<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Badai PHK Berlanjut, Pengusaha Sebut Ekonomi RI Tertekan</title><description>Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkap badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terjadi hingga kuartal I 2025.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/14/320/3138957/badai-phk-berlanjut-pengusaha-sebut-ekonomi-ri-tertekan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/05/14/320/3138957/badai-phk-berlanjut-pengusaha-sebut-ekonomi-ri-tertekan"/><item><title>Badai PHK Berlanjut, Pengusaha Sebut Ekonomi RI Tertekan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/14/320/3138957/badai-phk-berlanjut-pengusaha-sebut-ekonomi-ri-tertekan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/05/14/320/3138957/badai-phk-berlanjut-pengusaha-sebut-ekonomi-ri-tertekan</guid><pubDate>Rabu 14 Mei 2025 18:29 WIB</pubDate><dc:creator>Iqbal Dwi Purnama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/05/14/320/3138957/phk-Tsxq_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Badai PHK Berlanjut, Pengusaha Sebut Ekonomi RI Tertekan (Foto: Freepik)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/05/14/320/3138957/phk-Tsxq_large.jpg</image><title>Badai PHK Berlanjut, Pengusaha Sebut Ekonomi RI Tertekan (Foto: Freepik)</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkap badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terjadi hingga kuartal I 2025. Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sebanyak 257.471 peserta kehilangan pekerjaan sepanjang 2024, dan pada periode Januari hingga 10 Maret 2025, sebanyak 73.992 peserta mengalami hal serupa.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani mengatakan hasil survei internal APINDO mengidentifikasi lima penyebab utama PHK, yaitu penurunan permintaan (69,4%), kenaikan biaya produksi (43,3%), perubahan regulasi upah minimum (33,2%), tekanan dari barang impor (21,4%), dan adopsi teknologi (20,9%).&#13;
&#13;
&amp;quot;Di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi serta tantangan domestik yang kompleks, APINDO menegaskan pentingnya konsistensi arah kebijakan dan percepatan reformasi struktural untuk menjaga daya saing, ketahanan industri, dan keberlanjutan pertumbuhan,&amp;quot; ujarnya di Jakarta dikutip Selasa (13/5/2025).&#13;
&#13;
1. Ekonomi RI Melambat&#13;
&#13;
Shinta menjelaskan badai PHK yang terus berlanjut juga disebabkan karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat. Hal ini menyeret dampak pada pelemahan daya beli serta menurunnya permintaan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,87% (year-on-year) pada Kuartal I 2025, melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (5,11%) maupun kuartal sebelumnya pada kuartal IV 2024 (5,02%),&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Shinta menambahkan, secara kuartalan ekonomi juga mengalami kontraksi sebesar 0,98% yang menandai tekanan terus menerus dari sisi domestik maupun eksternal. Perlambatan ini terjadi di tengah melemahnya daya beli, dimana konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,89%, terendah dalam lima kuartal terakhir, meskipun mencakup periode Ramadhan yang biasanya mendorong belanja masyarakat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Tekanan inflasi dan terbatasnya stimulus fiskal menjadi penyebab utama penurunan daya beli, terutama di kelompok pendapatan menengah ke bawah,&amp;quot; lanjutnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Sikap Investor&#13;
&#13;
Kemudian dari sisi fiskal, belanja pemerintah mengalami kontraksi sebesar 1,38% sebagai hasil dari kebijakan yang lebih berhati-hati. Sementara itu, investasi juga menunjukkan pelemahan dengan pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 2,12%, angka terendah dalam dua tahun terakhir.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Sikap wait and see investor terhadap transisi pemerintahan serta hambatan struktural seperti regulasi yang rumit dan tingginya biaya logistik menjadi faktor penghambat utama,&amp;quot; kata Shinta.&#13;
&#13;
Kinerja ekspor juga tidak memberikan dukungan berarti, dengan penurunan sebesar 7,53% secara kumulatif dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Faktor penyebabnya antara lain turunnya harga komoditas dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa,&amp;quot; pungkasnya.&amp;nbsp;&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkap badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih terjadi hingga kuartal I 2025. Data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa sebanyak 257.471 peserta kehilangan pekerjaan sepanjang 2024, dan pada periode Januari hingga 10 Maret 2025, sebanyak 73.992 peserta mengalami hal serupa.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani mengatakan hasil survei internal APINDO mengidentifikasi lima penyebab utama PHK, yaitu penurunan permintaan (69,4%), kenaikan biaya produksi (43,3%), perubahan regulasi upah minimum (33,2%), tekanan dari barang impor (21,4%), dan adopsi teknologi (20,9%).&#13;
&#13;
&amp;quot;Di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi serta tantangan domestik yang kompleks, APINDO menegaskan pentingnya konsistensi arah kebijakan dan percepatan reformasi struktural untuk menjaga daya saing, ketahanan industri, dan keberlanjutan pertumbuhan,&amp;quot; ujarnya di Jakarta dikutip Selasa (13/5/2025).&#13;
&#13;
1. Ekonomi RI Melambat&#13;
&#13;
Shinta menjelaskan badai PHK yang terus berlanjut juga disebabkan karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat. Hal ini menyeret dampak pada pelemahan daya beli serta menurunnya permintaan.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 4,87% (year-on-year) pada Kuartal I 2025, melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (5,11%) maupun kuartal sebelumnya pada kuartal IV 2024 (5,02%),&amp;quot; tambahnya.&#13;
&#13;
Shinta menambahkan, secara kuartalan ekonomi juga mengalami kontraksi sebesar 0,98% yang menandai tekanan terus menerus dari sisi domestik maupun eksternal. Perlambatan ini terjadi di tengah melemahnya daya beli, dimana konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh 4,89%, terendah dalam lima kuartal terakhir, meskipun mencakup periode Ramadhan yang biasanya mendorong belanja masyarakat.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Tekanan inflasi dan terbatasnya stimulus fiskal menjadi penyebab utama penurunan daya beli, terutama di kelompok pendapatan menengah ke bawah,&amp;quot; lanjutnya.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
2. Sikap Investor&#13;
&#13;
Kemudian dari sisi fiskal, belanja pemerintah mengalami kontraksi sebesar 1,38% sebagai hasil dari kebijakan yang lebih berhati-hati. Sementara itu, investasi juga menunjukkan pelemahan dengan pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 2,12%, angka terendah dalam dua tahun terakhir.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;quot;Sikap wait and see investor terhadap transisi pemerintahan serta hambatan struktural seperti regulasi yang rumit dan tingginya biaya logistik menjadi faktor penghambat utama,&amp;quot; kata Shinta.&#13;
&#13;
Kinerja ekspor juga tidak memberikan dukungan berarti, dengan penurunan sebesar 7,53% secara kumulatif dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu.&#13;
&#13;
&amp;quot;Faktor penyebabnya antara lain turunnya harga komoditas dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti Tiongkok dan Uni Eropa,&amp;quot; pungkasnya.&amp;nbsp;&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
