<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pengusaha Usul BLT Bentuk Voucher Belanja demi Naikkan Daya Beli&amp;nbsp;</title><description>Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengusulkan agar pemerintah memberikan bantuan langsung tunai.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/06/320/3136771/pengusaha-usul-blt-bentuk-voucher-belanja-demi-naikkan-daya-beli-nbsp</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/05/06/320/3136771/pengusaha-usul-blt-bentuk-voucher-belanja-demi-naikkan-daya-beli-nbsp"/><item><title>Pengusaha Usul BLT Bentuk Voucher Belanja demi Naikkan Daya Beli&amp;nbsp;</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/06/320/3136771/pengusaha-usul-blt-bentuk-voucher-belanja-demi-naikkan-daya-beli-nbsp</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/05/06/320/3136771/pengusaha-usul-blt-bentuk-voucher-belanja-demi-naikkan-daya-beli-nbsp</guid><pubDate>Selasa 06 Mei 2025 17:06 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/05/06/320/3136771/voucher_belanja-8CpU_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Voucher Belanja (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/05/06/320/3136771/voucher_belanja-8CpU_large.jpg</image><title>Voucher Belanja (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengusulkan agar pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) dalam bentuk voucher belanja sebagai stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.&#13;
&#13;
1. Industri Ritel&#13;
&#13;
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan industri ritel, yang menyerap banyak tenaga kerja, memerlukan stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong peningkatan penjualan mereka.&#13;
&#13;
Pasalnya, ia khawatir pertumbuhan ekonomi nasional akan kembali melambat di bawah angka 5 persen pada kuartal berikutnya karena momentum peningkatan konsumsi pascaLebaran 2025 telah berlalu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Harapan kami, keran belanja pemerintah dibuka atau diberikan BLT. Kami meminta ada stimulus BLT untuk masyarakat kelas bawah supaya menaikkan perekonomian,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Atau voucher belanja, lah. Suruh orang belanja di Indonesia. Ibu-ibu semua dikasih untuk belanja,&amp;rdquo; katanya lagi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Menteri UMKM Tampung Aspirasi Pengusaha&#13;
&#13;
Menanggapi usulan tersebut, pada kesempatan yang sama, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan bahwa pihaknya menampung aspirasi yang disampaikan Hippindo.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nanti akan kami bahas di internal pemerintah, dikaji dulu,&amp;rdquo; kata Maman dikutip Antara, Selasa (6/5/2025).&#13;
&#13;
3. Ekonomi RI&#13;
&#13;
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun 2025 menjadi 4,87 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,11 persen.&#13;
&#13;
Adapun konsumsi pemerintah kontraksi sebesar 1,38 persen di tengah kebijakan efisiensi belanja pemerintah yang mengurangi anggaran untuk perjalanan dinas, pembangunan infrastruktur, serta belanja barang dan jasa.&#13;
&#13;
Presiden sebelumnya mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang ditetapkan pada 22 Januari 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025.&#13;
&#13;
Presiden menargetkan agar ada penghematan belanja APBN sebesar Rp306,69 triliun yang terdiri dari efisiensi anggaran belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp256,1 triliun dan transfer ke daerah Rp50,59 triliun.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengusulkan agar pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT) dalam bentuk voucher belanja sebagai stimulus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.&#13;
&#13;
1. Industri Ritel&#13;
&#13;
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan industri ritel, yang menyerap banyak tenaga kerja, memerlukan stimulus untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong peningkatan penjualan mereka.&#13;
&#13;
Pasalnya, ia khawatir pertumbuhan ekonomi nasional akan kembali melambat di bawah angka 5 persen pada kuartal berikutnya karena momentum peningkatan konsumsi pascaLebaran 2025 telah berlalu.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Harapan kami, keran belanja pemerintah dibuka atau diberikan BLT. Kami meminta ada stimulus BLT untuk masyarakat kelas bawah supaya menaikkan perekonomian,&amp;rdquo; katanya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&amp;ldquo;Atau voucher belanja, lah. Suruh orang belanja di Indonesia. Ibu-ibu semua dikasih untuk belanja,&amp;rdquo; katanya lagi.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Menteri UMKM Tampung Aspirasi Pengusaha&#13;
&#13;
Menanggapi usulan tersebut, pada kesempatan yang sama, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan bahwa pihaknya menampung aspirasi yang disampaikan Hippindo.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Nanti akan kami bahas di internal pemerintah, dikaji dulu,&amp;rdquo; kata Maman dikutip Antara, Selasa (6/5/2025).&#13;
&#13;
3. Ekonomi RI&#13;
&#13;
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun 2025 menjadi 4,87 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,11 persen.&#13;
&#13;
Adapun konsumsi pemerintah kontraksi sebesar 1,38 persen di tengah kebijakan efisiensi belanja pemerintah yang mengurangi anggaran untuk perjalanan dinas, pembangunan infrastruktur, serta belanja barang dan jasa.&#13;
&#13;
Presiden sebelumnya mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 yang ditetapkan pada 22 Januari 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025.&#13;
&#13;
Presiden menargetkan agar ada penghematan belanja APBN sebesar Rp306,69 triliun yang terdiri dari efisiensi anggaran belanja kementerian dan lembaga sebesar Rp256,1 triliun dan transfer ke daerah Rp50,59 triliun.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
