<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pabrik Bioetanol di Banyuwangi, RI Bakal Punya BBM Standar Euro 5</title><description>Pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN) akan memberikan dampak positif.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/11/320/3094477/pabrik-bioetanol-di-banyuwangi-ri-bakal-punya-bbm-standar-euro-5</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/12/11/320/3094477/pabrik-bioetanol-di-banyuwangi-ri-bakal-punya-bbm-standar-euro-5"/><item><title>Pabrik Bioetanol di Banyuwangi, RI Bakal Punya BBM Standar Euro 5</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/11/320/3094477/pabrik-bioetanol-di-banyuwangi-ri-bakal-punya-bbm-standar-euro-5</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/12/11/320/3094477/pabrik-bioetanol-di-banyuwangi-ri-bakal-punya-bbm-standar-euro-5</guid><pubDate>Rabu 11 Desember 2024 14:31 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/12/11/320/3094477/pabrik-bioetanol-di-banyuwangi-ri-bakal-punya-bbm-standar-euro-5-SB86n4q2TD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">RI Punya Pabrik Bioetanol di Banyuwangi (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/12/11/320/3094477/pabrik-bioetanol-di-banyuwangi-ri-bakal-punya-bbm-standar-euro-5-SB86n4q2TD.jpg</image><title>RI Punya Pabrik Bioetanol di Banyuwangi (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN) akan memberikan dampak positif, termasuk  kerja sama Subholding Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) dengan PT Sinergi Gula Nusantara, Glenmore, Banyuwangi untuk membangun pabrik bioetanol.

&quot;Karena ada tujuan untuk menghasilkan biofuel yang merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang ramah lingkungan, tentu merupakan langkah penting dan perlu diapresiasi,&quot; kata Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno di Jakarta, Rabu (11/12/2024).

BACA JUGA:
Aturan Presiden, RI Bakal Miliki Pabrik Bioetanol dari Tetes Tebu di Banyuwangi


Langkah penting tersebut, katanya lagi, karena saat ini Indonesia sedang menuju percepatan transisi energi, sehingga memang diperlukan berbagai upaya, termasuk di antaranya melalui pengembangan bioetanol untuk menggantikan energi fosil.

&quot;Jadi, pembangunan pabrik ini merupakan salah satu upaya untuk menghasilkan energi yang lebih ramah lingkungan,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
RI Siapkan Bioetanol Jadi BBN


Menurut dia, melalui pengembangan bioetanol diharapkan bisa meningkatkan kualitas bahan bakar yang ada saat ini, apalagi negara-negara maju, umumnya sudah menerapkan Euro 5.

Oleh karena itu, pengembangan bioetanol merupakan langkah penting agar Indonesia bisa menghasilkan bahan bakar yang memiliki kualitas lebih ramah lingkungan.


Di sisi lain, Eddy menilai bahwa dukungan pemerintah sangat diperlukan agar program bioetanol bisa mengikuti kesuksesan biodiesel. Terutama, jika ternyata proses produksi bioetanol menghasilkan bahan bakar yang lebih mahal dibandingkan BBM.



&quot;Jika demikian, maka perlu dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi atau kompensasi,&quot; katanya.



Pengamat energi Inas Nasrullah Zubir juga menilai positif upaya dalam mendukung pengembangan bioetanol, namun sebagai bahan baku agar tidak hanya mengandalkan tanaman tebu, karena membutuhkan waktu lama.



Dia mendukung jika bioetanol diperoleh melalui keanekaragaman sumber, termasuk pemanfaatan tanaman aren sebagai bahan baku yang tersebar hampir di seluruh Indonesia dan mudah dijumpai.



Sementara itu CEO PNRE John Anis menyatakan sudah memiliki peta jalan pengembangan bioetanol hingga 2031 untuk mendukung dekarbonisasi di sektor transportasi, sebab, pada 2034, diproyeksikan permintaan biofuel bisa mencapai 51 juta liter.



Terkait hal itu, Pertamina NRE mulai menjalin kerja sama dengan Sinergi Gula Nusantara (SGN) untuk membangun pabrik bioethanol di Banyuwangi, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 30 ribu kiloliter (kl) per tahun.

</description><content:encoded>JAKARTA - Pengembangan bioetanol sebagai bahan bakar nabati (BBN) akan memberikan dampak positif, termasuk  kerja sama Subholding Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) dengan PT Sinergi Gula Nusantara, Glenmore, Banyuwangi untuk membangun pabrik bioetanol.

&quot;Karena ada tujuan untuk menghasilkan biofuel yang merupakan bahan bakar nabati (BBN) yang ramah lingkungan, tentu merupakan langkah penting dan perlu diapresiasi,&quot; kata Anggota Komisi XII DPR Eddy Soeparno di Jakarta, Rabu (11/12/2024).

BACA JUGA:
Aturan Presiden, RI Bakal Miliki Pabrik Bioetanol dari Tetes Tebu di Banyuwangi


Langkah penting tersebut, katanya lagi, karena saat ini Indonesia sedang menuju percepatan transisi energi, sehingga memang diperlukan berbagai upaya, termasuk di antaranya melalui pengembangan bioetanol untuk menggantikan energi fosil.

&quot;Jadi, pembangunan pabrik ini merupakan salah satu upaya untuk menghasilkan energi yang lebih ramah lingkungan,&quot; ujarnya.

BACA JUGA:
RI Siapkan Bioetanol Jadi BBN


Menurut dia, melalui pengembangan bioetanol diharapkan bisa meningkatkan kualitas bahan bakar yang ada saat ini, apalagi negara-negara maju, umumnya sudah menerapkan Euro 5.

Oleh karena itu, pengembangan bioetanol merupakan langkah penting agar Indonesia bisa menghasilkan bahan bakar yang memiliki kualitas lebih ramah lingkungan.


Di sisi lain, Eddy menilai bahwa dukungan pemerintah sangat diperlukan agar program bioetanol bisa mengikuti kesuksesan biodiesel. Terutama, jika ternyata proses produksi bioetanol menghasilkan bahan bakar yang lebih mahal dibandingkan BBM.



&quot;Jika demikian, maka perlu dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi atau kompensasi,&quot; katanya.



Pengamat energi Inas Nasrullah Zubir juga menilai positif upaya dalam mendukung pengembangan bioetanol, namun sebagai bahan baku agar tidak hanya mengandalkan tanaman tebu, karena membutuhkan waktu lama.



Dia mendukung jika bioetanol diperoleh melalui keanekaragaman sumber, termasuk pemanfaatan tanaman aren sebagai bahan baku yang tersebar hampir di seluruh Indonesia dan mudah dijumpai.



Sementara itu CEO PNRE John Anis menyatakan sudah memiliki peta jalan pengembangan bioetanol hingga 2031 untuk mendukung dekarbonisasi di sektor transportasi, sebab, pada 2034, diproyeksikan permintaan biofuel bisa mencapai 51 juta liter.



Terkait hal itu, Pertamina NRE mulai menjalin kerja sama dengan Sinergi Gula Nusantara (SGN) untuk membangun pabrik bioethanol di Banyuwangi, Jawa Timur, dengan kapasitas produksi 30 ribu kiloliter (kl) per tahun.

</content:encoded></item></channel></rss>
