<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kuota FLPP Bakal Ditambah demi Program 3 Juta Rumah</title><description>Program 3 juta rumah yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran mendapat dukungan dari lintas kementerian.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/30/320/3090996/kuota-flpp-bakal-ditambah-demi-program-3-juta-rumah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/11/30/320/3090996/kuota-flpp-bakal-ditambah-demi-program-3-juta-rumah"/><item><title>Kuota FLPP Bakal Ditambah demi Program 3 Juta Rumah</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/11/30/320/3090996/kuota-flpp-bakal-ditambah-demi-program-3-juta-rumah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/11/30/320/3090996/kuota-flpp-bakal-ditambah-demi-program-3-juta-rumah</guid><pubDate>Sabtu 30 November 2024 00:42 WIB</pubDate><dc:creator>Anindya Rasya Salsabila</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/11/30/320/3090996/kuota-flpp-bakal-ditambah-demi-program-3-juta-rumah-FC4iRzB8Cs.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kuota FLPP ditambah demi program 3 juta rumah (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/11/30/320/3090996/kuota-flpp-bakal-ditambah-demi-program-3-juta-rumah-FC4iRzB8Cs.jpg</image><title>Kuota FLPP ditambah demi program 3 juta rumah (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Program 3 juta rumah yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran mendapat dukungan dari lintas kementerian. Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah mengatakan, Program 3 Juta Rumah dilandasi keprihatinan Presiden Prabowo Subianto yang memiliki perhatian serius untuk menyisir masyarakat terbawah di Indonesia.
&amp;ldquo;Misinya bukan hanya untuk membangun rumah, tetapi memberantas kemiskinan. Indonesia akan mencapai 100 tahun kemerdekaan, tapi masih banyak rumah yang tidak memiliki fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK), sehingga orang buang air di sungai. Kami sebagai pejabat datang dan pergi, waktu yang kami punya itu singkat, sehingga kami tidak ingin main-main ketika mendapat mandat dari rakyat,&amp;rdquo; tutur Fahri, Sabtu (30/11/2024).
Untuk merealisasikan Program 3 Juta Rumah, Kementerian PKP memiliki rencana untuk meningkatkan kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi 800.000 unit rumah pada tahun 2025 dari saat ini 220.000 unit. Rencana tersebut juga mendapat sinyal dukungan dari Kementerian Keuangan selaku pengatur anggaran negara.

BACA JUGA:
17 Hektare Lahan KAI Siap Dibangun 3 Juta Rumah, Ini Lokasinya


Sementara itu, Menteri PKP Maruarar Sirait mengatakan, rencana peningkatan kuota FLPP dilakukan untuk memecahkan masalah keterbatasan kuota yang masih dialami hingga kini, padahal permintaan konsumen tinggi. Berdasarkan informasi yang dikemukakan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, saat ini terdapat sekitar 46.000 aplikasi yang sudah mendapat persetujuan KPR dari BTN namun masih mengantri kuota FLPP dari negara.
&amp;ldquo;Program yang selama ini disukai oleh semua stakeholder perumahan adalah FLPP, tapi masalahnya kuotanya terbatas. Padahal, kredit macetnya kecil sekali. Sebetulnya program yang paling bagus adalah melakukan sesuatu yang semuanya senang sehingga kita bekerja dengan gembira. FLPP ini adalah program yang berhasil, dan kalau ada program dari jaman sebelumnya yang bagus, tidak apa-apa kita teruskan,&amp;rdquo; ujar Maruarar.

BACA JUGA:
Erick Thohir Buka Suara soal Aset BUMN Dipakai Buat Bangun 3 Juta Rumah


Berdasarkan rencana Kementerian PKP, skema pembagian porsi pembiayaan FLPP akan diubah menjadi 50% dari negara dan 50% dari perbankan agar tidak membebani keuangan dengara, dengan penambahan masa atau tenor kredit menjadi 30 tahun agar angsuran menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat. Saat ini, pembagian proporsi dukungan FLPP masih 75% berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan 25% dari perbankan, dan tenor selama 20 tahun.
Dalam kesempatan tersebut, BTN menyampaikan kesiapannya untuk mendukung rencana Kementerian PKP menaikkan kuota FLPP.  &amp;ldquo;Kami menyambut baik ada upaya menaikkan kuota KPR Subsidi dari biasanya sekitar 200.000 menjadi 800.000. Kami sedang mendiskusikannya secara teknis untuk pelaksanaannya. Kami harap ini bisa menjadi keputusan presiden,&amp;rdquo; kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.
Dari sisi pendanaan, Nixon mengungkapkan, kenaikan kuota FLPP menjadi 800.000 unit akan memerlukan lebih dari Rp70 triliun, jauh lebih besar dari pendanaan FLPP saat ini hampir Rp30 triliun. Jika skema pembagian proporsi diubah menjadi 50%-50% antara APBN dan perbankan, maka BTN memerlukan alternatif sumber pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK) reguler. Salah satunya yakni penerbitan obligasi dan pinjaman luar negeri yang nilainya bisa mencapai sekitar Rp10 triliun hingga Rp12 triliun.
&amp;ldquo;Selain menyiapkan DPK, kami ingin menerbitkan bonds (obligasi),  namun usulan kami adalah supaya obligasi tersebut bisa dijamin  pemerintah, sehingga akan lebih murah untuk kami dan size yang didapat  bisa lebih besar. Kami juga akan mencari kanal-kanal pinjaman luar  negeri dan saat ini kami sedang banyak bertemu dengan investor,&amp;rdquo; ungkap  Nixon.
Dikonfirmasi pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri BUMN Kartika  Wirjoatmodjo mengatakan, pihaknya akan berdiskusi dengan Kementerian  Keuangan dan Bank Indonesia untuk memberikan dukungan regulasi terkait  likuiditas jangka panjang untuk BTN sebagai bank pelaksana FLPP. Dalam  hal ini, Kementerian BUMN berharap obligasi BTN dapat dijamin oleh  pemerintah.
&amp;ldquo;Kami sedang mencari cara apakah BTN bisa menerbitkan obligasi hingga  15 tahun agar BTN bisa memiliki pendanaan hingga Rp150 triliun per  tahun. Tidak mudah, tapi kita akan cari skemanya. Idealnya, usulan kami  yakni obligasi yang diterbitkan BTN dapat dijamin pemerintah,&amp;rdquo; ujar  Kartika.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, Kemenkeu menerima  rencana peningkatan kuota FLPP dan akan didiskusikan dalam pembahasan  RAPBN tahun 2025. Selain itu, Kemenkeu juga mendukung adanya sumber  pendanaan alternatif untuk bisa mendukung pembiayaan jika skema  pembiayaan diubah.
&amp;ldquo;Untuk bisa me-redesign FLPP, kita perlu menyesuaikan aturan-aturan  yang ada dan penambahan kuota akan masuk ke pembahasan tahun depan  karena ada hitungan berapa belanja, penerimaan, dan lain-lain,&amp;rdquo; jelas  Suahasil.
Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator perbankan dan  industri keuangan turut mendukung upaya mewujudkan Program 3 Juta Rumah.  Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Merangkap Anggota Dewan Komisioner  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae memastikan, implementasi  Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2024 tentang hapus tagih kredit  macet di bank BUMN akan membantu menyelesaikan masalah yang dikeluhkan  para pengembang mengenai kesulitan calon debitur mengajukan KPR Subsidi  karena memiliki utang macet di pinjaman online (pinjol).
&amp;ldquo;Kalau dihapus tagih maka otomatis (kredit macet) para petani dan  nelayan yang tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK  akan terhapus bersih. Ini akan membantu mereka untuk mengajukan kredit  termasuk kredit perumahan,&amp;rdquo; ujar Dian.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Program 3 juta rumah yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran mendapat dukungan dari lintas kementerian. Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah mengatakan, Program 3 Juta Rumah dilandasi keprihatinan Presiden Prabowo Subianto yang memiliki perhatian serius untuk menyisir masyarakat terbawah di Indonesia.
&amp;ldquo;Misinya bukan hanya untuk membangun rumah, tetapi memberantas kemiskinan. Indonesia akan mencapai 100 tahun kemerdekaan, tapi masih banyak rumah yang tidak memiliki fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK), sehingga orang buang air di sungai. Kami sebagai pejabat datang dan pergi, waktu yang kami punya itu singkat, sehingga kami tidak ingin main-main ketika mendapat mandat dari rakyat,&amp;rdquo; tutur Fahri, Sabtu (30/11/2024).
Untuk merealisasikan Program 3 Juta Rumah, Kementerian PKP memiliki rencana untuk meningkatkan kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi 800.000 unit rumah pada tahun 2025 dari saat ini 220.000 unit. Rencana tersebut juga mendapat sinyal dukungan dari Kementerian Keuangan selaku pengatur anggaran negara.

BACA JUGA:
17 Hektare Lahan KAI Siap Dibangun 3 Juta Rumah, Ini Lokasinya


Sementara itu, Menteri PKP Maruarar Sirait mengatakan, rencana peningkatan kuota FLPP dilakukan untuk memecahkan masalah keterbatasan kuota yang masih dialami hingga kini, padahal permintaan konsumen tinggi. Berdasarkan informasi yang dikemukakan oleh Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu, saat ini terdapat sekitar 46.000 aplikasi yang sudah mendapat persetujuan KPR dari BTN namun masih mengantri kuota FLPP dari negara.
&amp;ldquo;Program yang selama ini disukai oleh semua stakeholder perumahan adalah FLPP, tapi masalahnya kuotanya terbatas. Padahal, kredit macetnya kecil sekali. Sebetulnya program yang paling bagus adalah melakukan sesuatu yang semuanya senang sehingga kita bekerja dengan gembira. FLPP ini adalah program yang berhasil, dan kalau ada program dari jaman sebelumnya yang bagus, tidak apa-apa kita teruskan,&amp;rdquo; ujar Maruarar.

BACA JUGA:
Erick Thohir Buka Suara soal Aset BUMN Dipakai Buat Bangun 3 Juta Rumah


Berdasarkan rencana Kementerian PKP, skema pembagian porsi pembiayaan FLPP akan diubah menjadi 50% dari negara dan 50% dari perbankan agar tidak membebani keuangan dengara, dengan penambahan masa atau tenor kredit menjadi 30 tahun agar angsuran menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat. Saat ini, pembagian proporsi dukungan FLPP masih 75% berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan 25% dari perbankan, dan tenor selama 20 tahun.
Dalam kesempatan tersebut, BTN menyampaikan kesiapannya untuk mendukung rencana Kementerian PKP menaikkan kuota FLPP.  &amp;ldquo;Kami menyambut baik ada upaya menaikkan kuota KPR Subsidi dari biasanya sekitar 200.000 menjadi 800.000. Kami sedang mendiskusikannya secara teknis untuk pelaksanaannya. Kami harap ini bisa menjadi keputusan presiden,&amp;rdquo; kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu.
Dari sisi pendanaan, Nixon mengungkapkan, kenaikan kuota FLPP menjadi 800.000 unit akan memerlukan lebih dari Rp70 triliun, jauh lebih besar dari pendanaan FLPP saat ini hampir Rp30 triliun. Jika skema pembagian proporsi diubah menjadi 50%-50% antara APBN dan perbankan, maka BTN memerlukan alternatif sumber pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK) reguler. Salah satunya yakni penerbitan obligasi dan pinjaman luar negeri yang nilainya bisa mencapai sekitar Rp10 triliun hingga Rp12 triliun.
&amp;ldquo;Selain menyiapkan DPK, kami ingin menerbitkan bonds (obligasi),  namun usulan kami adalah supaya obligasi tersebut bisa dijamin  pemerintah, sehingga akan lebih murah untuk kami dan size yang didapat  bisa lebih besar. Kami juga akan mencari kanal-kanal pinjaman luar  negeri dan saat ini kami sedang banyak bertemu dengan investor,&amp;rdquo; ungkap  Nixon.
Dikonfirmasi pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri BUMN Kartika  Wirjoatmodjo mengatakan, pihaknya akan berdiskusi dengan Kementerian  Keuangan dan Bank Indonesia untuk memberikan dukungan regulasi terkait  likuiditas jangka panjang untuk BTN sebagai bank pelaksana FLPP. Dalam  hal ini, Kementerian BUMN berharap obligasi BTN dapat dijamin oleh  pemerintah.
&amp;ldquo;Kami sedang mencari cara apakah BTN bisa menerbitkan obligasi hingga  15 tahun agar BTN bisa memiliki pendanaan hingga Rp150 triliun per  tahun. Tidak mudah, tapi kita akan cari skemanya. Idealnya, usulan kami  yakni obligasi yang diterbitkan BTN dapat dijamin pemerintah,&amp;rdquo; ujar  Kartika.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, Kemenkeu menerima  rencana peningkatan kuota FLPP dan akan didiskusikan dalam pembahasan  RAPBN tahun 2025. Selain itu, Kemenkeu juga mendukung adanya sumber  pendanaan alternatif untuk bisa mendukung pembiayaan jika skema  pembiayaan diubah.
&amp;ldquo;Untuk bisa me-redesign FLPP, kita perlu menyesuaikan aturan-aturan  yang ada dan penambahan kuota akan masuk ke pembahasan tahun depan  karena ada hitungan berapa belanja, penerimaan, dan lain-lain,&amp;rdquo; jelas  Suahasil.
Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator perbankan dan  industri keuangan turut mendukung upaya mewujudkan Program 3 Juta Rumah.  Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Merangkap Anggota Dewan Komisioner  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae memastikan, implementasi  Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 47 Tahun 2024 tentang hapus tagih kredit  macet di bank BUMN akan membantu menyelesaikan masalah yang dikeluhkan  para pengembang mengenai kesulitan calon debitur mengajukan KPR Subsidi  karena memiliki utang macet di pinjaman online (pinjol).
&amp;ldquo;Kalau dihapus tagih maka otomatis (kredit macet) para petani dan  nelayan yang tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK  akan terhapus bersih. Ini akan membantu mereka untuk mengajukan kredit  termasuk kredit perumahan,&amp;rdquo; ujar Dian.</content:encoded></item></channel></rss>
