<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laba Perbankan Tertekan, Ini Penyebabnya</title><description>Tingginya biaya dana berdampak pada penurunan laba di sejumlah perbankan nasional.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/19/320/3087331/laba-perbankan-tertekan-ini-penyebabnya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/11/19/320/3087331/laba-perbankan-tertekan-ini-penyebabnya"/><item><title>Laba Perbankan Tertekan, Ini Penyebabnya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/19/320/3087331/laba-perbankan-tertekan-ini-penyebabnya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/11/19/320/3087331/laba-perbankan-tertekan-ini-penyebabnya</guid><pubDate>Selasa 19 November 2024 12:53 WIB</pubDate><dc:creator>Muhammad Akbar Malik</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/11/19/320/3087331/laba-perbankan-tertekan-ini-penyebabnya-CPdI4UNPYS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penyebab laba perbankan di Indonesia turun (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/11/19/320/3087331/laba-perbankan-tertekan-ini-penyebabnya-CPdI4UNPYS.jpg</image><title>Penyebab laba perbankan di Indonesia turun (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Tingginya biaya dana berdampak pada penurunan laba di sejumlah perbankan nasional. Mahalnya biaya dana atau cost of fund di satu sisi dan rendahnya pertumbuhan pendapatan bunga di sisi yang lain telah menjadi biang kerok dari tekanan terhadap laba sejumlah bank tersebut.
Hal itu tercermin dalam kinerja sejumlah bank papan menengah hingga sembilan bulan pertama tahun 2024. Sebagai contoh, bank yang masih bertengger di posisi 10 terbesar dari segi aset, yakni PT Bank Danamon Indonesia Tbk, mencatat penurunan laba bersih sebesar 8,96% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp2,33 triliun pada akhir September 2024.

BACA JUGA:
Bos Citibank Buka-bukaan soal Ketahanan Sektor Perbankan di RI


Jika ditilik dari pendapatan bunga, Danamon masih membukukan pertumbuhan sebesar 18,48% per kuartal III-2024. Namun, beban bunganya meningkat lebih tinggi, yakni 51,11% yoy, sehingga pendapatan bunga bersihnya (net interest income) hanya tumbuh sebesar 4,89%.
Hal serupa terjadi pada PT Bank Maybank Indonesia Tbk, yang berada di peringkat 14 terbesar dari segi aset. Pada kuartal III-2024, Maybank Indonesia mencatat penurunan laba bersih sebesar 55,2% menjadi Rp558 miliar.

BACA JUGA:
Bank Muamalat Berhasil Kembangkan Layanan Perbankan Digital


Bank berkategori KBMI III tersebut masih mampu membukukan pertumbuhan pendapatan bunga sebesar 10,2% menjadi Rp9,65 triliun per akhir September 2024. Hanya saja, beban bunganya mencuat sebesar 29,1% menjadi Rp4,32 triliun, sehingga menekan pendapatan bunga bersihnya yang menurun 1,5%.
Sementara, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan perolehan laba bersih secara bank only sebesar Rp1,80 triliun per Agustus 2024. Jumlah ini turun 10% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 2 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sejumlah pengamat telah menyebutkan faktor-faktor yang menjadi penyebab penyusutan laba di sejumlah bank di Indonesia. Selain karena suku bunga acuan yang belum turun banyak pada tahun ini, beberapa tekanan eksternal seperti kondisi geopolitik yang memanas, inflasi global, dan nilai tukar rupiah yang melemah masih terus memengaruhi kinerja laba perbankan.
Di tengah kondisi tersebut, perbankan masih harus berebut dana murah  untuk dapat memperbaiki struktur biaya dana mereka. Problemnya,  pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) secara nasional pun sulit mengejar  pertumbuhan kredit yang masih double-digit.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan DPK  industri perbankan nasional per September 2024 tercatat sebesar 7,04%  yoy menjadi Rp8.720 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan  meningkat 10,85% yoy menjadi Rp7.579 triliun pada periode yang sama.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae,  kondisi tersebut terjadi karena dunia usaha sebetulnya tengah bergerak.
&amp;ldquo;Pertumbuhan DPK yang lebih rendah dibandingkan kredit mencerminkan  kebutuhan ekspansi usaha yang lebih tinggi dibandingkan kebutuhan  menyimpan dana yang coba mencerminkan normalisasi dunia usaha,&amp;rdquo; ujarnya  belum lama ini.
Secara umum, bank-bank papan atas dan menengah masih optimistis bahwa  mereka mampu mencatat pertumbuhan DPK di atas rata-rata industri.  Sebagai contoh, BTN yang pertumbuhan DPK-nya mencapai 16,4% secara  tahunan menjadi Rp373,8 triliun hingga Agustus 2024.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebutkan, pertumbuhan DPK  BTN masih berpotensi tumbuh di atas industri hingga akhir tahun.
BTN juga menjadi bank yang terus berupaya memperbaiki struktur  pendanaannya agar bisa semakin meningkatkan dana murah dan memperbaiki  marginnya. Terlebih lagi, kata Nixon, BTN merupakan bank yang berbeda  dengan bank-bank pada umumnya, karena tugas yang diemban BTN sebagai  bank pelaksana penyaluran KPR subsidi yang suku bunganya dipatok  maksimal di level 5% untuk program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan  Perumahan (FLPP).
Dengan mayoritas portofolio disalurkan untuk KPR subsdi, kata Nixon,  BTN tidak bisa serta-merta menaikkan suku bunga kredit untuk  mengkompensasi kenaikan biaya dana.
&amp;ldquo;BTN memang bank yang berbeda, dalam arti NIM BTN tidak akan sampai  di atas 4% atau bahkan 5% karena suku bunga FLPP itu dipatok di maksimal  5%. Dengan suku bunga yang sudah dibatasi, NIM BTN akan berada di  sekitar 3,2% hingga 3,5%,&amp;rdquo; ujar Nixon dalam paparannya saat Rapat Dengar  Pendapat dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Tingginya biaya dana berdampak pada penurunan laba di sejumlah perbankan nasional. Mahalnya biaya dana atau cost of fund di satu sisi dan rendahnya pertumbuhan pendapatan bunga di sisi yang lain telah menjadi biang kerok dari tekanan terhadap laba sejumlah bank tersebut.
Hal itu tercermin dalam kinerja sejumlah bank papan menengah hingga sembilan bulan pertama tahun 2024. Sebagai contoh, bank yang masih bertengger di posisi 10 terbesar dari segi aset, yakni PT Bank Danamon Indonesia Tbk, mencatat penurunan laba bersih sebesar 8,96% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp2,33 triliun pada akhir September 2024.

BACA JUGA:
Bos Citibank Buka-bukaan soal Ketahanan Sektor Perbankan di RI


Jika ditilik dari pendapatan bunga, Danamon masih membukukan pertumbuhan sebesar 18,48% per kuartal III-2024. Namun, beban bunganya meningkat lebih tinggi, yakni 51,11% yoy, sehingga pendapatan bunga bersihnya (net interest income) hanya tumbuh sebesar 4,89%.
Hal serupa terjadi pada PT Bank Maybank Indonesia Tbk, yang berada di peringkat 14 terbesar dari segi aset. Pada kuartal III-2024, Maybank Indonesia mencatat penurunan laba bersih sebesar 55,2% menjadi Rp558 miliar.

BACA JUGA:
Bank Muamalat Berhasil Kembangkan Layanan Perbankan Digital


Bank berkategori KBMI III tersebut masih mampu membukukan pertumbuhan pendapatan bunga sebesar 10,2% menjadi Rp9,65 triliun per akhir September 2024. Hanya saja, beban bunganya mencuat sebesar 29,1% menjadi Rp4,32 triliun, sehingga menekan pendapatan bunga bersihnya yang menurun 1,5%.
Sementara, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan perolehan laba bersih secara bank only sebesar Rp1,80 triliun per Agustus 2024. Jumlah ini turun 10% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 2 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sejumlah pengamat telah menyebutkan faktor-faktor yang menjadi penyebab penyusutan laba di sejumlah bank di Indonesia. Selain karena suku bunga acuan yang belum turun banyak pada tahun ini, beberapa tekanan eksternal seperti kondisi geopolitik yang memanas, inflasi global, dan nilai tukar rupiah yang melemah masih terus memengaruhi kinerja laba perbankan.
Di tengah kondisi tersebut, perbankan masih harus berebut dana murah  untuk dapat memperbaiki struktur biaya dana mereka. Problemnya,  pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) secara nasional pun sulit mengejar  pertumbuhan kredit yang masih double-digit.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan DPK  industri perbankan nasional per September 2024 tercatat sebesar 7,04%  yoy menjadi Rp8.720 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan  meningkat 10,85% yoy menjadi Rp7.579 triliun pada periode yang sama.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae,  kondisi tersebut terjadi karena dunia usaha sebetulnya tengah bergerak.
&amp;ldquo;Pertumbuhan DPK yang lebih rendah dibandingkan kredit mencerminkan  kebutuhan ekspansi usaha yang lebih tinggi dibandingkan kebutuhan  menyimpan dana yang coba mencerminkan normalisasi dunia usaha,&amp;rdquo; ujarnya  belum lama ini.
Secara umum, bank-bank papan atas dan menengah masih optimistis bahwa  mereka mampu mencatat pertumbuhan DPK di atas rata-rata industri.  Sebagai contoh, BTN yang pertumbuhan DPK-nya mencapai 16,4% secara  tahunan menjadi Rp373,8 triliun hingga Agustus 2024.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyebutkan, pertumbuhan DPK  BTN masih berpotensi tumbuh di atas industri hingga akhir tahun.
BTN juga menjadi bank yang terus berupaya memperbaiki struktur  pendanaannya agar bisa semakin meningkatkan dana murah dan memperbaiki  marginnya. Terlebih lagi, kata Nixon, BTN merupakan bank yang berbeda  dengan bank-bank pada umumnya, karena tugas yang diemban BTN sebagai  bank pelaksana penyaluran KPR subsidi yang suku bunganya dipatok  maksimal di level 5% untuk program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan  Perumahan (FLPP).
Dengan mayoritas portofolio disalurkan untuk KPR subsdi, kata Nixon,  BTN tidak bisa serta-merta menaikkan suku bunga kredit untuk  mengkompensasi kenaikan biaya dana.
&amp;ldquo;BTN memang bank yang berbeda, dalam arti NIM BTN tidak akan sampai  di atas 4% atau bahkan 5% karena suku bunga FLPP itu dipatok di maksimal  5%. Dengan suku bunga yang sudah dibatasi, NIM BTN akan berada di  sekitar 3,2% hingga 3,5%,&amp;rdquo; ujar Nixon dalam paparannya saat Rapat Dengar  Pendapat dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta.</content:encoded></item></channel></rss>
