<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tantangan Ekonomi 2024, Tekan Daya Beli dan Akses Asuransi</title><description>Tahun 2024 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi banyak sektor, termasuk asuransi,</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/18/320/3096703/tantangan-ekonomi-2024-tekan-daya-beli-dan-akses-asuransi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/12/18/320/3096703/tantangan-ekonomi-2024-tekan-daya-beli-dan-akses-asuransi"/><item><title>Tantangan Ekonomi 2024, Tekan Daya Beli dan Akses Asuransi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/18/320/3096703/tantangan-ekonomi-2024-tekan-daya-beli-dan-akses-asuransi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/12/18/320/3096703/tantangan-ekonomi-2024-tekan-daya-beli-dan-akses-asuransi</guid><pubDate>Rabu 18 Desember 2024 17:57 WIB</pubDate><dc:creator>Fitria Azizah Banowati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/12/18/320/3096703/tantangan-ekonomi-2024-tekan-daya-beli-dan-akses-asuransi-sFTBlLLzdv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tantangan ekonomi tekan daya beli asuransi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/12/18/320/3096703/tantangan-ekonomi-2024-tekan-daya-beli-dan-akses-asuransi-sFTBlLLzdv.jpg</image><title>Tantangan ekonomi tekan daya beli asuransi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Tahun 2024 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi banyak sektor, termasuk asuransi. Kondisi ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, berdampak pada berbagai industri, mulai dari jasa hingga manufaktur.
Inflasi yang tinggi mempengaruhi sektor asuransi, yang secara langsung bergantung pada daya beli masyarakat. Ketika daya beli turun, masyarakat cenderung mengurangi pembelian produk-produk yang dianggap tidak mendesak, termasuk asuransi.

BACA JUGA:
Usia 20-an Jadi Waktu Terbaik untuk Mulai Asuransi Jiwa, Apa Alasannya?


Untuk menghadapi tantangan ini, Direktur Utama PT Jasaraharja Putera Abdul Haris menyampaikan agar inovasi dilakukan dalam menciptakan produk yang lebih sederhana dan terjangkau. Produk-produk yang disesuaikan dengan situasi ekonomi bisa membantu masyarakat tetap terlindungi tanpa membebani pengeluaran mereka.
&amp;ldquo;Tentu menciptakan produk-produk yang simpel, yang sederhana, yang murah, makanya kalau hari ini kita menciptakan ini terhadap BNPB, terhadap aplikasi kami, itu adalah bagian kami untuk disesuaikan dengan ekonomi yang saat ini, pada saat daya beli masyarakat menurun, yang kami lakukan adalah membuat produk-produk yang murah, yang simpel, dan lain-lain,&amp;rdquo; ucap Abdul Haris saat acara Media Gathering PT Jasaraharja Putera di Jakarta, Rabu (19/12/2024).

BACA JUGA:
OJK Awasi Ketat 8 Perusahaan Asuransi dan Reasuransi


Salah satu pendekatan yang disarankan adalah menawarkan asuransi dengan premi rendah yang mudah diakses. Produk asuransi kendaraan bermotor, misalnya, kini dijual dengan harga yang lebih murah, sehingga dapat menjangkau masyarakat luas, terutama yang terdampak oleh penurunan daya beli.
&amp;ldquo;Bayangkan, di aplikasi kami itu ada namanya SIRANMOR yang merupakan asuransi kendaraan bermotor dengan premi yang sangat terjangkau bagi masyarakat. Produk ini dirancang untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan daya beli yang berbeda. Proses pembelian melalui aplikasi juga dibuat sederhana dan mudah diakses oleh pengguna, dan murah banget, cobain nanti,&amp;rdquo; jelas Abdul Haris.
Selain itu, penggunaan teknologi digital seperti aplikasi asuransi  juga diharapkan dapat mempermudah akses dan proses pembelian produk.  Dengan cara ini, masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan perlindungan  yang sesuai dengan kebutuhan mereka di tengah situasi ekonomi yang tidak  menentu.
&amp;ldquo;Kami percaya bahwa digitalisasi adalah kunci untuk menghadirkan  solusi asuransi yang cepat, mudah, dan terpercaya bagi masyarakat. Fokus  kami adalah menjadi perusahaan asuransi retail terkemuka yang  menyediakan layanan asuransi one stop service di Indonesia,&amp;rdquo; pungkas  Abdul Haris.
Penyesuaian regulasi dan kolaborasi dengan berbagai mitra menjadi  langkah penting dalam menghadapi perubahan ini. Pelaku industri asuransi  terus memantau perkembangan ekonomi sambil mencari cara terbaik untuk  tetap relevan di pasar.</description><content:encoded>JAKARTA - Tahun 2024 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi banyak sektor, termasuk asuransi. Kondisi ini berpotensi menurunkan daya beli masyarakat, berdampak pada berbagai industri, mulai dari jasa hingga manufaktur.
Inflasi yang tinggi mempengaruhi sektor asuransi, yang secara langsung bergantung pada daya beli masyarakat. Ketika daya beli turun, masyarakat cenderung mengurangi pembelian produk-produk yang dianggap tidak mendesak, termasuk asuransi.

BACA JUGA:
Usia 20-an Jadi Waktu Terbaik untuk Mulai Asuransi Jiwa, Apa Alasannya?


Untuk menghadapi tantangan ini, Direktur Utama PT Jasaraharja Putera Abdul Haris menyampaikan agar inovasi dilakukan dalam menciptakan produk yang lebih sederhana dan terjangkau. Produk-produk yang disesuaikan dengan situasi ekonomi bisa membantu masyarakat tetap terlindungi tanpa membebani pengeluaran mereka.
&amp;ldquo;Tentu menciptakan produk-produk yang simpel, yang sederhana, yang murah, makanya kalau hari ini kita menciptakan ini terhadap BNPB, terhadap aplikasi kami, itu adalah bagian kami untuk disesuaikan dengan ekonomi yang saat ini, pada saat daya beli masyarakat menurun, yang kami lakukan adalah membuat produk-produk yang murah, yang simpel, dan lain-lain,&amp;rdquo; ucap Abdul Haris saat acara Media Gathering PT Jasaraharja Putera di Jakarta, Rabu (19/12/2024).

BACA JUGA:
OJK Awasi Ketat 8 Perusahaan Asuransi dan Reasuransi


Salah satu pendekatan yang disarankan adalah menawarkan asuransi dengan premi rendah yang mudah diakses. Produk asuransi kendaraan bermotor, misalnya, kini dijual dengan harga yang lebih murah, sehingga dapat menjangkau masyarakat luas, terutama yang terdampak oleh penurunan daya beli.
&amp;ldquo;Bayangkan, di aplikasi kami itu ada namanya SIRANMOR yang merupakan asuransi kendaraan bermotor dengan premi yang sangat terjangkau bagi masyarakat. Produk ini dirancang untuk menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan daya beli yang berbeda. Proses pembelian melalui aplikasi juga dibuat sederhana dan mudah diakses oleh pengguna, dan murah banget, cobain nanti,&amp;rdquo; jelas Abdul Haris.
Selain itu, penggunaan teknologi digital seperti aplikasi asuransi  juga diharapkan dapat mempermudah akses dan proses pembelian produk.  Dengan cara ini, masyarakat dapat lebih mudah mendapatkan perlindungan  yang sesuai dengan kebutuhan mereka di tengah situasi ekonomi yang tidak  menentu.
&amp;ldquo;Kami percaya bahwa digitalisasi adalah kunci untuk menghadirkan  solusi asuransi yang cepat, mudah, dan terpercaya bagi masyarakat. Fokus  kami adalah menjadi perusahaan asuransi retail terkemuka yang  menyediakan layanan asuransi one stop service di Indonesia,&amp;rdquo; pungkas  Abdul Haris.
Penyesuaian regulasi dan kolaborasi dengan berbagai mitra menjadi  langkah penting dalam menghadapi perubahan ini. Pelaku industri asuransi  terus memantau perkembangan ekonomi sambil mencari cara terbaik untuk  tetap relevan di pasar.</content:encoded></item></channel></rss>
