<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Siap Biayai 3 Juta Rumah, Ini Kondisinya</title><description>OJK  mendukung program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/01/14/470/3104267/bank-siap-biayai-3-juta-rumah-ini-kondisinya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/01/14/470/3104267/bank-siap-biayai-3-juta-rumah-ini-kondisinya"/><item><title>Bank Siap Biayai 3 Juta Rumah, Ini Kondisinya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/01/14/470/3104267/bank-siap-biayai-3-juta-rumah-ini-kondisinya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/01/14/470/3104267/bank-siap-biayai-3-juta-rumah-ini-kondisinya</guid><pubDate>Selasa 14 Januari 2025 13:39 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/01/14/470/3104267/bank-vdsI_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Likuiditas Bank Aman untuk Biayai Program 3 Juta Rumah. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/01/14/470/3104267/bank-vdsI_large.jpg</image><title>Likuiditas Bank Aman untuk Biayai Program 3 Juta Rumah. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Namun tetap mengingatkan perbankan dalam menjaga likuiditasnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Perbankan Bisa Bantu 3 Juta rumah&#13;
&#13;
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menekankan pentingnya peran perbankan dalam mendukung program ini melalui penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan menjaga stabilitas likuiditas. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi likuiditas perbankan hingga November 2024 masih sangat ample (cukup). AL/NCD mencapai 112,94%, AL/DPK sebesar 25,57%, dan Liquidity Coverage Ratio sebesar 213,07%. Bahkan, LDR yang berada di level 87,34% juga dinilai memadai untuk mendukung peningkatan penyaluran kredit, termasuk pembiayaan program 3 juta rumah,&amp;rdquo; ujar Dian dalam Konferensi Pers Dewan Komisioner OJK, Selasa (14/1/2025).&#13;
&#13;
2. Kebijakan OJK Dukung 3 Juta Rumah&#13;
&#13;
Dian menambahkan, OJK juga telah menyiapkan kebijakan untuk mendukung program ini, termasuk penyesuaian loan to value (LTV) dan pembobotan Eksposur Risiko Minimum (ERM) kredit.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami memberikan fleksibilitas dalam perhitungan kualitas kredit dan mengecualikan batas maksimum pemberian kredit untuk program perumahan bagi MBR,&amp;rdquo; kata Dian. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
OJK juga menyoroti peran pasar modal melalui penerbitan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) yang terdiri dari sekumpulan KPR dapat menjadi instrumen investasi pendapatan tetap yang diperdagangkan di pasar sekunder. Instrumen ini diharapkan dapat melengkapi sumber pendanaan dan membantu menjaga stabilitas likuiditas bank.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 13 Januari 2025, terdapat 9 EBA-SP yang diperdagangkan dengan total nilai Rp2,21 triliun. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Perihal tantangan suku bunga tinggi, Dian menjelaskan suku bunga KPR umumnya mengikuti pergerakan suku bunga kredit.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Meskipun suku bunga tinggi, data menunjukkan bahwa KPR yang disalurkan perbankan masih tumbuh. Hal ini menunjukkan potensi pertumbuhan kredit ke depan yang masih cukup positif,&amp;rdquo; ungkapnya. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dian juga menegaskan bahwa bank yang berpartisipasi dalam program ini dapat memanfaatkan sejumlah insentif, seperti subsidi uang muka (SDUM) untuk meningkatkan rasio LTV calon debitur.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan insentif ini, kami harap perbankan dapat mengoptimalkan perannya untuk mendukung pencapaian program 3 juta rumah pemerintah,&amp;rdquo; pungkas Dian. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendukung program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Namun tetap mengingatkan perbankan dalam menjaga likuiditasnya.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
1. Perbankan Bisa Bantu 3 Juta rumah&#13;
&#13;
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menekankan pentingnya peran perbankan dalam mendukung program ini melalui penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan menjaga stabilitas likuiditas. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kondisi likuiditas perbankan hingga November 2024 masih sangat ample (cukup). AL/NCD mencapai 112,94%, AL/DPK sebesar 25,57%, dan Liquidity Coverage Ratio sebesar 213,07%. Bahkan, LDR yang berada di level 87,34% juga dinilai memadai untuk mendukung peningkatan penyaluran kredit, termasuk pembiayaan program 3 juta rumah,&amp;rdquo; ujar Dian dalam Konferensi Pers Dewan Komisioner OJK, Selasa (14/1/2025).&#13;
&#13;
2. Kebijakan OJK Dukung 3 Juta Rumah&#13;
&#13;
Dian menambahkan, OJK juga telah menyiapkan kebijakan untuk mendukung program ini, termasuk penyesuaian loan to value (LTV) dan pembobotan Eksposur Risiko Minimum (ERM) kredit.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kami memberikan fleksibilitas dalam perhitungan kualitas kredit dan mengecualikan batas maksimum pemberian kredit untuk program perumahan bagi MBR,&amp;rdquo; kata Dian. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
OJK juga menyoroti peran pasar modal melalui penerbitan Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP) yang terdiri dari sekumpulan KPR dapat menjadi instrumen investasi pendapatan tetap yang diperdagangkan di pasar sekunder. Instrumen ini diharapkan dapat melengkapi sumber pendanaan dan membantu menjaga stabilitas likuiditas bank.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 13 Januari 2025, terdapat 9 EBA-SP yang diperdagangkan dengan total nilai Rp2,21 triliun. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Perihal tantangan suku bunga tinggi, Dian menjelaskan suku bunga KPR umumnya mengikuti pergerakan suku bunga kredit.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Meskipun suku bunga tinggi, data menunjukkan bahwa KPR yang disalurkan perbankan masih tumbuh. Hal ini menunjukkan potensi pertumbuhan kredit ke depan yang masih cukup positif,&amp;rdquo; ungkapnya. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
Dian juga menegaskan bahwa bank yang berpartisipasi dalam program ini dapat memanfaatkan sejumlah insentif, seperti subsidi uang muka (SDUM) untuk meningkatkan rasio LTV calon debitur.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Dengan insentif ini, kami harap perbankan dapat mengoptimalkan perannya untuk mendukung pencapaian program 3 juta rumah pemerintah,&amp;rdquo; pungkas Dian. &amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
