<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bahlil Tegaskan Tidak Ada Revisi Target Produksi Migas 1 Juta BOPD pada 2030</title><description>Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan merevisi target produksi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 1 juta barel&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/01/320/3135264/bahlil-tegaskan-tidak-ada-revisi-target-produksi-migas-1-juta-bopd-pada-2030</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/05/01/320/3135264/bahlil-tegaskan-tidak-ada-revisi-target-produksi-migas-1-juta-bopd-pada-2030"/><item><title>Bahlil Tegaskan Tidak Ada Revisi Target Produksi Migas 1 Juta BOPD pada 2030</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/01/320/3135264/bahlil-tegaskan-tidak-ada-revisi-target-produksi-migas-1-juta-bopd-pada-2030</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/05/01/320/3135264/bahlil-tegaskan-tidak-ada-revisi-target-produksi-migas-1-juta-bopd-pada-2030</guid><pubDate>Kamis 01 Mei 2025 07:36 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/05/01/320/3135264/menteri_bahlil_soal_target_produksi_migas-I0yD_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Bahlil Soal Target Produksi Migas. (Foto: Okezone.com/SKK)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/05/01/320/3135264/menteri_bahlil_soal_target_produksi_migas-I0yD_large.jpg</image><title>Menteri Bahlil Soal Target Produksi Migas. (Foto: Okezone.com/SKK)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan merevisi target produksi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 1 juta barel minyak per hari (BOPD) pada tahun 2030.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke lapangan Pertamina Hulu Mahakam dan Eni Indonesia di Senipah, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (30/4/2025).&#13;
&#13;
Meski target tersebut dinilai tidak mudah, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap berupaya mencapainya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita diperintahkan oleh Bapak Presiden, target kita harus 900 ribu sampai 1 juta barel. Maka sebagai prajurit, sebagai pembantu Presiden, jangan menyerah sebelum bertarung,&amp;rdquo; ujar Bahlil, Kamis (1/5/2025).&#13;
&#13;
Bahlil menyebut bahwa target ini sudah selaras dengan Master Plan Produksi Migas Nasional.&#13;
&#13;
Soal Defisit Gas, Bahlil: Tidak Ada Impor Sampai Hari Ini&#13;
&#13;
Terkait isu defisit gas dalam negeri, Bahlil menjelaskan bahwa situasi tersebut terjadi karena peningkatan konsumsi dalam negeri yang tidak diimbangi dengan perencanaan kebutuhan yang matang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Awalnya, defisit gas disebabkan oleh peningkatan konsumsi dalam negeri dan kurangnya perhitungan kebutuhan. Namun setelah dilakukan review, produksi gas seharusnya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bahlil menambahkan bahwa hingga saat ini, Indonesia belum melakukan impor gas, dan pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan kondisi tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sampai hari ini, tidak ada impor gas, dan kami berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga agar tidak perlu ada impor gas,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Bahlil juga menyampaikan optimisme bahwa pada tahun 2026 dan 2027, lifting gas akan mengalami peningkatan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengandalkan produksi dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tahun 2026, sebisa mungkin tidak ada impor gas. Kecuali dalam kondisi yang benar-benar darurat. Kita harus yakin bahwa produksi dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan merevisi target produksi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 1 juta barel minyak per hari (BOPD) pada tahun 2030.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja ke lapangan Pertamina Hulu Mahakam dan Eni Indonesia di Senipah, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (30/4/2025).&#13;
&#13;
Meski target tersebut dinilai tidak mudah, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap berupaya mencapainya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita diperintahkan oleh Bapak Presiden, target kita harus 900 ribu sampai 1 juta barel. Maka sebagai prajurit, sebagai pembantu Presiden, jangan menyerah sebelum bertarung,&amp;rdquo; ujar Bahlil, Kamis (1/5/2025).&#13;
&#13;
Bahlil menyebut bahwa target ini sudah selaras dengan Master Plan Produksi Migas Nasional.&#13;
&#13;
Soal Defisit Gas, Bahlil: Tidak Ada Impor Sampai Hari Ini&#13;
&#13;
Terkait isu defisit gas dalam negeri, Bahlil menjelaskan bahwa situasi tersebut terjadi karena peningkatan konsumsi dalam negeri yang tidak diimbangi dengan perencanaan kebutuhan yang matang.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Awalnya, defisit gas disebabkan oleh peningkatan konsumsi dalam negeri dan kurangnya perhitungan kebutuhan. Namun setelah dilakukan review, produksi gas seharusnya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Bahlil menambahkan bahwa hingga saat ini, Indonesia belum melakukan impor gas, dan pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan kondisi tersebut.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Sampai hari ini, tidak ada impor gas, dan kami berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga agar tidak perlu ada impor gas,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
Bahlil juga menyampaikan optimisme bahwa pada tahun 2026 dan 2027, lifting gas akan mengalami peningkatan. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengandalkan produksi dalam negeri.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Tahun 2026, sebisa mungkin tidak ada impor gas. Kecuali dalam kondisi yang benar-benar darurat. Kita harus yakin bahwa produksi dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan kita,&amp;rdquo; pungkasnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
