<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fenomena Influencer Produk Keuangan tapi Tak Punya Kemampuan, OJK Turun Tangan</title><description>Friderica Widyasari Dewi menyoroti fenomena financial influencer (influencer) yang semakin marak.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/03/12/320/3121624/fenomena-influencer-produk-keuangan-tapi-tak-punya-kemampuan-ojk-turun-tangan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/03/12/320/3121624/fenomena-influencer-produk-keuangan-tapi-tak-punya-kemampuan-ojk-turun-tangan"/><item><title>Fenomena Influencer Produk Keuangan tapi Tak Punya Kemampuan, OJK Turun Tangan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/03/12/320/3121624/fenomena-influencer-produk-keuangan-tapi-tak-punya-kemampuan-ojk-turun-tangan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/03/12/320/3121624/fenomena-influencer-produk-keuangan-tapi-tak-punya-kemampuan-ojk-turun-tangan</guid><pubDate>Rabu 12 Maret 2025 08:03 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/03/12/320/3121624/produk_keuangan-if2V_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Influencer Produk Keuangan (Foto; Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/03/12/320/3121624/produk_keuangan-if2V_large.jpg</image><title>Influencer Produk Keuangan (Foto; Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyoroti fenomena financial influencer (influencer) yang semakin marak di media sosial.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kiki, sapaan akrabnya, mengakui banyak di antara mereka tidak memiliki latar belakang keuangan yang mumpuni, tetapi memberikan rekomendasi investasi atau produk jasa keuangan.&#13;
&#13;
1. Jangkauan Influencer dan Hubungan Parasosial&#13;
&#13;
Namun, disadari sisi positifnya, bahwa jangkauan finfluencer dan hubungan parasosial yang terbentuk antara pemengaruh dengan pengikutnya dapat memberikan dampak yang positif dalam aktivitas edukasi keuangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Banyak sekali contohnya orang yang tidak punya background, yang tidak mumpuni, tiba-tiba menjadi finfluencer, kemudian mempengaruhi masyarakat untuk melakukan suatu ketindakan tertentu,&amp;rdquo; kata Kiki saat ditemui di Gedung OJK, Jakarta Pusat, dikutip Antara Rabu&amp;nbsp;(11/3/2025).&#13;
&#13;
Bukan tanpa alasan regulator mencemaskan hal itu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. OJK Temukan Fakta&#13;
&#13;
Kiki menyebut pihaknya menemukan sejumlah fakta bahwa beberapa influencer berpura-pura sebagai pengguna produk, padahal mereka sebenarnya mendapat komisi dari pihak tertentu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi seolah dia (influencer) independen mengatakan bahwa saya menggunakan produk ini, saya udah untung, ayo masyarakat ini bagus dan lain-lain. Tapi ternyata sebenarnya ini orang dibayar, atau punya kepentingan oleh perusahaan untuk kemudian memasakkan produk ini dengan kata-kata yang bombastis dan lain-lain,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
3. Skema Pengaturan OJK&#13;
&#13;
Sebagai jalan tengah, OJK mempertimbangkan sejumlah skema pengaturan terhadap legalitas influencer keuangan.&#13;
&#13;
Dua skema yang saat ini menjadi konsen OJK antara lain sertifikasi bagi finfluencer, sebagai legitimasi atas kompetensi dalam mempromosikan produk keuangan. Kemudian juga inisiatif regulator untuk membekukan (freeze) kanal influencer.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sekarang saat ini kita sedang menggodok itu, hopefully semester 2 tahun ini akan selesai,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyoroti fenomena financial influencer (influencer) yang semakin marak di media sosial.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Kiki, sapaan akrabnya, mengakui banyak di antara mereka tidak memiliki latar belakang keuangan yang mumpuni, tetapi memberikan rekomendasi investasi atau produk jasa keuangan.&#13;
&#13;
1. Jangkauan Influencer dan Hubungan Parasosial&#13;
&#13;
Namun, disadari sisi positifnya, bahwa jangkauan finfluencer dan hubungan parasosial yang terbentuk antara pemengaruh dengan pengikutnya dapat memberikan dampak yang positif dalam aktivitas edukasi keuangan.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Banyak sekali contohnya orang yang tidak punya background, yang tidak mumpuni, tiba-tiba menjadi finfluencer, kemudian mempengaruhi masyarakat untuk melakukan suatu ketindakan tertentu,&amp;rdquo; kata Kiki saat ditemui di Gedung OJK, Jakarta Pusat, dikutip Antara Rabu&amp;nbsp;(11/3/2025).&#13;
&#13;
Bukan tanpa alasan regulator mencemaskan hal itu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. OJK Temukan Fakta&#13;
&#13;
Kiki menyebut pihaknya menemukan sejumlah fakta bahwa beberapa influencer berpura-pura sebagai pengguna produk, padahal mereka sebenarnya mendapat komisi dari pihak tertentu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Jadi seolah dia (influencer) independen mengatakan bahwa saya menggunakan produk ini, saya udah untung, ayo masyarakat ini bagus dan lain-lain. Tapi ternyata sebenarnya ini orang dibayar, atau punya kepentingan oleh perusahaan untuk kemudian memasakkan produk ini dengan kata-kata yang bombastis dan lain-lain,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
3. Skema Pengaturan OJK&#13;
&#13;
Sebagai jalan tengah, OJK mempertimbangkan sejumlah skema pengaturan terhadap legalitas influencer keuangan.&#13;
&#13;
Dua skema yang saat ini menjadi konsen OJK antara lain sertifikasi bagi finfluencer, sebagai legitimasi atas kompetensi dalam mempromosikan produk keuangan. Kemudian juga inisiatif regulator untuk membekukan (freeze) kanal influencer.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sekarang saat ini kita sedang menggodok itu, hopefully semester 2 tahun ini akan selesai,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
