<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perjanjian Dagang IEU-CEPA Bikin Ekspor-Impor Naik 6 Kali Lipat</title><description>Perjanjian dagang IEU-CEPA bisa meningkatkan transaksi ekspor dan  impor Indonesia-Eropa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/10/320/3093998/perjanjian-dagang-ieu-cepa-bikin-ekspor-impor-naik-6-kali-lipat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/12/10/320/3093998/perjanjian-dagang-ieu-cepa-bikin-ekspor-impor-naik-6-kali-lipat"/><item><title>Perjanjian Dagang IEU-CEPA Bikin Ekspor-Impor Naik 6 Kali Lipat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/10/320/3093998/perjanjian-dagang-ieu-cepa-bikin-ekspor-impor-naik-6-kali-lipat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/12/10/320/3093998/perjanjian-dagang-ieu-cepa-bikin-ekspor-impor-naik-6-kali-lipat</guid><pubDate>Selasa 10 Desember 2024 06:48 WIB</pubDate><dc:creator>Anindya Rasya Salsabila</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/12/10/320/3093998/perjanjian-dagang-ieu-cepa-bikin-ekspor-impor-naik-6-kali-lipat-vWyLunQtHF.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kerjasama IEU-CEPA bakal tingkatkan ekspor impor RI-Eropa (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/12/10/320/3093998/perjanjian-dagang-ieu-cepa-bikin-ekspor-impor-naik-6-kali-lipat-vWyLunQtHF.jpg</image><title>Kerjasama IEU-CEPA bakal tingkatkan ekspor impor RI-Eropa (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Perjanjian dagang Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bisa meningkatkan transaksi ekspor dan impor Indonesia-Eropa. Ketua Umum (Ketum) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan, dengan berlakunya IEU-CEPA, transaksi ekspor dan impor dapat meningkat dua hingga enam kali lipat.
Selain itu, perjanjian tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air untuk masuk rantai pasok dunia.
&amp;ldquo;Teman-teman dari Kadin, yang juga banyak dari UMKM, bisa jadi bagian dari rantai pasok dunia. Ini tentu bukan saja bagus buat pemain besar seperti perusahaan palm oil (minyak kelapa sawit), yang kadang suka ada isu sustainability (keberlanjutan), tapi teman-teman ini bisa masuk ke berbagai macam industri,&amp;rdquo; ucapnya dalam Indonesia-Europe Investment Summit 2024 yang diselenggarakan European Business Chamber of Commerce (EuroCham), Selasa (10/12/2024).

BACA JUGA:
Perjanjian Dagang IEU-CEPA Hampir Rampung, Target Selesai Bulan Ini


Tidak hanya mendongkrak transaksi, kerja sama investasi ini menurut Anindya juga bisa membuka edukasi dari mitra teknologi. Hal ini akan membawa pengusaha nasional naik kelas.
&amp;ldquo;Jadi, teman-teman Kadin bisa mengerjakan ini dengan sebaik-baiknya,&amp;rdquo; katanya.
Di sisi lain, IEU-CEPA akan meningkatkan akses ke kawasan yang memiliki pasar senilai USD17 triliun atau Rp 269.416 triliun (kurs Rp 15.848/dolar AS), atau setara 12 kali produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

BACA JUGA:
Menko Airlangga Debat Panas, Perundingan Dagang Alot soal IEU-CEPA


Apalagi, perdagangan global kini menghadapi ancaman tarif impor tinggi yang akan diberlakukan Presiden Terpilih Amerika Serikat Donald Trump. Itulah sebabnya, Indonesia harus cepat menyelesaikan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif dengan pasar lain yang besar, seperti Uni Eropa (UE).
&quot;Proses perjanjian dagang tersebut sudah berlangsung selama hampir sembilan tahun. Indonesia ini bagus kalau bisa membuat IEU-CEPA, karena akan membuka akses kepada kawasan yang (memiliki pasar) USD17 triliun,&amp;rdquo; kata Anindya.
Anindya mengatakan, perjanjian IEU-CEPA juga memberi manfaat bagi UE, mengingat Indonesia penopang 40% pasar di Asia Tenggara atau ASEAN. Anindya berharap, isu-isu yang ada dapat disiasati agar perdagangan dengan UE dapat berjalan baik.
&amp;ldquo;Jadi, ini hal strategis buat dua-duanya (Indonesia dan UE). Ini menjadi angin segar,&amp;rdquo; ujar dia.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Anindya membahas mengenai  kebijakan tarif impor tinggi Amerika Serikat (AS) akan menjadi salah  satu ancaman serius bagi perdagangan global ke depan turut menjadi  perhatian Anindya. Tarif impor tinggi yang akan ditetapkan Presiden  Terpilih AS Donald Trump terhadap beberapa negara seteru dagang,  misalnya China, akan mengubah lanskap perdagangan dunia.
Anindya mengatakan, Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi  kebijakan proteksionisme yang kemungkinan bakal diterapkan Trump, di  antaranya dalam bentuk tarif impor yang tinggi.
&amp;ldquo;Karena memang itu kayaknya tidak bisa dicegah,&amp;rdquo; kata Anindya.
Anindya mengapresiasi keputusan Pemerintah yang ingin memperkuat  kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara-negara mitra,  terutama Kanada, Uni Emirat Arab (UEA), Jepang, dan Australia. Selama  2,5 pekan terakhir, pemerintah terus mengoptimalkan kerja sama Global  South.
&amp;ldquo;Kemitraan dengan negara-negara Amerika Latin dan Timur Tengah juga  penting. Tapi dengan Eropa ini strategis, meski tidak gampang,&amp;rdquo; ujar  dia.
Anindya sebelumnya mengungkapkan, sikap protektif Donald Trump bisa  mendatangkan kerugian sekaligus keuntungan bagi negara-negara lain,  termasuk Indonesia.
Salah satu kerugian yang bisa dialami Indonesia, menurut Anindya,  adalah sulitnya produk ekspor RI masuk ke AS. Demi melindungi pasar dan  industri dalam negerinya, pemerintah AS bisa memberlakukan tarif Bea  Masuk (BM) yang tinggi atau menerapkan hambatan nontarif (non-tariff  barrier), misalnya dengan alasan standardisasi produk, lingkungan, hak  atas kekayaan intelektual (HAKI), dan lain-lain.
Adapun keuntungan yang bisa dinikmati Indonesia, kata Anindya, adalah  terealisasinya berbagai perjanjian perdagangan bebas (free trade  agreement/FTA) secara bilateral yang prosesnya sempat tersendat.
Anindya mencontohkan, perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif  antara Indonesia dan Kanada atau Indonesia&amp;ndash;Canada Comprehensive Economic  Partnership Agreement (ICA&amp;ndash;CEPA) ditandatangani lebih cepat. Pemerintah  Indonesia dan Kanada menandatangani ICA&amp;ndash;CEPA pada Senin (2/12/2024)  lalu.
&amp;ldquo;Ada manfaatnya juga nih ketika Amerika bilang proteksionisme.  ICA-CEPA itu dua tahun jadi. Terbukalah kerja sama bilateral yang selama  ini tersendat,&amp;rdquo; ujar Anindya.
Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei  Darussalam, Denis Chaibi mengungkapkan, jika pemerintah AS memberlakukan  tarif impor tinggi, negara-negara eksportir seperti China bakal  mengalihkan pasar ekspornya ke negara-negara lain, termasuk Eropa dan  Indonesia.
&amp;ldquo;Kita mungkin akan merasakan dampak dari tekanan AS terhadap China,  karena China kemungkinan akan mencoba menjual lebih banyak produknya ke  Eropa dan Indonesia,&amp;rdquo; tutur Denis.
Untuk itu, Denis berharap Indonesia dapat segera mengimplementasikan  IEU-CEPA. Melalui perjanjian ini, Indonesia bisa masuk dalam rantai  pasok global yang lebih luas melalui Kanada.
&amp;ldquo;Berarti produk masuk, mendapatkan nilai lebih, dan keluar. Jadi,  bukan hanya menjual produk akhir,&amp;rdquo; ujarnya. Denis mengatakan, kepastian  hukum juga harus menjadi perhatian guna mendukung konten lokal yang  ingin diperdagangkan. &amp;ldquo;Kepastian hukum itu akan mendatangkan lebih  banyak investasi ke Indonesia,&amp;rdquo; tegas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Perjanjian dagang Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) bisa meningkatkan transaksi ekspor dan impor Indonesia-Eropa. Ketua Umum (Ketum) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mengatakan, dengan berlakunya IEU-CEPA, transaksi ekspor dan impor dapat meningkat dua hingga enam kali lipat.
Selain itu, perjanjian tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Tanah Air untuk masuk rantai pasok dunia.
&amp;ldquo;Teman-teman dari Kadin, yang juga banyak dari UMKM, bisa jadi bagian dari rantai pasok dunia. Ini tentu bukan saja bagus buat pemain besar seperti perusahaan palm oil (minyak kelapa sawit), yang kadang suka ada isu sustainability (keberlanjutan), tapi teman-teman ini bisa masuk ke berbagai macam industri,&amp;rdquo; ucapnya dalam Indonesia-Europe Investment Summit 2024 yang diselenggarakan European Business Chamber of Commerce (EuroCham), Selasa (10/12/2024).

BACA JUGA:
Perjanjian Dagang IEU-CEPA Hampir Rampung, Target Selesai Bulan Ini


Tidak hanya mendongkrak transaksi, kerja sama investasi ini menurut Anindya juga bisa membuka edukasi dari mitra teknologi. Hal ini akan membawa pengusaha nasional naik kelas.
&amp;ldquo;Jadi, teman-teman Kadin bisa mengerjakan ini dengan sebaik-baiknya,&amp;rdquo; katanya.
Di sisi lain, IEU-CEPA akan meningkatkan akses ke kawasan yang memiliki pasar senilai USD17 triliun atau Rp 269.416 triliun (kurs Rp 15.848/dolar AS), atau setara 12 kali produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

BACA JUGA:
Menko Airlangga Debat Panas, Perundingan Dagang Alot soal IEU-CEPA


Apalagi, perdagangan global kini menghadapi ancaman tarif impor tinggi yang akan diberlakukan Presiden Terpilih Amerika Serikat Donald Trump. Itulah sebabnya, Indonesia harus cepat menyelesaikan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif dengan pasar lain yang besar, seperti Uni Eropa (UE).
&quot;Proses perjanjian dagang tersebut sudah berlangsung selama hampir sembilan tahun. Indonesia ini bagus kalau bisa membuat IEU-CEPA, karena akan membuka akses kepada kawasan yang (memiliki pasar) USD17 triliun,&amp;rdquo; kata Anindya.
Anindya mengatakan, perjanjian IEU-CEPA juga memberi manfaat bagi UE, mengingat Indonesia penopang 40% pasar di Asia Tenggara atau ASEAN. Anindya berharap, isu-isu yang ada dapat disiasati agar perdagangan dengan UE dapat berjalan baik.
&amp;ldquo;Jadi, ini hal strategis buat dua-duanya (Indonesia dan UE). Ini menjadi angin segar,&amp;rdquo; ujar dia.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Anindya membahas mengenai  kebijakan tarif impor tinggi Amerika Serikat (AS) akan menjadi salah  satu ancaman serius bagi perdagangan global ke depan turut menjadi  perhatian Anindya. Tarif impor tinggi yang akan ditetapkan Presiden  Terpilih AS Donald Trump terhadap beberapa negara seteru dagang,  misalnya China, akan mengubah lanskap perdagangan dunia.
Anindya mengatakan, Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi  kebijakan proteksionisme yang kemungkinan bakal diterapkan Trump, di  antaranya dalam bentuk tarif impor yang tinggi.
&amp;ldquo;Karena memang itu kayaknya tidak bisa dicegah,&amp;rdquo; kata Anindya.
Anindya mengapresiasi keputusan Pemerintah yang ingin memperkuat  kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara-negara mitra,  terutama Kanada, Uni Emirat Arab (UEA), Jepang, dan Australia. Selama  2,5 pekan terakhir, pemerintah terus mengoptimalkan kerja sama Global  South.
&amp;ldquo;Kemitraan dengan negara-negara Amerika Latin dan Timur Tengah juga  penting. Tapi dengan Eropa ini strategis, meski tidak gampang,&amp;rdquo; ujar  dia.
Anindya sebelumnya mengungkapkan, sikap protektif Donald Trump bisa  mendatangkan kerugian sekaligus keuntungan bagi negara-negara lain,  termasuk Indonesia.
Salah satu kerugian yang bisa dialami Indonesia, menurut Anindya,  adalah sulitnya produk ekspor RI masuk ke AS. Demi melindungi pasar dan  industri dalam negerinya, pemerintah AS bisa memberlakukan tarif Bea  Masuk (BM) yang tinggi atau menerapkan hambatan nontarif (non-tariff  barrier), misalnya dengan alasan standardisasi produk, lingkungan, hak  atas kekayaan intelektual (HAKI), dan lain-lain.
Adapun keuntungan yang bisa dinikmati Indonesia, kata Anindya, adalah  terealisasinya berbagai perjanjian perdagangan bebas (free trade  agreement/FTA) secara bilateral yang prosesnya sempat tersendat.
Anindya mencontohkan, perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif  antara Indonesia dan Kanada atau Indonesia&amp;ndash;Canada Comprehensive Economic  Partnership Agreement (ICA&amp;ndash;CEPA) ditandatangani lebih cepat. Pemerintah  Indonesia dan Kanada menandatangani ICA&amp;ndash;CEPA pada Senin (2/12/2024)  lalu.
&amp;ldquo;Ada manfaatnya juga nih ketika Amerika bilang proteksionisme.  ICA-CEPA itu dua tahun jadi. Terbukalah kerja sama bilateral yang selama  ini tersendat,&amp;rdquo; ujar Anindya.
Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei  Darussalam, Denis Chaibi mengungkapkan, jika pemerintah AS memberlakukan  tarif impor tinggi, negara-negara eksportir seperti China bakal  mengalihkan pasar ekspornya ke negara-negara lain, termasuk Eropa dan  Indonesia.
&amp;ldquo;Kita mungkin akan merasakan dampak dari tekanan AS terhadap China,  karena China kemungkinan akan mencoba menjual lebih banyak produknya ke  Eropa dan Indonesia,&amp;rdquo; tutur Denis.
Untuk itu, Denis berharap Indonesia dapat segera mengimplementasikan  IEU-CEPA. Melalui perjanjian ini, Indonesia bisa masuk dalam rantai  pasok global yang lebih luas melalui Kanada.
&amp;ldquo;Berarti produk masuk, mendapatkan nilai lebih, dan keluar. Jadi,  bukan hanya menjual produk akhir,&amp;rdquo; ujarnya. Denis mengatakan, kepastian  hukum juga harus menjadi perhatian guna mendukung konten lokal yang  ingin diperdagangkan. &amp;ldquo;Kepastian hukum itu akan mendatangkan lebih  banyak investasi ke Indonesia,&amp;rdquo; tegas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
