<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>BI Cermati Dampak Tarif AS dan Geopolitik Timur Tengah ke Ekonomi RI</title><description>BI) memantau dua perkembangan utama di ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas dalam negeri.&#13;
</description><link>https://economy.okezone.com/read/2025/06/18/320/3148414/bi-cermati-dampak-tarif-as-dan-geopolitik-timur-tengah-ke-ekonomi-ri</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2025/06/18/320/3148414/bi-cermati-dampak-tarif-as-dan-geopolitik-timur-tengah-ke-ekonomi-ri"/><item><title>BI Cermati Dampak Tarif AS dan Geopolitik Timur Tengah ke Ekonomi RI</title><link>https://economy.okezone.com/read/2025/06/18/320/3148414/bi-cermati-dampak-tarif-as-dan-geopolitik-timur-tengah-ke-ekonomi-ri</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2025/06/18/320/3148414/bi-cermati-dampak-tarif-as-dan-geopolitik-timur-tengah-ke-ekonomi-ri</guid><pubDate>Rabu 18 Juni 2025 17:58 WIB</pubDate><dc:creator>Anggie Ariesta</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2025/06/18/320/3148414/bank_indonesia-JBOs_large.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Bank Indonesia (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2025/06/18/320/3148414/bank_indonesia-JBOs_large.jpg</image><title>Bank Indonesia (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memantau dua perkembangan utama di ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas dalam negeri. kebijakan tarif Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.&#13;
&#13;
1. Kebijakan Tarif AS&#13;
&#13;
Deputi Gubernur BI, Aida Suwandi Budiman mengatakan, terkait kebijakan tarif AS, perkembangan terbaru adalah pelipatan tarif baja dan aluminium.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini yang mengakibatkan tentunya penghitungan kita terhadap beberapa tarif yang terjadi sedikit mengalami peningkatan,&amp;quot; kata Aida dalam pengumuman hasil RDG BI periode Juni 2025 secara virtual, Rabu (18/6/2025).&#13;
&#13;
Namun, ia menambahkan bahwa hal ini juga diiringi oleh dinamika positif dalam negosiasi tarif, seperti yang telah rampung antara Inggris dan Qatar, sementara negosiasi dengan berbagai negara lain, termasuk Indonesia, masih berlangsung.&#13;
&#13;
Sementara itu, mengenai ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Aida menyebut bahwa situasinya masih terus berkembang dan BI tetap berhati-hati.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita terus berhati-hati tentunya memperhatikan bagaimana dampaknya kepada supply disruption pasokan ya teman-teman. Dan ini tentunya akan bisa mempengaruhi harga-harga komoditas, itu yang menjadi perhatian kami,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
Aida menguraikan bahwa dampak perkembangan global ini terhadap Indonesia dapat terjadi melalui tiga jalur: pasar keuangan, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi.&#13;
&#13;
2. Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah&#13;
&#13;
Untuk jalur pasar keuangan, Gubernur BI Perry Warjiyo&amp;nbsp;telah menyampaikan komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.&#13;
&#13;
Dari jalur perdagangan, BI masih terus melihat perubahan terhadap permintaan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau globalnya sudah mulai kelihatan dampak tarif ini mengonfirmasi prospek pertumbuhan ekonomi yang kami lihat dari negara-negara khususnya negara maju dan juga dari Tiongkok,&amp;quot; jelas Aida.&#13;
&#13;
Meskipun ada dampak tersebut, BI sejauh ini masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tetap di angka 3 persen. Tidak ada perubahan signifikan untuk pertumbuhan negara lain kecuali India, yang peningkatannya disebabkan oleh peningkatan investasi domestik.&#13;
&#13;
Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, BI tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dengan itu semua tentunya dari sisi baseline pertumbuhan ekonomi Indonesia, kami tetap melihat angkanya 4,6-5,4 persen,&amp;quot; pungkas Aida.&#13;
</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memantau dua perkembangan utama di ekonomi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas dalam negeri. kebijakan tarif Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.&#13;
&#13;
1. Kebijakan Tarif AS&#13;
&#13;
Deputi Gubernur BI, Aida Suwandi Budiman mengatakan, terkait kebijakan tarif AS, perkembangan terbaru adalah pelipatan tarif baja dan aluminium.&#13;
&#13;
&amp;quot;Ini yang mengakibatkan tentunya penghitungan kita terhadap beberapa tarif yang terjadi sedikit mengalami peningkatan,&amp;quot; kata Aida dalam pengumuman hasil RDG BI periode Juni 2025 secara virtual, Rabu (18/6/2025).&#13;
&#13;
Namun, ia menambahkan bahwa hal ini juga diiringi oleh dinamika positif dalam negosiasi tarif, seperti yang telah rampung antara Inggris dan Qatar, sementara negosiasi dengan berbagai negara lain, termasuk Indonesia, masih berlangsung.&#13;
&#13;
Sementara itu, mengenai ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Aida menyebut bahwa situasinya masih terus berkembang dan BI tetap berhati-hati.&#13;
&#13;
&amp;nbsp;&#13;
&#13;
&#13;
&#13;
&amp;quot;Kita terus berhati-hati tentunya memperhatikan bagaimana dampaknya kepada supply disruption pasokan ya teman-teman. Dan ini tentunya akan bisa mempengaruhi harga-harga komoditas, itu yang menjadi perhatian kami,&amp;quot; ungkapnya.&#13;
&#13;
Aida menguraikan bahwa dampak perkembangan global ini terhadap Indonesia dapat terjadi melalui tiga jalur: pasar keuangan, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi.&#13;
&#13;
2. Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah&#13;
&#13;
Untuk jalur pasar keuangan, Gubernur BI Perry Warjiyo&amp;nbsp;telah menyampaikan komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.&#13;
&#13;
Dari jalur perdagangan, BI masih terus melihat perubahan terhadap permintaan.&#13;
&#13;
&amp;quot;Kalau globalnya sudah mulai kelihatan dampak tarif ini mengonfirmasi prospek pertumbuhan ekonomi yang kami lihat dari negara-negara khususnya negara maju dan juga dari Tiongkok,&amp;quot; jelas Aida.&#13;
&#13;
Meskipun ada dampak tersebut, BI sejauh ini masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tetap di angka 3 persen. Tidak ada perubahan signifikan untuk pertumbuhan negara lain kecuali India, yang peningkatannya disebabkan oleh peningkatan investasi domestik.&#13;
&#13;
Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, BI tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.&#13;
&#13;
&amp;quot;Dengan itu semua tentunya dari sisi baseline pertumbuhan ekonomi Indonesia, kami tetap melihat angkanya 4,6-5,4 persen,&amp;quot; pungkas Aida.&#13;
</content:encoded></item></channel></rss>
