-as-kYpCWcpaIO.jpg</image><title>Industri pelayaran dunia hadapi tiga tantangan (Foto: PIS)</title></images><description>JAKARTA - Industri pelayaran menghadapi tiga tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik akibat perang di Ukraina dan Timur Tengah, perang tarif antara Amerika Serikat dan China, dan dampak perubahan iklim.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor maritim, PT Pertamina International Shipping (PIS) pun menyiapkan sejumlah strategi untuk mengatasi tantangan disrupsi rantai pasok energi. Mulai dari perkembangan teknologi hingga ketegangan geopolitik global.

BACA JUGA:
Perusahaan Pelayaran Tommy Soeharto Akuisisi Kapal Tanker Minyak


&quot;PIS sangat memahami dampak negatif dari ketegangan-ketegangan tersebut. Kami merasakan urgensi untuk terus beradaptasi di tengah situasi yang semakin tidak menentu,&amp;rdquo; ujar Yoki, yang menjadi salah satu pembicara di forum CEO ADIPEC bertajuk &quot;Winds of Change in Global Trade and The Role of Shipping for Economic Stability,&quot; ujar CEO PIS Yoki Firnandi, Jumat (14/11/2024).
Ketegangan yang timbul akibat agresi militer Rusia telah memberikan dampak besar terhadap rantai pasokan energi global. Sebagai respon, negara-negara Uni Eropa menerapkan kebijakan yang membatasi pergerakan kapal-kapal Rusia.

BACA JUGA:
RI Atur Sistem Pelayaran, Kapal Tak Bisa Sembarangan Melintas di Laut


Kebijakan ini menyebabkan lonjakan signifikan dalam aktivitas kapal gelap (ghost ships), yaitu kapal yang beroperasi dengan mematikan sistem AIS (Automatic Identification System), yang mempersulit pihak berwenang untuk mengidentifikasi keberadaan kapal tersebut. Hal ini tentunya meningkatkan risiko kecelakaan di perairan internasional.
&amp;ldquo;PIS secara rutin melakukan berbagai sistem verifikasi untuk memastikan kami mengetahui dengan jelas latar belakang kapal yang kami sewa dari pihak ketiga. Dalam proses pengadaan kapal charter, kami memeriksa riwayat kepemilikan kapal, termasuk sejarah operasional dan reputasi pemilik kargo. PIS juga secara berkala memantau potensi risiko yang ada serta langkah-langkah mitigasi yang perlu diambil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,&amp;rdquo; tambah Yoki.
Sementara itu, dalam menghadapi tantangan yang juga semakin beragam, lPIS telah mengoptimalkan digitalisasi serta menggunakan berbagai teknologi mutakhir seperti artificial intelligence (AI) yang memungkinkan pengawasan secara real-time dan akurat terhadap kapal-kapal PIS saat berlayar di daerah rawan.
PIS juga menggalakkan upaya diversifikasi rute, khususnya di  negara-negara Afrika dan Eropa. Untuk memuluskan upaya tersebut, saat  ini PIS telah memiliki tiga kantor perwakilan di Singapura (PIS Asia  Pacific), Dubai (PIS Middle East), dan London (PIS Europe). Letak ketiga  kantor perwakilan yang berada di titik-titik strategis diharapkan dapat  meningkatkan jaringan dan rute internasional PIS. Sebagai informasi,  PIS baru saja membuka rute baru ke negara-negara baltik. Hingga saat  ini, PIS telah berlayar ke 65 rute internasional.
Selain melalui diversifikasi rute, PIS juga tengah meningkatkan  presentasi kargo hijau dalam keseluruhan operasi bisnisnya. Bahkan, PIS  menargetkan peningkatan pendapatan bisnis hijau ke angka 34% terhadap  keseluruhan pendapatan perusahaan. Strategi PIS untuk meningkatkan  kontribusi bisnis hijau adalah melalui pasar bahan bakar hijau, yakni  LNG, LPG, dan Amonia.
Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, PIS memiliki target untuk  menurunkan tingkat CO2 yang dihasilkan dari operasional perusahaan  hingga 32% pada 2034. Untuk mendukung realisasi target tersebut, Yoki  menyatakan bahwa PIS telah melakukan sejumlah inovasi khusus untuk  mengurangi produksi emisi karbon dalam seluruh lini bisnisnya. Seperti  pengembangan teknologi energy saving devices, pengembangan desain kapal  yang ramah lingkungan, dan teknologi dual-fuel yang meningkatkan  efisiensi konsumsi bahan bakar kapal hingga 30%.
Dalam penutupnya, Yoki menegaskan pentingnya kolaborasi antar pihak  dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik serta ekonomi yang memiliki  dampak negatif terhadap masa depan industri maritim.
&amp;ldquo;Kami sadar betul di era globalisasi yang semakin terhubung seperti  saat ini, PIS tidak bisa menghadapi berbagai tantangan tersebut  sendirian. Kami melihat pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan  baik dari sisi regulator maupun pelaku industri untuk duduk bersama dan  bekerjasama bahu-membahu untuk mencari solusi terbaik, tidak hanya bagi  masa depan industri shipping, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat  dunia,&amp;rdquo; ujar Yoki.</description><content:encoded>JAKARTA - Industri pelayaran menghadapi tiga tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik akibat perang di Ukraina dan Timur Tengah, perang tarif antara Amerika Serikat dan China, dan dampak perubahan iklim.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor maritim, PT Pertamina International Shipping (PIS) pun menyiapkan sejumlah strategi untuk mengatasi tantangan disrupsi rantai pasok energi. Mulai dari perkembangan teknologi hingga ketegangan geopolitik global.

BACA JUGA:
Perusahaan Pelayaran Tommy Soeharto Akuisisi Kapal Tanker Minyak


&quot;PIS sangat memahami dampak negatif dari ketegangan-ketegangan tersebut. Kami merasakan urgensi untuk terus beradaptasi di tengah situasi yang semakin tidak menentu,&amp;rdquo; ujar Yoki, yang menjadi salah satu pembicara di forum CEO ADIPEC bertajuk &quot;Winds of Change in Global Trade and The Role of Shipping for Economic Stability,&quot; ujar CEO PIS Yoki Firnandi, Jumat (14/11/2024).
Ketegangan yang timbul akibat agresi militer Rusia telah memberikan dampak besar terhadap rantai pasokan energi global. Sebagai respon, negara-negara Uni Eropa menerapkan kebijakan yang membatasi pergerakan kapal-kapal Rusia.

BACA JUGA:
RI Atur Sistem Pelayaran, Kapal Tak Bisa Sembarangan Melintas di Laut


Kebijakan ini menyebabkan lonjakan signifikan dalam aktivitas kapal gelap (ghost ships), yaitu kapal yang beroperasi dengan mematikan sistem AIS (Automatic Identification System), yang mempersulit pihak berwenang untuk mengidentifikasi keberadaan kapal tersebut. Hal ini tentunya meningkatkan risiko kecelakaan di perairan internasional.
&amp;ldquo;PIS secara rutin melakukan berbagai sistem verifikasi untuk memastikan kami mengetahui dengan jelas latar belakang kapal yang kami sewa dari pihak ketiga. Dalam proses pengadaan kapal charter, kami memeriksa riwayat kepemilikan kapal, termasuk sejarah operasional dan reputasi pemilik kargo. PIS juga secara berkala memantau potensi risiko yang ada serta langkah-langkah mitigasi yang perlu diambil untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,&amp;rdquo; tambah Yoki.
Sementara itu, dalam menghadapi tantangan yang juga semakin beragam, lPIS telah mengoptimalkan digitalisasi serta menggunakan berbagai teknologi mutakhir seperti artificial intelligence (AI) yang memungkinkan pengawasan secara real-time dan akurat terhadap kapal-kapal PIS saat berlayar di daerah rawan.
PIS juga menggalakkan upaya diversifikasi rute, khususnya di  negara-negara Afrika dan Eropa. Untuk memuluskan upaya tersebut, saat  ini PIS telah memiliki tiga kantor perwakilan di Singapura (PIS Asia  Pacific), Dubai (PIS Middle East), dan London (PIS Europe). Letak ketiga  kantor perwakilan yang berada di titik-titik strategis diharapkan dapat  meningkatkan jaringan dan rute internasional PIS. Sebagai informasi,  PIS baru saja membuka rute baru ke negara-negara baltik. Hingga saat  ini, PIS telah berlayar ke 65 rute internasional.
Selain melalui diversifikasi rute, PIS juga tengah meningkatkan  presentasi kargo hijau dalam keseluruhan operasi bisnisnya. Bahkan, PIS  menargetkan peningkatan pendapatan bisnis hijau ke angka 34% terhadap  keseluruhan pendapatan perusahaan. Strategi PIS untuk meningkatkan  kontribusi bisnis hijau adalah melalui pasar bahan bakar hijau, yakni  LNG, LPG, dan Amonia.
Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, PIS memiliki target untuk  menurunkan tingkat CO2 yang dihasilkan dari operasional perusahaan  hingga 32% pada 2034. Untuk mendukung realisasi target tersebut, Yoki  menyatakan bahwa PIS telah melakukan sejumlah inovasi khusus untuk  mengurangi produksi emisi karbon dalam seluruh lini bisnisnya. Seperti  pengembangan teknologi energy saving devices, pengembangan desain kapal  yang ramah lingkungan, dan teknologi dual-fuel yang meningkatkan  efisiensi konsumsi bahan bakar kapal hingga 30%.
Dalam penutupnya, Yoki menegaskan pentingnya kolaborasi antar pihak  dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik serta ekonomi yang memiliki  dampak negatif terhadap masa depan industri maritim.
&amp;ldquo;Kami sadar betul di era globalisasi yang semakin terhubung seperti  saat ini, PIS tidak bisa menghadapi berbagai tantangan tersebut  sendirian. Kami melihat pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan  baik dari sisi regulator maupun pelaku industri untuk duduk bersama dan  bekerjasama bahu-membahu untuk mencari solusi terbaik, tidak hanya bagi  masa depan industri shipping, tetapi juga bagi kesejahteraan masyarakat  dunia,&amp;rdquo; ujar Yoki.</content:encoded></item></channel></rss>
