<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Prabowo Minta Jangan Paksa TKDN, Fleksibel Saja</title><description>Prabowo Subianto meminta jajaran menteri terkait untuk dapat menentukan aturan terkait tingkat komponen dalam negeri.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/04/08/320/3129215/prabowo-minta-jangan-paksa-tkdn-fleksibel-saja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/04/08/320/3129215/prabowo-minta-jangan-paksa-tkdn-fleksibel-saja"/><item><title>Prabowo Minta Jangan Paksa TKDN, Fleksibel Saja</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/04/08/320/3129215/prabowo-minta-jangan-paksa-tkdn-fleksibel-saja</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/04/08/320/3129215/prabowo-minta-jangan-paksa-tkdn-fleksibel-saja</guid><pubDate>Selasa 08 April 2025 22:01 WIB</pubDate><dc:creator>Vebyola Lutfikaputri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/04/08/320/3129215/presiden_prabowo-yntE_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Prabowo soal TKDN (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/04/08/320/3129215/presiden_prabowo-yntE_large.jpg</image><title>Presiden Prabowo soal TKDN (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran menteri terkait untuk dapat menentukan aturan terkait tingkat komponen dalam negeri (TKDN) agar lebih fleksibel sehingga mampu menjaga daya saing perindustrian Indonesia dengan negara-negara lain.&#13;
&#13;
Hal ini disampaikan Presiden menanggapi saran dari ekonom kepada Pemerintah untuk menjaga posisi Indonesia dalam industrialisasi global di dalam acara Sarasehan Ekonomi Nasional yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita harus realistis, TKDN dipaksakan kita akhirnya kalah kompetitif. TKDN fleksibel saja lah,&amp;quot; kata Prabowo dikutip Antara, Selasa (8/4/2025).&#13;
&#13;
1. TKDN Terkesan Dipaksakan&#13;
&#13;
Menurutnya, TKDN yang berlaku saat ini terkesan terlalu dipaksakan sehingga pada akhirnya investor tidak melirik Indonesia dan cenderung tertarik berinvestasi di negara lain.&#13;
&#13;
Ia berpendapat terkait dengan implementasi TKDN ini agar bisa diubah mekanismenya, salah satunya dengan kemungkinan pemberian insentif.&#13;
&#13;
&amp;quot;Mungkin diganti dengan insentif ya. Tolong ya para pembantu saya, para menteri saya, sudahlah realistis, TKDN dibikin yang realistis saja,&amp;quot; kata Prabowo.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Produk di Dalam Negeri&#13;
&#13;
Terkait dengan kekhawatiran pengembangan produk di dalam negeri, menurut Prabowo, hal itu masih bisa dilakukan dengan berbagai cara yang lain.&#13;
&#13;
Beberapa di antaranya bisa dilakukan dengan pengembangan sumber daya manusia khususnya pada sisi pendidikan termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.&#13;
&#13;
3. Dukung Industrialisasi&#13;
&#13;
Selain mempertimbangkan terkait pengaturan TKDN yang fleksibel, Presiden Prabowo juga tertarik dengan usulan para ekonom untuk menerapkan prinsip yang disebut dengan &amp;quot;neck to neck, eye to eye, dan point to point&amp;quot; dalam mendukung industrialisasi di Indonesia.&#13;
&#13;
Prinsip itu pada dasarnya mendukung Indonesia untuk bisa menghadirkan kondisi atau situasi yang serupa dengan negara lain dalam hal menarik investor untuk menanamkan modal di negaranya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya tertarik dengan usulan neck to neck atau eye to eye itu luar biasa,&amp;quot; kata Prabowo.&#13;
&#13;
4. Lakukan Deregulasi&#13;
&#13;
Terakhir, Prabowo kembali menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan deregulasi dengan bijak atau penghapusan regulasi yang dirasakan tidak lagi efektif untuk menjaga iklim industri.&#13;
&#13;
Hal ini sejalan dengan kebijakan efisiensi yang dilakukan oleh Kabinet Merah Putih yang berlaku juga untuk memastikan adanya aturan yang berpihak pada pengembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Deregulasi itu memang saya berniat memangkas sistem perizinan yang berbelit-belit, terlalu banyak. Ini sudah jadi misi kita, kita harus laksanakan,&amp;quot; kata Prabowo.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meminta jajaran menteri terkait untuk dapat menentukan aturan terkait tingkat komponen dalam negeri (TKDN) agar lebih fleksibel sehingga mampu menjaga daya saing perindustrian Indonesia dengan negara-negara lain.&#13;
&#13;
Hal ini disampaikan Presiden menanggapi saran dari ekonom kepada Pemerintah untuk menjaga posisi Indonesia dalam industrialisasi global di dalam acara Sarasehan Ekonomi Nasional yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita harus realistis, TKDN dipaksakan kita akhirnya kalah kompetitif. TKDN fleksibel saja lah,&amp;quot; kata Prabowo dikutip Antara, Selasa (8/4/2025).&#13;
&#13;
1. TKDN Terkesan Dipaksakan&#13;
&#13;
Menurutnya, TKDN yang berlaku saat ini terkesan terlalu dipaksakan sehingga pada akhirnya investor tidak melirik Indonesia dan cenderung tertarik berinvestasi di negara lain.&#13;
&#13;
Ia berpendapat terkait dengan implementasi TKDN ini agar bisa diubah mekanismenya, salah satunya dengan kemungkinan pemberian insentif.&#13;
&#13;
&amp;quot;Mungkin diganti dengan insentif ya. Tolong ya para pembantu saya, para menteri saya, sudahlah realistis, TKDN dibikin yang realistis saja,&amp;quot; kata Prabowo.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Produk di Dalam Negeri&#13;
&#13;
Terkait dengan kekhawatiran pengembangan produk di dalam negeri, menurut Prabowo, hal itu masih bisa dilakukan dengan berbagai cara yang lain.&#13;
&#13;
Beberapa di antaranya bisa dilakukan dengan pengembangan sumber daya manusia khususnya pada sisi pendidikan termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi.&#13;
&#13;
3. Dukung Industrialisasi&#13;
&#13;
Selain mempertimbangkan terkait pengaturan TKDN yang fleksibel, Presiden Prabowo juga tertarik dengan usulan para ekonom untuk menerapkan prinsip yang disebut dengan &amp;quot;neck to neck, eye to eye, dan point to point&amp;quot; dalam mendukung industrialisasi di Indonesia.&#13;
&#13;
Prinsip itu pada dasarnya mendukung Indonesia untuk bisa menghadirkan kondisi atau situasi yang serupa dengan negara lain dalam hal menarik investor untuk menanamkan modal di negaranya.&#13;
&#13;
&amp;quot;Saya tertarik dengan usulan neck to neck atau eye to eye itu luar biasa,&amp;quot; kata Prabowo.&#13;
&#13;
4. Lakukan Deregulasi&#13;
&#13;
Terakhir, Prabowo kembali menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan deregulasi dengan bijak atau penghapusan regulasi yang dirasakan tidak lagi efektif untuk menjaga iklim industri.&#13;
&#13;
Hal ini sejalan dengan kebijakan efisiensi yang dilakukan oleh Kabinet Merah Putih yang berlaku juga untuk memastikan adanya aturan yang berpihak pada pengembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.&#13;
&#13;
&amp;quot;Deregulasi itu memang saya berniat memangkas sistem perizinan yang berbelit-belit, terlalu banyak. Ini sudah jadi misi kita, kita harus laksanakan,&amp;quot; kata Prabowo.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
