<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Realisasi Penerimaan Pajak Kanwil DJP Jakbar Capai Rp52,13 Triliun</title><description>Kanwil DJP Jakarta Barat membukukan capaian penerimaan bruto sebesar  Rp59,08 triliun dan penerimaan neto sebesar Rp52,13 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/28/320/3090541/realisasi-penerimaan-pajak-kanwil-djp-jakbar-capai-rp52-13-triliun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/11/28/320/3090541/realisasi-penerimaan-pajak-kanwil-djp-jakbar-capai-rp52-13-triliun"/><item><title>Realisasi Penerimaan Pajak Kanwil DJP Jakbar Capai Rp52,13 Triliun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/28/320/3090541/realisasi-penerimaan-pajak-kanwil-djp-jakbar-capai-rp52-13-triliun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/11/28/320/3090541/realisasi-penerimaan-pajak-kanwil-djp-jakbar-capai-rp52-13-triliun</guid><pubDate>Kamis 28 November 2024 18:28 WIB</pubDate><dc:creator>Kurniasih Miftakhul Jannah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/11/28/320/3090541/realisasi-penerimaan-pajak-kanwil-djp-jakbar-capai-rp52-13-triliun-l5oKrYXmiI.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kanwil DJP Jakbar catat penerimaan pajak capai Rp52,1 triliun di Oktober (Foto: DJP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/11/28/320/3090541/realisasi-penerimaan-pajak-kanwil-djp-jakbar-capai-rp52-13-triliun-l5oKrYXmiI.jpg</image><title>Kanwil DJP Jakbar catat penerimaan pajak capai Rp52,1 triliun di Oktober (Foto: DJP)</title></images><description>JAKARTA - Kanwil DJP Jakarta Barat membukukan capaian penerimaan bruto sebesar Rp59,08 triliun dan penerimaan neto sebesar Rp52,13 triliun. Capaian ini setara 78,14% dari target APBN sebesar Rp66,72 triliun. Penerimaan pajak tersebut mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun lalu sebesar 6,52%.
Berdasarkan jenis pajaknya, capaian di atas terdiri dari Pajak Penghasilan sebesar Rp24,05 triliun, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah sebesar Rp28,00 triliun, dan Pajak lainnya sebesar Rp81,27 miliar.
Empat sektor kegiatan usaha di Jakarta Barat yang memberi kontribusi dominan sebesar 75,86% terhadap realisasi penerimaan adalah sektor perdagangan sebesar Rp25,80 triliun (49,48%), sektor industri pengolahan sebesar Rp7,63 triliun (14,64%), sektor pengangkutan pergudangan sebesar Rp3,41 triliun (6,54%), dan sektor konstruksi sebesar Rp2,71 triliun (5,20%).

BACA JUGA:
Kanwil DJP Jakut Catat Penerimaan Pajak Capai Rp46,06 Triliun pada Oktober 2024


Dari sisi kepatuhan pelaporan SPT Tahunan, kinerja penerimaan SPT Tahunan Kanwil DJP Jakarta Barat sampai dengan 31 Oktober 2024 telah mencapai 88,87%, atau telah menerima 366.664 SPT Tahunan dari target sebanyak 412.582 SPT.
Kepala Kanwil DJP Jakarta Barat Farid Bachtiar mengharapkan doa, dukungan, dan kerja sama dari wajib pajak, masyarakat, dan seluruh pengampu kepentingan agar dapat selalu menjalin sinergi dan kolaborasi terbaik untuk mencapai target kinerja 2024.
Dalam Forum Assets Liabilities Committee (ALCO) Regional DKI Jakarta, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi DKI Jakarta Mei Ling menyampaikan dukungan fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai Rp972,34 trilun.

BACA JUGA:
DJP Buka Suara Soal Tax Amnesty Jilid III di 2025


Dukungan fiskal ini mempengaruhi makro ekonomi dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa indikator ekonomi mencatatkan pertumbuhan. Inflasi bulan Oktober 2024 mencapai 0,03%, mengalami pertumbuhan sebesar 4,93% (yoy), turun 0,01 poin dari triwulan III-2023. Secara kuartalan, bertumbuh sebesar 0,23% (q-to-q) dengan kenaikan sebesar 0,03 poin. Sisi produksi dan pengeluaran ekonomi Jakarta bertumbuh solid dan merata.
Tingkat partisipasi kerja meningkat seiring turunnya tingkat pengangguran. Kesejahteraan petani menurun seiring naiknya konsumsi dan turunnya produksi padi dan beras. Neraca Perdagangan bulan Oktober mengalami surplus sebesar USD1,67 miliar.
Prospek ekonomi jangka pendek tetap terjaga optimis dengan indikator konsumsi yang masih optimis dan dinamisasi indikator produksi masih menujukkan sinyal positif bagi perekonomian. Kinerja APBN DKI Jakarta sampai dengan 31 Oktober 2024 masih resilient, ditopang oleh pertumbuhan belanja negara yang tumbuh positif dan kontraksi pendapatan yang menipis. Pendapatan negara mencapai Rp1.432,79 triliun dengan angka belanja negara sebesar Rp1.456,51 triliun, mengalami defisit APBN sebesar Rp23,72 triliun.
Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan Kanwil DJP  Jakarta Khusus Yari Yuhariprasetia menyampaikan, dari sisi penerimaan  pajak, pendapatan pajak sampai dengan 31 Oktober 2024 mencapai angka  Rp1.072,37 triliun, 88,87% dari target pajak 2024.
Pendapatan pajak secara neto masih mengalami kontraksi sebesar 2,29%  (yoy), utamanya disumbang oleh penurunan pada PPh Non-Migas sebesar  6,05%(yoy) akibat penurunan PPh Pasal 25/29 Badan. PPN melanjutkan  kinerja positif karena membaiknya kinerja PPN Impor dan PPN lainnya. PPh Migas masih turun karena turunnya pendapatan  dari PPh Minyak Bumi dan Gas Alam akibat penurunan lifting migas. PBB  &amp;amp; Pajak Lainnya tumbuh 23,71 (yoy) berasal dari PBB minyak dan gas  bumi.
Sektor utama penerimaan perpajakan menujukkan sinyal positif, yang  dapat diartikan menipisnya tren kontraksi penerimaan tahun 2024.  Mayoritas sektor usaha non komoditas tumbuh menunjukkan aktivitas  ekonomi masih kokoh dan membaik.
Kepala Bidang Perbendaharaan KPU BC Tanjung Priok Andi Hermawan  melengkapi konferensi pers dengan menyampaikan kinerja penerimaan  Kepabeanan dan Cukai DKI Jakarta hingga dengan 31 Oktober 2024. Kenaikan  Produksi dan Tarif Cukai mendorong pertumbuhan positif cukai.  Penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp19,38 triliun (69,98% dari  target APBN, turun 0,67% (yoy)), karena penurunan Bea Masuk.
Kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tetap terjaga ditopang  kenaikan PNBP Sumber Daya Alam. Hal ini disampaikan oleh Setiawan  Suryowidodo, Plt. Kepala Bidang Kepatuhan Internal, Hukum dan Informasi  Kanwil DJKN DKI Jakarta. Sampai dengan 31 Oktober 2024, PNBP mencapai  Rp320,33 triliun atau 135,75% dari target, turun 2,42% (yoy) utamanya  disebabkan oleh turunnya pendapatan lainnya sebagai dampak turunnya harga komoditas.</description><content:encoded>JAKARTA - Kanwil DJP Jakarta Barat membukukan capaian penerimaan bruto sebesar Rp59,08 triliun dan penerimaan neto sebesar Rp52,13 triliun. Capaian ini setara 78,14% dari target APBN sebesar Rp66,72 triliun. Penerimaan pajak tersebut mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun lalu sebesar 6,52%.
Berdasarkan jenis pajaknya, capaian di atas terdiri dari Pajak Penghasilan sebesar Rp24,05 triliun, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Barang Mewah sebesar Rp28,00 triliun, dan Pajak lainnya sebesar Rp81,27 miliar.
Empat sektor kegiatan usaha di Jakarta Barat yang memberi kontribusi dominan sebesar 75,86% terhadap realisasi penerimaan adalah sektor perdagangan sebesar Rp25,80 triliun (49,48%), sektor industri pengolahan sebesar Rp7,63 triliun (14,64%), sektor pengangkutan pergudangan sebesar Rp3,41 triliun (6,54%), dan sektor konstruksi sebesar Rp2,71 triliun (5,20%).

BACA JUGA:
Kanwil DJP Jakut Catat Penerimaan Pajak Capai Rp46,06 Triliun pada Oktober 2024


Dari sisi kepatuhan pelaporan SPT Tahunan, kinerja penerimaan SPT Tahunan Kanwil DJP Jakarta Barat sampai dengan 31 Oktober 2024 telah mencapai 88,87%, atau telah menerima 366.664 SPT Tahunan dari target sebanyak 412.582 SPT.
Kepala Kanwil DJP Jakarta Barat Farid Bachtiar mengharapkan doa, dukungan, dan kerja sama dari wajib pajak, masyarakat, dan seluruh pengampu kepentingan agar dapat selalu menjalin sinergi dan kolaborasi terbaik untuk mencapai target kinerja 2024.
Dalam Forum Assets Liabilities Committee (ALCO) Regional DKI Jakarta, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi DKI Jakarta Mei Ling menyampaikan dukungan fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai Rp972,34 trilun.

BACA JUGA:
DJP Buka Suara Soal Tax Amnesty Jilid III di 2025


Dukungan fiskal ini mempengaruhi makro ekonomi dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa indikator ekonomi mencatatkan pertumbuhan. Inflasi bulan Oktober 2024 mencapai 0,03%, mengalami pertumbuhan sebesar 4,93% (yoy), turun 0,01 poin dari triwulan III-2023. Secara kuartalan, bertumbuh sebesar 0,23% (q-to-q) dengan kenaikan sebesar 0,03 poin. Sisi produksi dan pengeluaran ekonomi Jakarta bertumbuh solid dan merata.
Tingkat partisipasi kerja meningkat seiring turunnya tingkat pengangguran. Kesejahteraan petani menurun seiring naiknya konsumsi dan turunnya produksi padi dan beras. Neraca Perdagangan bulan Oktober mengalami surplus sebesar USD1,67 miliar.
Prospek ekonomi jangka pendek tetap terjaga optimis dengan indikator konsumsi yang masih optimis dan dinamisasi indikator produksi masih menujukkan sinyal positif bagi perekonomian. Kinerja APBN DKI Jakarta sampai dengan 31 Oktober 2024 masih resilient, ditopang oleh pertumbuhan belanja negara yang tumbuh positif dan kontraksi pendapatan yang menipis. Pendapatan negara mencapai Rp1.432,79 triliun dengan angka belanja negara sebesar Rp1.456,51 triliun, mengalami defisit APBN sebesar Rp23,72 triliun.
Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan Kanwil DJP  Jakarta Khusus Yari Yuhariprasetia menyampaikan, dari sisi penerimaan  pajak, pendapatan pajak sampai dengan 31 Oktober 2024 mencapai angka  Rp1.072,37 triliun, 88,87% dari target pajak 2024.
Pendapatan pajak secara neto masih mengalami kontraksi sebesar 2,29%  (yoy), utamanya disumbang oleh penurunan pada PPh Non-Migas sebesar  6,05%(yoy) akibat penurunan PPh Pasal 25/29 Badan. PPN melanjutkan  kinerja positif karena membaiknya kinerja PPN Impor dan PPN lainnya. PPh Migas masih turun karena turunnya pendapatan  dari PPh Minyak Bumi dan Gas Alam akibat penurunan lifting migas. PBB  &amp;amp; Pajak Lainnya tumbuh 23,71 (yoy) berasal dari PBB minyak dan gas  bumi.
Sektor utama penerimaan perpajakan menujukkan sinyal positif, yang  dapat diartikan menipisnya tren kontraksi penerimaan tahun 2024.  Mayoritas sektor usaha non komoditas tumbuh menunjukkan aktivitas  ekonomi masih kokoh dan membaik.
Kepala Bidang Perbendaharaan KPU BC Tanjung Priok Andi Hermawan  melengkapi konferensi pers dengan menyampaikan kinerja penerimaan  Kepabeanan dan Cukai DKI Jakarta hingga dengan 31 Oktober 2024. Kenaikan  Produksi dan Tarif Cukai mendorong pertumbuhan positif cukai.  Penerimaan Kepabeanan dan Cukai sebesar Rp19,38 triliun (69,98% dari  target APBN, turun 0,67% (yoy)), karena penurunan Bea Masuk.
Kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tetap terjaga ditopang  kenaikan PNBP Sumber Daya Alam. Hal ini disampaikan oleh Setiawan  Suryowidodo, Plt. Kepala Bidang Kepatuhan Internal, Hukum dan Informasi  Kanwil DJKN DKI Jakarta. Sampai dengan 31 Oktober 2024, PNBP mencapai  Rp320,33 triliun atau 135,75% dari target, turun 2,42% (yoy) utamanya  disebabkan oleh turunnya pendapatan lainnya sebagai dampak turunnya harga komoditas.</content:encoded></item></channel></rss>
