<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertumbuhan Ekonomi 8% Perlu Dukungan Swasembada Pangan Plus</title><description>Tim kajian Foresight and Metrics to Accelerate Food, Land, and Water System Transformation, terdiri dari para peneliti BRIN.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/21/320/3097579/pertumbuhan-ekonomi-8-perlu-dukungan-swasembada-pangan-plus</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2024/12/21/320/3097579/pertumbuhan-ekonomi-8-perlu-dukungan-swasembada-pangan-plus"/><item><title>Pertumbuhan Ekonomi 8% Perlu Dukungan Swasembada Pangan Plus</title><link>https://economy.okezone.com/read/2024/12/21/320/3097579/pertumbuhan-ekonomi-8-perlu-dukungan-swasembada-pangan-plus</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2024/12/21/320/3097579/pertumbuhan-ekonomi-8-perlu-dukungan-swasembada-pangan-plus</guid><pubDate>Sabtu 21 Desember 2024 17:05 WIB</pubDate><dc:creator>Fitria Azizah Banowati</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2024/12/21/320/3097579/pertumbuhan-ekonomi-8-perlu-dukungan-swasembada-pangan-plus-miwQOiJPNb.jfif" expression="full" type="image/jpeg">Pertumbuhan Ekonomi RI 8% (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2024/12/21/320/3097579/pertumbuhan-ekonomi-8-perlu-dukungan-swasembada-pangan-plus-miwQOiJPNb.jfif</image><title>Pertumbuhan Ekonomi RI 8% (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Tim kajian Foresight and Metrics  to Accelerate Food, Land, and Water System Transformation,  terdiri dari para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas  Ekonomi dan Manajemen IPB University dan Bappenas, yang didukung oleh The International Food Policy Research Institute (IFPRI) dan Alliance Bioversity International and CIAT (ABC).
Tim melakukan kajian tentang  Indonesia&amp;rsquo;s Agrifood Systems and Economic Growth Projection Towards Indonesia Emas 2045  (sistem pangan dan pertanian Indonesia, dalam kaitannya dengan struktur ekonomi nasional serta proyeksi pertumbuhan pertanian dan ekonomi ke depan, dengan menganalisis faktor pemacu pertumbuhannya menuju Indonesia Emas tahun 2045).

BACA JUGA:
Targetkan Ekonomi RI Tumbuh 8%, Prabowo: Saya Diejek Lagi


Kajian dilakukan dengan memilah faktor pemacu pertumbuhan di sektor pertanian pada upaya intensifikasi, ekstensifikasi serta peran teknologi dan inovasi yang dilihat melalui nilai Total Factor Productivity (TFP), para peneliti juga melakukan proyeksi pertumbuhan ke depan menggunakan pendekatan Dynamic Economy- Wide Model for Indonesia (DEWI) yang dikembangkan  IFPRI, dengan basis pada  Computable General Equilibrium (CGE) model.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMi8xOS8xLzE4NzE4OS8zL0NGRm9RY3l3eDRB&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Hasil kajian  menunjukan bahwa dalam kurun waktu 2025-2029,  ekonomi Indonesia diperkirakan berpotensi  tumbuh dalam rentang 5,4% &amp;ndash; 8,25 per tahun.  Hasil ini mendukung target pemerintah, yang mencanangkan pencapaian pertumbuhan ekonomi   8% pada tahun 2028-2029. Untuk mewujudkan target ini diperlukan dukungan kebijakan yang konsisten, terutama dalam pengembangan.

BACA JUGA:
Prabowo Sebut D-8 Sumbang Pertumbuhan Ekonomi Terbesar Nomor 3 Dunia


sumber-sumber pertumbuhan, seperti investasi sektor riil, peningkatan nilai tambah, hilirisasi produk unggulan, melalui penguatan ekosistem inovasi, terobosan riset dan pengembangan (R&amp;amp;D),  peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan lain-lain.Transformasi sistem pangan dan pertanian Indonesia menjadi prasyarat penting bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi tinggi, keluar dari middle income trap (MIT) dan sasaran Indonesia Emas 2045. Analisis komprehensif telah menggunakan data historis sektoral Indonesia sejak dekade 1970-an serta kajian komparasi lintas negara Asia (China, India, Malaysia, Vietnam dan Thailand). Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia pernah mengalami pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen pada tahun 1973, 1977, 1980 dan 1995.  Pada tahun 70-an pertumbuhan yang tinggi ditunjang oleh booming harga minyak bumi. Sementara pertumbuhan ekonomi tinggi tahun 1980 dan 1995 didukung oleh pertumbuhan  Industri  dan peningkatan produksi pertanian pangan, melalui masifnya penerapan teknologi dan inovasi.
Beberapa negara Asia mengalami pertumbuhan lebih tinggi dari 8 persen, utamanya China dan Vietnam, didukung oleh pertumbuhan tinggi pada Total Factor Productivity (TFP), yang mencerminkan pengembangan teknologi dan inovasi, terutama pada sektor pertanian.
Pertumbuhan TFP pertanian  China tahun 1998-2007 berkisar 4-5% per tahun,  sementara Indonesia hanya mencatat pertumbuhan TFP Pertanian periode tersebut hanya 1-2% per tahun. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tinggi di China juga didukung oleh tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga,  tabungan dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi China didukung oleh tingginya efisiensi investasi yang digambarkan oleh  nilai ICOR di bawah 5, pada saat yang sama nilai ICOR Indonesia sekitar 6,2.  Untuk dapat tumbuh di atas 8 persen, berkaca dari pengalaman China, maka pertanian Indonesia harus tumbuh 3 kali lipat dari kondisi pertumbuhan saat ini.
Agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 8 persen pada tahun 2028/29, maka  pertanian harus tumbuh minimal 5,8% per tahun.  Pertumbuhan  pertanian sebesar ini
dapat dicapai dengan memaksimalkan pengembangan komoditas yang mempunyai potensi pertumbuhan tinggi,  utamanya komoditi bernilai ekonomi tinggi seperti hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan.  Peternakan berpotensi tumbuh sekitar 4,8% per tahun, sementara perikanan sekitar 6,6%.
Selain itu pengembangan sektor tersier atau jasa, yang berpotensi tumbuh tinggi perlu dukungan kebijakan yang memberikan kepastian usaha, dukungan aransemen kelembagaan yang memungkinkan proses transformasi perekonomian berjalan sesuai yang direncanakan. Strategi penguatan hilirisasi pangan dan pertanian dalam arti luas untuk memastikan proses reindustrialisasi yang lebih merata di beberapa wilayah Indonesia, mampu menghasilkan nilai tambah tinggi, menciptakan lapangan kerja baru dan berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dan pemerataan Pembangunan.
Singkatnya, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2028/29, maka target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan pada saat bersamaan, perlu didukung oleh berbagai langkah kebijakan yang dapat memacu peningkatan produktivitas komoditas pertanian bernilai tinggi.
Target swasembada dapat dimulai pada beras sebagai pangan pokok, kemudian menyusul komoditas komoditas lain bernilai ekonomi tinggi, bervisi industrialisasi, pengolahan lanjutan yang lebih sofistikasi, baik untuk memenuhi pasar domestik, maupun pasar ekspor. Upaya ini perlu didukung dengan peningkatan nilai TFP melalui pengembangan teknologi dan inovasi secara masif, ditunjang oleh peningkatan dana penelitian dan pengembangan (R&amp;amp;D), peningkatan kapasitas peneliti dan sistem diseminasi yang memadai.
Upaya pemerintah untuk menarik investasi  asing dan dalam negeri perlu terus di tingkatkan, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas investasi untuk mencapai ICOR (Incremental Capital-Output Ratio) yang ideal melalui penyederhanaan perizinan serta kemudahan berusaha. Implementasi Undang-Undang Cipta Kerja memerlukan konsistensi kebijakan dan sinergi dukungan Pusat dan Daerah yang lebih baik.
Terakhir  perhatian pada peningkatan kualitas  tenaga kerja yang ada, utamanya melalui penggunaan teknologi dan digitalisasi. Upaya ini diharapkan akan memacu  peningkatan produktivitas serta penghasilan per kapita,  yang pada ujungnya meningkatkan konsumsi rumah tangga  dan tabungan.</description><content:encoded>JAKARTA - Tim kajian Foresight and Metrics  to Accelerate Food, Land, and Water System Transformation,  terdiri dari para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fakultas  Ekonomi dan Manajemen IPB University dan Bappenas, yang didukung oleh The International Food Policy Research Institute (IFPRI) dan Alliance Bioversity International and CIAT (ABC).
Tim melakukan kajian tentang  Indonesia&amp;rsquo;s Agrifood Systems and Economic Growth Projection Towards Indonesia Emas 2045  (sistem pangan dan pertanian Indonesia, dalam kaitannya dengan struktur ekonomi nasional serta proyeksi pertumbuhan pertanian dan ekonomi ke depan, dengan menganalisis faktor pemacu pertumbuhannya menuju Indonesia Emas tahun 2045).

BACA JUGA:
Targetkan Ekonomi RI Tumbuh 8%, Prabowo: Saya Diejek Lagi


Kajian dilakukan dengan memilah faktor pemacu pertumbuhan di sektor pertanian pada upaya intensifikasi, ekstensifikasi serta peran teknologi dan inovasi yang dilihat melalui nilai Total Factor Productivity (TFP), para peneliti juga melakukan proyeksi pertumbuhan ke depan menggunakan pendekatan Dynamic Economy- Wide Model for Indonesia (DEWI) yang dikembangkan  IFPRI, dengan basis pada  Computable General Equilibrium (CGE) model.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyNC8xMi8xOS8xLzE4NzE4OS8zL0NGRm9RY3l3eDRB&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Hasil kajian  menunjukan bahwa dalam kurun waktu 2025-2029,  ekonomi Indonesia diperkirakan berpotensi  tumbuh dalam rentang 5,4% &amp;ndash; 8,25 per tahun.  Hasil ini mendukung target pemerintah, yang mencanangkan pencapaian pertumbuhan ekonomi   8% pada tahun 2028-2029. Untuk mewujudkan target ini diperlukan dukungan kebijakan yang konsisten, terutama dalam pengembangan.

BACA JUGA:
Prabowo Sebut D-8 Sumbang Pertumbuhan Ekonomi Terbesar Nomor 3 Dunia


sumber-sumber pertumbuhan, seperti investasi sektor riil, peningkatan nilai tambah, hilirisasi produk unggulan, melalui penguatan ekosistem inovasi, terobosan riset dan pengembangan (R&amp;amp;D),  peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan lain-lain.Transformasi sistem pangan dan pertanian Indonesia menjadi prasyarat penting bagi pencapaian pertumbuhan ekonomi tinggi, keluar dari middle income trap (MIT) dan sasaran Indonesia Emas 2045. Analisis komprehensif telah menggunakan data historis sektoral Indonesia sejak dekade 1970-an serta kajian komparasi lintas negara Asia (China, India, Malaysia, Vietnam dan Thailand). Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia pernah mengalami pertumbuhan ekonomi di atas 8 persen pada tahun 1973, 1977, 1980 dan 1995.  Pada tahun 70-an pertumbuhan yang tinggi ditunjang oleh booming harga minyak bumi. Sementara pertumbuhan ekonomi tinggi tahun 1980 dan 1995 didukung oleh pertumbuhan  Industri  dan peningkatan produksi pertanian pangan, melalui masifnya penerapan teknologi dan inovasi.
Beberapa negara Asia mengalami pertumbuhan lebih tinggi dari 8 persen, utamanya China dan Vietnam, didukung oleh pertumbuhan tinggi pada Total Factor Productivity (TFP), yang mencerminkan pengembangan teknologi dan inovasi, terutama pada sektor pertanian.
Pertumbuhan TFP pertanian  China tahun 1998-2007 berkisar 4-5% per tahun,  sementara Indonesia hanya mencatat pertumbuhan TFP Pertanian periode tersebut hanya 1-2% per tahun. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tinggi di China juga didukung oleh tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga,  tabungan dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi China didukung oleh tingginya efisiensi investasi yang digambarkan oleh  nilai ICOR di bawah 5, pada saat yang sama nilai ICOR Indonesia sekitar 6,2.  Untuk dapat tumbuh di atas 8 persen, berkaca dari pengalaman China, maka pertanian Indonesia harus tumbuh 3 kali lipat dari kondisi pertumbuhan saat ini.
Agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 8 persen pada tahun 2028/29, maka  pertanian harus tumbuh minimal 5,8% per tahun.  Pertumbuhan  pertanian sebesar ini
dapat dicapai dengan memaksimalkan pengembangan komoditas yang mempunyai potensi pertumbuhan tinggi,  utamanya komoditi bernilai ekonomi tinggi seperti hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan.  Peternakan berpotensi tumbuh sekitar 4,8% per tahun, sementara perikanan sekitar 6,6%.
Selain itu pengembangan sektor tersier atau jasa, yang berpotensi tumbuh tinggi perlu dukungan kebijakan yang memberikan kepastian usaha, dukungan aransemen kelembagaan yang memungkinkan proses transformasi perekonomian berjalan sesuai yang direncanakan. Strategi penguatan hilirisasi pangan dan pertanian dalam arti luas untuk memastikan proses reindustrialisasi yang lebih merata di beberapa wilayah Indonesia, mampu menghasilkan nilai tambah tinggi, menciptakan lapangan kerja baru dan berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dan pemerataan Pembangunan.
Singkatnya, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2028/29, maka target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan pada saat bersamaan, perlu didukung oleh berbagai langkah kebijakan yang dapat memacu peningkatan produktivitas komoditas pertanian bernilai tinggi.
Target swasembada dapat dimulai pada beras sebagai pangan pokok, kemudian menyusul komoditas komoditas lain bernilai ekonomi tinggi, bervisi industrialisasi, pengolahan lanjutan yang lebih sofistikasi, baik untuk memenuhi pasar domestik, maupun pasar ekspor. Upaya ini perlu didukung dengan peningkatan nilai TFP melalui pengembangan teknologi dan inovasi secara masif, ditunjang oleh peningkatan dana penelitian dan pengembangan (R&amp;amp;D), peningkatan kapasitas peneliti dan sistem diseminasi yang memadai.
Upaya pemerintah untuk menarik investasi  asing dan dalam negeri perlu terus di tingkatkan, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas investasi untuk mencapai ICOR (Incremental Capital-Output Ratio) yang ideal melalui penyederhanaan perizinan serta kemudahan berusaha. Implementasi Undang-Undang Cipta Kerja memerlukan konsistensi kebijakan dan sinergi dukungan Pusat dan Daerah yang lebih baik.
Terakhir  perhatian pada peningkatan kualitas  tenaga kerja yang ada, utamanya melalui penggunaan teknologi dan digitalisasi. Upaya ini diharapkan akan memacu  peningkatan produktivitas serta penghasilan per kapita,  yang pada ujungnya meningkatkan konsumsi rumah tangga  dan tabungan.</content:encoded></item></channel></rss>
