<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Suku Bunga BI Diprediksi Turun ke 5,5% Hari Ini</title><description>Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate diprediksi turun.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/21/320/3140656/suku-bunga-bi-diprediksi-turun-ke-5-5-hari-ini</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/05/21/320/3140656/suku-bunga-bi-diprediksi-turun-ke-5-5-hari-ini"/><item><title>Suku Bunga BI Diprediksi Turun ke 5,5% Hari Ini</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/21/320/3140656/suku-bunga-bi-diprediksi-turun-ke-5-5-hari-ini</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/05/21/320/3140656/suku-bunga-bi-diprediksi-turun-ke-5-5-hari-ini</guid><pubDate>Rabu 21 Mei 2025 08:40 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/05/21/320/3140656/bank_indonesia-zm3s_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">BI Rate Diprediksi Turun. (Foto: Okezone.com/Reuters) </media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/05/21/320/3140656/bank_indonesia-zm3s_large.jpg</image><title>BI Rate Diprediksi Turun. (Foto: Okezone.com/Reuters) </title></images><description>JAKARTA - Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate diprediksi turun. Di mana saat ini sedang dilakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2025.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo, BI Rate bisa diturunkan mengingat volatilitas Rupiah sudah relatif terjaga.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya melihat RDG Mei ini adalah momentum yang tepat untuk penurunan suku bunga mengingat volatilitas rupiah relatif terjaga dalam satu-dua pekan ini,&amp;rdquo; kata Banjaran, dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu (21/5/2025).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Banjaran mencatat dari sisi global, temporary truce atau &amp;ldquo;genjatan senjata&amp;rdquo; sementara perang tarif Amerika Serikat (AS) dan China telah mengurangi eskalasi ketegangan dan ketidakpastian.&#13;
&#13;
Di sisi lain, Indonesia membutuhkan suku bunga yang lebih pro growth sebagai katalisator untuk mendorong pertumbuhan sehingga adjustment dari Bank Indonesia akan sangat membantu ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
Menurut Banjaran, interest rate differential antara surat berharga Indonesia dibandingkan negara-negara di ASEAN juga masih cukup kompetitif.&#13;
&#13;
Sebelumnya, hal serupa juga disampaikan Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro yang melihat adanya ruang pemangkasan BI-Rate sebesar 25 basis point (bps) dari level 5,75% menjadi 5,5% paling cepat pada RDG Mei 2025 apabila rupiah memang relatif stabil.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Momentumnya saya rasa pas. Karena, yang pertama, (penurunan BI-Rate) untuk mendorong atau menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia,&amp;rdquo; kata Andry.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Alasan lainnya, tekanan rupiah seharusnya sudah tidak setinggi pada periode awal di kuartal pertama yang lalu.&#13;
&#13;
Selain itu, inflasi pun dinilai akan tetap rendah pada range target Bank Indonesia. Terakhir, benchmark rate Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain juga masih relatif kompetitif.&#13;
&#13;
Namun, berbeda dengan konsensus mayoritas, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan bahwa BI-Rate dipertahankan pada level 5,75 persen dalam RDG Mei 2025, meski terdapat peluang penurunan ke depannya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;(BI) masih fokus di stabilitas, dipicu ketidakpastian perang tarif. The Fed juga masih mempertahankan suku bunga patokan,&amp;rdquo; ujar David saat dihubungi secara terpisah.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate diprediksi turun. Di mana saat ini sedang dilakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2025.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Menurut Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo, BI Rate bisa diturunkan mengingat volatilitas Rupiah sudah relatif terjaga.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Saya melihat RDG Mei ini adalah momentum yang tepat untuk penurunan suku bunga mengingat volatilitas rupiah relatif terjaga dalam satu-dua pekan ini,&amp;rdquo; kata Banjaran, dikutip dari Antara, di Jakarta, Rabu (21/5/2025).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Banjaran mencatat dari sisi global, temporary truce atau &amp;ldquo;genjatan senjata&amp;rdquo; sementara perang tarif Amerika Serikat (AS) dan China telah mengurangi eskalasi ketegangan dan ketidakpastian.&#13;
&#13;
Di sisi lain, Indonesia membutuhkan suku bunga yang lebih pro growth sebagai katalisator untuk mendorong pertumbuhan sehingga adjustment dari Bank Indonesia akan sangat membantu ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
Menurut Banjaran, interest rate differential antara surat berharga Indonesia dibandingkan negara-negara di ASEAN juga masih cukup kompetitif.&#13;
&#13;
Sebelumnya, hal serupa juga disampaikan Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro yang melihat adanya ruang pemangkasan BI-Rate sebesar 25 basis point (bps) dari level 5,75% menjadi 5,5% paling cepat pada RDG Mei 2025 apabila rupiah memang relatif stabil.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Momentumnya saya rasa pas. Karena, yang pertama, (penurunan BI-Rate) untuk mendorong atau menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia,&amp;rdquo; kata Andry.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Alasan lainnya, tekanan rupiah seharusnya sudah tidak setinggi pada periode awal di kuartal pertama yang lalu.&#13;
&#13;
Selain itu, inflasi pun dinilai akan tetap rendah pada range target Bank Indonesia. Terakhir, benchmark rate Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain juga masih relatif kompetitif.&#13;
&#13;
Namun, berbeda dengan konsensus mayoritas, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan bahwa BI-Rate dipertahankan pada level 5,75 persen dalam RDG Mei 2025, meski terdapat peluang penurunan ke depannya.&#13;
&#13;
&amp;ldquo;(BI) masih fokus di stabilitas, dipicu ketidakpastian perang tarif. The Fed juga masih mempertahankan suku bunga patokan,&amp;rdquo; ujar David saat dihubungi secara terpisah.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
