<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ini Biang Kerok yang Bikin IHSG Anjlok ke Level 6.500</title><description>Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diserang aksi jual dari investor, membawa tekanan hingga terseok ke 6.500.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/03/14/278/3122633/ini-biang-kerok-yang-bikin-ihsg-anjlok-ke-level-6-500</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/03/14/278/3122633/ini-biang-kerok-yang-bikin-ihsg-anjlok-ke-level-6-500"/><item><title>Ini Biang Kerok yang Bikin IHSG Anjlok ke Level 6.500</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/03/14/278/3122633/ini-biang-kerok-yang-bikin-ihsg-anjlok-ke-level-6-500</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/03/14/278/3122633/ini-biang-kerok-yang-bikin-ihsg-anjlok-ke-level-6-500</guid><pubDate>Jum'at 14 Maret 2025 21:38 WIB</pubDate><dc:creator>Dinar Fitra Maghiszha</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/03/14/278/3122633/ihsg-8rFX_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ini Biang Kerok yang Bikin IHSG Anjlok ke Level 6.500 (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/03/14/278/3122633/ihsg-8rFX_large.jpg</image><title>Ini Biang Kerok yang Bikin IHSG Anjlok ke Level 6.500 (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diserang aksi jual dari investor, membawa tekanan hingga terseok ke 6.500. Pada Jumat (14/3/2025), IHSG jatuh 1,98 persen ke 6.515,63, mengiringi 400 saham di zona merah.&#13;
&#13;
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengungkap sejumlah sentimen pemberat yang berkontribusi terhadap pelemahan.&#13;
&#13;
1. Sentimen IHSG&#13;
&#13;
Ini meliputi perang tarif antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya, pemangkasan rating saham Indonesia oleh Morgan Stanley, dan fluktuasi nilai tukar rupiah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Memasuki 2025 ini, ada beberapa sentimen negatif yang masih berlanjut, dan patut kita waspadai tentunya faktor-faktor global dan domestik,&amp;rdquo; kata Jeffrey di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Optimisme Investor&#13;
&#13;
Menanggapi kondisi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI telah menggelar dialog dengan pemangku kepentingan pasar modal pada 3 Maret lalu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bagi bursa, dialog tersebut bertujuan menyerap pandangan pelaku pasar terhadap dinamika yang terjadi serta mencari solusi guna memperkuat stabilitas pasar modal Indonesia.&#13;
&#13;
Jeffrey menegaskan meskipun situasi pasar saat ini tidak ringan, optimisme masih terjaga di kalangan pelaku pasar modal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Bapak-Ibu, kita patut bersyukur bahwa pelaku pasar modal Indonesia masih memiliki optimisme dan semangat yang tinggi dalam menghadapi kondisi pasar modal saat ini,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diserang aksi jual dari investor, membawa tekanan hingga terseok ke 6.500. Pada Jumat (14/3/2025), IHSG jatuh 1,98 persen ke 6.515,63, mengiringi 400 saham di zona merah.&#13;
&#13;
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengungkap sejumlah sentimen pemberat yang berkontribusi terhadap pelemahan.&#13;
&#13;
1. Sentimen IHSG&#13;
&#13;
Ini meliputi perang tarif antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya, pemangkasan rating saham Indonesia oleh Morgan Stanley, dan fluktuasi nilai tukar rupiah.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Memasuki 2025 ini, ada beberapa sentimen negatif yang masih berlanjut, dan patut kita waspadai tentunya faktor-faktor global dan domestik,&amp;rdquo; kata Jeffrey di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Optimisme Investor&#13;
&#13;
Menanggapi kondisi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI telah menggelar dialog dengan pemangku kepentingan pasar modal pada 3 Maret lalu.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bagi bursa, dialog tersebut bertujuan menyerap pandangan pelaku pasar terhadap dinamika yang terjadi serta mencari solusi guna memperkuat stabilitas pasar modal Indonesia.&#13;
&#13;
Jeffrey menegaskan meskipun situasi pasar saat ini tidak ringan, optimisme masih terjaga di kalangan pelaku pasar modal.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Bapak-Ibu, kita patut bersyukur bahwa pelaku pasar modal Indonesia masih memiliki optimisme dan semangat yang tinggi dalam menghadapi kondisi pasar modal saat ini,&amp;quot; ujarnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
