<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>RI Naikkan PPN 12% tapi Vietnam Turun Jadi 8%, Ini Kata Kemenkeu</title><description>Indonesia menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% mulai 2025.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/16/320/3096120/ri-naikkan-ppn-12-tapi-vietnam-turun-jadi-8-ini-kata-kemenkeu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/12/16/320/3096120/ri-naikkan-ppn-12-tapi-vietnam-turun-jadi-8-ini-kata-kemenkeu"/><item><title>RI Naikkan PPN 12% tapi Vietnam Turun Jadi 8%, Ini Kata Kemenkeu</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/16/320/3096120/ri-naikkan-ppn-12-tapi-vietnam-turun-jadi-8-ini-kata-kemenkeu</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/12/16/320/3096120/ri-naikkan-ppn-12-tapi-vietnam-turun-jadi-8-ini-kata-kemenkeu</guid><pubDate>Senin 16 Desember 2024 22:50 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/12/16/320/3096120/ri-naikkan-ppn-12-tapi-vietnam-turun-jadi-8-ini-kata-kemenkeu-O2atGVUEGL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pajak vietnam lebih rendah dari RI (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/12/16/320/3096120/ri-naikkan-ppn-12-tapi-vietnam-turun-jadi-8-ini-kata-kemenkeu-O2atGVUEGL.jpg</image><title>Pajak vietnam lebih rendah dari RI (Foto: Reuters)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% mulai 2025. Kebijakan ini berbalik dengan Vietnam yang baru saja memperpanjang pemangkasan tarif PPN dari 10% menjadi 8% hingga pertengahan 2025.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menegaskan, Indonesia memiliki pendekatan yang lebih berpihak kepada masyarakat menengah ke bawah melalui skema belanja perpajakan dan insentif pajak.

BACA JUGA:
Alasan Rumah Sakit VIP dan Sekolah Internasional Kena PPN 12%


&quot;Vietnam memang memiliki tarif PPN lebih rendah, tapi mereka tidak memiliki mekanisme tax expenditure sebesar Indonesia. Insentif PPN kita jauh lebih besar, terutama untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah,&quot; ujar Febrio saat ditemui di Kantor Kementerian Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2024).
Menurut Febrio, bahan makanan pokok di Indonesia sepenuhnya bebas PPN, sementara di Vietnam dikenakan tarif 5%.

BACA JUGA:
Daftar Mobil Hybrid yang Dapat Insentif PPnBM 3% Mulai 2025


Selain itu, pemerintah Indonesia juga memberikan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sejumlah barang tertentu, seperti tepung terigu dan minyak goreng, yang hanya dikenakan tarif 1%.
Majelis Nasional Vietnam memperpanjang kebijakan pengurangan tarif PPN dari 10% menjadi 8% hingga Juni 2025 untuk mendukung konsumsi domestik dan mendorong pemulihan ekonomi. Kebijakan ini mencakup hampir semua sektor, kecuali layanan telekomunikasi, keuangan, dan real estat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMi8wOS80LzE4NzAyNy8zL0tPOEo3U1hWY3hJ&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurut laporan Vietnam Briefing, pemotongan tarif PPN telah terbukti  efektif dalam mendorong daya beli masyarakat, meningkatkan stabilitas  ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada semester pertama 2024 mencapai  6,42%, sebagian didorong oleh kebijakan pengurangan tarif tersebut.  Sebaliknya, Indonesia memilih untuk meningkatkan tarif PPN menjadi 12%  tetapi tetap memberikan berbagai insentif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto  menyebutkan, barang kebutuhan pokok seperti beras, daging, telur, dan  susu akan tetap bebas PPN, sementara sektor perumahan dan kendaraan  bermotor mendapatkan fasilitas PPN DTP.
&amp;ldquo;Fokus kami adalah menjaga daya beli masyarakat dengan memberikan  pembebasan PPN untuk barang tertentu dan insentif langsung seperti  bantuan pangan dan diskon listrik,&quot; jelas Airlangga.
Untuk rumah tangga dengan daya listrik di bawah 2.200 VA akan  mendapatkan diskon 50% selama Januari-Februari 2025. Selain itu,  masyarakat kurang mampu juga akan menerima bantuan beras 10 kilogram per  bulan selama dua bulan pertama 2025.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Indonesia menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% mulai 2025. Kebijakan ini berbalik dengan Vietnam yang baru saja memperpanjang pemangkasan tarif PPN dari 10% menjadi 8% hingga pertengahan 2025.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menegaskan, Indonesia memiliki pendekatan yang lebih berpihak kepada masyarakat menengah ke bawah melalui skema belanja perpajakan dan insentif pajak.

BACA JUGA:
Alasan Rumah Sakit VIP dan Sekolah Internasional Kena PPN 12%


&quot;Vietnam memang memiliki tarif PPN lebih rendah, tapi mereka tidak memiliki mekanisme tax expenditure sebesar Indonesia. Insentif PPN kita jauh lebih besar, terutama untuk melindungi masyarakat berpenghasilan rendah,&quot; ujar Febrio saat ditemui di Kantor Kementerian Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2024).
Menurut Febrio, bahan makanan pokok di Indonesia sepenuhnya bebas PPN, sementara di Vietnam dikenakan tarif 5%.

BACA JUGA:
Daftar Mobil Hybrid yang Dapat Insentif PPnBM 3% Mulai 2025


Selain itu, pemerintah Indonesia juga memberikan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sejumlah barang tertentu, seperti tepung terigu dan minyak goreng, yang hanya dikenakan tarif 1%.
Majelis Nasional Vietnam memperpanjang kebijakan pengurangan tarif PPN dari 10% menjadi 8% hingga Juni 2025 untuk mendukung konsumsi domestik dan mendorong pemulihan ekonomi. Kebijakan ini mencakup hampir semua sektor, kecuali layanan telekomunikasi, keuangan, dan real estat.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMi8wOS80LzE4NzAyNy8zL0tPOEo3U1hWY3hJ&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Menurut laporan Vietnam Briefing, pemotongan tarif PPN telah terbukti  efektif dalam mendorong daya beli masyarakat, meningkatkan stabilitas  ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja.
Pertumbuhan ekonomi Vietnam pada semester pertama 2024 mencapai  6,42%, sebagian didorong oleh kebijakan pengurangan tarif tersebut.  Sebaliknya, Indonesia memilih untuk meningkatkan tarif PPN menjadi 12%  tetapi tetap memberikan berbagai insentif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto  menyebutkan, barang kebutuhan pokok seperti beras, daging, telur, dan  susu akan tetap bebas PPN, sementara sektor perumahan dan kendaraan  bermotor mendapatkan fasilitas PPN DTP.
&amp;ldquo;Fokus kami adalah menjaga daya beli masyarakat dengan memberikan  pembebasan PPN untuk barang tertentu dan insentif langsung seperti  bantuan pangan dan diskon listrik,&quot; jelas Airlangga.
Untuk rumah tangga dengan daya listrik di bawah 2.200 VA akan  mendapatkan diskon 50% selama Januari-Februari 2025. Selain itu,  masyarakat kurang mampu juga akan menerima bantuan beras 10 kilogram per  bulan selama dua bulan pertama 2025.</content:encoded></item></channel></rss>
