<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sinergi Jadi Kunci Transformasi Ekonomi Indonesia&amp;nbsp;</title><description>Sinergi jadi kunci transformasi ekonomi Indonesia. Saat ini sektor industri masih menjadi tulang punggung.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/23/320/3141515/sinergi-jadi-kunci-transformasi-ekonomi-indonesia-nbsp</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/05/23/320/3141515/sinergi-jadi-kunci-transformasi-ekonomi-indonesia-nbsp"/><item><title>Sinergi Jadi Kunci Transformasi Ekonomi Indonesia&amp;nbsp;</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/05/23/320/3141515/sinergi-jadi-kunci-transformasi-ekonomi-indonesia-nbsp</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/05/23/320/3141515/sinergi-jadi-kunci-transformasi-ekonomi-indonesia-nbsp</guid><pubDate>Jum'at 23 Mei 2025 22:34 WIB</pubDate><dc:creator>Dani Jumadil Akhir</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/05/23/320/3141515/ekonomi_indonesia-QD8s_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Transformasi Ekonomi Indonesia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/05/23/320/3141515/ekonomi_indonesia-QD8s_large.jpg</image><title>Transformasi Ekonomi Indonesia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Sinergi jadi kunci transformasi ekonomi Indonesia. Saat ini sektor industri masih menjadi tulang punggung Produk Domestik Bruto (PDB).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun di sisi lain, kontribusinya terus menurun, dari sekitar 26% di awal 2000-an menjadi hanya 19% pada kuartal pertama 2025.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan deindustrialisasi dini.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai kondisi ini sebagai alarm bagi masa depan ekonomi nasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Purchasing Manager&amp;#39;s Indeks (PMI) bulan April turun ke angka 4,67 &amp;ndash; menunjukkan kontraksi. Ini terjadi karena produsen menumpuk stok barang untuk permintaan yang tak kunjung datang,&amp;rdquo; ungkapnya di Jakarta, Jumat (23/5/205).&#13;
&#13;
1. Data BPS&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal ini sejalan dengan data kuartal I-2025 Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kontraksi pertumbuhan industri non-migas seperti industri alat angkutan yang mengalami -3.46% yoy, industri mesin -1.38% yoy, dan sektor tembakau yang mengalami kontraksi terdalam yaitu -3.77% yoy.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Fithra, solusi jangka panjang bukan sekadar stimulus ekonomi, melainkan integrasi kembali ke jaringan produksi global melalui liberalisasi perdagangan dan reformasi kebijakan domestik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Koherensi kebijakan dan reformasi regulasi adalah fondasi utama. Tanpa itu, industri kita akan terus tertinggal,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
2. Sinergi Lintas Sektor&#13;
&#13;
Fithra menekankan pentingnya sinergi lintas sektor melalui pendekatan quadruple helix&amp;mdash;kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita butuh faktor penyatu yang mampu mendorong lompatan pembangunan. Bukan sekadar program jangka pendek, tapi konsensus pertumbuhan jangka panjang,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Senada, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin menyoroti lemahnya dukungan terhadap riset dan inovasi. &amp;ldquo;86% pendanaan riset masih berasal dari sektor publik. Partisipasi swasta hanya 14%. Padahal, inovasi tak bisa berjalan tanpa kemitraan yang kuat,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Dia juga menyinggung hambatan regulasi yang menghambat implementasi insentif riset. &amp;ldquo;Undang-Undang sudah mengatur insentif pajak untuk investasi R&amp;amp;D, tapi implementasinya masih jauh dari harapan.&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Bustanul menegaskan bahwa inovasi tidak bisa lagi dilakukan secara top-down seperti di era sentralisasi. Ia mendorong model kolaboratif seperti ABG (Akademisi, Bisnis, Pemerintah) dan Quadruple Helix yang juga melibatkan masyarakat sipil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bahkan jika hanya satu atau dua kemitraan yang berhasil, dampaknya bisa sangat besar,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Sinergi jadi kunci transformasi ekonomi Indonesia. Saat ini sektor industri masih menjadi tulang punggung Produk Domestik Bruto (PDB).&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Namun di sisi lain, kontribusinya terus menurun, dari sekitar 26% di awal 2000-an menjadi hanya 19% pada kuartal pertama 2025.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan deindustrialisasi dini.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai kondisi ini sebagai alarm bagi masa depan ekonomi nasional.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Purchasing Manager&amp;#39;s Indeks (PMI) bulan April turun ke angka 4,67 &amp;ndash; menunjukkan kontraksi. Ini terjadi karena produsen menumpuk stok barang untuk permintaan yang tak kunjung datang,&amp;rdquo; ungkapnya di Jakarta, Jumat (23/5/205).&#13;
&#13;
1. Data BPS&amp;nbsp;&#13;
&#13;
Hal ini sejalan dengan data kuartal I-2025 Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kontraksi pertumbuhan industri non-migas seperti industri alat angkutan yang mengalami -3.46% yoy, industri mesin -1.38% yoy, dan sektor tembakau yang mengalami kontraksi terdalam yaitu -3.77% yoy.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
Menurut Fithra, solusi jangka panjang bukan sekadar stimulus ekonomi, melainkan integrasi kembali ke jaringan produksi global melalui liberalisasi perdagangan dan reformasi kebijakan domestik.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Koherensi kebijakan dan reformasi regulasi adalah fondasi utama. Tanpa itu, industri kita akan terus tertinggal,&amp;rdquo; tegasnya.&#13;
&#13;
2. Sinergi Lintas Sektor&#13;
&#13;
Fithra menekankan pentingnya sinergi lintas sektor melalui pendekatan quadruple helix&amp;mdash;kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas.&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&amp;ldquo;Kita butuh faktor penyatu yang mampu mendorong lompatan pembangunan. Bukan sekadar program jangka pendek, tapi konsensus pertumbuhan jangka panjang,&amp;rdquo; ujarnya.&#13;
&#13;
Senada, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin menyoroti lemahnya dukungan terhadap riset dan inovasi. &amp;ldquo;86% pendanaan riset masih berasal dari sektor publik. Partisipasi swasta hanya 14%. Padahal, inovasi tak bisa berjalan tanpa kemitraan yang kuat,&amp;rdquo; jelasnya.&#13;
&#13;
Dia juga menyinggung hambatan regulasi yang menghambat implementasi insentif riset. &amp;ldquo;Undang-Undang sudah mengatur insentif pajak untuk investasi R&amp;amp;D, tapi implementasinya masih jauh dari harapan.&amp;rdquo;&#13;
&#13;
Bustanul menegaskan bahwa inovasi tidak bisa lagi dilakukan secara top-down seperti di era sentralisasi. Ia mendorong model kolaboratif seperti ABG (Akademisi, Bisnis, Pemerintah) dan Quadruple Helix yang juga melibatkan masyarakat sipil.&#13;
&#13;
&amp;quot;Bahkan jika hanya satu atau dua kemitraan yang berhasil, dampaknya bisa sangat besar,&amp;rdquo; tambahnya.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
